Kami duduk di bangku yang
sama. Saling diam dan membisu. Suasana makin terasa menusuk, padahal tidak ada
tanda-tanda hujan akan datang. Aku memandang beberapa helai daun yang
tergeletak di tanah tepat dibawahku. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, ia
masih dengan tatapan lurus. Tanpa ada keinginan untuk memulai perkataan. Dengan
sedikit mendehem, aku memberanikan diri memulai pembicaraan.
“Jadi,
apa yang mau kamu bicarakan?”
Kataku memecahkan
keheningan. Ia masih diam dengan posisi yang sama. Aku dilema, antara tetap
disana atau lebih baik pergi saja. Beberapa menit kemudian, ia mengubah posisi
duduk. Lebih tegak dan seolah berusaha untuk menjawab pertanyaanku tadi.
“Ada yang ingin aku tanyakan,”
Katanya.
“Silahkan”
Jawabku singkat.
“Kamu masih dekat dengan dia?”
Aku membuang pandanganku
jauh-jauh. Pertanyaan yang sama, seperti beberapa bulan lalu. Aku sadar jika ia
tahu jawaban apa yang akan kujawab. Dan aku tidak mengerti mengapa ia masih kekeuh menanyakan hal yang sama yang
mungkin membuat hatinya sakit.
“Masih
sama, seperti dulu.”
Ia kembali diam.
“Kenapa?”
Tanyaku lagi. Kali ini ia
menggelengkan kepala.
“Cuma
itu yang mau kamu tanya?”
Tanyaku lagi. Ia
menggelengkan kepala (lagi).
“Aku minta maaf”
Katanya.
“Untuk?”
“Untuk kesalahpahaman selama
ini. Maaf aku salah,”
“Aku
masih gak ngerti,”
Ia menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia
berbicara lebih panjang dari sebelumnya.
“Aku salah menilai kamu.
Aku kira kamu lebih dari sekedar dekat dengan dia”
“Maksud
kamu?”
“Di hari perpisahan itu,
kalian pergi bersama kan? Aku kira kalian….”
“Aku
tahu pasti kamu berprasangka buruk saat itu,”
Kataku memotong
pembicaraannya.
“Maaf,”
“Aku
dan dia masih berteman, sama seperti kita,”
“Maaf aku salah. Aku
berprasangka buruk. Padahal aku belum mendengar cerita yang sebenarnya dari
kamu. Dan aku, dengan mudahnya mengambil tindakan bodoh,”
“Kamu
terlalu mudah menyimpulkan sesuatu,”
“Aku lagi dalam keadaan
setengah sadar pas itu. Maaf.”
“Tidak,
kamu gak salah kok. Maaf udah bikin salah paham,”
“Engga, aku yang salah,”
Sahutnya. Ia masih kekeuh untuk menyampaikan permintaan
maafnya.
“Ayolah,
kita ganti topik pembicaraannya. Aku gak suka situasi ini.”
Kataku berusaha
mengalihkan pembicaraan.
“Gimana kabar kamu?
Gimana kuliah kamu?”
“Ya
tetap lancar, sebentar lagi aku sidang. Doakan aku ya,”
“Iya, semoga cepat lulus
ya. Semoga jadi penulis terkenal,”
Aku membalas ucapannya dengan senyum.
“Dan
kamu?”
“Aku masih gitu-gitu aja
ha ha ha,”
Kali ini ia
memperlihatkan raut wajah yang tenang. Inilah dia yang kukenal. Selalu
menyampaikan sesuatu dengan ekspresi seolah tidak ada beban hidup. Dan ini yang
selalu membuat perasaan sedihku hilang setiap kali mendengar caranya berbicara.
“Kapan
kamu serius kuliah?”
“Secepatnya. Aku mau
nyusul kamu juga sidang,”
Aku berharap dalam hati
semoga ucapannya kali ini serius.
“Trus sekarang kamu lagi
suka baca buku apa?”
Katanya. Ia tahu jika aku
sangat menyukai topik yang berhubungan dengan novel.
“Sekarang
sih buku Tereliye yang judulnya Matahari. Udah lama sih beli bukunya tapi baru
sempat baca sekarang,”
“Oh ya, aku juga sekarang
lagi baca buku Tereliye yang judulnya Hujan,”
“Nah
seru tuh Hujan, aku udah baca. Kamu suka ceritanya?”
“Suka banget! Tentang
cinta sama persahabatan gitu kan. Tapi aku belum selesai bacanya sih,”
Aku senang mendengarnya
ketika ia memiliki hobi baru yang positif saat ini, yaitu membaca buku.
“Baca
dong sampe selesai, ceritanya seru, bikin terharu.”
“Nanti deh ya aku
lanjutin baca. Oh iya, sekarang aku ngoleksi 3 buku Tereliye dirumah,”
“Oh
ya? Apa aja itu?”
“Negeri Para Bedebah, Kau
aku dan sepucuk angpau merah, Hujan,”
“Wow”
“Oh iya sama satu lagi,
buku tuntunan sholat ha ha ha”
Aku membalas tawanya.
Teringat beberapa bulan lalu aku memberikannya buku itu dengan harapan agar ia
mau menjadi orang yang lebih baik lagi.
“Jadi
kita masih bisa berteman, kan?”
Ia mengangguk mantap.
“Gak
akan musuhan lagi?”
Kataku setengah
menyindir. Ia kembali mengangguk dan tertawa sejenak.
“Yap. Gak akan musuhan
lagi. Tapi memang sejak kapan kita musuhan?”
“Jangan
pura-pura tidak tahu,”
Kataku sambil menjitak
kepalanya. Kami tertawa dengan bahagia hari itu.
“Alana”
Katanya memanggil namaku.
Aku menoleh pandangan kehadapannya.
“Kalau kamu mau lebih
serius sama pria itu, gak apa-apa kok. Kita tetap bisa berteman,”
Tampak terlihat wajah
teduh darinya. Aku menarik nafas dalam-dalam, tidak tahu harus menjawab apa.
Kami segera berdiri dari
kursi itu. Pandangan kami masih dengan menatap satu sama lain. Rasa rindu dan
sedih menjadi satu. Bagaimana tidak, mungkin sehabis ini kami akan tidak pernah
bisa bersama seperti itu lagi.
Ia mengulurkan tangan
kearahku dan aku membalasnya.
“Jaga diri baik-baik ya,”
Katanya memberikan pesan
bak seorang ayah kepada anak putrinya.
“Kamu
juga, jaga diri baik-baik ya. Awas kalo males-malesan kuliah lagi,”
Sahutku sambil tersenyum.
Setelah persalaman itu, kami bergegas pulang dengan jalan yang berbeda. Ia ke
kiri, dan aku kearah kanan. Adegan ini persis saat kami bertemu didekat tangga
kampus, saling bertatap mata dan tanpa ekspresi kami membuang muka
masing-masing.
Perjalanan pulang itu
sama seperti jalan hidup kami. Ia memilih jalan bahagianya, begitu juga
denganku. Kami berada di rute yang
berbeda.


0 komentar