C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >

 

3 hari kemarin menjadi perayaan hari M (nama pemeran utama). Bukan hanya hari bahagia, tetapi juga hari pilunya. Sebuah memori bak dunia mimpi yang ditampilkan di tempat pembuka bernama Sarmal. Penonton disuguhi oleh pria Sirkus bersuara lantang meneriakkan apapun yang menjadi unek-unek hatinya. Tentang tempat bernama Memomemoria yang ia hindari dan ia larang siapapun untuk masuk ke dalamnya. 


Memomemoria. Sebuah pertunjukkan dari memori seorang M. Sesuai namanya, pergelaran ini dibuat Magis dan Manis. Dua konsep yang dibawa seorang Sal Priadi yang menjadi Tuan Rumah selama tiga hari itu. Kata orang, inilah festival “paling sibuk” karena dari ujung timur ke barat tidak pernah sepi dikunjungi. Ada gelaran teater, bilik monster rambut, komidi putar, hingga beberapa orang beratribut sirkus yang lalu-lalang membawa dunia mereka dan berkeliling arena. Sebuah plataran bertuliskan Meja 44 menampilkan panggung partisipatif terbuka untuk umum. Tiap hadirin bisa singgah dan  menyimak kisah-kisah yang dibagikan oleh mereka yang terpilih. Belum lagi dengan adanya musisi yang meramaikan Sarmal seperti Nadin Amizah, Atlesta, dan Matter Halo di masing-masing harinya. 

3 hari itu, memori dan kenangan M tidak hanya disimpan, tapi juga dirayakan. Ketika ruangan pertunjukan Berhati dimulai, disitulah semua orang bisa merasakan bagaimana perasaan M dengan iringan album Berhati. Dalam pertunjukkan ini, M ditemani oleh Boo, sosok yang merepresentasikan perasaan M. Boo bisa merasakan setiap perasaan M, sedih senang bahkan hancurnya. M yang jatuh cinta dengan Pria itu, M yang patah hati, sampai M juga yang tetap memilih untuk memaafkan. 

Aku ingin jadi jantungmu

Dan berhenti semauku

Agar kau tahu

Rasanya hampir mati ditikam

Patah hati

Aku ingin jadi jantungmu

Dan berhenti semauku

Pertunjukkan selama kurang lebih satu setengah jam tersebut akhirnya selesai. Namun belum berhenti sampai disitu, seluruh pengunjung diarahkan untuk kembali ke Sarmal. Sampai akhirnya di akhir sesi, seluruh pemeran pertunjukan (dan tentunya Sal) datang ke tengah-tengah pengunjung untuk melantunkan rasa terima kasihnya. Semburan kertas dari confetti mulai berterbangan diiringi dengan irama perayaan penutup acara. 

Gelaran Sarmal dan pertunjukan berhati 2025 telah resmi usai. Terima kasih semua yang sudah berperan dalam cerita yang hangat dan penuh warna ini. Semoga bisa membawa pulang memori-memori ria di kesempatan lainnya.

 

Hari itu, Ia memutuskan untuk keluar kota yang berjarak 8 jam dari Jakarta. Sambil menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai, Ia memilih duduk di tengah penumpang lain yg juga masih menunggu kedatangan kereta. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tepat ketika semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. 

Di keramaian stasiun malam itu, Ia mencium wangi yang sama. Aroma khas yang sampai saat itu masih terngiang di otaknya. 

Aroma yang khas. Seperti beberapa bulan lalu. Dari punggung jaket warna coklat tua. Bersamaan dengan macetnya Jakarta di jam 8 malam. Beberapa percakapan muncul di otaknya, seolah dunia kembali mundur ke beberapa waktu belakang.

Secara tak sadar, Ia mulai melihat ke kanan kiri, seolah sedang mencari seseorang. Namun Ia sadar, tak satupun sosok yang Ia kenali disana. Dan kembali berpaku dengan tugas yang harus diselesaikan malam itu juga. 

S'lalu dalam sepi

Kau bebaskan sang khayal

Sepintas kisah mengarungi desah

Dan hempaslah masalah

“Udah nunggu lama?” 

Kata seseorang yg tiba-tiba sudah muncul di depannya sambil menenteng tas besar seperti hendak liburan lebih dari 3 minggu. Orang itu bernama Wina, bisa dibilang mereka sudah bersahabat lebih dari 10 tahun sejak duduk dibangku perguruan tinggi. 

Wina segera duduk di sebelahnya dan memainkan hp sampai petugas mengumumkan bahwa jam check in kereta mereka sudah bisa dilakukan. 

* * *

Esoknya, Ia dan Wina mengunjungi sebuah pameran tahunan di kota itu. Pasar seni rupa kontemporer yg menjadi daya tarik wisatawan, dan memang tujuan utama mereka berlibur salah satunya adalah mengunjungi tempat tersebut. 

Tahun ini, pamerannya menampilkan tema Amalan. Hal yang membuat Ia bertanya-tanya seni apa yang muncul dari sebuah hal berbentuk “Amalan”.

Setibanya di sana, Ia dan Wina sepakat untuk berpisah sejenak agar bisa lebih fokus menikmati setiap karya seni dengan caranya masing-masing.

Pandangan matanya tertumbuk pada sebuah tulisan kuratorial yang mengulas tema pameran:

Makna amalan dalam ARTJOG tahun ini tidak terikat pada definisi kamus yang menekankan ‘klise’ pahala. Amalan di dunia seni terbentuk baik secara intrinsik maupun ekstrinsik, dalam dan luar bahasa. Amalan adalah laku praksis sebagai subjek, baik subjek estetik, sosial, politikal, tekstual, agamis, atau sebutlah apa saja. Relasi seniman dengan dunia adalah kelindan persepsi yang menubuh, begitu pula sebaliknya. Dengan itulah kebaikan hidup bersama dapat mulai diperbincangkan dan karya seni dipandang sebagai ‘hadiah’ bagi dunia, di luar kalkulasi laba rugi yang kerap tak bisa ditakar nilainya.

Meski bahasanya sedikit sulit dipahami, ia bisa menangkap makna didalamnya. Bahwa karya seni yang ada disini terbentuk dari sesuatu yang tulus yang memberi nilai dan makna pada kehidupan bersama. 

“Di luar kalkulasi laba rugi yang kerap tak bisa ditakar nilainya? Apa maksudnya ya?” Batinnya. 

Ia mencoba menerka-nerka maksud dari kalimat ini. 

Galeri seni ini cukup menakjubkan bahkan melebihi ekspektasinya. Para pengunjung yang datang tak hanya hadir untuk mengabadikan momen saja. Sebagian tampak bertukar pikiran tentang makna karya seni yang ada. Sesekali membaca keterangan sambil mengangguk tanda mereka paham setiap makna karya yang sedang dipamerkan disana. 

Sambil mengelilingi tiap ruangan, Ia tak sengaja mencium aroma itu (lagi). Wanginya masih begitu kuat seolah baru disemprot. Sesekali Ia mencoba mendekatkan diri ke arah satu persatu pengunjung museum itu. Hanya untuk tahu siapa yang menggunakan parfum satu ini. Namun Ia gagal (lagi) dan memutuskan untuk melupakan usahanya hari itu. 

“Toh itu cuma parfum” batinnya dan berlalu. 

Kau belajar menjarah

Dirimu yang lelah

Kau rentang waktu yang kejam

“Gue nyium aroma yang sama lagi.” katanya.

“Wangi itu lagi? Dimana?” Tanya Wina seolah ia tahu wangi yang dimaksud. 

“Di ruangan sebelah sana, tapi udah ilang lagi wanginya.” 

“Mungkin cuma sugesti itu. Tapi kenapa sih lo selalu penasaran sama wangi yang sama?” 

Tanya Wina. Ia menggelengkan kepalanya. 

"Gue cuma penasaran, soalnya menurut gue varian parfum ini enak banget. Apalagi kalau udah nyatu sama keringat setelah berjam-jam dipakai, terus kena angin jalanan Jakarta di jam-jam after office. Menurut gue, wanginya bisa bikin orang di sekitarnya merasa... tenang."

"Hmm.. gue penasaran juga sih kenapa lo sampe bisa deskripsiin aromanya se detail ini. And fortunately, mumpung kita lagi disini, ada satu tempat yang kayaknya wajib banget kita datengin. Ya it takes like 3 hours to go, tapi kayaknya ini bisa bantu lo nemuin jawaban tentang aroma itu!" kata Wina penuh semangat. 

* * * 

Keesokan harinya, mereka berdua mulai melakukan perjalanan yang ke lokasi yang dimaksud dengan menyewa mobil. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih tiga jam, dan sepanjang itu juga Wina sama sekali tidak mau memberi tahu tempat yang dimaksud. 

"Kita mau kemana sih sebenernya? jangan bilang lo mau nyulik gue? ya kan?" tanya nya dengan ekspresi sedikit kesal.

Wina hanya menjawab dengan tersenyum sambil sesekali melirik kearah gmaps untuk memastikan jalan yang mereka lewati tidak salah. 

Setelah melewati jalan sempit di antah berantah, mereka diarahkan untuk mengambil jalan memasuki perkampungan. Awalnya Ia berekspektasi bahwa mereka akan berkunjung ke sebuah perkampungan. Namun ternyata salah, setelah melewati beberapa jalan yang curam, keduanya disambut oleh pemandangan indah khas pegunungan. 

RUMAH ATSIRI. Sebuah tempat baru yang memberi kesan menakjubkan meski keduanya baru menginjakkan kaki di halaman depannya saja. Bayangkan, di tempat yang jauh dari kota ini berdiri bangunan futuristik nan kokoh. 

"Milen, kenalin ini teman saya, namanya Ia." Kata Wina sedikit mengagetkannya yang sedang sibuk memandangi sekelilingi bangunan. Ia segera menyalami orang yang dimaksud. 

Ternyata Milen adalah tour guide disana. Hari itu, Milen menemani keduanya untuk menjadi tour guide museum sambil memperkenalkan setiap sudut bangunan. Milen menjelaskan tentang apa itu minyak atsiri hingga sejarah bangunan ini yang ternyata dulunya adalah sebuah bangunan pabrik tua sejak zaman 1950-an. 

"Oh iya, saya dapat info dari Wina kalau maksud kedatangan kalian kesini karena untuk mencari satu wangi parfum ya?" tanya Milen dengan nada ramah. Ia mengangguk. 

Milen segera mengajak keduanya untuk masuk ke sebuah ruangan workshop. Hari ini pengunjung yang datang tidak terlalu banyak sehingga keduanya bisa lebih fokus untuk mengobrol dengan Milen membahas tentang berbagai jenis minyak atsiri dan parfum-parfum.

"Boleh coba deskripsikan wangi yang kamu ingat seperti apa?" tanya Milen. 

"Saya bisa mencium aroma jahe di awalnya. Tapi di lain waktu berubah jadi sedikit menyerupai aroma kayu cendana." katanya. 

Namun, ku pun berkabar

Akan keriangan

Yang kau hempas di masa dendam

"Oke, mungkin bisa dibilang top notes nya adalah aroma jahe, lalu base notesnya kayu cendana. Saya jelaskan sedikit ya. Jadi dalam dunia parfum, ada yang namanya piramida parfum atau perfumery note: top notes parfum, middle notes, dan base notes. Top notes parfum itu first impression atau aroma yang pertama kali akan tercium ketika parfum disemprotkan ke kulit. Sedangkan middle notes adalah aroma yang kamu cium setelah top notes mulai hilang atau bisa disebut heart notes atau atraksi utama sebuah parfum. Dan yang terakhir adalah base notes yang adalah puncak aroma parfum yang lebih tahan lama bahkan bisa sampai 6-12 jam tergantung jenis parfumnya." jelasnya.

"Jadi make sense kalo saya ngerasa wanginya agak berubah dari awal sampai akhir, karena adanya tingkatan ini?" 

Milen mengangguk. 

"Yap, mungkin orang yang pakai parfum ini ketika bertemu kamu menyemprotkan parfumnya berkali-kali, dan setelah beberapa jam pertemuan parfumnya mulai melekat di kulitnya dan akhirnya aromanya menyatu dengan dirinya. Bisa dibilang ini sebuah identitas yang terbentuk dari aroma parfum dan aroma tubuhnya." jawab Milen. 

Milen memejamkan matanya seolah sedang membayangkan wangi yang Ia sebutkan tadi. Jemarinya mengetuk meja dengan membentuk irama. 

"Sebentar ya." Milen memutar badan sambil berjalan ke arah etalase parfum. 

Wina dan Ia pun memanfaatkan momen ini untuk mencium botol-botol parfum yang ada di etalase sambil menyemprotkan satu persatu ke tangan. Ditarikan nafas pertama saat menyemprotkan parfum, Ia sedikit memundurkan wajahnya. 

"Boozy fragrance, wanginya agak tajam. Kemungkinan bukan yang kamu cari kalau kamu gak main ke nightclub." 

kata Millen seolah mengerti mimik mukanya yang agak terkejut dengan aroma tajam ini. 

"Semoga ini wangi yang kamu maksud." kata Millen sambil menyodorkan sebuah parfum. Ia segera menyemprotkan wewangian itu di titik nadi lengannya. 

Aroma jahe yang ternyata bersamaan dengan wangi bergamot yang tidak berlebihan. Semprotan awal memang tercium sedikit tajam (meski tak setajam aroma botol di etalase sebelumnya), tapi lama kelamaan aromanya mulai berubah memikat. 

Sayangkan lamunanmu

Tiada yang membakar keraguanmu (keraguan)

Matanya membelalak tajam setelah mencium aroma itu. Ya, benar ini wangi yang ia cari selama ini. Tapi ada hal lain yang membuatnya merasakan sesuatu.

She finally realized, it wasn’t about the perfume she loved. But the person who wore it all day long. 

Orang yang sama saat mereka melewati jalanan Selatan Jakarta di waktu sepulang kantor sambil mencari kedai ramen yang nyaman untuk mengobrol berjam-jam. Saat keduanya sibuk memilih tontonan netflix yang seru meski sudah masuk pukul dua malam. Dan orang yang sama yang memutuskan untuk mundur saat mereka sama sama sedang “berusaha” waktu itu. 

They went talking until 2 AM, to 2 minutes a day, to 2 days ago, to never.

"Parfum ini memang genderless tapi cenderung ke maskulin. So, are you talking about a man?" tanya Millen dengan penasaran dan disambut dengan ekspresi Wina seolah ia baru paham maksud dari pencarian aroma parfum ini. 

* * *

Setelah akhirnya menemukan wangi yang memanggil memori itu, Ia memutuskan untuk menyudahi pencariannya lagi. Baginya, memori hanya lah sebuah memori. 

Ternyata, jawaban demi jawaban tak hanya didapatkan dari kedatangannya ke Rumah Atsiri dan juga karya seni di pameran kemarin. Bahkan tentang makna “kalkulasi laba rugi” yang sempat Ia pertanyakan saat di pameran. Ia seolah mendapat suatu pesan: 

“Sesuatu yang tulus bisa diberikan kepada siapapun itu. Meski soal kembali dan tak kembali, untung dan rugi, tidak ada salahnya mencoba, bukan?”

Ia tersenyum tipis dan berlalu seolah telah berdamai dengan apa pun yang tak bisa Ia pastikan.

Di ladang (di ladang) harapanmu (harapanmu)

Bersandar semua angan yang kau gerai, oh-oh

Bersandar semua angan yang kau gerai, uh-uh

 


Riuh kemacetan Jakarta terasa semakin padat. Apalagi hujan yang mulai mereda setelah hampir seharian derasnya menyelimuti ibukota. Suara klakson mulai terdengar bersahutan malam itu. Hingga terlihat deretan pengemudi ojek online yang menunggu penumpangnya di pinggir jalan. Sambil sesekali melambai tangan ke arah orang-orang yang berjalan, hanya untuk memastikan salah satu dari mereka adalah penumpangnya. Meski beberapa kali tebakannya salah dan harus kembali menunggu sampai ada yang datang menghampiri. 


“Thalia ya?” 

Kata Cakra pada seseorang yang tiba-tiba masuk ke mobilnya. 


“Jangan bercanda, ayo gue udah laper!” 

Jawab wanita itu sambil sibuk membasuh rambutnya yang sedikit basah akibat rintikan hujan. 


* * *

Dia lah Thalia, wanita yang sudah Cakra kenal sejak satu tahun belakangan. Cerita perkenalannya singkat, namun bisa dibilang cukup berkesan. 


Seseorang yang Cakra temui di pesta pernikahan temannya tepat satu tahun lalu. Tepat dimana MC meneriakkan “you may now kiss your bride” dan semua mata tertuju pada pengantin, disambut tepuk tangan dan teriakan bahagia. Berbeda dengan para tamu yang lain, wanita itu memilih untuk duduk mematung sambil meneguk segelas sampanye. 


“Boleh duduk disini?” 

Wanita itu melirik sejenak sambil mempersilahkan. Dari raut wajahnya tampak ia sedang memikirkan sesuatu namun tetap berusaha untuk ramah. 


“Jodoh itu unik ya, kaya Gery sama Nindya. Gue gak pernah nyangka kalo pada akhirnya Nindya bisa lepas dari hubungan toxicnya yang udah berjalan bertahun-tahun. Ratusan kali gue jadi tempatnya nangis, ngata-ngatain mantan nya, sampe akhirnya balikan lagi. Untung dia ketemu orang baik kaya Gery dan akhirnya mantap mutusin buat nikah.” 

Kata wanita itu dengan tatapan bangga ke arah dua mempelai yang masih berdiri di pelaminan. 


“Lo temen Gery? Atau teman kantornya Nindya?” 

Tambahnya. Kali ini ia mengalihkan pandangannya ke arah Cakra. 


“Kebetulan gue sahabat Gery dari jaman SMP. Betul kata lo, Gery orang yang baik, mau first impression atau udah lama sekalipun, gue ngerasain itu juga.” 

Wanita itu pun mengangguk setuju dengan jawaban Cakra barusan. 


“Oh iya gue, Cakra. Salam kenal.” 


“Thalia” 


Mereka saling bersalaman dan mengobrol panjang malam itu. 


Tak lupa mereka mendokumentasikan diri di booth yang telah disiapkan oleh pengantin. Meski baru pertama kali bertemu, tidak terasa adanya kecanggungan diantara keduanya saat berfoto. Thalia orang yang cukup periang dan tentunya fotogenic. Hingga di setiap jepretan foto, ia terlihat sangat cantik apalagi dengan rambut lurusnya yang tergerai indah. Gaun hitam yang ia kenakan berpadu serasi dengan lipstik merah menyala, menambah kesan misterius sekaligus anggun. Malam itu, ia seolah menjelma menjadi sosok Veronica Lodge dalam serial Riverdale. 


“Cheers to our new friendship!” 

Katanya sambil berpose seolah-olah keduanya sedang bersulang di akhir sesi foto. 


Foto kita blur tak banyak yang kulihat

Foto kita blur tapi banyak yang aku ingat

Foto kita blur kita pernah begitu dekat

Foto kita blur kini memorinya ku dekap

* * *


Sejak pertama bertemu, Cakra dan Thalia merasa memiliki banyak kesamaan. Mulai dari Thalia yang berzodiak Aries dan Cakra si Leo (sesama zodiak Api) yang selalu penuh semangat dan kompetitif, selera musik yang sama, pecinta traveling, sesama sweet tooth dan masih banyak hal lainnya. Inilah yang membuat keduanya semakin dekat. Setiap weekend mereka bertemu untuk menghabiskan waktu bersama, bahkan sesekali saat pulang kantor hanya untuk mencoba makanan manis hingga karaoke di mobil tanpa tujuan perjalanan yang jelas. 


Tak hanya itu, komunikasi keduanya selalu berjalan setiap harinya. Disela-sela kesibukan, mereka terus bertukar kabar dan cerita. Sebagai seorang designer di sebuah brand kosmetik kelas dunia, Thalia selalu antusias untuk menceritakan projek-proyek yang ia kerjakan. Meski kadang ia mengeluh ketika kerjaan yang menumpuk dan deadline yang mepet, namun ia selalu tampak bangga menjadi bagian dari perusahaannya itu.

 

Sebuah pesan masuk di layar ponsel Cakra. 


Thalia:  

Finally, besok ketemu lo, Cak. Can’t waitt :* !!!! 


Cakra tersenyum tipis membaca pesan itu. Selang beberapa menit, ada pesan lagi yang masuk. 


Thalia: 

Lo gak kangen gue apa??? 


Cakra secara cepat merespon chatnya. 


Cakra: 

Kangen dong, kenapa emangnya? 


Pesan balasan datang secepat kilat yang membuatnya tertawa kecil. 


Thalia: 

Boong banget! Kalo kangen beneran harusnya bales emot kiss gue tadi! 


Cakra: 

Iye ini! KANGEN THALIA DEH HUHU :*! 


Thalia: 

Nah gitu dong! Hahaha, SEE U CAKKK! 


Pernah ada hati merah muda terbang terbang di atas kepala

Lompat lompat kegirangan lalu duduk duduk manis di pipimu

Juga titik dua tanda bintang dengan banyak tanda tanda seru

Tanpa banyak tanda tanya sering kita saling kirim cium jauh

* * *


“Mau makan kemana kita malam ini?” 

Kata Cakra. Tampak Thalia masih sibuk melihat ke arah handphonenya untuk mencari rekomendasi makanan di TikTok. 


“Ini udah pernah, ini udah juga.” 

Katanya sambil sibuk men-scrolling laman beranda. 


“Mau di blok M? Kan banyak pilihannya disitu daripada nyari-nyari di TikTok ga nemu.” 


“Nah, good idea! gue juga kepikiran tadi. Sekalian abis itu kita strolling around blok M buat nyari…”


“Banoffee tiramisu atau blueberry pancake, dessert kesukaan Thalia dan Cakra!” 

Kata keduanya bersamaan. 


Malam itu, mereka memilih untuk mengunjungi kafe “manis” di blok M setelah sebelumnya menyantap ramen. Mata Thalia terlihat berbinar-binar setelah melihat cake-cake cantik tersaji di depannya. 


Ia segera mengambil sendok kecil dan mulai menyantap sedikit demi sedikit sambil bergumam kecil. 


“Gimana? enak gak?” 

Kata Cakra. Thalia tidak menjawab langsung tapi dari ekspresi wajahnya sudah menjelaskan bahwa ia puas dengan santapannya malam itu. 


“By the way, Thal. Lo kan suka banget sama makanan manis. Apa lo gak pengen bikin bakery? Gue yakin bakal rame banget, apalagi lo udah punya banyak pengalaman cicipin cake-cake manis dari seluruh penjuru negara.” 

Thalia melirik ke arahnya sambil tersenyum. 


“Kayanya gue gak bakat deh, Cak. Masakan rumahan aja gue sering gagal, apalagi bikin kue.” 


“Loh kenapa? lo belum coba kali, siapa tau emang berbakat disitu. Gue siap kok buat jadi kelinci percobaannya buat nyicipin cake buatan lo sebelum dijual di pasaran. Atau kita bikin toko bakery bareng, kayanya seru!”


Kali ini mata Cakra yang tampak berbinar-binar penuh semangat, seolah ide ini cukup cemerlang untuk dijalani keduanya. 


 “Coba lo bayangin, Thal. Tiap weekend kita jelajahi toko-toko bakery di Jakarta, trus kalo nemu yang enak kita cobain bikin bareng-bareng. Bayangin, kita ngabisin waktu berjam-jam di dapur sambil dengerin lagu-lagu yang biasa kita puter di mobil biar suasana tetap seru dan ga stres. Sampai akhirnya kita berhasil ciptain menu-menu ‘ajaib’ yang bisa bikin pelanggan tergila-gila sama kue buatan kita.” 


“Bagus juga ide lo. Jujur gue pernah punya cita-cita bikin bisnis, bahkan udah nyisihin uang tabungan khusus buat ini. Cuma sampai sekarang, gue belum nemu ide bisnis yang pas. Bakery sounds like a great place to start, sih.” 


Jawab Thalia sambil mengangguk.


“Menurut lo namanya yang cocok apa, Cak?”


“Hm.. Thalia Madhava Bakery. Nama depan lo dan nama belakang gue. Keren gak?”

Sahut Cakra dengan senyum lebar. 


“Bagus banget! Bener ya kita usahain bikin bisnis ini suatu hari nanti? Janji, Mr. Pastry?” 

Kata Thalia sambil mengulurkan janji kelingkingnya ke arah Cakra dengan ekspresi penuh harap. 


“Janji! Ms. Blueberry, blueberry pancake!” 

Jawab Cakra melingkarkan jari kelingking pada Thalia sambil menyantap blueberry pancake yang tersaji di hadapannya.  


Memilih nama panggilan mesra

Kamu blueberry dan aku pastry

Nama depanmu nama belakangku

Jadi nama toko roti

* * *


Ku tutup dengan satu trik sulap

Kau bisa hilang secepat kilat

Ingin aku tepuk tangan

Tapi belum juga melihatmu kembali


Seminggu berlalu tanpa kabar Thalia. Bahkan pesan singkat yang sudah dikirim berkali-kali oleh Cakra, pada akhirnya tidak mendapat respon. 


“Thalia, are you okay?” 

Malam ini Cakra kembali berusaha menghubungi Thalia. Meski ia tahu, Thalia tidak akan membalas pesannya seperti hari-hari sebelumnya. 


Tepat seminggu yang lalu, Cakra akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Thalia. Dengan kedekatan mereka yang sudah berjalan satu tahun lebih, ia merasa keduanya harus segera menjalin hubungan yang serius. 


Meski selama ini Thalia tidak pernah mau untuk membahas tentang perasaannya, namun ia selalu beranggapan bahwa Thalia bukanlah tipe orang yang mudah untuk mengungkapkan perasaannya meski secara tidak langsung sekalipun. 


“Thal, kita udah setahun bareng-bareng kaya sekarang ini. Kayanya gue mau serius sama lo.” 


“Maksud lo, Cak?” 


“Kita udah saling nyaman dan cocok, Thal. I know you feel it too. And it’s time for us to take the next step. Thalia, I’ve loved you since we first met and until now, that hasn’t changed. Gue suka cara pikir lo, cara komunikasi kita, the way you give me attention and how you treat not just me but everyone around us. You’re such a wonderful person and I know if one day we grow together as a couple, we'll become the happiest husband and wife in the world!” 


Dalam beberapa menit saja, suasana menjadi hening. 


Thalia belum merespon, namun terdengar nafasnya yang sedikit berat. Entah karena ia sedang memikirkan jawabannya atau ada hal lain yang memenuhi pikirannya saat itu. 


“Thalia?” 

Cakra memandang ke arah Thalia yang masih tampak kosong. 


“Sorry Cak, 12 tahun bukan waktu yang sebentar. Gue masih belum bisa buka hati ke siapapun sekarang.” 

Kata Thalia dengan tatapan nanar. 


“Lo masih mikirin Petra, yang udah sejahat itu ninggalin lo setelah 12 tahun kalian pacaran. Tiba-tiba mutusin dan gak kasih kabar sampai hari ini?” 

Thalia memilih untuk diam.  


“Thal, kenapa setidaknya gak mau coba? Kayak Nindya sama Gerry. Kita sama sekali gak ada harapan?” 


“Gak bisa, Cak. Kita udah sedekat ini, gue cuma berharap bisa terus sahabatan sama lo kaya sekarang.”


“Apa sih yang masih lo tunggu dari dia?” 

Thalia terdiam sambil menarik nafasnya dalam-dalam. 


“Sampai gue bisa benar-benar lepas dari bayangan Petra, Cak. Yang gue gak tau sampai kapan itu. Atau mungkin sampai Petra balik lagi ngehubungin gue suatu hari nanti.” 


Udara malam itu terasa semakin menusuk. Cahaya gedung-gedung tinggi di Jakarta terasa redup perlahan di mata Cakra. Tepat setelah keduanya berpelukan dan memutuskan untuk berpisah malam itu. Perlahan bayang-bayang Thalia hilang dari pandangannya. Sampai akhirnya ia sadar, malam itu akan menjadi malam terakhir ia melihat Thalia lagi. 


Tak bisa jelas aku lihat

Senyum yang pernah hiasi duniaku

Masih jelas aku teringat

Bagaimana hariku pernah kelabu

* * * 


Setahun berlalu tanpa Thalia. 


Cakra mulai terbiasa untuk tidak mendapat pesan dari wanita itu. Ia merasa sedikit beruntung, karena kesibukan kerjanya akhir-akhir ini membuat pikirannya teralihkan. Sesekali Cakra memilih menghabiskan weekend untuk mencoba bakery-bakery di Jakarta. Bahkan ketika jadwal dinas ke luar kota dan luar negeri, ia menyempatkan diri untuk mencoba bakery disana. Sekedar untuk memenuhi sweet tooth-nya, dan juga ia berharap suatu hari nanti bertemu dengan Thalia dan bisa berkomunikasi lagi meski pastinya akan terasa canggung. 


Hingga akhirnya ia berkunjung ke sebuah bakery di daerah Jogja. Lokasinya kurang strategis, masuk ke jalanan kecil yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Namun ketika sampai di tempat, ia sedikit berdecak kagum. Dekorasi bakery ini cukup minimalis, dengan hiasan foto-foto dan lukisan manis yang terpajang di setiap sudut ruangan. Aroma manis dari cinamon tercium begitu pintu dibuka, menambah hangat suasana.


Untuk varian menunya juga cukup beragam, mulai dari Artisan breads seperti sourdough loaf, original croissant, hingga fancy pastries seperti baguette dan cake-cake unik ada disana. 


Ia pun memilih beberapa varian cake yang menjadi menu favorit disana. 


‘Pantas saja banyak yang merekomendasikan tempat ini’  


Batinnya setelah menyantap cake yang rasanya mirip dengan yang pernah ia coba ketika berkunjung di blok M bersama Thalia waktu itu. Tiba-tiba ia kembali teringat pada Thalia dan mencoba mencari tahu kabarnya di media sosial Instagram. Tampak foto terakhir yang Thalia unggah adalah foto dirinya sambil memanggang roti. Selama lebih dari setahun mengenalnya, Thalia selalu merasa tidak percaya diri untuk membuat roti. Tetapi dalam foto itu, tampak raut wajah bahagianya sambil memamerkan deretan kue cantik yang sepertinya ia hias sendiri. 


Dalam beberapa saat, Cakra merasa tidak asing dengan kue yang ada di postingan Thalia. Ya, bentuk hiasannya sama persis dengan kue yang ia makan saat ini. Dan yang membuatnya terkejut ketika melihat toko kue yang ia datangi sama persis dengan yang ada diunggah oleh Thalia. 


Bahkan dengan keterangan di postingannya yang menggambarkan perasaannya saat ini, seolah menyimpan pesan tersirat: 


One day, I'll be in the kitchen again. Baking cakes and trying out a new recipe again. I'll be decorating rows of colorful cakes on the table, imagining the joy on someone’s face when he tastes it. And from that moment, he'll realize I’ve become his favorite baker.


I'll dream of opening a bakery again, with his favorite cake as the star of the menu. I’ll bake thousands of beautiful loaves, and save the best one just for him. Until he finally visits the shop and tastes it, he will tell me once more that I’m his favorite baker, forever. 


One day, I won't be afraid to do any of it. 


  • Thadava Bakery, 2024 


Thadava Bakery, benar. Tempat yang sama yang didatangi Cakra hari ini. Dengan salah satu foto yang terpampang di sudut toko, adalah photobooth nya dengan Thalia saat pesta pernikahan teman mereka, dimana mereka pertama bertemu. 


Foto yang sedikit blur, hasil dari gerakan mendadak Cakra yang mundur cepat, tepat ketika Thalia tiba-tiba mencoba mendekatkan bibirnya ke arahnya. 


Foto kita blur tak banyak yang kulihat

Foto kita blur tapi banyak yang aku ingat

Foto kita blur kita pernah begitu dekat

Foto kita blur kini memorinya ku dekap



Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates