“Waktuku tinggal satu jam lagi. Apa yang mau kamu sampaikan?”
Kataku sambil melihat ke arah jam dinding di stasiun. Tiket sudah ada di tangan dan dalam beberapa menit aku sudah harus berada di dalam gerbong.
Ia menatap mataku lebih lekat, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hingga akhirnya ia menarik nafasnya dalam-dalam.
“Aku minta maaf dengan semua kekacauan setahun terakhir ini.”
Katanya.
“Lalu?”
“Bisa kasih aku satu kesempatan lagi?”
Tick tock the clock is ticking, time is running out
Before the day is over, I will let you go
Will let you go
I hope we’ll meet again somewhere not too far
Meanwhile I’ll dance alone again with this midnight sky
With midnight sky
Aku menggelengkan kepala. Nafasnya terdengar tak beraturan.
“Kenapa tidak? Kamu sudah punya pasangan baru?”
Wajahnya tampak sedikit cemas.
“Ada atau tidak adanya pasangan baru, bukan kamu yang akan aku pilih lagi.”
“Kenapa?”
“Kamu udah kehilangan aku, bahkan sejak beberapa bulan terakhir. Gak ada yang bisa dikembalikan lagi.”
“Aku udah berulang kali minta maaf, Sal. Masih belum cukup buat kamu?”
Katanya sambil memohon.
“Kamu udah aku maafin kok. Jauh sebelum kamu mengakui kesalahanmu. Tapi aku udah gak bisa buat terima kamu lagi. Kamu pulang aja ya, udah malam. Salam ya untuk ibumu, semua bakal baik-baik aja kok.”
Kataku.
And I would go across this million stars tonight
Driving all the way, wondering if you care
I call your name, a whisper in the dark you see
Did you hear it clear? Listen with your heart
Sudah setahun ini kami resmi berpisah. Banyak hal yang pada akhirnya tidak bisa kita pertahankan. Meski diawal aku terus memohon ia untuk tetap disana. Hingga pada akhirnya aku sadar, menahannya bukan cara yang tepat untuk bisa bersamanya. Sampai di titik dimana ia akhirnya memutuskan untuk benar-benar pergi dan memilih jalan barunya.
They say the stories of our lives’ have been written down
But maybe one should just get a chance to change it all
To change it all
Selama setahun itu, kulewati berhari-hari hanya menatap cahaya bintang dilangit. Sambil bergumam “Diantara semua yang ada malam ini, manakah yang paling menyedihkan : Aku atau si bintang redup di langit?”
*
(Bukit Asah Bali, Januari 2021)
(Bukit Asah Bali, Januari 2021)
“Sal, bintangnya kelihatan dari sini”
Katanya. Aku segera datang menghampiri sambil berdecak kagum menyaksikan ribuan bintang terang malam itu. Bagaimana tidak, aku jarang sekali melihat bintang se-bercahaya itu selama di perantauan. Sorotan lampu kota dan gedung-gedung tinggi membuat langit di kota perantauanku tampak seperti ilusi.
“Dari semua bintang itu, mana yang paling kamu suka?”
“Kenapa harus suka? Kan bentuknya sama”
Tanyaku.
“Lihat baik-baik deh, ada yang tampak redup ada juga yang tampak paling terang. Mana yang paling kamu suka?”
“Yang paling terang dong, karena paling jelas. Kalo kamu?”
“Yang paling redup”
“Kenapa?”
“Kasian, si redup pasti sedih mikirin hidupnya. Kenapa semua orang lebih fokus ke titik terang. sedangkan tanpa si bintang redup, langit jadi keliatan sepi.”
“Oke, kalo gitu aku juga pilih si bintang redup, biar dia gak sedih”
Sahutku.
Starlight star bright in the sky, who’s the saddest of them all?
Starlight star bright in the sky, who’s the saddest of them all?
Perjalananku selama setahun terakhir mungkin tak bisa dibilang mudah. Banyak hal yang kupelajari, dari menelan pil pahit dalam hubungan hingga menikmati keikhlasan. Dari sanalah aku belajar, bahwa semua yang kita miliki tidak harus jadi milik kita selamanya.
“Tapi duniaku cuma kamu, Sal.”
Suaranya mulai terdengar sedikit parau.
“Duniamu masih luas, bukan cuma tentangku, Re. Sekarang sudah bukan tugasku lagi membuat kamu tetap disini. Bukan tugasku lagi untuk memikirkan bahan tertawa kita hari ini, topik obrolan serius kita, bertengkar kecil tentang siapa yang duluan membayar bill, sampai memikirkan tempat apalagi yang perlu kita datangi besok. Ku serahkan semuanya ke wanita barumu, ya?”
“Aku lebih pilih kamu daripada dia, Sal.”
Katanya.
“Engga, dia jauh lebih butuh kamu daripada aku. Dan aku pantas mendapatkan orang baru. Keretaku sebentar lagi berangkat. Aku pamit ya.”
Dengan berat hati, ia membiarkanku pergi. Bukan hanya meninggalkan kota ini, tetapi juga kenangan kami.
Aku sudah masuk ke babak baru kehidupanku.
Jika hidup diibaratkan samudera, kali ini akulah nahkodanya. Berperang sendiri untuk bisa menembus dahsyatnya gelombang. Tanpa khawatir badai datang, karena sejak awal aku sudah terbiasa menerjang teriknya pesisir seorang diri. Melewati ribuan bintang malam yang berkali-kali membuatku rindu akan kehadirannya. Hingga akhirnya sadar, bahwa kapal ini bisa kukendalikan sendiri sampai nanti menemukan nahkoda barunya.
“Reyhan, terima kasih atas perjalanan hidup paling berharga. Dumugi iraga setata kicen kerahayuan lan kerahajengan. Benjang kacunduk malih. Matur suksma.”
bisikku kepada kabut-kabut malam itu.
And I would go across this million stars tonight
Driving all the way, wondering if you care
I call your name, a whisper in the dark you see
Did you hear it clear? Listen with your heart


