C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >

 

“Waktuku tinggal satu jam lagi. Apa yang mau kamu sampaikan?” 

Kataku sambil melihat ke arah jam dinding di stasiun. Tiket sudah ada di tangan dan dalam beberapa menit aku sudah harus berada di dalam gerbong.

Ia menatap mataku lebih lekat, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hingga akhirnya ia menarik nafasnya dalam-dalam. 

“Aku minta maaf dengan semua kekacauan setahun terakhir ini.” 
Katanya.

“Lalu?” 

“Bisa kasih aku satu kesempatan lagi?” 

Tick tock the clock is ticking, time is running out
Before the day is over, I will let you go
Will let you go
I hope we’ll meet again somewhere not too far
Meanwhile I’ll dance alone again with this midnight sky
With midnight sky

Aku menggelengkan kepala. Nafasnya terdengar tak beraturan.

“Kenapa tidak? Kamu sudah punya pasangan baru?” 
Wajahnya tampak sedikit cemas.

“Ada atau tidak adanya pasangan baru, bukan kamu yang akan aku pilih lagi.”
 
“Kenapa?”

“Kamu udah kehilangan aku, bahkan sejak beberapa bulan terakhir. Gak ada yang bisa dikembalikan lagi.”

“Aku udah berulang kali minta maaf, Sal. Masih belum cukup buat kamu?” 
Katanya sambil memohon.

“Kamu udah aku maafin kok. Jauh sebelum kamu mengakui kesalahanmu. Tapi aku udah gak bisa buat terima kamu lagi. Kamu pulang aja ya, udah malam. Salam ya untuk ibumu, semua bakal baik-baik aja kok.” 
Kataku. 

And I would go across this million stars tonight
Driving all the way, wondering if you care
I call your name, a whisper in the dark you see
Did you hear it clear? Listen with your heart

Sudah setahun ini kami resmi berpisah. Banyak hal yang pada akhirnya tidak bisa kita pertahankan. Meski diawal aku terus memohon ia untuk tetap disana. Hingga pada akhirnya aku sadar, menahannya bukan cara yang tepat untuk bisa bersamanya. Sampai di titik dimana ia akhirnya memutuskan untuk benar-benar pergi dan memilih jalan barunya.

They say the stories of our lives’ have been written down
But maybe one should just get a chance to change it all
To change it all

Selama setahun itu, kulewati berhari-hari hanya menatap cahaya bintang dilangit. Sambil bergumam “Diantara semua yang ada malam ini, manakah yang paling menyedihkan : Aku atau si bintang redup di langit?” 
*
(Bukit Asah Bali, Januari 2021)

“Sal, bintangnya kelihatan dari sini” 

Katanya. Aku segera datang menghampiri sambil berdecak kagum menyaksikan ribuan bintang terang malam itu. Bagaimana tidak, aku jarang sekali melihat bintang se-bercahaya itu selama di perantauan. Sorotan lampu kota dan gedung-gedung tinggi membuat langit di kota perantauanku tampak seperti ilusi. 

“Dari semua bintang itu, mana yang paling kamu suka?”
 
“Kenapa harus suka? Kan bentuknya sama” 
Tanyaku. 

“Lihat baik-baik deh, ada yang tampak redup ada juga yang tampak paling terang. Mana yang paling kamu suka?” 

“Yang paling terang dong, karena paling jelas. Kalo kamu?” 

“Yang paling redup” 

“Kenapa?” 

“Kasian, si redup pasti sedih mikirin hidupnya. Kenapa semua orang lebih fokus ke titik terang. sedangkan tanpa si bintang redup,  langit jadi keliatan sepi.” 

“Oke, kalo gitu aku juga pilih si bintang redup, biar dia gak sedih” 
Sahutku.

Starlight star bright in the sky, who’s the saddest of them all?
Starlight star bright in the sky, who’s the saddest of them all?

Perjalananku selama setahun terakhir mungkin tak bisa dibilang mudah. Banyak hal yang kupelajari, dari menelan pil pahit dalam hubungan hingga menikmati keikhlasan. Dari sanalah aku belajar, bahwa semua yang kita miliki tidak harus jadi milik kita selamanya.
 
“Tapi duniaku cuma kamu, Sal.” 
Suaranya mulai terdengar sedikit parau.
 
“Duniamu masih luas, bukan cuma tentangku, Re. Sekarang sudah bukan tugasku lagi membuat kamu tetap disini. Bukan tugasku lagi untuk memikirkan bahan tertawa kita hari ini, topik obrolan serius kita, bertengkar kecil tentang siapa yang duluan membayar bill, sampai memikirkan tempat apalagi yang perlu kita datangi besok. Ku serahkan semuanya ke wanita barumu, ya?”
 
“Aku lebih pilih kamu daripada dia, Sal.” 
Katanya.
 
“Engga, dia jauh lebih butuh kamu daripada aku. Dan aku pantas mendapatkan orang baru. Keretaku sebentar lagi berangkat. Aku pamit ya.”

Dengan berat hati, ia membiarkanku pergi. Bukan hanya meninggalkan kota ini, tetapi juga kenangan kami.

Aku sudah masuk ke babak baru kehidupanku.

Jika hidup diibaratkan samudera, kali ini akulah nahkodanya. Berperang sendiri untuk bisa menembus dahsyatnya gelombang. Tanpa khawatir badai datang, karena sejak awal aku sudah terbiasa menerjang teriknya pesisir seorang diri. Melewati ribuan bintang malam yang berkali-kali membuatku rindu akan kehadirannya. Hingga akhirnya sadar, bahwa kapal ini bisa kukendalikan sendiri sampai nanti menemukan nahkoda barunya. 

“Reyhan, terima kasih atas perjalanan hidup paling berharga. Dumugi iraga setata kicen kerahayuan lan kerahajengan. Benjang kacunduk malih. Matur suksma.”
bisikku kepada kabut-kabut malam itu.
 
And I would go across this million stars tonight
Driving all the way, wondering if you care
I call your name, a whisper in the dark you see
Did you hear it clear? Listen with your heart


Wanita itu sibuk mengaduk-aduk kopinya yang mulai dingin. Dengan mata sedikit berkaca-kaca, ia mulai membuka sebuah lembar undangan yang dikirimkan khusus untuknya. Bibirnya mulai bergetar, saat ia membaca sebuah nama yang tertulis disana. Handaru, nama yang sangat tak asing baginya. Bagaimana tidak, Handaru adalah pria yang yang sudah menemani hari-harinya selama sembilan tahun ini. Handaru, kekasihnya yang sejak duduk di bangku SMA selalu bermimpi untuk menjadi seorang novelis. Dan sejak dulu, Alika selalu mengidamkan untuk dipinang Handaru. Pernikahan adat Sunda dan gedung resepsi yang dipenuhi dengan harum bunga, karena sejak SMA Alika gemar mengoleksi bunga-bunga unik di teras rumahnya. Handaru mengiyakan saja, karena ia berpikir bahwa cinta SMA mungkin hanya sebatas cinta monyet yang tak jauh dari cerita ‘putus-nyambung’. Setahun, dua tahun, hingga lima tahun, hubungan mereka tetap terjalin dengan baik. Memang beberapa kali pertengkaran terjadi, karena hal-hal sepele seperti miscom dan lainnya, tetapi Handaru selalu mengalah dan akur lagi. Begitu selama delapan tahun belakang. Soal pria dan wanita idaman lain? Bukan tidak mungkin keduanya memiliki sosok-sosok idamannya sendiri. Handaru dan Alika, keduanya pernah berada di fase jenuh dan diam-diam menghubungi ‘sosok-sosok’ itu. Hanya saja, keduanya masih berpikir bahwa itu hanya rasa penasaran mereka saja dan kemudian kembali fokus pada masa-masa pacaran itu.
Waktu berlalu cukup lama. Namun, bagi mereka delapan tahun itu seakan hanya delapan menit. Handaru sudah kenal dekat dengan keluarga Alika, begitu pula sebaliknya. Handaru beberapa kali berkunjung ke kota asal Alika di Bandung dan kadang jika ada penugasan ke luar kota, Alika akan datang menghampiri Handaru ke Bali. Dan keduanya tak pernah absen dari komunikasi meskipun saat ini keduanya berada di kota yang berbeda.
Namun, beberapa bulan setelahnya, masalah mulai bermunculan. Alika menuntut Handaru untuk mencari pekerjaan tetap. Bisa dikatakan dirinya sudah berhasil dengan karirnya, beberapa waktu lalu ia dipromosikan oleh atasannya dan akhirnya levelnya naik menjadi manajer. Dibalik rasa bangga pada diri sendiri, Alika menyimpan kesedihan karena melihat Handaru yang sejak lulus kuliah tidak ada kemajuan. Memang, sejak SMA Handaru menginginkan untuk menjadi seorang novelis dan akhirnya ia memilih untuk melanjutkan perkuliahan di Sastra. Meskipun cerita cinta Alika lebih berwarna berkat puisi-puisi manis karya Handaru, ia masih menaruh harapan besar agar Handaru bisa memilih karir layaknya pria lainnya. Bekerja dengan suit and tie, rambut tersisir rapi kekanan, dan tas kulit hitam yang dijinjing kemana-mana. Bahkan impian Alika sudah jauh dari itu, jika suatu hari ia menikah dengan Handaru, ia yang akan merapihkan jas dan dasi Daru, memilih aroma pomade yang cocok untuk Daru, dan membawakan tas kulit hitam ketika Daru hendak berkemas untuk berangkat kekantor. Indahnya..
“Kamu terlalu berlebihan Lika,”
Kata Daru sambil merogoh kantongnya untuk mencari korek. Sambil menghidupkan asap, Daru membuang pandangannya jauh-jauh.
“Apanya yang berlebihan? Permintaanku ini?”
Tanya Lika dengan pandangan penuh kesal. Asap rokok mulai terasa di tenggorokannya. Ia batuk sejenak.
“Maaf,”
Kata Daru sambil mengibaskan tangannya ke udara seolah itu membantu untuk mengurangi batuk Lika karena asap rokok.
“Kamu pikir ini pertama kalinya aku menyuruh kamu untuk ninggalin dunia menulis? Daru, let’s see, hampir delapan tahun kamu menggeluti dunia menulis, sibuk merenung tentang dunia imajinasi kamu itu, rokok sana sini demi cari inspirasi, sekarang apa hasilnya?,”
Kata Lika dengan nada kesal.
“Belum waktunya Lika sayang, belum. Aku masih pemula. Kalo aku udah professional, aku yang akan terkenal, jadi pujangga, dan lainnya. Bahkan banyak orang bilang tulisanku menarik, kamu juga pernah bilang gitu kan?”
“Iya, tapi dulu waktu kita masih pertama pacaran. Coba sekarang kamu pikir, kita udah 26 tahun dan kamu pikir kalo suatu hari nanti kita nikah kamu mau biayain hidup aku pakai apa? Surat cinta delapan tahun yang lalu?”
Daru segera mematikan rokoknya. Mimik mukanya berubah menjadi lebih serius.
“Kalau suatu saat aku menjadi orang sukses, kamu juga kan yang memetik hasilnya. Cuma bukan sekarang. Sekarang kamu yang ditakdirkan buat jadi sukses, mungkin sebulan dua bulan kemudian aku yang akan sukses,”
“Sebulan dua bulan kamu bilang? Kalo ternyata belum bisa juga?”
“Setidaknya kita masih bisa bersama kan, saling dukung satu sama lain?”
Daru menatap wajah Lika dengan tajam.
“Saling dukung katamu? Selama ini aku memulai karir sendiri sampe bisa dapat jabatan kaya sekarang. Aku sama sekali gak pernah minta kamu untuk benar-benar ngasih semangat. Sekarang kamu bilang kita harus saling dukung? Yang benar saja.”
Daru membuang sisa puntung rokok dengan kesal.  
“Jalan hidup kita memang beda sekarang. Terserah kamu kalau masih mau denganku atau tidak. Silahkan pilih, nyonya manajer,”
Katanya sambil berlalu.
* * *
Sambil mengamati undangan yang masih ia genggam, Alika memandangi setiap nama yang tertulis jelas disana. Nama lengkap Ayah Daru dan (Alm) Ibunya. Dan satu lagi nama lengkap seorang wanita dengan nama Ayah dan Ibunya. Adinda Salia. Nama yang sebenarnya juga tidak asing baginya. Wanita yang sempat diagung-agungkan Daru saat mereka masih pacaran. Seorang kakak senior Daru, yang memang sejak kuliah adalah seorang penyanyi dari band yang cukup terkenal di Bali. Daru pernah bilang tentang kekagumannya pada Salia hanya sebatas fans dan idolanya saja. Lika mengiyakan saja, karena baginya sikap Daru seperti si Punuk yang merindukan Bulan. Dan ternyata semua impian Daru telah terkabul. Sekarang, Daru sudah menciptakan beberapa lirik lagu untuk band milik Salia. Tentang novel, Handaru berhasil menerbitkan beberapa novel terbaiknya hingga masuk dalam daftar best seller di toko-toko buku. Daru menjadi sosok yang cukup dieluh-eluhkan para wanita yang membaca novelnya. Meskipun di sosial media ia cukup tertutup bahkan tidak pernah mempublikasi tentang profil dirinya secara detail. Diam-diam, Lika selalu mengikuti perkembangan karir Daru dan sebenarnya sampai hari ini komunikasi keduanya masih berjalan lancar. Dan baru beberapa hari lalu, Daru menelepon Lika setelah hampir satu tahun tidak menghubunginya melalui telepon.  
“Kemana saja kamu?”
Tanya Daru.
“Gak kemana-mana kok. Kamu lagi ngerokok ya?”
Tanya Lika. Karena sudah lama bersama, ia tahu persis suara korek api gas Daru saat dipetik. Daru hanya membalas dengan cengengesan seolah ia tertangkap basah.
“Selamat ya untuk buku terbaru nya. Keren banget!”
Kata Lika.
“Kamu sudah baca? Terima kasih ya, itu novel yang baru dua bulan ini aku kerjakan. Dan ternyata hasilnya gak jelek-jelek banget ternyata hehe,”
Sahut Daru berusaha merendahkan diri.
“Memang sejak kapan tulisan kamu jelek?”
“Kamu aja yang belum pernah aku kirim tulisan-tulisan jelek aku selama delapan tahun,”
Katanya menyindir.
“Jadi kenapa kamu tiba-tiba nelfon? Biasanya kalo ada urusan kamu chat, bukan nelfon,”
Seketika terdengar suara hening dari telfon Lika.
“Daru?”
Katanya memastikan Daru ada disana.
“Lika, maafkan aku ya. Selama ini aku belum pernah bisa jadi orang sukses kaya yang kamu inginkan,”
“Orang sukses? Trus sekarang karir kamu yang ‘sempurna’ ini apa namanya kalo bukan sukses?”
“Belum Lika. Aku sekarang berhasil karena jadi penulis. Bukan jadi pria-pria kantoran yang kamu inginkan,”
“Lalu?”
Tanya Lika. Ia memprediksi sesuatu yang buruk akan terjadi setelah percakapan ini.
“Aku akan menikah, Lika,”
Giliran Alika yang diam. Ia berusaha untuk menahan nafasnya dan meyakinkan bahwa apa yang dikatakan Daru barusan bukan yang benar-benar ia dengar.
“Dengan siapa?”
“Adinda Salia. Kamu tahu dia kan?”
Alika benar-benar tak berkutik dibuatnya. Aliran darah dalam tubuhnya seolah berhenti sejenak.
“Lika?”
Tanya Daru memastikan Lika masih disana.
“Ya?”
“Pekan depan, aku akan menikah dengan Salia. Datang ya,”
“Ya, kalau aku tidak sibuk. Selamat ya Daru. Jaga Salia.”
Kata Alika sambil mematikan sambungan telepon malam itu.
* * *
(Kutipan akhir)
Adinda Salia. Wanita yang benar-benar pantas untuk Daru (menurutku). Parasnya cantik, suaranya indah, tinggi badannya jauh lebih proporsional dariku dan senyumnya yang mampu mematikan seluruh indra penciuman pria yang ingin segera menciumnya. Selain itu, Salia juga seorang musisi yang dunianya tak beda jauh dengan Daru. Keduanya memang pantas bersanding, karena saling melengkapi dan mendukung.
Sedangkan denganku? Yang benar saja. Meskipun karirnya sudah melejit, aku dan Daru tetap berbeda. Karirku jauh lebih lama dari Daru yang baru-baru saja naik daun. Pasti setelah ini karirnya dan Salia akan redup dan aku akan semakin jauh melampaui dia. Aku masih menang!.
Tidak! Daru pantas mendapatkan Salia. Salia memang lebih cantik dariku, dan juga lebih baik sikapnya dariku. Aku si orang yang tidak pernah mau kalah, sedangkan Salia dengan sifat yang down to earth. Salia yang penuh dengan ketenangan, sedangkan aku penuh dengan ambisi untuk menjadi yang utama. Daru memang tak pantas disandingkan denganku. Ia pria baik-baik dengan tekad yang kuat tertanam sejak dulu. Sedangkan aku, sibuk mencari pekerjaan yang mengiming-imingkan level sedangkan hatiku bilang sepenuhnya itu bukan mauku.
Untuk bersanding dengan Daru? Yang benar saja. Daru terlalu baik untukku. Meskipun aku masih ingin menjalani hidup dengannya seperti delapan tahun lalu..
Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates