C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >

Kami duduk di bangku yang sama. Saling diam dan membisu. Suasana makin terasa menusuk, padahal tidak ada tanda-tanda hujan akan datang. Aku memandang beberapa helai daun yang tergeletak di tanah tepat dibawahku. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, ia masih dengan tatapan lurus. Tanpa ada keinginan untuk memulai perkataan. Dengan sedikit mendehem, aku memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?”

Kataku memecahkan keheningan. Ia masih diam dengan posisi yang sama. Aku dilema, antara tetap disana atau lebih baik pergi saja. Beberapa menit kemudian, ia mengubah posisi duduk. Lebih tegak dan seolah berusaha untuk menjawab pertanyaanku tadi.

“Ada yang ingin aku tanyakan,”

Katanya.

“Silahkan”

 Jawabku singkat.

“Kamu masih dekat dengan dia?”

Aku membuang pandanganku jauh-jauh. Pertanyaan yang sama, seperti beberapa bulan lalu. Aku sadar jika ia tahu jawaban apa yang akan kujawab. Dan aku tidak mengerti mengapa ia masih kekeuh menanyakan hal yang sama yang mungkin membuat hatinya sakit.

“Masih sama, seperti dulu.”

Ia kembali diam.

“Kenapa?”

Tanyaku lagi. Kali ini ia menggelengkan kepala.

“Cuma itu yang mau kamu tanya?”

Tanyaku lagi. Ia menggelengkan kepala (lagi).

“Aku minta maaf”

Katanya.

“Untuk?”

“Untuk kesalahpahaman selama ini. Maaf aku salah,”

“Aku masih gak ngerti,”

 Ia menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia berbicara lebih panjang dari sebelumnya.

“Aku salah menilai kamu. Aku kira kamu lebih dari sekedar dekat dengan dia”

“Maksud kamu?”

“Di hari perpisahan itu, kalian pergi bersama kan? Aku kira kalian….”

“Aku tahu pasti kamu berprasangka buruk saat itu,”

Kataku memotong pembicaraannya.

“Maaf,”

“Aku dan dia masih berteman, sama seperti kita,”

“Maaf aku salah. Aku berprasangka buruk. Padahal aku belum mendengar cerita yang sebenarnya dari kamu. Dan aku, dengan mudahnya mengambil tindakan bodoh,”

“Kamu terlalu mudah menyimpulkan sesuatu,”

“Aku lagi dalam keadaan setengah sadar pas itu. Maaf.”

“Tidak, kamu gak salah kok. Maaf udah bikin salah paham,”

“Engga, aku yang salah,”

Sahutnya. Ia masih kekeuh untuk menyampaikan permintaan maafnya.

“Ayolah, kita ganti topik pembicaraannya. Aku gak suka situasi ini.”

Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Gimana kabar kamu? Gimana kuliah kamu?”

“Ya tetap lancar, sebentar lagi aku sidang. Doakan aku ya,”

“Iya, semoga cepat lulus ya. Semoga jadi penulis terkenal,”

 Aku membalas ucapannya dengan senyum.

“Dan kamu?”

“Aku masih gitu-gitu aja ha ha ha,”

Kali ini ia memperlihatkan raut wajah yang tenang. Inilah dia yang kukenal. Selalu menyampaikan sesuatu dengan ekspresi seolah tidak ada beban hidup. Dan ini yang selalu membuat perasaan sedihku hilang setiap kali mendengar caranya berbicara.

“Kapan kamu serius kuliah?”

“Secepatnya. Aku mau nyusul kamu juga sidang,”

Aku berharap dalam hati semoga ucapannya kali ini serius.

“Trus sekarang kamu lagi suka baca buku apa?”

Katanya. Ia tahu jika aku sangat menyukai topik yang berhubungan dengan novel.  

“Sekarang sih buku Tereliye yang judulnya Matahari. Udah lama sih beli bukunya tapi baru sempat baca sekarang,”

“Oh ya, aku juga sekarang lagi baca buku Tereliye yang judulnya Hujan,”

“Nah seru tuh Hujan, aku udah baca. Kamu suka ceritanya?”

“Suka banget! Tentang cinta sama persahabatan gitu kan. Tapi aku belum selesai bacanya sih,”

Aku senang mendengarnya ketika ia memiliki hobi baru yang positif saat ini, yaitu membaca buku.

“Baca dong sampe selesai, ceritanya seru, bikin terharu.”

“Nanti deh ya aku lanjutin baca. Oh iya, sekarang aku ngoleksi 3 buku Tereliye dirumah,”

“Oh ya? Apa aja itu?”

“Negeri Para Bedebah, Kau aku dan sepucuk angpau merah, Hujan,”

“Wow”

“Oh iya sama satu lagi, buku tuntunan sholat ha ha ha”

Aku membalas tawanya. Teringat beberapa bulan lalu aku memberikannya buku itu dengan harapan agar ia mau menjadi orang yang lebih baik lagi.

“Jadi kita masih bisa berteman, kan?”

Ia mengangguk mantap.

“Gak akan musuhan lagi?”

Kataku setengah menyindir. Ia kembali mengangguk dan tertawa sejenak.

“Yap. Gak akan musuhan lagi. Tapi memang sejak kapan kita musuhan?”

“Jangan pura-pura tidak tahu,”

Kataku sambil menjitak kepalanya. Kami tertawa dengan bahagia hari itu.

“Alana”

Katanya memanggil namaku. Aku menoleh pandangan kehadapannya.

“Kalau kamu mau lebih serius sama pria itu, gak apa-apa kok. Kita tetap bisa berteman,”

Tampak terlihat wajah teduh darinya. Aku menarik nafas dalam-dalam, tidak tahu harus menjawab apa.

Kami segera berdiri dari kursi itu. Pandangan kami masih dengan menatap satu sama lain. Rasa rindu dan sedih menjadi satu. Bagaimana tidak, mungkin sehabis ini kami akan tidak pernah bisa bersama seperti itu lagi.

Ia mengulurkan tangan kearahku dan aku membalasnya.

“Jaga diri baik-baik ya,”

Katanya memberikan pesan bak seorang ayah kepada anak putrinya.

“Kamu juga, jaga diri baik-baik ya. Awas kalo males-malesan kuliah lagi,”

Sahutku sambil tersenyum. Setelah persalaman itu, kami bergegas pulang dengan jalan yang berbeda. Ia ke kiri, dan aku kearah kanan. Adegan ini persis saat kami bertemu didekat tangga kampus, saling bertatap mata dan tanpa ekspresi kami membuang muka masing-masing.

Perjalanan pulang itu sama seperti jalan hidup kami. Ia memilih jalan bahagianya, begitu juga denganku. Kami berada di rute yang berbeda.


Tepat hari ini, diminggu yang lalu, aku bertemu dengan seorang gadis. Waktu itu hujan deras, dan tanpa sengaja kami berteduh disebuah tenda yang sama. Sambil melepas jaket kulit yang kebasahan, aku melirik kearahnya sejenak. Sekilas wajahnya mirip dengan temanku, hanya saja ia lebih tirus dan rambutnya panjang. Beberapa menit, kami sudah berada disana. Dan kebetulan sekali hanya kami berdua yang berteduh disana.
“Hujannya deras sekali, ya,”
Kataku.
Ia segera melirik kearahku. Sambil mengeringkan rambutnya yang basah, ia tersenyum dan mengangguk.
“Padahal ramalan cuaca kali ini bilang kalo gak akan turun hujan,”
Jawabnya.
Gantian aku yang mengangguk.
“Kamu percaya dengan ramalan hujan?”
“Tergantung. Kalau ramalannya benar sehari, selanjutnya aku akan percaya. Tapi kali ini, mungkin aku gak akan percaya lagi,”
Katanya sambil tertawa.
“Baru pulang kerja?”
Tanyaku.
“Iya, dan kamu?”
“Sama. Sial ya kita, baru pulang kerja, kecapekan, dan sekarang hujan deres,”
“Masih ada tempat buat berteduh kan? Setidaknya nanti gak ngabisin waktu lagi buat ngeringin baju,”
Katanya sambil kembali menepuk-nepuk ujung rambutnya yang basah. Aku memperhatikannya sejenak. Padahal kami baru bertemu dan rasanya banyak hal yang ingin aku sampaikan padanya.
“Kenapa? Aku jelek ya kalo rambutnya lepek?”
Katanya ketika sadar aku memperhatikannya sejak tadi.
“Tidak, kata siapa?”
“Aku paling gak pede kali lepek kaya gini. Mau karena kena hujan atau keringet, aku gak pernah pede,”
“Kenapa? Menurutku gak ada salahnya cewe kalo rambutnya lepek,”
Kataku mencoba untuk lebih perhatian. Ia tidak menjawab apapun, hanya melihat kearahku dan kemudian tersenyum.
“Kamu tahu kenapa aku benci hujan?”
Katanya.
“Kenapa? Karena takut rambut kamu lepek?”
Sahutku.
“Itu salah satunya. Tapi alasan utamanya kenapa aku benci hujan, karena aku bosen untuk berteduh sambil melamun, ada dikeramaian orang dengan pakaian super basah, dan berharap kapan hujan reda biar aku bisa cepet-cepet pergi dari sana, Tapi setidaknya hujan kali ini gak bikin aku benci lagi,”
“Kenapa?”
“Setidaknya ada kamu yang ngajak ngobrol,”
Katanya sambil tersenyum.
Aku sibuk mencerna kalimatnya barusan; apakah itu gurauan atau ada makna yang terselubung. Aku baru saja berusaha untuk mengatakan satu hal kepadanya sebelum akhirnya ia menyela.
“Angkutannya sudah datang, aku pergi dulu ya. Makasih waktunya,”
Katanya sambil berlari.
“Hei kita belum kenalan, siapa namamu?”
Tanyaku setengah berteriak.
“Namaku …….”
Jawabnya. Aku sama sekali tidak bisa mendengar karena derasnya hujan memekakan telingaku saat itu. Aku menggerutu dalam batin. 
Sial, Kali ini giliranku yang membenci hujan.
Ditengah hujan ini, mari dengarkan aku yang akan berkisah sedikit. Ini kisah tentang seorang wanita hujan yang aku kenal.
Dia bukan lah pawang, atau pemuja sebuah komunitas dunia ghaib untuk mendatangkan hujan. Bisa dikatakan ini kebetulan, setiap kali ia akan berkencan dengan pria manapun, hujan akan turun.
Ia selalu mengeluh setiap kali hujan turun di waktu (yang menurutnya) tidak tepat. Padahal aku selalu berpikir, bahwa memang ia yang mendatangkan hujan di waktu itu.
“Kenapa harus hujan sekarang sih? Aku kan ada janji,”
“Memang karena kamu ada janji jadi hujan turun,”
“Hey aku bukan wanita hujan,”
Katanya menggerutu.
Dan ini bukan pertama kalinya ia menggerutu seperti itu. Sudah lebih dari 10 kali hingga aku dan teman-temanku yakin bahwa ia benar adalah wanita pembawa hujan.
Sore itu, aku masih berada di ruang kelas. Sedikit hal membuatku tidak fokus pada materi perkuliahan hari ini. Aku sibuk memandangi jendela, menerka mengapa kali ini tidak ada tanda-tanda hujan turun. Langit sangat cerah hari itu.
“Kamu hari ini tidak ada janji?”
Kataku setelah mencolek tangannya.
Ia menggelengkan kepala.
“Kenapa?”
Tanyanya.
“Pantes, langitnya cerah,”
“Aku bukan wanita hujan,”
Katanya lagi dengan wajah sedikit kesal.
Dan beberapa hari ini, sesuai prediksi langit benar-benar cerah. Aku sudah menerkanya, karena terlebih dahulu mengkonfirmasikannya pada si wanita hujan. Untuk dua minggu kedepan tidak ada jadwalnya untuk berkencan, jadi bisa dipastikan hujan tidak akan turun. Dan benar saja rasanya akhir-akhir ini seperti kemarau singkat bagi kotaku.
“Kenapa? Kamu masih berfikir aku wanita hujan?”
Tanya si wanita hujan saat melihatku sibuk menatap langit dari balik jendela kelas.
“Ya begitulah. Kamu pernah pikir gak, kalo kamu punya darah keturunan Zeus?”
“Maksud kamu?”
Tanyanya.
“Maksud aku, kenapa kamu seolah bisa mengendalikan hujan?”
Ia menatapku dengan tajam. Aku tahu persis ini wajahnya saat ia sedang berpikir keras, bukan karena kesal. Kami sudah bersahabat selama hampir tiga tahun dan aku sudah mengerti ekspresi wajahnya dengan jelas.
“Aku juga tidak tahu,”
“Pernah tanya ke keluarga? Ayah atau ibumu misalnya?’
“Belum. Tapi mereka selalu tidak percaya tiap kali aku membahas tentang ‘hujan buatan’ku ini,”
Katanya.
“Tapi sejujurnya, aku masih gak yakin ini semacam kebetulan atau kutukan untuk aku. Setiap kali aku mau kencan, pasti hujan turun. Dan ini bukan sekali dua kali atau lima kali. Kamu tahu kan?”
Katanya. Aku menganggukan kepala.
“Dan selama ini, kencanku selalu gagal. Aku sudah berjanji untuk jalan dengan beberapa pria dan hujan selalu jadi alasan untukku tidak jadi pergi. Aku yakin ini semacam kutukan,”
Ia menghela nafasnya dalam-dalam.
“Besok kamu ada acara gak?”
“Tidak, kenapa?”
“Mau kencan denganku? Kita buktikan ini kutukan atau bukan?”
Kataku mantap. Ekspresi wajahnya sedikit terkejut, namun tak disangka ia mengiyakan saja.
Keesokan harinya, sebelum pergi aku membawa payung dan sebuah jas hujan untuk berjaga-jaga hujan akan turun.
“Kamu benar-benar membawa perlengkapan?”
Katanya ketika melihat tas ranselku yang terlihat cukup penuh. Aku tersenyum memandanginya.
“Setidaknya tidak ada yang bisa menghalangi kita sekalipun hujan, bukan?”
Ia tersenyum.
Benar saja, sejauh perjalanan Soekarno Hatta-Punclut sore itu, hujan sama sekali tidak turun.
“Yes kali ini kutukannya hilang!”
Teriaknya seolah bangga dengan dirinya sendiri.
“Kamu tahu kenapa kutukannya hilang?”
“Kenapa?”
Tanyanya sambil mengarahkan kepalanya kepundakku.
“Karena aku satu-satunya manusia yang benar-benar tulus sama si wanita keturunannya Zeus,”
Kataku sambil tersenyum.
* * *
Hei, itulah ceritaku dengan si wanita hujan. Sejak hari itu aku tidak pernah heran lagi kenapa hujan datang, karena aku yakin itu bukan dari si wanita hujan yang ingin berkencan dengan pria baru. Bagaimana tidak, sejak hari itu hingga saat ini, si wanita hujan itu kekasihku, hehe.
Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates