“Kamu yakin kita harus
pindah minggu ini?”
Kataku setengah tidak percaya. Bagaskara, si lawan bicaraku ini
hanya menganggukkan kepala sembari sibuk membuka lembaran kertas dihadapannya.
“Aku gak mau ninggalin
Jakarta, Bagas”
Aku segera mengubah posisi duduk, tepat dihadapan Bagaskara agar
ia mau memandang kearahku. Usahaku sia-sia. Ia masih sibuk dan menjawab singkat
setiap pertanyaan yang aku ajukan sejak tadi.
“Bagaskara, bisa tidak
kamu anggap ini permasalahan serius?”
Aku mulai kehabisan kesabaran dan mulai berintonasi tinggi. Akhirnya Bagaskara menyadari emosiku dan perlahan melepas kertas
yang ada digenggamannya. Ia memandangiku dengan tatapan seolah-olah tak ada
masalah apapun.
“Bisa kita menetap di
Jakarta selamanya? Aku gak mau pindah ke Padang”
“Kenapa?”
Jawabnya singkat. Kali ini sorot matanya menatapku tajam. Aku
menelan ludah dan mulai mencari seribu alasan.
“Ya, aku betah di
Jakarta. Kamu tahu kan aku lahir di Jakarta, besar disini. Aku gak mau ninggalin
kota ini,”
“Kita cuma pindah
sementara Shaira. Lagipun, kalo kamu rindu Jakarta, kita bisa kembali kesini
kapanpun. Kalo aku dapat cuti kerja, kita bisa kembali kesini.”
“Gak semudah itu,
Bagas. Rumahku disini, dan aku sama sekali tidak mau ninggalin kota ini.”
“Itu resiko kamu
menikahi abdi negara, Shaira. Kamu harus siap, pindah kemanapun dan kapanpun. ”
Kata Bagas sembari pergi meninggalkanku.
Aku masih menggerutu sambil memandangi foto berseragam Bagaskara
yang terpajang diruang keluarga.
Bagaskara, suamiku. Wataknya sangat keras kepala (menurutku).
Meskipun sejak awal perkenalan ia terkesan sangat pendiam, tetapi akhir-akhir
ini aku semakin bisa menilai tabiat menyebalkannya. Bagaskara memang susah
ditebak. Entah dalam hal keinginan maupun emosinya. Dan aku, si anak bungsu
yang memang sejak dulu di didik manja. Sejak memutuskan hidup bersama
Bagaskara, aku mulai mencoba menekan emosi dan egoku. Sifat keras kepala
Bagaskara dan aku memang 11:12, hampir tidak ada bedanya. Selalu saja tidak ada
yang mau mengalah diantara kami, meskipun hingga empat tahun pernikahan ini
belum ada perdebatan sengit diantara kami. Dan hari ini, sepertinya
pertengkaran akan kembali terjadi.
Seminggu yang lalu, Bagaskara mendapat surat keputusan mutasi ke
Padang. Dan sejak awal memutuskan menikah dengan Bagaskara aku harus menerima
resiko untuk pindah kemanapun ia ditugaskan. Namun bukan hal mudah bagiku,
meskipun dulu aku pernah pindah ke Pariaman karena tugas ayah dan hanya
bertahan sebulan aku kembali ke Jakarta. Sudah seminggu ini aku memohon padanya
untuk tetap menetap disini. Tetapi hasilnya nihil. Kami masih belum bisa
memutuskan, ego siapa yang harus dipertahankan.
* * *
“Selamat Datang di
Bandar Udara Internasional Minangkabau”
Suara pramugari terdengar di penjuru pesawat sesaat setelah
pesawat mendarat.
Ya, setelah perenungan seminggu ini, akhirnya aku memutuskan
untuk mengalah. Mau tidak mau, Bagaskara pindah ke Padang. Dan mau tidak mau
pula, aku harus mendampinginya disana. Meskipun Bagaskara asli dari Sumatera
Barat dan keluarganya masih tinggal disana, aku harus tetap ikut dengannya.
“Nanti kita dijemput Ajo
(Bahasa Minangkabau, artinya: kakak Pria) dan langsung ke rumah amak (ibu),”
Kata Bagaskara memberi intruksi. Aku hanya mengangguk saja
dengan memasang wajah cemberut.
Perjalanan dari bandara ke rumah Bagaskara ditempuh kurang lebih
satu jam. Dan selama perjalanan, aku memilih untuk bungkam. Bagaskara bukan
tipe pria yang suka untuk membujuk wanitanya saat kesal. Ia hanya sesekali
mengalihkan pandangan kearahku, dan kembali berbincang dengan Ajo-nya dengan
bahasa Minang.
“Gimana Shaira bisa
mutusin buat pindah kesini? Jakarta kan lebih nyaman,”
Kata Bang Asnan kepadaku.
“Ya gimana lagi, bang.
Kan harus ikut suami bertugas,”
Jawabku singkat.
“Semoga betah disini
ya, ra”
Katanya dengan logat khas Sumatra Barat. Aku hanya menjawab
dengan senyuman sambil melirik kearah Bagaskara.
‘Bagaskara dan Bang
Asnan sangat beda jauh! Abangnya sangat ramah. Sedangkan ia? Untuk minta
dibuatkan teh saja butuh perdebatan-perdebatan pagi yang menyebalkan.’
Batinku mengeluh.
* * *
Setiba dirumah Bagaskara, aku segera masuk dan melihat ke sekeliling
rumah. Dekorasi rumah ini masih terkesan tradisional namun sangat terawat.
Beberapa foto usang Bagas dan Bang Asnan terpajang rapi di dinding rumahnya. Amak Bagaskara sudah meninggal sejak dua
tahun yang lalu karena sakit. Sedangkan Abaknya (ayah) sudah lama meninggal
sejak Bagaskara duduk dibangku sekolah dasar. Sekarang rumah itu ditempati oleh
Bang Asnan, istrinya, dan dua anak kembarnya yang masih kecil-kecil. Hari itu,
istri Bang Asnan sedang tidak ada dirumah karena menemani perpisahan sekolah
kedua putranya.
“Habis ini mau Ajo
antarkan kemana lagi?”
Tanya Bang Asnan pada kami.
“Indak paralu, jo
(artinya: tidak perlu, bang). Bagas sama Shaira mau jalan-jalan berdua nanti
malam,”
Aku memandangi wajah
Bagaskara dengan tatapan aneh. Tidak biasanya ia mau menemaniku berjalan-jalan.
Bahkan selama ini aku harus menangis meraung-raung dulu jika bosan dirumah dan
ingin mengajaknya keliling kota. Itupun kadang ia mengajak makan diluar dan
setelah selesai langsung kembali kerumah.
“Jalan kemana?”
Kataku pada Bagas.
“Jembatan Siti
Nurbaya. Kamu belum pernah kesana kan?”
Aku menggelengkan kepala dan bergegas pergi seolah tidak
tertarik untuk kesana.
Siang itu, Bagaskara dan Bang Asnan menghabiskan waktu untuk
berbincang diteras, sedangkan aku memilih untuk dikamar saja. Tanpa
sepengetahuan Bagas, aku mulai membrowsing
Jembatan Siti Nurbaya, tempat yang akan kami kunjungi malam ini. Dari
gambar-gambar yang aku lihat di internet, tempatnya cukup menarik dan romantis.
Meskipun aku sama sekali tidak berekspektasi tinggi melihat sifat Bagas yang
jauh dari kata romantis.
* * *
Dalam setengah jam, kami sudah sampai di lokasi, yakni Jembatan
Siti Nurbaya. Mirip dengan yang aku lihat di internet tadi, sangat manis.
Lelampuan kota dan kapal yang bersandar menyatu padu dan seolah menghidupkan
suasana jembatan itu. Tempat yang cukup tenang, dan mungkin bisa jadi pelarianku
jika kesal dengan Bagaskara nanti.
Aku menghirup napas dalam-dalam. Mencoba menikmati setiap angin
sepoi disana. Sesekali suara nyanyian dan musik khas Sumatra Barat terdengar
samar-samar dan membuat suasana makin nyaman. Dan beberapa kali, aku merasa de javu dengan tempat itu. Ya, mungkin
karena aku pernah tinggal disana dan pernah berkunjung kesini sebelumnya. Dan
sepertinya pemandangannya tak seindah hari ini.
“Shaira, duduk
disini,”
Kata Bagaskara yang ternyata sudah mengambil dua kursi plastik. Aku
segera menghampirinya. Agaknya malam ini suasana hatinya cukup baik. Entah
karena ia berada di kampung halamannya atau karena alasan lain.
“Ini jembatan siti
nurbaya?”
Tanyaku.
Bagaskara mengangguk sambil menerima segelas kopi yang dihidang
oleh pedagang kaki lima.
“Kamu tahu kan
ceritanya?”
Giliran aku yang mengangguk. Cerita siti nurbaya memang sudah
melegenda sejak dahulu.
“Kasian ya Siti
Nurbaya, dipaksa nikah sama pria yang gak pernah ia suka dari dulu,”
Kataku. Kemudian suasana terasa hening, tidak ada jawaban dari
Bagaskara pun dariku.
“Kamu pernah suka
dengan wanita lain?”
Tanyaku pada Bagaskara. Entah pikiran apa yang meracuniku hingga
aku memberikan pertanyaan tidak penting itu padanya.
Tak disangka, Bagaskara mengangguk.
“Siapa?”
“Wanita yang aku cinta setelah Amak. Dulu aku pernah suka
dengan anak perempuan di Menengah Pertama. Setiap ketemu dia, aku selalu buat
surat cinta karena gak pernah berani buat bicara langsung ke dia. Suratnya
belum pernah sampai ketangan perempuan itu,”
“Kenapa? Kamu gak
berani ngasih langsung?”
“Bukan, aku pernah
punya niat buat ngasih suratnya pas hari Jumat, sebelum libur sekolah. Tapi
ternyata aku kena cacar, dan terpaksa gak sekolah selama dua minggu. Dan
ternyata waktu aku sembuh dan masuk sekolah, perempuan itu udah pindah
sekolah,”
Kata Bagaskara sambil menghembuskan napas dengan berat.
“Trus cuma sampai
situ? Kamu gak pernah tahu perempuan itu pindah kemana? Atau kamu gak ada
niatan untuk cari dia?”
Bagaskara hanya tersenyum dan memandangiku dalam-dalam.
“Sudah, dan berhasil,”
“Hey, apa maksudnya?”
Jawabku sedikit cemburu.
“Ya wanita itu yang
ada di hadapanku hari ini,”
Jantungku berdegup kencang. Aku yakin ini bukan gombalan, karena
setahuku ia memang tidak pernah jago untuk menggombal.
“Mau dengar isi
suratku 12 tahun yang lalu?”
Tanyanya. Aku segera mengangguk penasaran.
Bagaskara segera mengubah posisinya, memandang mataku dengan
tajam.
“Untuk Shaira. Kamu
tahu, hari ini aku, Bagaskara – si anak Amak, telah melanggar satu larangan
Amak,”
Ia berhenti berkata-kata. Dahiku menyerngit tanda penasaran
dengan maksud kalimatnya barusan.
“Saat SD, aku ingat
sekali petuah Amak. Saat lampu semprong masih jadi penerang dirumah kami.
Suasana hening, riup kentongan dari desa sebelah lah yang meramaikan. Aku duduk
dipangkuan Amak. Sayup-sayup aku dengar Amak bilang, ‘Apapun yang terjadi,
dewasa nanti, Abang harus ingat kalo yang berlebihan itu tidak baik’. Tapi
pasti mendiang Amak marah denganku karena larangannya sudah aku abaikan,”
Aku masih belum bisa mencerna kata-kata Bagas barusan.
“Iya, mendiang Amak
bilang yang berlebihan itu tidak baik. Tapi kamu harus tahu itu, Shaira. Bahwa
senyummu itu berlebihan manisnya. Dan itu tidak baik,”
Aku mendadak tersipu mendengar kalimat Bagaskara barusan.
Inilah gombalan pertama Bagaskara. Entah siapa yang mengajarkannya. Aku kira,
sejak kecil Bagaskara adalah tipe yang dingin dan tidak peduli dengan
lingkungannya. Dan baru saja aku tahu kalo Bagaskara dan aku pernah duduk di
sekolah yang sama. Aku baru tahu Bagaskara pernah menyukaiku, Shaira si anak
baru yang hanya satu bulan di sekolah itu. Dan kepindahannya ke Ibukota menjadi
alasan utamanya untuk mencariku. Meskipun selama ini aku menyangka pertemuanku
dengannya di stasiun lima tahun lalu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
“Jangan geer, itu
surat cintaku waktu SMP,”
Kata Bagaskara berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai
memerah.
“Iya aku tahu, siapa
yang ngajarin?”
“Bang Asnan”
“Bang Asnan memang
romantis ya, gak kayak adiknya”
“Setidaknya adiknya
tahu kalo wanita incarannya dulu suka makan puluik sarikayo yang ada di depan
sekolah,”
“Hey, itu kan makanan
favoritku dulu,”
“Besok kita ke sekolah
ya. Nostalgia sekalian beli puluik sarikayo. Puluik Sarikayo untuak adiak manih
nan denai cinto,”
“Tambuah ciek!”
Jawabku sambil meringis.




