C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >



“Kamu yakin kita harus pindah minggu ini?”

Kataku setengah tidak percaya. Bagaskara, si lawan bicaraku ini hanya menganggukkan kepala sembari sibuk membuka lembaran kertas dihadapannya.

“Aku gak mau ninggalin Jakarta, Bagas”

Aku segera mengubah posisi duduk, tepat dihadapan Bagaskara agar ia mau memandang kearahku. Usahaku sia-sia. Ia masih sibuk dan menjawab singkat setiap pertanyaan yang aku ajukan sejak tadi.

“Bagaskara, bisa tidak kamu anggap ini permasalahan serius?”

Aku mulai kehabisan kesabaran dan mulai berintonasi tinggi. Akhirnya Bagaskara menyadari emosiku dan perlahan melepas kertas yang ada digenggamannya. Ia memandangiku dengan tatapan seolah-olah tak ada masalah apapun.

“Bisa kita menetap di Jakarta selamanya? Aku gak mau pindah ke Padang”

 “Kenapa?”

Jawabnya singkat. Kali ini sorot matanya menatapku tajam. Aku menelan ludah dan mulai mencari seribu alasan.

“Ya, aku betah di Jakarta. Kamu tahu kan aku lahir di Jakarta, besar disini. Aku gak mau ninggalin kota ini,”

“Kita cuma pindah sementara Shaira. Lagipun, kalo kamu rindu Jakarta, kita bisa kembali kesini kapanpun. Kalo aku dapat cuti kerja, kita bisa kembali kesini.”

“Gak semudah itu, Bagas. Rumahku disini, dan aku sama sekali tidak mau ninggalin kota ini.”

“Itu resiko kamu menikahi abdi negara, Shaira. Kamu harus siap, pindah kemanapun dan kapanpun. ”
Kata Bagas sembari pergi meninggalkanku.

Aku masih menggerutu sambil memandangi foto berseragam Bagaskara yang terpajang diruang keluarga.

Bagaskara, suamiku. Wataknya sangat keras kepala (menurutku). Meskipun sejak awal perkenalan ia terkesan sangat pendiam, tetapi akhir-akhir ini aku semakin bisa menilai tabiat menyebalkannya. Bagaskara memang susah ditebak. Entah dalam hal keinginan maupun emosinya. Dan aku, si anak bungsu yang memang sejak dulu di didik manja. Sejak memutuskan hidup bersama Bagaskara, aku mulai mencoba menekan emosi dan egoku. Sifat keras kepala Bagaskara dan aku memang 11:12, hampir tidak ada bedanya. Selalu saja tidak ada yang mau mengalah diantara kami, meskipun hingga empat tahun pernikahan ini belum ada perdebatan sengit diantara kami. Dan hari ini, sepertinya pertengkaran akan kembali terjadi.

Seminggu yang lalu, Bagaskara mendapat surat keputusan mutasi ke Padang. Dan sejak awal memutuskan menikah dengan Bagaskara aku harus menerima resiko untuk pindah kemanapun ia ditugaskan. Namun bukan hal mudah bagiku, meskipun dulu aku pernah pindah ke Pariaman karena tugas ayah dan hanya bertahan sebulan aku kembali ke Jakarta. Sudah seminggu ini aku memohon padanya untuk tetap menetap disini. Tetapi hasilnya nihil. Kami masih belum bisa memutuskan, ego siapa yang harus dipertahankan.

* * *
“Selamat Datang di Bandar Udara Internasional Minangkabau”

Suara pramugari terdengar di penjuru pesawat sesaat setelah pesawat mendarat.

Ya, setelah perenungan seminggu ini, akhirnya aku memutuskan untuk mengalah. Mau tidak mau, Bagaskara pindah ke Padang. Dan mau tidak mau pula, aku harus mendampinginya disana. Meskipun Bagaskara asli dari Sumatera Barat dan keluarganya masih tinggal disana, aku harus tetap ikut dengannya.

“Nanti kita dijemput Ajo (Bahasa Minangkabau, artinya: kakak Pria) dan langsung ke rumah amak (ibu),”

Kata Bagaskara memberi intruksi. Aku hanya mengangguk saja dengan memasang wajah cemberut.
Perjalanan dari bandara ke rumah Bagaskara ditempuh kurang lebih satu jam. Dan selama perjalanan, aku memilih untuk bungkam. Bagaskara bukan tipe pria yang suka untuk membujuk wanitanya saat kesal. Ia hanya sesekali mengalihkan pandangan kearahku, dan kembali berbincang dengan Ajo-nya dengan bahasa Minang.

“Gimana Shaira bisa mutusin buat pindah kesini? Jakarta kan lebih nyaman,”

Kata Bang Asnan kepadaku.

“Ya gimana lagi, bang. Kan harus ikut suami bertugas,”

Jawabku singkat.

“Semoga betah disini ya, ra”

Katanya dengan logat khas Sumatra Barat. Aku hanya menjawab dengan senyuman sambil melirik kearah Bagaskara.

‘Bagaskara dan Bang Asnan sangat beda jauh! Abangnya sangat ramah. Sedangkan ia? Untuk minta dibuatkan teh saja butuh perdebatan-perdebatan pagi yang menyebalkan.’

Batinku mengeluh.

* * *
Setiba dirumah Bagaskara, aku segera masuk dan melihat ke sekeliling rumah. Dekorasi rumah ini masih terkesan tradisional namun sangat terawat. Beberapa foto usang Bagas dan Bang Asnan terpajang rapi di dinding rumahnya.  Amak Bagaskara sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu karena sakit. Sedangkan Abaknya (ayah) sudah lama meninggal sejak Bagaskara duduk dibangku sekolah dasar. Sekarang rumah itu ditempati oleh Bang Asnan, istrinya, dan dua anak kembarnya yang masih kecil-kecil. Hari itu, istri Bang Asnan sedang tidak ada dirumah karena menemani perpisahan sekolah kedua putranya.

“Habis ini mau Ajo antarkan kemana lagi?”

Tanya Bang Asnan pada kami.

“Indak paralu, jo (artinya: tidak perlu, bang). Bagas sama Shaira mau jalan-jalan berdua nanti malam,”

Aku memandangi wajah Bagaskara dengan tatapan aneh. Tidak biasanya ia mau menemaniku berjalan-jalan. Bahkan selama ini aku harus menangis meraung-raung dulu jika bosan dirumah dan ingin mengajaknya keliling kota. Itupun kadang ia mengajak makan diluar dan setelah selesai langsung kembali kerumah.

“Jalan kemana?”

Kataku pada Bagas.

“Jembatan Siti Nurbaya. Kamu belum pernah kesana kan?”

Aku menggelengkan kepala dan bergegas pergi seolah tidak tertarik untuk kesana.

Siang itu, Bagaskara dan Bang Asnan menghabiskan waktu untuk berbincang diteras, sedangkan aku memilih untuk dikamar saja. Tanpa sepengetahuan Bagas, aku mulai membrowsing Jembatan Siti Nurbaya, tempat yang akan kami kunjungi malam ini. Dari gambar-gambar yang aku lihat di internet, tempatnya cukup menarik dan romantis. Meskipun aku sama sekali tidak berekspektasi tinggi melihat sifat Bagas yang jauh dari kata romantis.

* * *
Dalam setengah jam, kami sudah sampai di lokasi, yakni Jembatan Siti Nurbaya. Mirip dengan yang aku lihat di internet tadi, sangat manis. Lelampuan kota dan kapal yang bersandar menyatu padu dan seolah menghidupkan suasana jembatan itu. Tempat yang cukup tenang, dan mungkin bisa jadi pelarianku jika kesal dengan Bagaskara nanti.

Aku menghirup napas dalam-dalam. Mencoba menikmati setiap angin sepoi disana. Sesekali suara nyanyian dan musik khas Sumatra Barat terdengar samar-samar dan membuat suasana makin nyaman. Dan beberapa kali, aku merasa de javu dengan tempat itu. Ya, mungkin karena aku pernah tinggal disana dan pernah berkunjung kesini sebelumnya. Dan sepertinya pemandangannya tak seindah hari ini.

“Shaira, duduk disini,”

Kata Bagaskara yang ternyata sudah mengambil dua kursi plastik. Aku segera menghampirinya. Agaknya malam ini suasana hatinya cukup baik. Entah karena ia berada di kampung halamannya atau karena alasan lain.

“Ini jembatan siti nurbaya?”

Tanyaku.

Bagaskara mengangguk sambil menerima segelas kopi yang dihidang oleh pedagang kaki lima.

“Kamu tahu kan ceritanya?”

Giliran aku yang mengangguk. Cerita siti nurbaya memang sudah melegenda sejak dahulu.

“Kasian ya Siti Nurbaya, dipaksa nikah sama pria yang gak pernah ia suka dari dulu,”

Kataku. Kemudian suasana terasa hening, tidak ada jawaban dari Bagaskara pun dariku.

“Kamu pernah suka dengan wanita lain?”

Tanyaku pada Bagaskara. Entah pikiran apa yang meracuniku hingga aku memberikan pertanyaan tidak penting itu padanya.

Tak disangka, Bagaskara mengangguk.

“Siapa?”

“Wanita yang aku cinta setelah Amak. Dulu aku pernah suka dengan anak perempuan di Menengah Pertama. Setiap ketemu dia, aku selalu buat surat cinta karena gak pernah berani buat bicara langsung ke dia. Suratnya belum pernah sampai ketangan perempuan itu,”

“Kenapa? Kamu gak berani ngasih langsung?”

“Bukan, aku pernah punya niat buat ngasih suratnya pas hari Jumat, sebelum libur sekolah. Tapi ternyata aku kena cacar, dan terpaksa gak sekolah selama dua minggu. Dan ternyata waktu aku sembuh dan masuk sekolah, perempuan itu udah pindah sekolah,”

Kata Bagaskara sambil menghembuskan napas dengan berat.

“Trus cuma sampai situ? Kamu gak pernah tahu perempuan itu pindah kemana? Atau kamu gak ada niatan untuk cari dia?”

Bagaskara hanya tersenyum dan memandangiku dalam-dalam.

“Sudah, dan berhasil,”

“Hey, apa maksudnya?”

Jawabku sedikit cemburu.

“Ya wanita itu yang ada di hadapanku hari ini,”

Jantungku berdegup kencang. Aku yakin ini bukan gombalan, karena setahuku ia memang tidak pernah jago untuk menggombal.

“Mau dengar isi suratku 12 tahun yang lalu?”

Tanyanya. Aku segera mengangguk penasaran.

Bagaskara segera mengubah posisinya, memandang mataku dengan tajam.

“Untuk Shaira. Kamu tahu, hari ini aku, Bagaskara – si anak Amak, telah melanggar satu larangan Amak,”

Ia berhenti berkata-kata. Dahiku menyerngit tanda penasaran dengan maksud kalimatnya barusan.

“Saat SD, aku ingat sekali petuah Amak. Saat lampu semprong masih jadi penerang dirumah kami. Suasana hening, riup kentongan dari desa sebelah lah yang meramaikan. Aku duduk dipangkuan Amak. Sayup-sayup aku dengar Amak bilang, ‘Apapun yang terjadi, dewasa nanti, Abang harus ingat kalo yang berlebihan itu tidak baik’. Tapi pasti mendiang Amak marah denganku karena larangannya sudah aku abaikan,”

Aku masih belum bisa mencerna kata-kata Bagas barusan.

“Iya, mendiang Amak bilang yang berlebihan itu tidak baik. Tapi kamu harus tahu itu, Shaira. Bahwa senyummu itu berlebihan manisnya. Dan itu tidak baik,”

Aku mendadak tersipu mendengar kalimat Bagaskara barusan.

Inilah gombalan pertama Bagaskara.  Entah siapa yang mengajarkannya. Aku kira, sejak kecil Bagaskara adalah tipe yang dingin dan tidak peduli dengan lingkungannya. Dan baru saja aku tahu kalo Bagaskara dan aku pernah duduk di sekolah yang sama. Aku baru tahu Bagaskara pernah menyukaiku, Shaira si anak baru yang hanya satu bulan di sekolah itu. Dan kepindahannya ke Ibukota menjadi alasan utamanya untuk mencariku. Meskipun selama ini aku menyangka pertemuanku dengannya di stasiun lima tahun lalu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

“Jangan geer, itu surat cintaku waktu SMP,”

Kata Bagaskara berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.

“Iya aku tahu, siapa yang ngajarin?”

“Bang Asnan”

“Bang Asnan memang romantis ya, gak kayak adiknya”

“Setidaknya adiknya tahu kalo wanita incarannya dulu suka makan puluik sarikayo yang ada di depan sekolah,”

“Hey, itu kan makanan favoritku dulu,”

“Besok kita ke sekolah ya. Nostalgia sekalian beli puluik sarikayo. Puluik Sarikayo untuak adiak manih nan denai cinto,”

“Tambuah ciek!”

Jawabku sambil meringis.


Kami duduk di bangku yang sama. Saling diam dan membisu. Suasana makin terasa menusuk, padahal tidak ada tanda-tanda hujan akan datang. Aku memandang beberapa helai daun yang tergeletak di tanah tepat dibawahku. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, ia masih dengan tatapan lurus. Tanpa ada keinginan untuk memulai perkataan. Dengan sedikit mendehem, aku memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?”

Kataku memecahkan keheningan. Ia masih diam dengan posisi yang sama. Aku dilema, antara tetap disana atau lebih baik pergi saja. Beberapa menit kemudian, ia mengubah posisi duduk. Lebih tegak dan seolah berusaha untuk menjawab pertanyaanku tadi.

“Ada yang ingin aku tanyakan,”

Katanya.

“Silahkan”

 Jawabku singkat.

“Kamu masih dekat dengan dia?”

Aku membuang pandanganku jauh-jauh. Pertanyaan yang sama, seperti beberapa bulan lalu. Aku sadar jika ia tahu jawaban apa yang akan kujawab. Dan aku tidak mengerti mengapa ia masih kekeuh menanyakan hal yang sama yang mungkin membuat hatinya sakit.

“Masih sama, seperti dulu.”

Ia kembali diam.

“Kenapa?”

Tanyaku lagi. Kali ini ia menggelengkan kepala.

“Cuma itu yang mau kamu tanya?”

Tanyaku lagi. Ia menggelengkan kepala (lagi).

“Aku minta maaf”

Katanya.

“Untuk?”

“Untuk kesalahpahaman selama ini. Maaf aku salah,”

“Aku masih gak ngerti,”

 Ia menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia berbicara lebih panjang dari sebelumnya.

“Aku salah menilai kamu. Aku kira kamu lebih dari sekedar dekat dengan dia”

“Maksud kamu?”

“Di hari perpisahan itu, kalian pergi bersama kan? Aku kira kalian….”

“Aku tahu pasti kamu berprasangka buruk saat itu,”

Kataku memotong pembicaraannya.

“Maaf,”

“Aku dan dia masih berteman, sama seperti kita,”

“Maaf aku salah. Aku berprasangka buruk. Padahal aku belum mendengar cerita yang sebenarnya dari kamu. Dan aku, dengan mudahnya mengambil tindakan bodoh,”

“Kamu terlalu mudah menyimpulkan sesuatu,”

“Aku lagi dalam keadaan setengah sadar pas itu. Maaf.”

“Tidak, kamu gak salah kok. Maaf udah bikin salah paham,”

“Engga, aku yang salah,”

Sahutnya. Ia masih kekeuh untuk menyampaikan permintaan maafnya.

“Ayolah, kita ganti topik pembicaraannya. Aku gak suka situasi ini.”

Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Gimana kabar kamu? Gimana kuliah kamu?”

“Ya tetap lancar, sebentar lagi aku sidang. Doakan aku ya,”

“Iya, semoga cepat lulus ya. Semoga jadi penulis terkenal,”

 Aku membalas ucapannya dengan senyum.

“Dan kamu?”

“Aku masih gitu-gitu aja ha ha ha,”

Kali ini ia memperlihatkan raut wajah yang tenang. Inilah dia yang kukenal. Selalu menyampaikan sesuatu dengan ekspresi seolah tidak ada beban hidup. Dan ini yang selalu membuat perasaan sedihku hilang setiap kali mendengar caranya berbicara.

“Kapan kamu serius kuliah?”

“Secepatnya. Aku mau nyusul kamu juga sidang,”

Aku berharap dalam hati semoga ucapannya kali ini serius.

“Trus sekarang kamu lagi suka baca buku apa?”

Katanya. Ia tahu jika aku sangat menyukai topik yang berhubungan dengan novel.  

“Sekarang sih buku Tereliye yang judulnya Matahari. Udah lama sih beli bukunya tapi baru sempat baca sekarang,”

“Oh ya, aku juga sekarang lagi baca buku Tereliye yang judulnya Hujan,”

“Nah seru tuh Hujan, aku udah baca. Kamu suka ceritanya?”

“Suka banget! Tentang cinta sama persahabatan gitu kan. Tapi aku belum selesai bacanya sih,”

Aku senang mendengarnya ketika ia memiliki hobi baru yang positif saat ini, yaitu membaca buku.

“Baca dong sampe selesai, ceritanya seru, bikin terharu.”

“Nanti deh ya aku lanjutin baca. Oh iya, sekarang aku ngoleksi 3 buku Tereliye dirumah,”

“Oh ya? Apa aja itu?”

“Negeri Para Bedebah, Kau aku dan sepucuk angpau merah, Hujan,”

“Wow”

“Oh iya sama satu lagi, buku tuntunan sholat ha ha ha”

Aku membalas tawanya. Teringat beberapa bulan lalu aku memberikannya buku itu dengan harapan agar ia mau menjadi orang yang lebih baik lagi.

“Jadi kita masih bisa berteman, kan?”

Ia mengangguk mantap.

“Gak akan musuhan lagi?”

Kataku setengah menyindir. Ia kembali mengangguk dan tertawa sejenak.

“Yap. Gak akan musuhan lagi. Tapi memang sejak kapan kita musuhan?”

“Jangan pura-pura tidak tahu,”

Kataku sambil menjitak kepalanya. Kami tertawa dengan bahagia hari itu.

“Alana”

Katanya memanggil namaku. Aku menoleh pandangan kehadapannya.

“Kalau kamu mau lebih serius sama pria itu, gak apa-apa kok. Kita tetap bisa berteman,”

Tampak terlihat wajah teduh darinya. Aku menarik nafas dalam-dalam, tidak tahu harus menjawab apa.

Kami segera berdiri dari kursi itu. Pandangan kami masih dengan menatap satu sama lain. Rasa rindu dan sedih menjadi satu. Bagaimana tidak, mungkin sehabis ini kami akan tidak pernah bisa bersama seperti itu lagi.

Ia mengulurkan tangan kearahku dan aku membalasnya.

“Jaga diri baik-baik ya,”

Katanya memberikan pesan bak seorang ayah kepada anak putrinya.

“Kamu juga, jaga diri baik-baik ya. Awas kalo males-malesan kuliah lagi,”

Sahutku sambil tersenyum. Setelah persalaman itu, kami bergegas pulang dengan jalan yang berbeda. Ia ke kiri, dan aku kearah kanan. Adegan ini persis saat kami bertemu didekat tangga kampus, saling bertatap mata dan tanpa ekspresi kami membuang muka masing-masing.

Perjalanan pulang itu sama seperti jalan hidup kami. Ia memilih jalan bahagianya, begitu juga denganku. Kami berada di rute yang berbeda.



Ini adalah hariku! Sudah bertahun-tahun aku menunggu saat ini. Momentum dimana semuanya akan terasa sangat nyata. Aku akan menjadi bagian dari kehidupan seutuhnya.
Putih dengan bayang bayang keabuan. Begitulah pakaian yang saat ini aku pakai. Rambut indahku dibiarkan terurai manja. Terlihat betapa lihainya sang professional membuatnya menjadi semakin indah. Paduan gaun dan riasan wajah yang natural. Aku memang sudah berpesan untuk tidak terlalu berlebihan soal ini.
Seluruh mata tertuju padaku.
"Kau cantik hari ini, Eriana"
Pujian dari berbagai kalangan di hari ini. Aku semakin merasa percaya diri. Rasanya ingin sekali aku menjadi ratu untuk waktu lebih lama.
Barisan orang sudah siap untuk memulai acara. Mereka terlihat sangat gagah. Aku kembali memandang seseorang yang tepat berdiri disampingku sejak tadi. Seragam hijau gelapnya sepadu dengan para barisan tadi.
"Kau siap, Eriana?"
Katanya saat aku merapikan kerah seragamnya. Aku hanya membalas dengan senyum. Seseorang yang terlalu gugup sepertiku tidak pantas untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Perlahan semua mata kembali memandang ke arah kami. Beberapa dentingan suara menandakan acara akan dimulai. Aku semakin gugup!
Ia memegang tanganku erat.
"Tenang saja"
Sahutnya seolah mampu membaca pikiranku. Aku kembali tersenyum.
Kami mulai melewati jalan setapak. Sebuah karpet berwarna merah, yang beberapa jam lalu masih berupa karpet biasa sudah disulap dengan taburan bunga melati dan lavender. Langkah kami masih sangat pelan. Aku tidak sabar untuk sampai di ujung perjalanan itu. Aku tidak ingin lama-lama berjalan sambil dipandang orang!
Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana. Satu persatu 'gerbang' dibuka dengan iringan musik khas akademinya. Seiring juga dengan suara wanita yang membacakan sumpah untuk menjalani hidup selanjutnya.
Kami hampir sampai di tempat yang dituju. Penuh dengan dekorasi bunga melati dan lavender. Harum bunga-bunga ini sudah tercium mulai dari pintu masuk. Aku menarik nafas sejenak. Rasanya segala usahaku selama ini tidak sia-sia. Bolak balik gedung ini untuk melihat persiapan sudah matang atau belum. Aku semakin bahagia.
Semua orang sudah mulai melakukan aktivitasnya. Beberapa memilih mengantri untuk bersalaman. Ada yang mulai menjamu makanan, dan beberapa kelompok wanita dengan pakaian seragam kutu baru corak batik asyik berkumpul sambil tertawa. Sesekali mereka memandang kearahku sambil senyum-senyum. Aku tidak tahan ingin menjitak kepala mereka satu per satu. Ya, mereka adalah para sahabat ku semasa kuliah. Beberapa hari yang lalu hampir aku menangis untuk memohon kepada mereka agar hadir di hariku ini. Dan sekarang, dengan sangat menyebalkannya mereka berkumpul disana tanpa aku.
Aku masih sibuk memberikan salam dan senyum kepada para tamu sampai aku melihatnya lagi. Sosok yang aku harapkan tetapi tidak aku tunggu kehadirannya. Aku hanya mampu terdiam. Bayangannya makin jelas seolah nyata kembali hadir dihidupku. Jantungku berhasil berdegup kencang melebihi saat pertama kali jalan di panggung ini.
"Selamat ya"
Suara itu masih terdengar jelas di telingaku. Aku menutup mataku sesaat. Rasanya semua memori hadir kembali di benakku. Tenang masa perkenalan kami, tentang aku yang menunggu di depan pintu kelasnya untuk sebuah ucapan selamat pagi, tentang aku yang terus memperhatikannya dari kejauhan, tentang bagaimana dia tersenyum setiap kali mata kita saling bertatap, tentang bagaimana kedipan matanya setiap kali menceritakan hal-hal yang (menurutnya) seru. Semua tergambar jelas di benakku.
Sejuta perasaan langsung campur aduk di hatiku. Antara senang, benci, dan ah.. Aku tidak tahu lagi apa ini.
Aku masih (berpura-pura) tersenyum pada sejumlah orang yang hadir di hadapanku. Tetapi mataku masih mengawasi sekitar. Tepatnya memperhatikannya. Barisan wanita berseragam kutu baru tadi dengan sigap memperhatikannya juga. Mereka tahu persisbagaimana ceritaku dengan pria ini. Sambil mengawasi, mereka berbisik-bisik sedikit. Aku bisa mengerti jelas apa yang mereka katakan saat itu. Seseorang dari wanita itu langsung mengalihkan pandangan kearahku. Ia mencoba memberi kode dengan melirik kearah priaku dan kembali memandangku sambil tersenyum.
"He's yours now. And not him" begitu lah kira kira maksudnya.
Aku kembali tersenyum kepada barisan antrian yang sejak tadi ingin memberikan ucapan padaku. Udara makin terasa semakin menusuk. Kode dari sahabatku tadi nyatanya belum mampu untuk menghapus ribuan memori indah dengan pria tamu tadi. Aku masih merasa sakit setiap kali mengingat waktu-waktu indah bersamanya. Segala perjuangan yang aku dan ia lakukan semata-mata demi masa depan yang sejak lama kita rencanakan, sudah pudar untuk beberapa waktu lalu. Aku masih mampu merasa kan pahit ketika mengetahui kenyataan jika kita tidak akan pernah bisa bersama.
Ia terlalu jauh untuk aku gapai. Aku sudah melangkah jauh di depan, sedangkan ia masih di barisan yang sama seperti beberapa tahun lalu. Aku sudah mulai menata karierku, sedangkan ia masih saja sibuk dengan dunia fananya. Ia masih terlalu kekanak-kanakan untuk tahu bahwa hidup itu harus diperjuangkan. Ia masih belum sadar jika waktu bisa kapan saja memutar takdir. Aku selalu merasa kesal setiap kali ia bercerita tentang kerapuhan yang ia alami, padahal ia tidak sadar jika itu semua adalah ulahnya. Ia masih ingin menikmati masa-masa muda sedangkan aku sudah lebih berpikir dewasa. Itulah yang menyebabkan hubungan kami tidak bisa seperti dulu lagi.
Bayangannya kian hilang diantara ratusan tamu yang hadir. Entah ia menyempatkan untuk menikmati santapan malam, atau langsung memilih untuk kembali. Dari gerak-geriknya aku sadar jika ia juga masih belum siap untuk melepas. Tetapi ia berusaha memberikan senyum untuk beberapa detik di pelaminan. Rokok bermerek luar negeri yang selama ini ia konsumsi sempat terpajang rapi di kantong kemejanya. Aku sempat memperhatikan tadi. Ia masih mengonsumsi rokok. Bersamaan dengan yang lain-lain. Aku ingat saat ia akan memainkan linting rokoknya di tangan sebelah kiri tanda bahwa ia sedang cemas atau kecewa. Hari ini, tepat beberapa menit setelah aku rasa ia sudah tidak ada disana, dugaanku salah. Aku melihatnya yang baru berjalan keluar ruangan. Sambil memainkan batang rokok di tangan kiri, ia melangkah keluar dari gedung resepsi. Aku tersenyum bisu. 
(Top 25 on Storial.co)

Pukul 22.00
Aku masih terduduk di sepihan kegelapan. Sangat tenang. Suara kereta terdengar bak mengumandangkan rindu. Aku rindu kampung halaman. Tapi belum waktunya aku kembali. Banyak tugas yang harus kuselesaikan. Ini semua demi negaraku tercinta.
Kereta sudah berjalan sekitar 15 menit dari stasiun. Penumpang sudah mulai tertidur lelap. Beberapa orang masih asyik berbincang-bincang. Pembicaraannya pun masih untuk hal yang sangat aku hindari malam ini.
“Semoga perjanjian dengan Belanda besok menguntungkan pihak kita juga ya”
Kata seseorang dari kelompok pembicara. Yang lainnya secara bersamaan mengatakan “Amin”. Aku duduk sambil memikirkan sesuatu. Tentang bagaimana caranya aku melobi di perjanjian esok. Semoga saja doa orang-orang ini diijabah Tuhan.
Beberapa menit kemudian kereta kembali berhenti. Dengan refleks aku mengalihkan pandangan ke pemberhentian selanjutnya. Beberapa penumpang baru naik dan memenuhi gerbong. Namun ada satu orang yang menarik perhatianku. Wanita cantik dengan rambut terikat rapi. Ia mengenakan pakaian bunga dan rok panjang berwarna hitam. Tas dan jaket ia jinjing di kedua tangannya. Ia duduk tepat diseberangku. Gadis ini masih belum sadar jika sudah kuperhatikan sejak tadi. Ia masih sibuk dengan barang bawaannya.
10 menit kemudian kereta kembali berjalan. Keheningan gerbong ini kembali terasa hangat. Apalagi ada gadis secantik dia tepat di seberangku. Semua kegelisahan tentang rapat esok sekejap sirna ketika aku melihat sorot matanya. Ia manis seperti ibu. Pantas saja aku kembali merindukan rumah.

Engkau gemilang
Malam cemerlang
Bagaikan bintang timur sedang mengembang

Tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya kearahku. Mungkin ia merasa jika ada yang memandangnya sejak tadi. Wajahku nampak gusar. Seolah dipergoki sedang mencuri beras warga miskin. Untungnya ia segera tersenyum kepadaku. Hatiku menjadi hangat kembali. Segera aku mengambil koran yang ada di bawah tempat duduk. Aku berusaha untuk menangkan diri. Tetapi nampaknya bacaan koran ini sama sekali tidak membantuku. Perdebatan politik masih saja menjadi masalah terpanas minggu ini. Beberapa lembar koran hanya mencantumkan berita tentang itu. Sisanya bertuliskan tentang berita kematian pahlawan-pahlawan negara yang gugur dalam perang. Aku segera mengembalikan koran ke tempat asal.
Mungkin bukan ide yang gila jika aku mengajak gadis ini berkenalan. Nampaknya ia adalah gadis yang ramah. Dari raut wajahnya saja, aku bisa melihat bagaimana ia berusaha baik didepanku, bahkan didepan rombongan pembincang tadi. Aku segera meyakinkan diri untuk serius mengajaknya berkenalan. Beberapa langkah saja, aku sudah berpindah tempat duduk tepat di seberang nya. Namun kali ini lebih dekat dengan jaraknya.
“Nona bisa kita berkenalan?”
Kataku mencoba mencairkan suasana. Gadis itu nampaknya kaget. Mungkin ia masih berpikir apakah harus tetap beramah tamah atau pura-pura jual mahal. Di era ini masih banyak gadis yang mau untuk berkenalan dengan pria asing. Menurut mereka selama pria ini pribumi, ini masih hal yang wajar. Gadis itu segera menjabat tanganku.
“Saya Juwita” Balasnya sambil tersenyum. Aku segera kagum. Pembawaannya sangat dewasa melebihi raut wajahnya yang masih sangat muda.
“Saya Prabu. Berapa usiamu, Juwita?”
“Saya baru 21 tahun, Tuan” 
Jawabnya. Kami segera bertukar informasi tentang diri masing-masing. Beberapa kali Juwita menutup bibirnya dengan tangan saat ia sedang menahan untuk tidak tertawa lebar. Ia tampak seperti gadis pemalu yang berusaha untuk bersikap ramai. Malam ini terasa sangat indah. Aku senang berkenalan denganmu di malam ini, Juwita.

Tak jemu jemu

Mata memandang
Aku namakan dikau Juwita Malam

Juwita ternyata gemar membaca koran dan mendengarkan radio. Pantas saja, pengetahuannya begitu luas. Untuk seorang gadis di usianya, ia sangat lah handal dalam menyampaikan berita. Ia tahu detail tentang kejadian-kejadian yang terjadi di negeri ini. Dan yang pastinya, ia adalah kalangan elit karena di zaman ini hanya orang-orang yang berduit saja yang memiliki radio di rumahnya. Juwita bercita-cita menjadi seorang wartawan. Entah ini berita baik atau tidak, menurutku seorang wanita yang menjadi wartawan harus mengabdikan seluruh hidupnya pada berita-berita unggulan. Sudah banyak wartawan yang meninggal saat bertugas demi menyampaikan berita tentang kejadian-kejadian selama kerusuhan ini. Dan menurutku Juwita terlalu lemah untuk pekerjaan berat itu.
Beberapa jam kami masih asyik mengobrol. Sinar dari mata Juwita semakin berapi-api ketika kami membahas tentang rencana ku untuk membuat perjanjian perdamaian esok. Sebenarnya ini rahasia negara yang tidak boleh diumbar-umbar, hanya karena menurutku Juwita paham dengan situasi ini maka aku berbagi cerita dengannya. Dan karena para kelompok pembicara dibelakang (sepertinya) sudah tertidur lelap, aku berani untuk menceritakan pada wanita yang baru aku kenal ini. Juwita nampak menyimak seluruh kalimat yang kusampaikan. Sesekali ia menganggukan kepala, menandakan bahwa ia setuju dengan apa yang akan aku lakukan nanti. Perasaan gusar tentang esok seketika lenyap bersama dengan semua kerinduan akan ibu dan kampung halaman.

Sinar matamu
Menari nari
Langsung menembus kedalam jantung kalbu
Aku terpikat
Masuk perangkap
Apa daya asmara sudah melekat

Beberapa cerita Juwita membuat hatiku pilu seketika. Dibalik keceriaan dan keramahannya, ia merasakan dampak dari kekacauan di negeri ini. Usaha ayahnya bangkrut total. Keluarganya yang semula sangat tidak peduli dengan kejadian di negara mau tidak mau menanggung semua ini. Ayahnya sempat kehabisan akal untuk mencari pekerjaan di tengah kesulitan perekonomian ini. Sampai akhirnya sebuah ide datang dari rapat keluarga. Ayahnya kembali menjalankan bisnis tetapi kali ini dengan bisnis yang berbeda. Dengan bermodalkan radio di rumahnya, ia mencatat setiap informasi dari beberapa siaran radio. Berita-berita itu ia tulis ke dalam beberapa lembar kertas usang miliknya. Kemudian kertas itu ia jual ke beberapa orang yang membutuhkan berita terkini. Penghasilan yang didapat oleh ayahnya memang tidak semenguntungkan usahanya dulu. Tetapi cukup untuk membiayai keluarganya yang terdiri dari 7 orang anggota keluarga. Beberapa pencari berita membayar berita yang dikirim ayahnya dengan sistem barter. Ayahnya memberikan berita dan orang-orang memberikan beras atau makanan pokok lainnya. Beberapanya lagi masih sanggup untuk membayar dengan uang walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak.
Dalam hatiku, pantas saja jika Juwita bercita-cita menjadi seorang wartawan. Mungkin ia ingin terlibat langsung dalam proses pencarian berita, tanpa harus menjadi perantara antara radio dan ayahnya.

Juwita malam, siapakah gerangan tuan
Juwita Malam, dari bulankah Tuan?
Kereta kita segera tiba
Di jatinegara kitakan berpisah

Cukup lama perbincangan antara kami sampai akhirnya aku sadar jika pemberhentian kereta akan segera memisahkan kami. Tak lupa aku meminta alamat nona manis ini serta nama lengkapnya. Zaman ini masih sulit untuk mencari perantara dalam berkomunikasi. Surat masih belum menjadi alat komunikasi yang dapat diandalkan. Kadang jika tidak ada halangan, surat akan dikirim sekitar 10 hari. Tetapi jika kekacauan makin parah, semua surat akan di kirim sekitar sebulan. Tidak ada pengantar surat yang mau mengirimkan surat di tengah kekacauan. Mereka masih takut untuk mempertaruhkan nyawa demi pekerjaan.
Juwita, mungkin setelah rapat esok aku akan mencoba mencarimu. Entah kapan. Yang pasti aku akan berjanji. Demi menemukan gadis sebaik dan secantik dirimu, bertempur dengan siapapun itu aku siap.

Berilah nama, alamat serta
Esok lusa boleh kita jumpa pulang
Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates