C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >



“Lain kali, sebelum kesini, bawakan saya kopi lereng gunung Prau ya”

Pesan Ayahmu sore tadi.
* * *
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Tepat 3 jam setelah aku kembali dari rumah Ran. Bukannya beristirahat dengan tenang, aku justru memilih untuk duduk depan laptop. Sekali lagi, bukan untuk kerja, tapi untuk mencari “Pesanan” Ayah Ran tadi sore.

Kopi Lereng Gunung Prau. Pasti banyak di jual online.

Pikirku.

Baru pagi tadi, aku dan Ran berencana untuk bertemu Ayahnya segera mungkin. Jangan tanya untuk apa, tentunya dalam rangka membicarakan tentang hubungan kami menuju arah yang serius. Tapi mungkin tidak diutarakan hari ini, mengingat sudah terlalu sore dan belum ada kata-kata yang dipersiapkan dengan matang.

Sore tadi, setelah mengantar Ran (sepulang kami berjalan-jalan sore), aku sempat mengobrol santai dengan Ayah Ran. Perawakan beliau cukup tinggi, setidaknya lebih tinggi dariku. Wajahnya cukup tegas, dikuatkan dengan garis rahangnya yang tampak jelas. Belum lagi dengan tongkat kayu dengan ukiran tertulis “Ayah Terbaik Sepanjang Masa”. Sudah jelas pasti, siapa yang memberikan tongkat ini.

Di sela perbincangan sore ini, kami sempat membahas tentang kopi. Kebetulan ayah Ran sempat dinas di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Banyak jenis kopi yang sudah pernah ia nikmati. Mulai dari kopi Aceh Gayo si kopi Arabica terbaik di dunia, hingga kopi berbau sedikit tembakau di after taste-nya alias kopi Flores Bajawa. Namun dari semua itu, menurut beliau, kopi lereng Gunung Prau-lah yang paling tak terkalahkan. Terutama karena aroma khas Nangka (yang menurut beliau) sangat abadi.

“Lain kali sebelum kesini, bawakan saya kopi gunung prau ya. Ingat! Ini perintah, bukan main-main,”

Kata Ayah Ran sambil menepuk pundakku. Bagai suatu pesan wasiat, aku hanya bisa meringis sambil menelan ludah.

Matilah aku, dimana harus mencari kopi ini?

01.30. Rumah Aryan

Malam semakin larut dan aku tetap terjaga depan laptop. Sudah banyak website yang kubuka, namun tidak menemukan toko online yang menjual minuman ini. Apa kopi ini hanya khayalan Ayah Ran? 

Apa aku sedang dikerjai oleh pria paruh baya?

Pelan-pelan aku memejam mata sejenak. Membayangkan bagaimana wajah Ayah Ran saat ini, jika tahu si calon menantunya ini sedang berjuang mencari barang langka titipannya. Entah tersenyum bangga atau tertawa karena tipuannya berhasil. Entahlah.

Mataku terbelalak sejenak. Ya, aku ingat sebuah nama. Ion, temanku yang seorang barista. Aku harus meminta bantuannya hari ini.
* * *
16.00 WIB, Kedai Kopi Seribu Tahun Menunggu
Segenggam biji kopi diambil dalam wadah. Uniknya, bukan dalam French press seperti yang digunakan oleh barista pada umumnya. Ia memilih menggunakan blender bumbu, dengan beberapa ketukan tombol hidup-mati-hidup-mati agar tak terasa hangus. Kopi olahan tadi kemudian dimasukkan dalam cangkir dan disiram dengan air mendidih. Adukan memakan waktu 3 menit, dimana sang barista memanfaatkan waktu singkat ini untuk membersihkan meja dari taburan sisa bubuk kopi.

Satu kopi, atas nama Dinda. Selamat menikmati.  

Katanya sambil tersenyum ramah ke pelanggannya. Ia berlalu sambil merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Ion”

Bisikku. Matanya segera mencari sumber suara tadi. Kali ini ekspresinya jauh lebih ramah dari sebelumnya.

“Hey, bro. How’s life?”

Katanya berbasa-basi.

“Baik, bro. Lo gimana? Makin rame aja kedai,”

“Ya, lumayan lah. Semenjak di pakai buat shooting kemaren, jadi banyak yang penasaran kesini. Oiya, udah lama juga lo ga mampir,”

“Sorry, bro. Gue sibuk kemarin-kemarin. Lagi banyak proyekan. Lumayan lah, buat nambah-nambah uang jajan. Btw, gue ganggu bentar boleh gak?”

“Oh it’s okay. Ada apa?”

Aku menceritakan pada Ion tentang permintaan Ayah Ran kemarin. Tentang Kopi Gunung Prau. Ion menarik nafas dalam-dalam. Sambil memutarkan bola mata, seperti sedang berpikir keras.

“Kopi gunung prau. Kopi Liberika. Ukuran buahnya lumayan besar, green bean berwarna coklat terang. Ya, gue pernah denger tentang itu,”

“Ya, itu juga yang dijelasin Ayah Ran. Lo punya gak kopinya? Atau ada kenalan gak yang jual?”

“Sayangnya gak ada. Ini kopi Langka, Yan. Habitat aslinya di Kawasan tropis kaya Afrika. Kayanya sulit karena jarang dibudidaya disini,”

Ion menghela nafas panjang. Matanya segera menatapku tajam.

“Gak ada pilihan lain sih, lo bisa dapetin kopi ini langsung di kotanya, Kendal. Gih!”
                                                                                          * * *
05.32 WIB. Stasiun Weleri.

Kereta telah berhenti di sebuah stasiun. Bersamaan dengan instrumen dari lagu Gambang Semarang yang khas menandakan aku telah tiba di Kendal.

Suasana masih pagi. Tampak beberapa orang sibuk menenteng barang bawaannya. Berbeda denganku yang hanya berbekal tas ransel kecil. Setelah berkunjung ke Kedai Ion kemarin sore, aku memutuskan untuk memesan tiket perjalanan ke Kendal. Niatnya hanya untuk mendatangi tempat kopi Gunung Prau, membawa sekarung kopi legendaris ini, lalu pulang.

Berbekal satu alamat yang diberikan Ion, aku memilih transportasi umum menuju ke tempat kopi itu. 

"Mas, nanti saya turun di sini ya,"

Kataku sambil menunjukkan satu alamat ke supir angkutan umum. 

"Inggih, mas. Mas nya bukan orang sini ya?" 

Tanyanya.  Mungkin dari logat bicaraku yang berbeda dengan orang sekitar.

"Iya mas, dari Jakarta. Kebetulan saya lagi jalan-jalan kesini, mau coba kopi Gunung Prau yang katanya legendaris itu,"

"Bener toh dugaan saya, hehe. Kopi Liberika ya mas? Memang harus coba kopi dari sini, langka tapi rasanya nomer satu sedunia mas," 

Kata supir sambil tertawa. 

"Saran saya ya mas, kalo mau coba kopinya yang bener-bener dari sini, saya tahu alamatnya. Yang punya bapaknya teman saya, salah satu kelompok tani di sini. Namanya Pak Matoha. Rasa kopinya wes rak usah ditakon meneh. Nek Bahasa Jakartanya, Endolita Bingit!" 

Kembali ia tertawa. Karena masih pagi dan kebetulan belum ada penumpang lain, supir ini dengan senang hati mengantarkanku ke tempat yang dimaksud. 

Setengah jam berlalu, kami tiba di sebuah bangunan kuno. Bangunan ini sepertinya sudah lebih tua dari usiaku (atau bisa jadi seumuran denganku). Meskipu begitu, tetap bersih dan nyaman untuk dikunjungi. Menariknya, ada satu pekarangan khusus yang menghadap gunung. Dan sekali lagi, karena masih pagi, aku lah pengunjung pertama yang datang hari ini. 

"Mau pesan apa, mas? Arabika, Liberika, Robusta, atau Luwak?" 

Tanya seorang wanita paruh baya sambil tersenyum. 

"Kopi Liberikanya satu ya, bu"

Ibu ini kembali tersenyum dan segera berlalu. 

Beberapa menit kemudian, Ibu tadi kembali sambil membawa satu cangkir kopi. Uniknya, cangkir yang digunakannya sangat lawas, mirip dengan cangkir almarhum kakek dulu. Sambil bernostalgia tentang percangkiran ini, aku tertegun dengan tegukan kopi pertama. Rasa nangka begitu melekat saat pertama kali mencicipi kopi ini. Pantas saja Ayah Ran sangat menyukainya. Aku menghirup nafas dalam-dalam demi menikmati aroma kopi ini. Rasanya sangat tenang, seperti berada di rumah. Juga rasa lelah setelah tujuh jam perjalanan tadi seperti hilang sejenak. 

"Baru pertama coba kopi ini ya?" 

Suara dari belakang berhasil mengagetkanku. Pria paruh baya ini tersenyum dan segera duduk di sebelah. 

"Saya Pak Matoha, yang punya kedai ini," 

Katanya.

"Senang bertemu dengan Bapak. Saya Aryan, dari Jakarta, Pak," 

"Wah orang Jakarta sampai disini. Gimana ceritanya?" 

"Iya pak, tadi supir angkutan umum yang mengantarkan saya kesini. Katanya tempat kopi ini paling legendaris,"

"Oh, pasti si Husno tadi. Wah tidak se legendaris itu kok. Kebetulan kedai ini sudah berdiri lama, mungkin lebih tua dari usia nak Aryan," 

Katanya. 

Dari cara bicaranya, Pak Matoha ini (sepertinya) sangat ramah kepada semua orang. Aku kembali menyeruput kopi disertai dengan udara sejuk yang memanjakan pikiranku. 

"Daerah ini bentuknya dataran tinggi. Jadi tanaman kopi tumbuh subur di sini. Kamu tahu nak, Kabupaten Kendal ini wilayah penghasil komoditas yang sudah dikenal dunia, makanya banyak diburu negara lain," 

Aku mengangguk mendengar penjelasan Pak Matoha. Seperti yang diceritakan supir (Husno) tadi, Pak Matoha ini bukan hanya pemilik Kedai Kopi. Ia adalah salah satu Kelompok Tani yang sudah bertahun-tahun menggeluti profesi ini. Menariknya, ia tidak hanya menjajakan kopi. Dengan senang hati, Pak Matoha berbagi informasi tentang asal kopi yang dinikmati oleh pelanggannya. Sehingga ikatan emosional sangat terasa antara pelanggan dengan kopi miliknya.

"Kamu tahu darimana tentang Kopi Liberika ini, nak?" 

Tanyanya. 

Aku meneguk kopi terakhir dari cangkir ini. Segera menceritakan tentang Ayah Ran yang tergila-gila dengan kopi ini dan berpesan untuk dibawakan saat kunjunganku berikutnya. 

"Oh begitu ya, saya jadi teringat dulu sekitar 15 tahun yang lalu. Ada anggota yang dinas di daerah sini, dan kebetulan ia sering menghabiskan sore disini. Karena usia kami tidak jauh, saya dan anggota ini jadi akrab. Ibaratnya, jika saya kopi arabika yang pahit asam, beliau kopi robusta yang pahit pekat. Memang berbeda, tapi punya satu kesamaan. Sama-sama tidak bisa hidup tanpa kopi," 

Kata Pak Matoha sambil bernostalgia. 

"Kalau boleh tahu, siapa ya pak namanya?" 

"Anggota itu? Saya sudah lama tidak jumpa, namanya Pak Shidiq Mangkoesasih,"

* * *
17.01 WIB. Stasiun Weleri

Lagu Gambang Sembarang kembali berkumandang. Kali ini menyambut keberangkatan kereta yang aku tumpangi. Sambil memandang stasiun yang dekat dengan Pasar Weleri ini, aku menggenggam satu kantong plastik hitam. Kopi Lereng Gunung Prau sudah ada di tangan. Bisa dibayangkan bagaimana wajah Ayah Ran nanti, jika tahu si calon menantunya ini berhasil menemukan barang langka titipannya. Entah tersenyum bangga atau tertawa karena melihat perjuangan yang tidak main-main ini. Entahlah. 

09.00 Halaman Rumah Ran

Aku sudah tiba kembali di Jakarta. Tepatnya di halaman Rumah Ran. Ran memandangiku dengan wajah cemas karena (menurutnya) kemarin aku susah sekali dihubungi. 

"Kamu beneran habis dari Kendal? Pulang Pergi?" 

Aku mengangguk. 

"Itu bawa apa?" 

Ia melihat kantong plastik hitam di tanganku. 

"Titipan Ayahmu," 

Kataku. 

Kembali aku berhadapan dengan Ayah Ran. Sebelum beliau menagih janji, aku segera memberikan kantong plastik hitam itu dan ia membukanya dengan hati-hati. Ekspresi matanya terbelalak, antara senang bercampur kaget. 

"Darimana kamu dapat kopi ini?" 

"Langsung dari kotanya, om. Kemarin Aryan ke Kendal," 

Ayah Ran memandangiku sambil tersenyum kecil. 

"Ini kopinya," 

Kata Ran sambil meletakkan dua cangkir kopi depan aku dan Ayahnya. 

"Silahkan diminum, Yan,"

Ayah Ran memberikan izin. Kami berdua meneguk kopi hidangan Ran. Meskipun sudah kali kedua mencoba kopi Liberika ini, namun kesan yang pertama tetap terasa sampai sekarang. Bayanganku kembali ke kedai Pak Matoha kemarin. Damai sekali rasanya. 

"Robusta dikenal karena rasanya pahit pekat, dan Arabika pahit asam. Sedangkan Liberika, cita rasanya memang pahit pekat, tapi aroma nangkanya jelas tercium dari pertama kali diseduh dengan air panas," 

Kata Ayah Ran sambil menikmati kopinya. 

“Sekarang kamu percayakan bahwa biji kopi seperti ini bisa melahirkan rasa luar biasa?”

Aku kembali mengangguk.

“Kelak jika hidup bersama Ran, kamu akan bahagia sebatas dengan mencicipi kopi liberika buatannya seperti hari ini. Itu yang saya rasakan selama hampir 20 tahun hidup dengan almarhumah ibu Ran.”

Seperti kata ayah Rana barusan, ia benar. Sebuah pesan tersirat dalam kata-kata pertamanya, bahwa dari sosok Ayah yang mulanya kukira tegas dan ditakuti ini, ia berhasil melahirkan putri yang luar biasa.

“Jadi, Aryan diperbolehkan, om? Untuk Hidup Bersama Ran?”

Kali ini Ayah Ran yang mengangguk.
Beberapa jam kemudian, aku bersalaman dengan Ayah Ran untuk kembali ke rumah.

“Jaga Ran baik-baik ya, Aryan. Ingat! Ini perintah, bukan main-main,”

Kali ini ia mengucapkan dengan nada tegas, namun disambut oleh tawa kami bertiga.

“Oh iya sebelum pulang, Aryan mau sampaikan salam. Dari Bapak Matoha, Pemilik kedai kopi yang Aryan kunjungi kemarin,”
* * *
19.20. Rumah Aryan.

Rana Mangkoesasih. Wanita yang sore kemarin resmi menjadi istriku, dan saat ini sedang menghindangkan kopi liberika pertama untuk suaminya.

“Terima kasih, Ran,”

Ia tersenyum dan segera berlalu. 


Setelah terlalu nyaman dengan zona tanpa menulis cerpen, akhirnya aku memutuskan untuk kembali menulis. I owe a special thanks to Adhitia Sofyan and his honeyed voice as still inspiring me in many ways, especially in creating this one. Tak perlu berlama-lama ya, karena sudah banyak kalimat yang berputar di pikiranku untuk dituang dalam tulisan.

Hi, Aku Alana. Dan ini kisahku, cerita pertama yang berhasil aku selesaikan di pertengahan tahun 2019.

You and I have an invisible relationship
We don’t declare it to the world but we’re together
You and I have an invisible relationship
No need to tell each other but we’ve always knew it’s true

“Green tea nya habis, mau ke tempat lain?”
Kata Ale. Tanpa perlu kujawab, Ale segera menarik tanganku dan memilih kedai kopi lain di kota yang masih menyediakan green tea latte.

Namanya Ale, orang yang baru aku kenal awal tahun ini. Sosok aslinya cukup periang, meskipun tiap pagi ia selalu memasang wajah suntuk seperti sudah begadang dua hari berturut-turut. Seperti judul lagu Adhitia Sofyan ini, we have an invisible relationship. Tak perlu banyak yang tahu karena Aku dan Ale lebih tertarik dengan hubungan yang seperti ini.

We say "Goodnight" to one another in silent
We tell each other "I miss you" while we are far apart
We whisper things like "I need you" and the wind would breeze away
We tell each other "You’re the one" by the look in our eyes


Kalau ditanya, apa yang pertama kali membuatku jatuh cinta dengan Ale, bisa jadi aku tidak bisa menjawab.

Warna matanya? Bukan. Coklat gelap bukan warna favoritku. Bahkan jika disuruh memilih, bola mata Nicholas Saputra jauh lebih menantang untuk ditatap lebih dalam.

Soal cara berpikirnya? Tidak juga. Hampir disetiap percakapan, bahkan tentang masa depan sekalipun, Ale selalu tertawa seperti tidak ada masalah runut dalam hidupnya. Seolah setelah bangun tidur ia hanya mendapat pilihan untuk menyantap sereal sambil menonton kartun atau melanjutkan tidurnya. Ya, meskipun berkali-kali ia meyakinkan bahwa dirinya adalah seorang perenung, lebih dari yang aku bayangkan selama ini.

Aroma tubuhnya pun tidak pernah membuatku merasa rindu. Jelas sekali, karena Ale selalu enggan menggunakan pengharum badan. Alasan inilah yang bahkan membuatku bingung tentang bagaimana cara merindukan Ale ditengah keramaian. Ketika banyak wanita yang merindukan prianya saat secara tak sengaja mencium parfum yang sama di jalan.

Tapi harus aku akui, dibalik semua itu Ale jauh lebih manis dari yang kalian kira. Pujiannya tiap pertama kali bertemu, selalu membuatku salah tingkah.

“Kamu cantik, Alana,”

Pujinya sambil berusaha menyentuh pipiku dengan tangan lembutnya.

Aku secara reflek berusaha mengalihkan topik. Sejujurnya, hingga detik ini belum ada pria seperti Ale yang benar-benar memujiku secara langsung. Alih membuat senang, justru aku tidak karuan.

You and I have an invisible relationship
We stay to live our separate lives but I see you by my side
You and I have an invisible relationship

And when it’s time to see each other, universe works for us

Kami berdua bukan pecinta kopi. Namun ini bukan kabar buruk karena obrolan kami jauh lebih luas dari sekedar membicarakan sejarah mengapa kopi gayo hampir tidak terasa pahitnya. Atau perdebatan kecil tentang kopi yang seharusnya digiling, bukan digunting.

Seperti kata pepatah, “De gustibus non est disputandum”, selera bukanlah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Tentang dia yang lebih suka paha ayam, dan berbeda denganku yang tidak bisa makan tanpa dada ayam. Kecintaannya pada club Persija yang berbanding terbalik denganku yang mengagumi aksi Achmad Jufriyanto dan kawan-kawan di lapangan. Atau suntiang yang menurutnya kurang pas jika dipadukan dengan jas dan kebaya modern. Semuanya hanya soal selera, karena pada akhirnya kami memutuskan untuk menyantap es krim dan suasana kembali manis.

“Mau aku baca karakter kamu? Lewat golongan darah,”

Kataku saat kami pertama kali berkencan beberapa bulan lalu. Wajahnya penuh penasaran, aku kembali melanjutkan kalimat dengan tetap memandang wajahnya seolah sedang serius.

“Golongan darah kamu B kan? Kamu orang yang susah diatur, kalau dalam berpakaian kadang ada niat untuk bener-bener rapi tapi kadang mau acak-acakan. Bener gak?”

Air mukanya memperlihatkan ia sangat antusias. Bahkan ia ingin aku melanjutkan kalimat untuk membaca karakternya lebih dari itu.

Sejujurnya, Ale, aku sama sekali tidak bisa membaca tentang golongan darah. Dan soal tebakan golongan darah B itu, memang sengaja aku sebutkan berdasarkan karaktermu. Bagaimana tidak tahu? Beberapa bulan sebelum kita dekat, aku sering memperhatikan dari kejauhan. Hingga setiap kali berpapasan pun, aku jelas peka dengan caramu berpakaian. Jadi jangan heran jika tebakanku tentang golongan darah tadi sesuai dengan yang aku sebutkan tadi, ya.

We say "Goodnight" to one another in silent
We tell each other "I miss you" while we are far apart
We whisper things like "I need you" and the wind would breeze away
We tell each other "You’re the one" by the look in our eyes

Di kepalaku, Ale seperti Rubah Merah dari hutan yang suka bersosialisasi dengan lingkungannya. Meskipun berasal dari jurusan yang terkesan serius belajar dan kurang komunikatif, tapi Ale tidak. Hidupnya (sepertinya) seimbang, antara sibuk bekerja dengan bermain. Bahkan ia selalu menyempatkan untuk bermain dengan teman-teman dari SD hingga tongkrongannya.

“Aku main sama teman SMP dulu ya,”
“Aku main sama teman SMA dulu ya,”
“Aku main sama teman kuliah dulu ya,”
“Aku main sama tongkrongan A ya,”
“Aku main sama tongkrongan Z ya,”

Sejujurnya, banyak hal menarik dari Rubah Merah yang jauh dari karakter Ale. Keberaniannya berburu di rawa-rawa dan hutan, jauh dari karakter Ale. Mengingat saat ini, yang aku tahu Ale bahkan tidak berani melihat ke atas pohon rimbun yang ada di rumahnya saat tengah malam hari. Juga soal mitos yang ia ciptakan sendiri tentang kasur berkolong yang bisa jadi sarang ‘makhluk-makhluk halus’ tinggal sehingga ia lebih memilih untuk tidur di kasur yang menyatu dengan tanah di kamarnya.

Meskipun begitu, sifat ‘menghangatkan’ dari Rubah Merah ada padanya. Jika Rubah Merah terkenal dengan bulu bermantelnya yang hangat, Ale yang kukenal juga memiliki senyuman hangat. Entah saat pertama kali kencan, hingga sapaan selamat malam lewat pesan singkatnya. Mungkin, dari ribuan (ini berlebihan) pria yang aku kenal, Ale bisa dikatakan paling rajin untuk mengucapkan selamat pagi hingga selamat malam, seperti tugas wajib seorang resepsionis kepada para karyawan. Sifatnya yang terkesan selalu tenang meskipun banyak masalah yang ia hadapi, selalu berbanding terbalik denganku yang selalu panik dan pemikir. Dan mungkin masih banyak sifat baru yang belum aku tahu tentang Ale, mengingat perkenalan kami masih kurang dari satu tahun ini.

Intinya, Ale adalah Rubah Merah dari hutan belantara. Meskipun sampai detik ini, ia masih mengelak dan ingin disebut pangeran tampan nan rupawan dari pinggiran Jakarta.

Terserah. Yang penting suatu hari nanti kita jalan bareng di pinggiran kota New York ya, Janji?



“Kamu yakin kita harus pindah minggu ini?”

Kataku setengah tidak percaya. Bagaskara, si lawan bicaraku ini hanya menganggukkan kepala sembari sibuk membuka lembaran kertas dihadapannya.

“Aku gak mau ninggalin Jakarta, Bagas”

Aku segera mengubah posisi duduk, tepat dihadapan Bagaskara agar ia mau memandang kearahku. Usahaku sia-sia. Ia masih sibuk dan menjawab singkat setiap pertanyaan yang aku ajukan sejak tadi.

“Bagaskara, bisa tidak kamu anggap ini permasalahan serius?”

Aku mulai kehabisan kesabaran dan mulai berintonasi tinggi. Akhirnya Bagaskara menyadari emosiku dan perlahan melepas kertas yang ada digenggamannya. Ia memandangiku dengan tatapan seolah-olah tak ada masalah apapun.

“Bisa kita menetap di Jakarta selamanya? Aku gak mau pindah ke Padang”

 “Kenapa?”

Jawabnya singkat. Kali ini sorot matanya menatapku tajam. Aku menelan ludah dan mulai mencari seribu alasan.

“Ya, aku betah di Jakarta. Kamu tahu kan aku lahir di Jakarta, besar disini. Aku gak mau ninggalin kota ini,”

“Kita cuma pindah sementara Shaira. Lagipun, kalo kamu rindu Jakarta, kita bisa kembali kesini kapanpun. Kalo aku dapat cuti kerja, kita bisa kembali kesini.”

“Gak semudah itu, Bagas. Rumahku disini, dan aku sama sekali tidak mau ninggalin kota ini.”

“Itu resiko kamu menikahi abdi negara, Shaira. Kamu harus siap, pindah kemanapun dan kapanpun. ”
Kata Bagas sembari pergi meninggalkanku.

Aku masih menggerutu sambil memandangi foto berseragam Bagaskara yang terpajang diruang keluarga.

Bagaskara, suamiku. Wataknya sangat keras kepala (menurutku). Meskipun sejak awal perkenalan ia terkesan sangat pendiam, tetapi akhir-akhir ini aku semakin bisa menilai tabiat menyebalkannya. Bagaskara memang susah ditebak. Entah dalam hal keinginan maupun emosinya. Dan aku, si anak bungsu yang memang sejak dulu di didik manja. Sejak memutuskan hidup bersama Bagaskara, aku mulai mencoba menekan emosi dan egoku. Sifat keras kepala Bagaskara dan aku memang 11:12, hampir tidak ada bedanya. Selalu saja tidak ada yang mau mengalah diantara kami, meskipun hingga empat tahun pernikahan ini belum ada perdebatan sengit diantara kami. Dan hari ini, sepertinya pertengkaran akan kembali terjadi.

Seminggu yang lalu, Bagaskara mendapat surat keputusan mutasi ke Padang. Dan sejak awal memutuskan menikah dengan Bagaskara aku harus menerima resiko untuk pindah kemanapun ia ditugaskan. Namun bukan hal mudah bagiku, meskipun dulu aku pernah pindah ke Pariaman karena tugas ayah dan hanya bertahan sebulan aku kembali ke Jakarta. Sudah seminggu ini aku memohon padanya untuk tetap menetap disini. Tetapi hasilnya nihil. Kami masih belum bisa memutuskan, ego siapa yang harus dipertahankan.

* * *
“Selamat Datang di Bandar Udara Internasional Minangkabau”

Suara pramugari terdengar di penjuru pesawat sesaat setelah pesawat mendarat.

Ya, setelah perenungan seminggu ini, akhirnya aku memutuskan untuk mengalah. Mau tidak mau, Bagaskara pindah ke Padang. Dan mau tidak mau pula, aku harus mendampinginya disana. Meskipun Bagaskara asli dari Sumatera Barat dan keluarganya masih tinggal disana, aku harus tetap ikut dengannya.

“Nanti kita dijemput Ajo (Bahasa Minangkabau, artinya: kakak Pria) dan langsung ke rumah amak (ibu),”

Kata Bagaskara memberi intruksi. Aku hanya mengangguk saja dengan memasang wajah cemberut.
Perjalanan dari bandara ke rumah Bagaskara ditempuh kurang lebih satu jam. Dan selama perjalanan, aku memilih untuk bungkam. Bagaskara bukan tipe pria yang suka untuk membujuk wanitanya saat kesal. Ia hanya sesekali mengalihkan pandangan kearahku, dan kembali berbincang dengan Ajo-nya dengan bahasa Minang.

“Gimana Shaira bisa mutusin buat pindah kesini? Jakarta kan lebih nyaman,”

Kata Bang Asnan kepadaku.

“Ya gimana lagi, bang. Kan harus ikut suami bertugas,”

Jawabku singkat.

“Semoga betah disini ya, ra”

Katanya dengan logat khas Sumatra Barat. Aku hanya menjawab dengan senyuman sambil melirik kearah Bagaskara.

‘Bagaskara dan Bang Asnan sangat beda jauh! Abangnya sangat ramah. Sedangkan ia? Untuk minta dibuatkan teh saja butuh perdebatan-perdebatan pagi yang menyebalkan.’

Batinku mengeluh.

* * *
Setiba dirumah Bagaskara, aku segera masuk dan melihat ke sekeliling rumah. Dekorasi rumah ini masih terkesan tradisional namun sangat terawat. Beberapa foto usang Bagas dan Bang Asnan terpajang rapi di dinding rumahnya.  Amak Bagaskara sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu karena sakit. Sedangkan Abaknya (ayah) sudah lama meninggal sejak Bagaskara duduk dibangku sekolah dasar. Sekarang rumah itu ditempati oleh Bang Asnan, istrinya, dan dua anak kembarnya yang masih kecil-kecil. Hari itu, istri Bang Asnan sedang tidak ada dirumah karena menemani perpisahan sekolah kedua putranya.

“Habis ini mau Ajo antarkan kemana lagi?”

Tanya Bang Asnan pada kami.

“Indak paralu, jo (artinya: tidak perlu, bang). Bagas sama Shaira mau jalan-jalan berdua nanti malam,”

Aku memandangi wajah Bagaskara dengan tatapan aneh. Tidak biasanya ia mau menemaniku berjalan-jalan. Bahkan selama ini aku harus menangis meraung-raung dulu jika bosan dirumah dan ingin mengajaknya keliling kota. Itupun kadang ia mengajak makan diluar dan setelah selesai langsung kembali kerumah.

“Jalan kemana?”

Kataku pada Bagas.

“Jembatan Siti Nurbaya. Kamu belum pernah kesana kan?”

Aku menggelengkan kepala dan bergegas pergi seolah tidak tertarik untuk kesana.

Siang itu, Bagaskara dan Bang Asnan menghabiskan waktu untuk berbincang diteras, sedangkan aku memilih untuk dikamar saja. Tanpa sepengetahuan Bagas, aku mulai membrowsing Jembatan Siti Nurbaya, tempat yang akan kami kunjungi malam ini. Dari gambar-gambar yang aku lihat di internet, tempatnya cukup menarik dan romantis. Meskipun aku sama sekali tidak berekspektasi tinggi melihat sifat Bagas yang jauh dari kata romantis.

* * *
Dalam setengah jam, kami sudah sampai di lokasi, yakni Jembatan Siti Nurbaya. Mirip dengan yang aku lihat di internet tadi, sangat manis. Lelampuan kota dan kapal yang bersandar menyatu padu dan seolah menghidupkan suasana jembatan itu. Tempat yang cukup tenang, dan mungkin bisa jadi pelarianku jika kesal dengan Bagaskara nanti.

Aku menghirup napas dalam-dalam. Mencoba menikmati setiap angin sepoi disana. Sesekali suara nyanyian dan musik khas Sumatra Barat terdengar samar-samar dan membuat suasana makin nyaman. Dan beberapa kali, aku merasa de javu dengan tempat itu. Ya, mungkin karena aku pernah tinggal disana dan pernah berkunjung kesini sebelumnya. Dan sepertinya pemandangannya tak seindah hari ini.

“Shaira, duduk disini,”

Kata Bagaskara yang ternyata sudah mengambil dua kursi plastik. Aku segera menghampirinya. Agaknya malam ini suasana hatinya cukup baik. Entah karena ia berada di kampung halamannya atau karena alasan lain.

“Ini jembatan siti nurbaya?”

Tanyaku.

Bagaskara mengangguk sambil menerima segelas kopi yang dihidang oleh pedagang kaki lima.

“Kamu tahu kan ceritanya?”

Giliran aku yang mengangguk. Cerita siti nurbaya memang sudah melegenda sejak dahulu.

“Kasian ya Siti Nurbaya, dipaksa nikah sama pria yang gak pernah ia suka dari dulu,”

Kataku. Kemudian suasana terasa hening, tidak ada jawaban dari Bagaskara pun dariku.

“Kamu pernah suka dengan wanita lain?”

Tanyaku pada Bagaskara. Entah pikiran apa yang meracuniku hingga aku memberikan pertanyaan tidak penting itu padanya.

Tak disangka, Bagaskara mengangguk.

“Siapa?”

“Wanita yang aku cinta setelah Amak. Dulu aku pernah suka dengan anak perempuan di Menengah Pertama. Setiap ketemu dia, aku selalu buat surat cinta karena gak pernah berani buat bicara langsung ke dia. Suratnya belum pernah sampai ketangan perempuan itu,”

“Kenapa? Kamu gak berani ngasih langsung?”

“Bukan, aku pernah punya niat buat ngasih suratnya pas hari Jumat, sebelum libur sekolah. Tapi ternyata aku kena cacar, dan terpaksa gak sekolah selama dua minggu. Dan ternyata waktu aku sembuh dan masuk sekolah, perempuan itu udah pindah sekolah,”

Kata Bagaskara sambil menghembuskan napas dengan berat.

“Trus cuma sampai situ? Kamu gak pernah tahu perempuan itu pindah kemana? Atau kamu gak ada niatan untuk cari dia?”

Bagaskara hanya tersenyum dan memandangiku dalam-dalam.

“Sudah, dan berhasil,”

“Hey, apa maksudnya?”

Jawabku sedikit cemburu.

“Ya wanita itu yang ada di hadapanku hari ini,”

Jantungku berdegup kencang. Aku yakin ini bukan gombalan, karena setahuku ia memang tidak pernah jago untuk menggombal.

“Mau dengar isi suratku 12 tahun yang lalu?”

Tanyanya. Aku segera mengangguk penasaran.

Bagaskara segera mengubah posisinya, memandang mataku dengan tajam.

“Untuk Shaira. Kamu tahu, hari ini aku, Bagaskara – si anak Amak, telah melanggar satu larangan Amak,”

Ia berhenti berkata-kata. Dahiku menyerngit tanda penasaran dengan maksud kalimatnya barusan.

“Saat SD, aku ingat sekali petuah Amak. Saat lampu semprong masih jadi penerang dirumah kami. Suasana hening, riup kentongan dari desa sebelah lah yang meramaikan. Aku duduk dipangkuan Amak. Sayup-sayup aku dengar Amak bilang, ‘Apapun yang terjadi, dewasa nanti, Abang harus ingat kalo yang berlebihan itu tidak baik’. Tapi pasti mendiang Amak marah denganku karena larangannya sudah aku abaikan,”

Aku masih belum bisa mencerna kata-kata Bagas barusan.

“Iya, mendiang Amak bilang yang berlebihan itu tidak baik. Tapi kamu harus tahu itu, Shaira. Bahwa senyummu itu berlebihan manisnya. Dan itu tidak baik,”

Aku mendadak tersipu mendengar kalimat Bagaskara barusan.

Inilah gombalan pertama Bagaskara.  Entah siapa yang mengajarkannya. Aku kira, sejak kecil Bagaskara adalah tipe yang dingin dan tidak peduli dengan lingkungannya. Dan baru saja aku tahu kalo Bagaskara dan aku pernah duduk di sekolah yang sama. Aku baru tahu Bagaskara pernah menyukaiku, Shaira si anak baru yang hanya satu bulan di sekolah itu. Dan kepindahannya ke Ibukota menjadi alasan utamanya untuk mencariku. Meskipun selama ini aku menyangka pertemuanku dengannya di stasiun lima tahun lalu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

“Jangan geer, itu surat cintaku waktu SMP,”

Kata Bagaskara berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.

“Iya aku tahu, siapa yang ngajarin?”

“Bang Asnan”

“Bang Asnan memang romantis ya, gak kayak adiknya”

“Setidaknya adiknya tahu kalo wanita incarannya dulu suka makan puluik sarikayo yang ada di depan sekolah,”

“Hey, itu kan makanan favoritku dulu,”

“Besok kita ke sekolah ya. Nostalgia sekalian beli puluik sarikayo. Puluik Sarikayo untuak adiak manih nan denai cinto,”

“Tambuah ciek!”

Jawabku sambil meringis.


Kami duduk di bangku yang sama. Saling diam dan membisu. Suasana makin terasa menusuk, padahal tidak ada tanda-tanda hujan akan datang. Aku memandang beberapa helai daun yang tergeletak di tanah tepat dibawahku. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, ia masih dengan tatapan lurus. Tanpa ada keinginan untuk memulai perkataan. Dengan sedikit mendehem, aku memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?”

Kataku memecahkan keheningan. Ia masih diam dengan posisi yang sama. Aku dilema, antara tetap disana atau lebih baik pergi saja. Beberapa menit kemudian, ia mengubah posisi duduk. Lebih tegak dan seolah berusaha untuk menjawab pertanyaanku tadi.

“Ada yang ingin aku tanyakan,”

Katanya.

“Silahkan”

 Jawabku singkat.

“Kamu masih dekat dengan dia?”

Aku membuang pandanganku jauh-jauh. Pertanyaan yang sama, seperti beberapa bulan lalu. Aku sadar jika ia tahu jawaban apa yang akan kujawab. Dan aku tidak mengerti mengapa ia masih kekeuh menanyakan hal yang sama yang mungkin membuat hatinya sakit.

“Masih sama, seperti dulu.”

Ia kembali diam.

“Kenapa?”

Tanyaku lagi. Kali ini ia menggelengkan kepala.

“Cuma itu yang mau kamu tanya?”

Tanyaku lagi. Ia menggelengkan kepala (lagi).

“Aku minta maaf”

Katanya.

“Untuk?”

“Untuk kesalahpahaman selama ini. Maaf aku salah,”

“Aku masih gak ngerti,”

 Ia menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia berbicara lebih panjang dari sebelumnya.

“Aku salah menilai kamu. Aku kira kamu lebih dari sekedar dekat dengan dia”

“Maksud kamu?”

“Di hari perpisahan itu, kalian pergi bersama kan? Aku kira kalian….”

“Aku tahu pasti kamu berprasangka buruk saat itu,”

Kataku memotong pembicaraannya.

“Maaf,”

“Aku dan dia masih berteman, sama seperti kita,”

“Maaf aku salah. Aku berprasangka buruk. Padahal aku belum mendengar cerita yang sebenarnya dari kamu. Dan aku, dengan mudahnya mengambil tindakan bodoh,”

“Kamu terlalu mudah menyimpulkan sesuatu,”

“Aku lagi dalam keadaan setengah sadar pas itu. Maaf.”

“Tidak, kamu gak salah kok. Maaf udah bikin salah paham,”

“Engga, aku yang salah,”

Sahutnya. Ia masih kekeuh untuk menyampaikan permintaan maafnya.

“Ayolah, kita ganti topik pembicaraannya. Aku gak suka situasi ini.”

Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Gimana kabar kamu? Gimana kuliah kamu?”

“Ya tetap lancar, sebentar lagi aku sidang. Doakan aku ya,”

“Iya, semoga cepat lulus ya. Semoga jadi penulis terkenal,”

 Aku membalas ucapannya dengan senyum.

“Dan kamu?”

“Aku masih gitu-gitu aja ha ha ha,”

Kali ini ia memperlihatkan raut wajah yang tenang. Inilah dia yang kukenal. Selalu menyampaikan sesuatu dengan ekspresi seolah tidak ada beban hidup. Dan ini yang selalu membuat perasaan sedihku hilang setiap kali mendengar caranya berbicara.

“Kapan kamu serius kuliah?”

“Secepatnya. Aku mau nyusul kamu juga sidang,”

Aku berharap dalam hati semoga ucapannya kali ini serius.

“Trus sekarang kamu lagi suka baca buku apa?”

Katanya. Ia tahu jika aku sangat menyukai topik yang berhubungan dengan novel.  

“Sekarang sih buku Tereliye yang judulnya Matahari. Udah lama sih beli bukunya tapi baru sempat baca sekarang,”

“Oh ya, aku juga sekarang lagi baca buku Tereliye yang judulnya Hujan,”

“Nah seru tuh Hujan, aku udah baca. Kamu suka ceritanya?”

“Suka banget! Tentang cinta sama persahabatan gitu kan. Tapi aku belum selesai bacanya sih,”

Aku senang mendengarnya ketika ia memiliki hobi baru yang positif saat ini, yaitu membaca buku.

“Baca dong sampe selesai, ceritanya seru, bikin terharu.”

“Nanti deh ya aku lanjutin baca. Oh iya, sekarang aku ngoleksi 3 buku Tereliye dirumah,”

“Oh ya? Apa aja itu?”

“Negeri Para Bedebah, Kau aku dan sepucuk angpau merah, Hujan,”

“Wow”

“Oh iya sama satu lagi, buku tuntunan sholat ha ha ha”

Aku membalas tawanya. Teringat beberapa bulan lalu aku memberikannya buku itu dengan harapan agar ia mau menjadi orang yang lebih baik lagi.

“Jadi kita masih bisa berteman, kan?”

Ia mengangguk mantap.

“Gak akan musuhan lagi?”

Kataku setengah menyindir. Ia kembali mengangguk dan tertawa sejenak.

“Yap. Gak akan musuhan lagi. Tapi memang sejak kapan kita musuhan?”

“Jangan pura-pura tidak tahu,”

Kataku sambil menjitak kepalanya. Kami tertawa dengan bahagia hari itu.

“Alana”

Katanya memanggil namaku. Aku menoleh pandangan kehadapannya.

“Kalau kamu mau lebih serius sama pria itu, gak apa-apa kok. Kita tetap bisa berteman,”

Tampak terlihat wajah teduh darinya. Aku menarik nafas dalam-dalam, tidak tahu harus menjawab apa.

Kami segera berdiri dari kursi itu. Pandangan kami masih dengan menatap satu sama lain. Rasa rindu dan sedih menjadi satu. Bagaimana tidak, mungkin sehabis ini kami akan tidak pernah bisa bersama seperti itu lagi.

Ia mengulurkan tangan kearahku dan aku membalasnya.

“Jaga diri baik-baik ya,”

Katanya memberikan pesan bak seorang ayah kepada anak putrinya.

“Kamu juga, jaga diri baik-baik ya. Awas kalo males-malesan kuliah lagi,”

Sahutku sambil tersenyum. Setelah persalaman itu, kami bergegas pulang dengan jalan yang berbeda. Ia ke kiri, dan aku kearah kanan. Adegan ini persis saat kami bertemu didekat tangga kampus, saling bertatap mata dan tanpa ekspresi kami membuang muka masing-masing.

Perjalanan pulang itu sama seperti jalan hidup kami. Ia memilih jalan bahagianya, begitu juga denganku. Kami berada di rute yang berbeda.


Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates