C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >


Setelah terlalu nyaman dengan zona tanpa menulis cerpen, akhirnya aku memutuskan untuk kembali menulis. I owe a special thanks to Adhitia Sofyan and his honeyed voice as still inspiring me in many ways, especially in creating this one. Tak perlu berlama-lama ya, karena sudah banyak kalimat yang berputar di pikiranku untuk dituang dalam tulisan.

Hi, Aku Alana. Dan ini kisahku, cerita pertama yang berhasil aku selesaikan di pertengahan tahun 2019.

You and I have an invisible relationship
We don’t declare it to the world but we’re together
You and I have an invisible relationship
No need to tell each other but we’ve always knew it’s true

“Green tea nya habis, mau ke tempat lain?”
Kata Ale. Tanpa perlu kujawab, Ale segera menarik tanganku dan memilih kedai kopi lain di kota yang masih menyediakan green tea latte.

Namanya Ale, orang yang baru aku kenal awal tahun ini. Sosok aslinya cukup periang, meskipun tiap pagi ia selalu memasang wajah suntuk seperti sudah begadang dua hari berturut-turut. Seperti judul lagu Adhitia Sofyan ini, we have an invisible relationship. Tak perlu banyak yang tahu karena Aku dan Ale lebih tertarik dengan hubungan yang seperti ini.

We say "Goodnight" to one another in silent
We tell each other "I miss you" while we are far apart
We whisper things like "I need you" and the wind would breeze away
We tell each other "You’re the one" by the look in our eyes


Kalau ditanya, apa yang pertama kali membuatku jatuh cinta dengan Ale, bisa jadi aku tidak bisa menjawab.

Warna matanya? Bukan. Coklat gelap bukan warna favoritku. Bahkan jika disuruh memilih, bola mata Nicholas Saputra jauh lebih menantang untuk ditatap lebih dalam.

Soal cara berpikirnya? Tidak juga. Hampir disetiap percakapan, bahkan tentang masa depan sekalipun, Ale selalu tertawa seperti tidak ada masalah runut dalam hidupnya. Seolah setelah bangun tidur ia hanya mendapat pilihan untuk menyantap sereal sambil menonton kartun atau melanjutkan tidurnya. Ya, meskipun berkali-kali ia meyakinkan bahwa dirinya adalah seorang perenung, lebih dari yang aku bayangkan selama ini.

Aroma tubuhnya pun tidak pernah membuatku merasa rindu. Jelas sekali, karena Ale selalu enggan menggunakan pengharum badan. Alasan inilah yang bahkan membuatku bingung tentang bagaimana cara merindukan Ale ditengah keramaian. Ketika banyak wanita yang merindukan prianya saat secara tak sengaja mencium parfum yang sama di jalan.

Tapi harus aku akui, dibalik semua itu Ale jauh lebih manis dari yang kalian kira. Pujiannya tiap pertama kali bertemu, selalu membuatku salah tingkah.

“Kamu cantik, Alana,”

Pujinya sambil berusaha menyentuh pipiku dengan tangan lembutnya.

Aku secara reflek berusaha mengalihkan topik. Sejujurnya, hingga detik ini belum ada pria seperti Ale yang benar-benar memujiku secara langsung. Alih membuat senang, justru aku tidak karuan.

You and I have an invisible relationship
We stay to live our separate lives but I see you by my side
You and I have an invisible relationship

And when it’s time to see each other, universe works for us

Kami berdua bukan pecinta kopi. Namun ini bukan kabar buruk karena obrolan kami jauh lebih luas dari sekedar membicarakan sejarah mengapa kopi gayo hampir tidak terasa pahitnya. Atau perdebatan kecil tentang kopi yang seharusnya digiling, bukan digunting.

Seperti kata pepatah, “De gustibus non est disputandum”, selera bukanlah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Tentang dia yang lebih suka paha ayam, dan berbeda denganku yang tidak bisa makan tanpa dada ayam. Kecintaannya pada club Persija yang berbanding terbalik denganku yang mengagumi aksi Achmad Jufriyanto dan kawan-kawan di lapangan. Atau suntiang yang menurutnya kurang pas jika dipadukan dengan jas dan kebaya modern. Semuanya hanya soal selera, karena pada akhirnya kami memutuskan untuk menyantap es krim dan suasana kembali manis.

“Mau aku baca karakter kamu? Lewat golongan darah,”

Kataku saat kami pertama kali berkencan beberapa bulan lalu. Wajahnya penuh penasaran, aku kembali melanjutkan kalimat dengan tetap memandang wajahnya seolah sedang serius.

“Golongan darah kamu B kan? Kamu orang yang susah diatur, kalau dalam berpakaian kadang ada niat untuk bener-bener rapi tapi kadang mau acak-acakan. Bener gak?”

Air mukanya memperlihatkan ia sangat antusias. Bahkan ia ingin aku melanjutkan kalimat untuk membaca karakternya lebih dari itu.

Sejujurnya, Ale, aku sama sekali tidak bisa membaca tentang golongan darah. Dan soal tebakan golongan darah B itu, memang sengaja aku sebutkan berdasarkan karaktermu. Bagaimana tidak tahu? Beberapa bulan sebelum kita dekat, aku sering memperhatikan dari kejauhan. Hingga setiap kali berpapasan pun, aku jelas peka dengan caramu berpakaian. Jadi jangan heran jika tebakanku tentang golongan darah tadi sesuai dengan yang aku sebutkan tadi, ya.

We say "Goodnight" to one another in silent
We tell each other "I miss you" while we are far apart
We whisper things like "I need you" and the wind would breeze away
We tell each other "You’re the one" by the look in our eyes

Di kepalaku, Ale seperti Rubah Merah dari hutan yang suka bersosialisasi dengan lingkungannya. Meskipun berasal dari jurusan yang terkesan serius belajar dan kurang komunikatif, tapi Ale tidak. Hidupnya (sepertinya) seimbang, antara sibuk bekerja dengan bermain. Bahkan ia selalu menyempatkan untuk bermain dengan teman-teman dari SD hingga tongkrongannya.

“Aku main sama teman SMP dulu ya,”
“Aku main sama teman SMA dulu ya,”
“Aku main sama teman kuliah dulu ya,”
“Aku main sama tongkrongan A ya,”
“Aku main sama tongkrongan Z ya,”

Sejujurnya, banyak hal menarik dari Rubah Merah yang jauh dari karakter Ale. Keberaniannya berburu di rawa-rawa dan hutan, jauh dari karakter Ale. Mengingat saat ini, yang aku tahu Ale bahkan tidak berani melihat ke atas pohon rimbun yang ada di rumahnya saat tengah malam hari. Juga soal mitos yang ia ciptakan sendiri tentang kasur berkolong yang bisa jadi sarang ‘makhluk-makhluk halus’ tinggal sehingga ia lebih memilih untuk tidur di kasur yang menyatu dengan tanah di kamarnya.

Meskipun begitu, sifat ‘menghangatkan’ dari Rubah Merah ada padanya. Jika Rubah Merah terkenal dengan bulu bermantelnya yang hangat, Ale yang kukenal juga memiliki senyuman hangat. Entah saat pertama kali kencan, hingga sapaan selamat malam lewat pesan singkatnya. Mungkin, dari ribuan (ini berlebihan) pria yang aku kenal, Ale bisa dikatakan paling rajin untuk mengucapkan selamat pagi hingga selamat malam, seperti tugas wajib seorang resepsionis kepada para karyawan. Sifatnya yang terkesan selalu tenang meskipun banyak masalah yang ia hadapi, selalu berbanding terbalik denganku yang selalu panik dan pemikir. Dan mungkin masih banyak sifat baru yang belum aku tahu tentang Ale, mengingat perkenalan kami masih kurang dari satu tahun ini.

Intinya, Ale adalah Rubah Merah dari hutan belantara. Meskipun sampai detik ini, ia masih mengelak dan ingin disebut pangeran tampan nan rupawan dari pinggiran Jakarta.

Terserah. Yang penting suatu hari nanti kita jalan bareng di pinggiran kota New York ya, Janji?

Sore ini aku kembali duduk dibangku kantor. Kali ini bukan untuk mengerjakan tugas perkantoran, tetapi yang lain. Sejujurnya, beberapa bulan ini aku bergabung dalam sebuah perkumpulan cerita. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasa, kami sama sekali tidak diperbolehkan untuk bertatap muka secara langsung. Kami akan dipertemukan disebuah situs website setiap hari Jumat jam 4 sore. Pada jam tersebut, kami akan saling bertukar sapa dan berbagi cerita masing-masing tentang banyak hal mulai dari kisah menyenangkan bahkan tragis sekalipun. Disini kami dibebaskan untuk berbagi cerita kepada seluruh orang di anggota, atau memilih salah satunya saja. Setelah itu diakhir pertemuan tak langsung ini, kami akan berdiskusi tentang makna hidup. Perkumpulan ini memang belum banyak diketahui orang. Anggotanya masih bisa dihitung jari.Setiap anggotanya pun kebanyakan berasal dari kota yang berbeda-beda. Meskipun begitu, aku sudah merasa betah untuk bergabung bahkan aku selalu menantikan hari Jumat sore tiba.

Sore ini, aku kembali duduk dibangku kantor. Hujan sore itu berhasil membuat aku semakin terpacu untuk membuka website itu. Minggu lalu, kami membahas tentang cerita dari salah seorang anggota yang merasa jika ia merasa tidak memiliki arah tujuan hidupnya lagi. Dan berkat solusi dari anggota lainnya, ia berhasil memantapkan diri dengan tujuannya.

“Aku akan mulai mengembalikan diriku seperti dulu lagi. Dan menurutku, saat ini aku sangat membutuhkan liburan,”

Katanya.

“Mungkin kamu butuh ke pantai?”

Jawab anggota lain.

“Menurutku itu bukan ide yang terlalu buruk,”

Setelah itu, si-yang-punya-masalah menghabiskan waktunya selama empat hari untuk berlibur. Dan benar saja, beberapa hari kemudian ia mengunggah foto dirinya yang terlihat lebih ceria melalui akun media sosialnya.

Setelah beberapa saat membuka situs website tersebut, aku menemukan sebuah pesan pribadi yang dikirimkan seseorang di akun milikku. Dan benar saja, sekitar setengah jam yang lalu, seorang anggota berusaha untuk menyampaikan ceritanya padaku. Dan ini baru pertama kalinya aku mendapat pesan pribadi di website ini. Sepertinya ia hanya ingin menyampaikan ceritanya padaku, tidak pada keseluruhan anggota.

Dari: Darata
(Jumat, 15:30)

Hai Tania,
Kamu pasti mengenaliku kan? Aku sudah bergabung di klub ini selama hampir tiga bulan yang lalu. Kamu tahu kenapa aku mengirimkan pesan ini kepadamu? Minggu yang lalu, aku sempat membaca semua petuah dari anggota-anggota klub dan menurutku kamu lah yang benar-benar paling bisa untuk memberikan solusi terbaik. Aku tahu mungkin kita belum pernah bertemu langsung, tapi aku merasa kamu bisa menjadi teman baikku bahkan diluar perkumpulan ini sekalipun. Kita berasal dari kota yang sama, Bandung, dan mungkin itu juga alasanku memilih kamu untuk menjadi bagian dari ceritaku ini.
Tania, aku ingin menceritakan sebuah cerita padamu.
Pernahkah kamu merasa sangat kehilangan sosok sahabat?
Mungkin kedengarannya ini cerita yang cukup wajar, karena pasti semua orang pasti akan hilang di hidup kita. Entah untuk sementara atau untuk selamanya. Tapi kali ini aku merasa kehilangan salah seorang sahabat yang menurutku cukup baik. Bukan karena tiada, tetapi aku merasa ia sudah berubah menjadi orang lain. Kamu pernah merasakan ini, Tania?
Hampir empat tahun yang lalu, aku memiliki seorang sahabat baik. Ia berasal dari kota yang sama denganku, dan kami memiliki segala kesamaan dalam berbagai hal. Kami sering menghabiskan waktu bersama, menonton, karaoke, foto, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Kami sama-sama suka untuk mencoba makanan baru dan setiap hari kerjaan kami hanya mencoba kuliner diberbagai penjuru Jawa Barat. Tak beberapa lama, aku dan dia berada di kelas yang berbeda. Mulanya komunikasi kami masih baik-baik saja. Kami masih sering bertegur sapa saat bertemu dan saling menghubungi melalui pesan. Tetapi aku merasa, semakin lama ia semakin berbeda. Ia bukan lagi orang yang aku kenal, bahkan ia seperti hendak menjauh dengan cara memberi alasan untuk benar-benar tidak ingin bertemu denganku. Aku mulai merasa jika ia sudah menemukan sahabat yang lebih baik dariku. Aku mulai merasakan apakah ini yang dinamakan rasa dicampakkan oleh sahabat sendiri? Tanpa memikirkan diri sendiri, aku mulai untuk memilih mencari teman-teman lainnya. Meskipun sebenarnya aku merasa jika pertemanan ini seharusnya tidak berakhir seperti ini. Kami jarang bertemu dan akhirnya kami lost contact. Kami memulai untuk menjalani hidup masing-masing. Dan dibeberapa hari yang lalu, aku menemukan sebuah hadiah dan pesan yang dikirim seseorang tepat didepan rumahku. Ternyata ia yang mengirimnya. Ia bilang jika ia menyayangkan persahabatan kami yang menurutnya tak seperti dulu lagi. Ia merasa jika aku sudah berubah menjadi sosok yang lain. Ia meminta maaf jika ia punya salah, karena beberapa hari lagi ia akan meninggalkan kota ini untuk melanjutkan studinya.
Menurutmu, apa yang harus aku lakukan, Tania?

Aku mengulang untuk membaca pesan Darata sebanyak lima kali. Aku bisa merasakan bagaimana sedihnya berada di posisi Darata yang merasa kehilangan sahabat karena dulu aku pernah merasakan hal yang sama. Bahkan dulu aku sempat rela untuk meninggalkan seseorang yang sangat aku suka demi sahabatku yang ternyata dekat dengan pria tersebut. Menurutku lebih baik kehilangan orang yang dicintai dibanding kehilangan sahabat sendiri, adil bukan?

Kemudian aku mulai mengetikkan kalimat-kalimat yang terlintas di kepalaku saat itu.

Tania: Siapa nama temanmu itu, Darata?
Darata: Dera, kenapa?
Tania: Lebih baik besok kamu menemui Dera.
Darata: Kenapa? Aku merasa canggung untuk bertemu dengannya lagi.
Tania: Kalau setelah ini, selamanya kamu tidak bisa bertemu dengan Dera lagi, bagaimana?
Darata: Maksud kamu?
Tania: Kalau besok dan selamanya, Dera hanya sebuah nama saja bagaimana? Dera bisa jadi orang sukses diluar sana yang bahkan lupa denganmu karena kamu tidak memaafkannya. Atau nama Dera ada di papan nisan dengan sejuta kenangan kalian dulu, bagaimana?

Darata tidak membalas pesanku selanjutnya. Sepertinya ia membutuhkan waktu sendiri untuk menentukan pilihannya.

Beberapa menit kemudian aku kembali membuka website perkumpulan itu. Seperti biasa, 15 menit sebelum kami mengakhiri pertemuan, kami harus berdiskusi tentang makna kehidupan.

“Menurut kalian bagaimana makna persahabataan yang sesungguhnya?”

Tanya seorang anggota.

“Menurutku, persahabatan yang tepat adalah tentang suka dan duka. Asal dia ada dikeduanya, berarti ia sahabat”

Jawab seorang anggota.

“Menurutku, sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa menjadi pendengar dan penasihat terbaik,”

“Menurutku, selama kita merasa betah didekatnya, ia adalah sahabat,”

“Menurutku, hmm…aku tidak terlalu paham persis tentang sahabat. Aku tidak memiliki sahabat baik hingga hari ini haha”

Aku hanya menyimak sambil sesekali membayangkan apa respon dari Darata nanti jika ia membaca diskusi ini.

“Menurutku, persahabatan bukan tentang keberadaan. Entah hari ini bisa bertemu atau tidak, sahabat akan tetap menjadi sahabat. Selama namanya masih ada dalam memori indah kita, dia tetap sahabat. Itu yang dikatakan Dera, sahabat lamaku, 4 tahun yang lalu,”

Jawab Darata tak beberapa lama.

Kami mengakhiri pertemuan sore itu.

Ini hari yang aku tunggu!
Berdasarkan desas desus ayah dan ibu saat sarapan pagi tadi, Andrew akan datang ke rumah. Ya, Andrew adalah teman kecilku. 12 tahun yang lalu, pipinya masih bulat. Ia mampu menghabiskan makanan seberapapun porsinya. Bahkan kadang, aku dan ia akan berebutan demi makanan yang kami dapatkan saat acara pertemuan tetangga.
Andrew memiliki sebuah kebiasaan buruk!
Ia selalu mendekur setiap kali tertidur. Kadang aku merasa risih ketika duduk disampingnya saat pemutaran lagu-lagu senam. Bukannya bersemangat, semua irama lagu akan berhasil membuatnya mengantuk. Andrew selalu malas merapikan barang-barang yang ia gunakan di sekolah. Beberapa kali teguran dari wali kelas baru akan membuat Andrew merapikannya. Namun itu tidak membuat nya jera. Pernah sesekali saat sedang iseng, aku meletakkan kotak puzzle di lantai dekat kursi Andrew. Akibatnya, seorang murid dikelasku terjatuh dan menangis. Aku menyalahkan Andrew atas insiden itu.
“Bukan saya bu, Irenne yang melakukannya”
Adu Andrew. Aku segera membela diri agar tidak dipojokkan.
“Bukan saya bu. Andrew yang melakukannya. Siapa lagi murid dikelas yang tidak pernah merapikan barang selain dia”
Kataku.
Akhirnya, aku dan Andrew di hukum didepan kelas. Banyak kejadian-kejadian antara aku dan Andrew yang jika diingat kembali ini cukup menyenangkan. Saat ini aku merindukan Andrew. Rindu akan suara tegasnya saat upacara bendera lima tahun lalu. Aku rindu dengan semua cerita dan impian Andrew tentang menjadi seorang pilot. Ia ingin terbang mengangkasa dan memeluk semua awan. Itulah tujuan utamanya jika ia menjadi pilot. Entah bagaimana caranya ia bisa memeluk awan, aku pikir itu hanya gurauannya saja.
Andrew lahir dari keluarga menengah atas. Ayahnya pensiunan dari sebuah perusahaan Jepang. Kakak-kakaknya sudah sukses menjadi penerus bisnis Ayahnya. Hanya Andrew lah yang tidak mengikuti jejak ayahnya.
Keluargaku dan keluarganya sudah kenal dekat. Kami memang sudah bertetangga sejak hampir 12 tahun yang lalu. Ibuku mempercayakan semua kondisiku kepadanya. Begitu juga dengan orang tua Andrew. Mereka selalu berpesan agar Andrew mengalah kepadaku.
“Kamu harus mengalah sama Irenne. Dia itu perempuan loh. Gak baik kasar sama perempuan”
Nasihat ibu Andrew pada anaknya. Aku biasanya akan muncul dibalik jendela sambil mengulurkan lidah saat ibunya menasihati untuk mengalah denganku. Aku merasa menang J
Setelah menempuh latihan penerbangan selama hampir 2 tahun, Andrew kembali lagi ke rumah. Waktunya cukup sibuk untuk bisa kembali berada di lingkungan ini. Belum lagi jadwal cuti yang selalu ia gunakan untuk berlatih sendiri.
Hari ini, Mina, adikku akan menemaniku bertemu dengan Andrew. Andrew menjanjikan untuk pertemuan pertama ini di sebuah danau dekat rumah kami. Dulu kami sering menghabiskan waktu bermain perang-perangan dengan menggunakan rantai pohon. Sifat tomboy sudah nampak di diriku sejak kecil. Itulah alasan kenapa Andrew selalu mencibir setiap kali mendengar nasihat ibunya untuk mengalah denganku.
Aku memperhatikan Mina yang sejak tadi membongkar lemari pakaiannya. Ia seperti kebingungan untuk memilih pakaian apa yang akan ia gunakan. Ingin rasanya aku menjitak kepalanya namun kutahan agar tidak ada keributan diantara kami. Setelah hampir setengah ja, akhirnya ia menemukan pilihannya. Pakaian croptee putih ia padukan dengan jeans dongker ketat. Ia menggunakan jaket berbahan bludru berwarna coklat.
“Pakaianmu terlalu berlebihan”
Komentarku. Namun Mina berlalu begitu saja seolah tidak memperdulikanku.
Setelah beberapa menit, akhirnya aku dan Mina sudah berada di danau. Kami melihat sosok punggung Andrew yang sedang melumatkan bibirnya di ujung botol minuman soda. Ia seperti menikmati senja di danau itu.
“Maaf datang telat”
Kata Mina. Aku hanya bisa terdiam melihat wajah Andrew dari dekat. Ia sudah berubah. Postur tubuhnya lebih gagah. Dengan seragam pilot yang dilapisi dengan jaket hitam, ia nampak seperti seorang professional.
“Tidak kok”
Balas Andrew. Ia segera menyerahkan botol minuman soda kepada Mina. Hanya Mina. Aku tidak merasa iri karena aku yakin Andrew pasti masih tahu jika minuman soda tidak baik untuk kesehatanku.
“Bagaimana kabar kakak?”
Kata Mina membuka percakapan.
“Baik. Sama seperti hari-hari sebelumnya”
Jawab Andrew. Andrew menceritakan tentang bagaimana rasanya berada di akademi penerbangan. Bagaimana rasa takut yang tiba-tiba ketika pertama kali ia menerbangkan pesawat. Bagaimana bangganya ia ketika pesawat yang ia kendarai bisa berada di ketinggian. Bagaimana wajah bangga orang tuanya ketika ia menjadi lulusan terbaik di angkatannya.
“Pasti kak Andrew udah punya pacar ya sekarang”
Goda Mina. Mina centil! Ingin rasanya aku menjitak kepalanya.
“Engga kok, aku belum punya pacar”
“Tapi pasti habis ini kakak deket sama pramugari ya. Abis pasti pilot kan mau nya sama pramugari. Udah cantik, tinggi, ketemu terus”
Kata Mina semakin menjadi. Aku semakin sebal dengan adikku yang masih berusia 15 tahun ini. Dengan gampangnya ia berkata begitu kepada Andrew yang jelas-jelas tidak tertarik dengan gadis genit.
“Tidak, seleraku masih sama seperti dulu. Irenne”
Hey! Itu namaku. Aku segera memalingkan wajah kearah Andrew. Seketika, percakapan menjadi sepi. Tidak seorangpun dari kami mau berkata. Aku sibuk dengan berbagai pikiran menyedihkan, dan mungkin itu juga yang dipikirkan oleh Andrew dan Mina.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara parau dari Mina.
“Kak, lupain kak Irenne. Masih banyak wanita baik di luar sana”
Katanya. Aku merasa perkataan Mina barusan antara pembelaan atau malah menjatuhkanku. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.
“Aku gak bisa Na. Kenangan Irenne terlalu indah untuk aku lupakan”
Kata Andrew dengan penuh yakin. Aku semakin tidak bisa menahan air mata.
“Tapi kak Irenne udah gak ada, kak”
Seketika aku kembali mengingat semua tragedi menyedihkan itu lagi. Dimana semua keluargaku menangis ketika dokter mengatakan bahwa denyut nadi ku sudah tidak bergerak lagi. Ibu berusaha memelukku untuk yang terakhir kali. Dan Mina berada di pelukan ayah yang berusaha untuk menenangkannya. Itu saat terakhirku. Namun menurutku, akhir hidup itu belum sesuai dengan keinginanku karena tidak ada Andrew disana. Saat itu adalah waktu orientasi Andrew di akademi penerbangannya. Ia masih belum mendapatkan izin untuk menghadiri upacara pemakamanku. Dan aku tahu alasan sesungguhnya mengapa ia tidak ingin menghabiskan waktu libur di rumah. Itu karena ia masih belum sanggup untuk mengingat semua memori yang pernah dijalani oleh kami.
“Mina, Irenne emang udah gak ada. Tapi aku yakin, Irenne masih bisa melihat kita walaupun di alam yang berbeda. Mungkin saat ini ia sedang tersenyum pas tahu aku sudah kembali dari akademi’
Aku tersenyum. Andrew masih seperti dulu. Penuh dengan pemikiran positif.
“Iya kak, aku yakin kak Irenne gak pernah kecewa tentang pemakamanan nya tanpa kehadiran kak Andrew. Kakak ingat, 12 tahun yang lalu kak Irenne sempat divonis akan hidup paling lama tiga tahun kedepan. Dokter itu pembohong, Buktinya kak Irenne masih bisa bertahan bahkan lebih dari tahun setelah itu”
Vonis dokter memang tidak berarti saat ini. Aku menderita Leukimia dan di usia 11 tahun aku di vonis hidup paling lama di usia 14 tahun. Namun, dengan segala semangat dari keluarga dan juga Andrew, aku bisa bertahan bahkan lebih dari yang di targetkan dokter. Hanya saja, kondisi tubuhku semakin melemah ketika aku menginjak usia 21 tahun. Aku menghabiskan sisa hidup dengan berbaring di ranjang rumah sakit.
“Menurutmu, bagaimana perasaan Irenne kepadaku?”
Tanya Andrew kepada Mina. Aku tersenyum sendiri. Jika aku masih di dunia yang sama, ingin sekali aku memeluk Andrew. Aku ingin kembali menghabiskan waktu hanya berdua dengannya.
“Mana mungkin kak Irenne menyia-nyiakan pria baik kayak kakak”
Kata Mina bersamaan dengan keduanya yang berjalan menjauh dari danau. Matahari senja hampir tenggelam. Suasana danau semakin sepi seolah kalut dalam segala memori indah beberapa tahun lalu. Aku masih duduk disana, bersama dengan kenangan aku dan Andrew.
“Irenne, Menurutmu aku cocok tidak jadi pilot?”
“Kamu jangan jadi pilot, Ndrew. Nanti kalo kamu terbang jauh, yang jagain aku disini siapa?”
“Tenang aja, aku tetap jadi guardian angel nya Irenne kok walaupun dari jauh”

Kami duduk di bangku yang sama. Saling diam dan membisu. Suasana makin terasa menusuk, padahal tidak ada tanda-tanda hujan akan datang. Aku memandang beberapa helai daun yang tergeletak di tanah tepat dibawahku. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, ia masih dengan tatapan lurus. Tanpa ada keinginan untuk memulai perkataan. Dengan sedikit mendehem, aku memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?”

Kataku memecahkan keheningan. Ia masih diam dengan posisi yang sama. Aku dilema, antara tetap disana atau lebih baik pergi saja. Beberapa menit kemudian, ia mengubah posisi duduk. Lebih tegak dan seolah berusaha untuk menjawab pertanyaanku tadi.

“Ada yang ingin aku tanyakan,”

Katanya.

“Silahkan”

 Jawabku singkat.

“Kamu masih dekat dengan dia?”

Aku membuang pandanganku jauh-jauh. Pertanyaan yang sama, seperti beberapa bulan lalu. Aku sadar jika ia tahu jawaban apa yang akan kujawab. Dan aku tidak mengerti mengapa ia masih kekeuh menanyakan hal yang sama yang mungkin membuat hatinya sakit.

“Masih sama, seperti dulu.”

Ia kembali diam.

“Kenapa?”

Tanyaku lagi. Kali ini ia menggelengkan kepala.

“Cuma itu yang mau kamu tanya?”

Tanyaku lagi. Ia menggelengkan kepala (lagi).

“Aku minta maaf”

Katanya.

“Untuk?”

“Untuk kesalahpahaman selama ini. Maaf aku salah,”

“Aku masih gak ngerti,”

 Ia menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia berbicara lebih panjang dari sebelumnya.

“Aku salah menilai kamu. Aku kira kamu lebih dari sekedar dekat dengan dia”

“Maksud kamu?”

“Di hari perpisahan itu, kalian pergi bersama kan? Aku kira kalian….”

“Aku tahu pasti kamu berprasangka buruk saat itu,”

Kataku memotong pembicaraannya.

“Maaf,”

“Aku dan dia masih berteman, sama seperti kita,”

“Maaf aku salah. Aku berprasangka buruk. Padahal aku belum mendengar cerita yang sebenarnya dari kamu. Dan aku, dengan mudahnya mengambil tindakan bodoh,”

“Kamu terlalu mudah menyimpulkan sesuatu,”

“Aku lagi dalam keadaan setengah sadar pas itu. Maaf.”

“Tidak, kamu gak salah kok. Maaf udah bikin salah paham,”

“Engga, aku yang salah,”

Sahutnya. Ia masih kekeuh untuk menyampaikan permintaan maafnya.

“Ayolah, kita ganti topik pembicaraannya. Aku gak suka situasi ini.”

Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Gimana kabar kamu? Gimana kuliah kamu?”

“Ya tetap lancar, sebentar lagi aku sidang. Doakan aku ya,”

“Iya, semoga cepat lulus ya. Semoga jadi penulis terkenal,”

 Aku membalas ucapannya dengan senyum.

“Dan kamu?”

“Aku masih gitu-gitu aja ha ha ha,”

Kali ini ia memperlihatkan raut wajah yang tenang. Inilah dia yang kukenal. Selalu menyampaikan sesuatu dengan ekspresi seolah tidak ada beban hidup. Dan ini yang selalu membuat perasaan sedihku hilang setiap kali mendengar caranya berbicara.

“Kapan kamu serius kuliah?”

“Secepatnya. Aku mau nyusul kamu juga sidang,”

Aku berharap dalam hati semoga ucapannya kali ini serius.

“Trus sekarang kamu lagi suka baca buku apa?”

Katanya. Ia tahu jika aku sangat menyukai topik yang berhubungan dengan novel.  

“Sekarang sih buku Tereliye yang judulnya Matahari. Udah lama sih beli bukunya tapi baru sempat baca sekarang,”

“Oh ya, aku juga sekarang lagi baca buku Tereliye yang judulnya Hujan,”

“Nah seru tuh Hujan, aku udah baca. Kamu suka ceritanya?”

“Suka banget! Tentang cinta sama persahabatan gitu kan. Tapi aku belum selesai bacanya sih,”

Aku senang mendengarnya ketika ia memiliki hobi baru yang positif saat ini, yaitu membaca buku.

“Baca dong sampe selesai, ceritanya seru, bikin terharu.”

“Nanti deh ya aku lanjutin baca. Oh iya, sekarang aku ngoleksi 3 buku Tereliye dirumah,”

“Oh ya? Apa aja itu?”

“Negeri Para Bedebah, Kau aku dan sepucuk angpau merah, Hujan,”

“Wow”

“Oh iya sama satu lagi, buku tuntunan sholat ha ha ha”

Aku membalas tawanya. Teringat beberapa bulan lalu aku memberikannya buku itu dengan harapan agar ia mau menjadi orang yang lebih baik lagi.

“Jadi kita masih bisa berteman, kan?”

Ia mengangguk mantap.

“Gak akan musuhan lagi?”

Kataku setengah menyindir. Ia kembali mengangguk dan tertawa sejenak.

“Yap. Gak akan musuhan lagi. Tapi memang sejak kapan kita musuhan?”

“Jangan pura-pura tidak tahu,”

Kataku sambil menjitak kepalanya. Kami tertawa dengan bahagia hari itu.

“Alana”

Katanya memanggil namaku. Aku menoleh pandangan kehadapannya.

“Kalau kamu mau lebih serius sama pria itu, gak apa-apa kok. Kita tetap bisa berteman,”

Tampak terlihat wajah teduh darinya. Aku menarik nafas dalam-dalam, tidak tahu harus menjawab apa.

Kami segera berdiri dari kursi itu. Pandangan kami masih dengan menatap satu sama lain. Rasa rindu dan sedih menjadi satu. Bagaimana tidak, mungkin sehabis ini kami akan tidak pernah bisa bersama seperti itu lagi.

Ia mengulurkan tangan kearahku dan aku membalasnya.

“Jaga diri baik-baik ya,”

Katanya memberikan pesan bak seorang ayah kepada anak putrinya.

“Kamu juga, jaga diri baik-baik ya. Awas kalo males-malesan kuliah lagi,”

Sahutku sambil tersenyum. Setelah persalaman itu, kami bergegas pulang dengan jalan yang berbeda. Ia ke kiri, dan aku kearah kanan. Adegan ini persis saat kami bertemu didekat tangga kampus, saling bertatap mata dan tanpa ekspresi kami membuang muka masing-masing.

Perjalanan pulang itu sama seperti jalan hidup kami. Ia memilih jalan bahagianya, begitu juga denganku. Kami berada di rute yang berbeda.



Ini adalah hariku! Sudah bertahun-tahun aku menunggu saat ini. Momentum dimana semuanya akan terasa sangat nyata. Aku akan menjadi bagian dari kehidupan seutuhnya.
Putih dengan bayang bayang keabuan. Begitulah pakaian yang saat ini aku pakai. Rambut indahku dibiarkan terurai manja. Terlihat betapa lihainya sang professional membuatnya menjadi semakin indah. Paduan gaun dan riasan wajah yang natural. Aku memang sudah berpesan untuk tidak terlalu berlebihan soal ini.
Seluruh mata tertuju padaku.
"Kau cantik hari ini, Eriana"
Pujian dari berbagai kalangan di hari ini. Aku semakin merasa percaya diri. Rasanya ingin sekali aku menjadi ratu untuk waktu lebih lama.
Barisan orang sudah siap untuk memulai acara. Mereka terlihat sangat gagah. Aku kembali memandang seseorang yang tepat berdiri disampingku sejak tadi. Seragam hijau gelapnya sepadu dengan para barisan tadi.
"Kau siap, Eriana?"
Katanya saat aku merapikan kerah seragamnya. Aku hanya membalas dengan senyum. Seseorang yang terlalu gugup sepertiku tidak pantas untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Perlahan semua mata kembali memandang ke arah kami. Beberapa dentingan suara menandakan acara akan dimulai. Aku semakin gugup!
Ia memegang tanganku erat.
"Tenang saja"
Sahutnya seolah mampu membaca pikiranku. Aku kembali tersenyum.
Kami mulai melewati jalan setapak. Sebuah karpet berwarna merah, yang beberapa jam lalu masih berupa karpet biasa sudah disulap dengan taburan bunga melati dan lavender. Langkah kami masih sangat pelan. Aku tidak sabar untuk sampai di ujung perjalanan itu. Aku tidak ingin lama-lama berjalan sambil dipandang orang!
Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana. Satu persatu 'gerbang' dibuka dengan iringan musik khas akademinya. Seiring juga dengan suara wanita yang membacakan sumpah untuk menjalani hidup selanjutnya.
Kami hampir sampai di tempat yang dituju. Penuh dengan dekorasi bunga melati dan lavender. Harum bunga-bunga ini sudah tercium mulai dari pintu masuk. Aku menarik nafas sejenak. Rasanya segala usahaku selama ini tidak sia-sia. Bolak balik gedung ini untuk melihat persiapan sudah matang atau belum. Aku semakin bahagia.
Semua orang sudah mulai melakukan aktivitasnya. Beberapa memilih mengantri untuk bersalaman. Ada yang mulai menjamu makanan, dan beberapa kelompok wanita dengan pakaian seragam kutu baru corak batik asyik berkumpul sambil tertawa. Sesekali mereka memandang kearahku sambil senyum-senyum. Aku tidak tahan ingin menjitak kepala mereka satu per satu. Ya, mereka adalah para sahabat ku semasa kuliah. Beberapa hari yang lalu hampir aku menangis untuk memohon kepada mereka agar hadir di hariku ini. Dan sekarang, dengan sangat menyebalkannya mereka berkumpul disana tanpa aku.
Aku masih sibuk memberikan salam dan senyum kepada para tamu sampai aku melihatnya lagi. Sosok yang aku harapkan tetapi tidak aku tunggu kehadirannya. Aku hanya mampu terdiam. Bayangannya makin jelas seolah nyata kembali hadir dihidupku. Jantungku berhasil berdegup kencang melebihi saat pertama kali jalan di panggung ini.
"Selamat ya"
Suara itu masih terdengar jelas di telingaku. Aku menutup mataku sesaat. Rasanya semua memori hadir kembali di benakku. Tenang masa perkenalan kami, tentang aku yang menunggu di depan pintu kelasnya untuk sebuah ucapan selamat pagi, tentang aku yang terus memperhatikannya dari kejauhan, tentang bagaimana dia tersenyum setiap kali mata kita saling bertatap, tentang bagaimana kedipan matanya setiap kali menceritakan hal-hal yang (menurutnya) seru. Semua tergambar jelas di benakku.
Sejuta perasaan langsung campur aduk di hatiku. Antara senang, benci, dan ah.. Aku tidak tahu lagi apa ini.
Aku masih (berpura-pura) tersenyum pada sejumlah orang yang hadir di hadapanku. Tetapi mataku masih mengawasi sekitar. Tepatnya memperhatikannya. Barisan wanita berseragam kutu baru tadi dengan sigap memperhatikannya juga. Mereka tahu persisbagaimana ceritaku dengan pria ini. Sambil mengawasi, mereka berbisik-bisik sedikit. Aku bisa mengerti jelas apa yang mereka katakan saat itu. Seseorang dari wanita itu langsung mengalihkan pandangan kearahku. Ia mencoba memberi kode dengan melirik kearah priaku dan kembali memandangku sambil tersenyum.
"He's yours now. And not him" begitu lah kira kira maksudnya.
Aku kembali tersenyum kepada barisan antrian yang sejak tadi ingin memberikan ucapan padaku. Udara makin terasa semakin menusuk. Kode dari sahabatku tadi nyatanya belum mampu untuk menghapus ribuan memori indah dengan pria tamu tadi. Aku masih merasa sakit setiap kali mengingat waktu-waktu indah bersamanya. Segala perjuangan yang aku dan ia lakukan semata-mata demi masa depan yang sejak lama kita rencanakan, sudah pudar untuk beberapa waktu lalu. Aku masih mampu merasa kan pahit ketika mengetahui kenyataan jika kita tidak akan pernah bisa bersama.
Ia terlalu jauh untuk aku gapai. Aku sudah melangkah jauh di depan, sedangkan ia masih di barisan yang sama seperti beberapa tahun lalu. Aku sudah mulai menata karierku, sedangkan ia masih saja sibuk dengan dunia fananya. Ia masih terlalu kekanak-kanakan untuk tahu bahwa hidup itu harus diperjuangkan. Ia masih belum sadar jika waktu bisa kapan saja memutar takdir. Aku selalu merasa kesal setiap kali ia bercerita tentang kerapuhan yang ia alami, padahal ia tidak sadar jika itu semua adalah ulahnya. Ia masih ingin menikmati masa-masa muda sedangkan aku sudah lebih berpikir dewasa. Itulah yang menyebabkan hubungan kami tidak bisa seperti dulu lagi.
Bayangannya kian hilang diantara ratusan tamu yang hadir. Entah ia menyempatkan untuk menikmati santapan malam, atau langsung memilih untuk kembali. Dari gerak-geriknya aku sadar jika ia juga masih belum siap untuk melepas. Tetapi ia berusaha memberikan senyum untuk beberapa detik di pelaminan. Rokok bermerek luar negeri yang selama ini ia konsumsi sempat terpajang rapi di kantong kemejanya. Aku sempat memperhatikan tadi. Ia masih mengonsumsi rokok. Bersamaan dengan yang lain-lain. Aku ingat saat ia akan memainkan linting rokoknya di tangan sebelah kiri tanda bahwa ia sedang cemas atau kecewa. Hari ini, tepat beberapa menit setelah aku rasa ia sudah tidak ada disana, dugaanku salah. Aku melihatnya yang baru berjalan keluar ruangan. Sambil memainkan batang rokok di tangan kiri, ia melangkah keluar dari gedung resepsi. Aku tersenyum bisu. 
Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates