C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >


Setelah terlalu nyaman dengan zona tanpa menulis cerpen, akhirnya aku memutuskan untuk kembali menulis. I owe a special thanks to Adhitia Sofyan and his honeyed voice as still inspiring me in many ways, especially in creating this one. Tak perlu berlama-lama ya, karena sudah banyak kalimat yang berputar di pikiranku untuk dituang dalam tulisan.

Hi, Aku Alana. Dan ini kisahku, cerita pertama yang berhasil aku selesaikan di pertengahan tahun 2019.

You and I have an invisible relationship
We don’t declare it to the world but we’re together
You and I have an invisible relationship
No need to tell each other but we’ve always knew it’s true

“Green tea nya habis, mau ke tempat lain?”
Kata Ale. Tanpa perlu kujawab, Ale segera menarik tanganku dan memilih kedai kopi lain di kota yang masih menyediakan green tea latte.

Namanya Ale, orang yang baru aku kenal awal tahun ini. Sosok aslinya cukup periang, meskipun tiap pagi ia selalu memasang wajah suntuk seperti sudah begadang dua hari berturut-turut. Seperti judul lagu Adhitia Sofyan ini, we have an invisible relationship. Tak perlu banyak yang tahu karena Aku dan Ale lebih tertarik dengan hubungan yang seperti ini.

We say "Goodnight" to one another in silent
We tell each other "I miss you" while we are far apart
We whisper things like "I need you" and the wind would breeze away
We tell each other "You’re the one" by the look in our eyes


Kalau ditanya, apa yang pertama kali membuatku jatuh cinta dengan Ale, bisa jadi aku tidak bisa menjawab.

Warna matanya? Bukan. Coklat gelap bukan warna favoritku. Bahkan jika disuruh memilih, bola mata Nicholas Saputra jauh lebih menantang untuk ditatap lebih dalam.

Soal cara berpikirnya? Tidak juga. Hampir disetiap percakapan, bahkan tentang masa depan sekalipun, Ale selalu tertawa seperti tidak ada masalah runut dalam hidupnya. Seolah setelah bangun tidur ia hanya mendapat pilihan untuk menyantap sereal sambil menonton kartun atau melanjutkan tidurnya. Ya, meskipun berkali-kali ia meyakinkan bahwa dirinya adalah seorang perenung, lebih dari yang aku bayangkan selama ini.

Aroma tubuhnya pun tidak pernah membuatku merasa rindu. Jelas sekali, karena Ale selalu enggan menggunakan pengharum badan. Alasan inilah yang bahkan membuatku bingung tentang bagaimana cara merindukan Ale ditengah keramaian. Ketika banyak wanita yang merindukan prianya saat secara tak sengaja mencium parfum yang sama di jalan.

Tapi harus aku akui, dibalik semua itu Ale jauh lebih manis dari yang kalian kira. Pujiannya tiap pertama kali bertemu, selalu membuatku salah tingkah.

“Kamu cantik, Alana,”

Pujinya sambil berusaha menyentuh pipiku dengan tangan lembutnya.

Aku secara reflek berusaha mengalihkan topik. Sejujurnya, hingga detik ini belum ada pria seperti Ale yang benar-benar memujiku secara langsung. Alih membuat senang, justru aku tidak karuan.

You and I have an invisible relationship
We stay to live our separate lives but I see you by my side
You and I have an invisible relationship

And when it’s time to see each other, universe works for us

Kami berdua bukan pecinta kopi. Namun ini bukan kabar buruk karena obrolan kami jauh lebih luas dari sekedar membicarakan sejarah mengapa kopi gayo hampir tidak terasa pahitnya. Atau perdebatan kecil tentang kopi yang seharusnya digiling, bukan digunting.

Seperti kata pepatah, “De gustibus non est disputandum”, selera bukanlah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Tentang dia yang lebih suka paha ayam, dan berbeda denganku yang tidak bisa makan tanpa dada ayam. Kecintaannya pada club Persija yang berbanding terbalik denganku yang mengagumi aksi Achmad Jufriyanto dan kawan-kawan di lapangan. Atau suntiang yang menurutnya kurang pas jika dipadukan dengan jas dan kebaya modern. Semuanya hanya soal selera, karena pada akhirnya kami memutuskan untuk menyantap es krim dan suasana kembali manis.

“Mau aku baca karakter kamu? Lewat golongan darah,”

Kataku saat kami pertama kali berkencan beberapa bulan lalu. Wajahnya penuh penasaran, aku kembali melanjutkan kalimat dengan tetap memandang wajahnya seolah sedang serius.

“Golongan darah kamu B kan? Kamu orang yang susah diatur, kalau dalam berpakaian kadang ada niat untuk bener-bener rapi tapi kadang mau acak-acakan. Bener gak?”

Air mukanya memperlihatkan ia sangat antusias. Bahkan ia ingin aku melanjutkan kalimat untuk membaca karakternya lebih dari itu.

Sejujurnya, Ale, aku sama sekali tidak bisa membaca tentang golongan darah. Dan soal tebakan golongan darah B itu, memang sengaja aku sebutkan berdasarkan karaktermu. Bagaimana tidak tahu? Beberapa bulan sebelum kita dekat, aku sering memperhatikan dari kejauhan. Hingga setiap kali berpapasan pun, aku jelas peka dengan caramu berpakaian. Jadi jangan heran jika tebakanku tentang golongan darah tadi sesuai dengan yang aku sebutkan tadi, ya.

We say "Goodnight" to one another in silent
We tell each other "I miss you" while we are far apart
We whisper things like "I need you" and the wind would breeze away
We tell each other "You’re the one" by the look in our eyes

Di kepalaku, Ale seperti Rubah Merah dari hutan yang suka bersosialisasi dengan lingkungannya. Meskipun berasal dari jurusan yang terkesan serius belajar dan kurang komunikatif, tapi Ale tidak. Hidupnya (sepertinya) seimbang, antara sibuk bekerja dengan bermain. Bahkan ia selalu menyempatkan untuk bermain dengan teman-teman dari SD hingga tongkrongannya.

“Aku main sama teman SMP dulu ya,”
“Aku main sama teman SMA dulu ya,”
“Aku main sama teman kuliah dulu ya,”
“Aku main sama tongkrongan A ya,”
“Aku main sama tongkrongan Z ya,”

Sejujurnya, banyak hal menarik dari Rubah Merah yang jauh dari karakter Ale. Keberaniannya berburu di rawa-rawa dan hutan, jauh dari karakter Ale. Mengingat saat ini, yang aku tahu Ale bahkan tidak berani melihat ke atas pohon rimbun yang ada di rumahnya saat tengah malam hari. Juga soal mitos yang ia ciptakan sendiri tentang kasur berkolong yang bisa jadi sarang ‘makhluk-makhluk halus’ tinggal sehingga ia lebih memilih untuk tidur di kasur yang menyatu dengan tanah di kamarnya.

Meskipun begitu, sifat ‘menghangatkan’ dari Rubah Merah ada padanya. Jika Rubah Merah terkenal dengan bulu bermantelnya yang hangat, Ale yang kukenal juga memiliki senyuman hangat. Entah saat pertama kali kencan, hingga sapaan selamat malam lewat pesan singkatnya. Mungkin, dari ribuan (ini berlebihan) pria yang aku kenal, Ale bisa dikatakan paling rajin untuk mengucapkan selamat pagi hingga selamat malam, seperti tugas wajib seorang resepsionis kepada para karyawan. Sifatnya yang terkesan selalu tenang meskipun banyak masalah yang ia hadapi, selalu berbanding terbalik denganku yang selalu panik dan pemikir. Dan mungkin masih banyak sifat baru yang belum aku tahu tentang Ale, mengingat perkenalan kami masih kurang dari satu tahun ini.

Intinya, Ale adalah Rubah Merah dari hutan belantara. Meskipun sampai detik ini, ia masih mengelak dan ingin disebut pangeran tampan nan rupawan dari pinggiran Jakarta.

Terserah. Yang penting suatu hari nanti kita jalan bareng di pinggiran kota New York ya, Janji?

Hari ini aku kembali ke tempat itu untuk yang kesekian kalinya. Dalam hatiku jelas mengatakan, ini akan menjadi kali terakhir aku disana. Suasana hiruk pikuk nya tetap sama. Bahkan klakson masih menjadi dominasi utama kota ini. Semua sama, namun ada satu yang berbeda: tempat itu.
Dulu kita sering menghabiskan sore dibangku itu. Kamu duduk disana, bercerita tentang cita-citamu menyebrangi benua dan aku mengangguk. Kamu bercerita tentang semua keinginanmu untuk menghabiskan nachos sebanyak mungkin, menari flamenco dengan iringan tepuk tangan penonton, dan mendokumentasikan diri ditengah keramaian kota big apple. Aku mendengar semua ceritamu dengan tatapan serius. Sesekali anggukanku berhasil membuatmu percaya bahwa aku benar-benar mendukung cita-citamu. Sejujurnya aku tidak terlalu memperdulikan semua ceritamu. Hanya saja, menghabiskan waktu dengan tatapan penuh semangatmu berhasil membuat hariku bahagia.
Setelah hampir 8 bulan setelah itu, aku meninggalkanmu. Bukan karena aku pengecut, tetapi aku sedang berjuang untuk mencapai cita-citaku juga. Dan tanpa kamu tahu, cita-citaku itu cukup sederhana: aku ingin memenuhi cita-citamu. Berbekal semua persiapan selama ini, aku berhasil menginjakkan kaki disalah satu kota yang sempat kamu sebut dalam mimpimu, New York. Aku memandang sekitar dengan penuh haru. Bayangku kembali saat kita duduk ditaman itu, kamu ingin mengabadikan dirimu dikeramaian New York.
Setelah hampir dua tahun menghabiskan waktu untuk bekerja di New York, aku kembali ke Indonesia. Lebih tepatnya aku kembali ke kota kenangan kita, Jakarta.
I’m waiting in line to get to where you are

hope floats up high along the way

Jakarta masih sama. Semua hiruk pikuk dan kenangannya. Hanya saja, kota yang kurindukan itu sekarang menjadi kota yang aku benci. Aku benci Jakarta. Sejujurnya, bukan kotanya yang aku benci. Hanya saja segala kenangan kita disana berhasil membuatku ingin melupakan Jakarta.
I forget Jakarta

all the friendly faces in disguise
this time, I’m closing down this fairytale

Jujur, sebenarnya aku sama sekali tidak ingin untuk kembali ke kota ini. Banyak yang tidak bisa aku terima, meskipun dulu aku menjadikan kota ini sebagai alasan aku kembali. Semua urusanku disana, aku tinggalkan sebentar. Tujuanku hanya satu, aku hanya ingin menemuimu sebentar setelah itu aku pergi.
and I put all my heart to get to where you are

maybe it’s time to move away
I forget jakarta
and all the empty promises will fall
this time, I’m gone to where this journey ends

Beberapa menit setelah itu, tepatnya setelah aku memantapkan diri untuk berjalan, aku sampai disebuah bangunan besar. Aku menelan ludah, pikiranku mulai berdistraksi. Banyak hal yang sudah kupersiapkan sebelumnya, namun langsung hilang begitu saja. Aku segera mencari bangku terdekat, duduk sambil mengambil puntungan rokok yang ada disaku. Setelah hembusan pertama asap, aku mulai tenang. Pikiranku mulai membaik dan aku sudah siap untuk kesana.
Setelah semuanya siap, aku masuk kedalam gedung itu. Beberapa orang tampak memandangku dengan senyuman. Bahkan ada yang menawarkan untuk aku duduk di kursi istimewa, VIP. Aku menolak karena menurutku semua ini terlalu berlebihan. Tepatnya karena aku merasa aku bukan orang spesial di acara itu. Aku berdiri bersama para tamu lain.
Hari itu kamu cantik. Gaun yang kamu pakai sama dengan impianmu dulu. Pantas saja, senyum jelas terlihat dari raut wajahmu detik itu.
Disampingmu, sudah ada seorang laki-laki gagah yang berdiri sambil membiarkan tangannya dirangkul olehmu. Ia sempat melirik kearahku sejenak, dan kemudian memasang wajah ramah kepada semua tamu, termasuk padaku. Aku sempat membalas senyumannya walaupun sedikit kecut. Dan kamu, kamu masih belum sadar aku hadir disaat itu.
Tepat hari itu, mimpiku sirna. Kamu pernah bilang, cita-citamu akan kamu wujudkan seorang diri. Aku mendukung segala keinginanmu hari itu. Bahkan aku sengaja untuk berusaha mewujudkan salah satunya, aku menabung dengan niatan untuk mengajakmu ke New York, melamarmu di Times Square dan menghabiskan sisa waktu dengan mengajakmu berjalan-jalan di Central Park sore hari. Setiap hari kamu akan membujukku untuk berbelanja di Fifth Avenue, dan aku tidak bisa menolak keinginanmu itu meskipun gajiku masih dua minggu lagi. Itu semua mimpiku.
Dan setelah semua tabungan berhasil aku kumpulkan, aku kembali membuka emailmu yang hampir dua hari belum sempat aku baca. Jantungku sempat hampir tidak berdegup. Aku membaca semuanya secara seksama. Kamu mengirimkan sebuah pesan dan lampiran file yang berhasil membuatku hampir depresi hari itu.
“Qaila dan Arka”. Siapa Arka?
Bahkan di email yang kamu kirim sama sekali tidak membahas siapa itu Arka. Kamu hanya membahas tentang keinginanmu untuk aku hadir dihari itu.
“Siapa Arka?”
Aku menyampaikan pesan balasan secara singkat.
Beberapa jam kemudian, kamu membalas emailku.
“Dia teman kerjaku. Aku lupa mengenalkanmu sama dia. Kami memang dekat dari empat bulan kemarin,”
“Dia dari Jakarta?”
“Ya”
“Jadi kamu akan tetap tinggal disana?”
“Ya, dan kamu? Kamu tetap di New York?”
“Mungkin.”
Setelah semua percakapan itu, aku benci Jakarta, juga New York. Aku benci setiap kali mengingat keinginanku untuk melamarmu di Times Square. Aku benci setiap kali berjalan di Central Park membayangkan aku ada disana denganmu. Dan aku benci Fifth Avenue beserta seluruh wanita yang lewat disana sambil menenteng tas belanja mereka.
but if you stay, I will stay

even though the town’s not what it used to be
and pieces of your life you try to recognize
all went down

Sebelum kamu memutuskan untuk mengakhiri masa lajangmu nanti, aku ingat terakhir kali kita berkomunikasi membahas tentang dirimu. Kamu berhasil memakan nachos di Meksiko dengan porsi yang cukup banyak hingga kamu sempat dibawa kerumah sakit karena hampir pingsan. Kamu menonton pementasan tarian flamenco di Spanyol dan kamu sempat mempraktikan jentikkan jarimu sambil menari via skype. Tepat diakhir tarian, kamu berbicara padaku sambil sedikit tertawa.
“Kapan kamu kembali ke Jakarta?”
Aku menggelengkan kepala, karena tabungan untuk kembali ke Jakarta belum sempat aku persiapkan.
“Kenapa?”
Tanyaku.
“Aku mau mengajakmu keliling dunia. Aku bosan pergi bersama orang-orang dari tour, tidak ada yang se menyenangkan kamu,”
Katamu.
“Kamu ingin ke New York?”
Kamu mengangguk.
“Tapi tabunganku masih kurang untuk kesana”
Jawabmu sambil tertawa.
Saat itu, hingga hari ini kamu belum tahu jika aku sudah mempersiapkan tabungan khusus untukmu.
“Setiap kali aku keliling New York, aku selalu ingat kamu”
Kataku.
“Oh ya? Kenapa?”
“Aku gak tahu. Tapi menurutku, seluruh sudut New York menggambarkan kamu, tidak pernah sepi”
Kamu tertawa lagi.
I travel the world to get to where you are

strangers I met along the way
you forget jakarta
leaving all the lunacy behind
this time give me back my sanity

Hari ini kamu kembali tertawa. Tepatnya setelah pemandu acara memberikan waktu kepadamu untuk melemparkan bunga kepada para hadirin yang datang. Aku belum sempat menyalamimu tadi, karena aku sibuk berkompromi dengan hati dan pikiran.
Setelah semua selesai, aku masih disana bersama beberapa teman lamamu. Mereka berusaha mengajakku untuk menemuimu langsung. Aku mengiyakan saja, karena setelah ini aku akan kembali ke bandara. Waktuku tidak banyak untuk menemuimu dan anggap saja ini adalah salam perpisahan.
“Qaila”
Kamu segera menoleh. Dari gerak-gerikmu, kamu mulanya ingin memelukku tetapi kamu mengurungkan niat itu. Kamu menepuk pundakku sebentar pertanda bahwa kami masih berteman.
“Kamu baru datang?”
Katamu.
“Ya”
“Kamu kesini cuma buat datang ke acaraku?”
“Ya. Sesuai permintaan kamu kan?”
Kamu tertawa sambil menatap mataku dengan penuh haru.
“Kapan kamu pulang?”
“Kurang lebih dua jam lagi pesawat aku berangkat”
“Ke New York?”
Aku mengangguk.
Setelah aku selesai berbicara denganmu, aku segera pamit pulang. Rasanya aku lega, bisa kembali bertemu denganmu. Dan lebih lega lagi, setelah aku berbicara sebentar dengan Arka, suamimu. Menurutku Arka baik, ia pantas disandingkan denganmu.
Aku kembali kedalam mobil dan pergi menuju kerumah untuk mengambil barang-barang yang akan dibawa. Ditengah kemacetan kota, aku sempat membuka buku harian ukuran besar yang sudah aku isi sejak dua tahun lalu.
Dalam halaman utama, tampak sebuah tulisan dan gambar pertama yang aku dokumentasikan di New York.
‘This is my 1st day in New York, Qaila. Kamu pasti iri kan?’
Buku harian itu sebenarnya akan aku buat untukmu sejak pertama aku membelinya. Aku ingin kamu tahu, bahwa New York menjadi kenangan baru untuk kita meskipun kamu tidak ada disini. Aku berhasil mendokumentasikan semua tempat yang aku kunjungi di New York. Hingga dibagian akhir halaman buku harian, aku menyelipkan tiket penerbangan Jakarta ke New York di tanggal 21 Juni, tepat dihari ulang tahunmu. Rencananya aku ingin mengirimkan buku harian ini sekaligus mengajakmu untuk datang di hari spesialmu. Sebelum akhirnya aku tahu, tepat dihari ulang tahunmu itu kamu menggelar pernikahan dengan Arka di Jakarta. Ya, Jakarta.
Yeah I’m still on my way to get to where you are

try to let go the things i knew
We’ll forget jakarta
promise that we’ll never look behind
tonight, we’re gone to where this journey ends
Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates