C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >



“Lain kali, sebelum kesini, bawakan saya kopi lereng gunung Prau ya”

Pesan Ayahmu sore tadi.
* * *
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Tepat 3 jam setelah aku kembali dari rumah Ran. Bukannya beristirahat dengan tenang, aku justru memilih untuk duduk depan laptop. Sekali lagi, bukan untuk kerja, tapi untuk mencari “Pesanan” Ayah Ran tadi sore.

Kopi Lereng Gunung Prau. Pasti banyak di jual online.

Pikirku.

Baru pagi tadi, aku dan Ran berencana untuk bertemu Ayahnya segera mungkin. Jangan tanya untuk apa, tentunya dalam rangka membicarakan tentang hubungan kami menuju arah yang serius. Tapi mungkin tidak diutarakan hari ini, mengingat sudah terlalu sore dan belum ada kata-kata yang dipersiapkan dengan matang.

Sore tadi, setelah mengantar Ran (sepulang kami berjalan-jalan sore), aku sempat mengobrol santai dengan Ayah Ran. Perawakan beliau cukup tinggi, setidaknya lebih tinggi dariku. Wajahnya cukup tegas, dikuatkan dengan garis rahangnya yang tampak jelas. Belum lagi dengan tongkat kayu dengan ukiran tertulis “Ayah Terbaik Sepanjang Masa”. Sudah jelas pasti, siapa yang memberikan tongkat ini.

Di sela perbincangan sore ini, kami sempat membahas tentang kopi. Kebetulan ayah Ran sempat dinas di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Banyak jenis kopi yang sudah pernah ia nikmati. Mulai dari kopi Aceh Gayo si kopi Arabica terbaik di dunia, hingga kopi berbau sedikit tembakau di after taste-nya alias kopi Flores Bajawa. Namun dari semua itu, menurut beliau, kopi lereng Gunung Prau-lah yang paling tak terkalahkan. Terutama karena aroma khas Nangka (yang menurut beliau) sangat abadi.

“Lain kali sebelum kesini, bawakan saya kopi gunung prau ya. Ingat! Ini perintah, bukan main-main,”

Kata Ayah Ran sambil menepuk pundakku. Bagai suatu pesan wasiat, aku hanya bisa meringis sambil menelan ludah.

Matilah aku, dimana harus mencari kopi ini?

01.30. Rumah Aryan

Malam semakin larut dan aku tetap terjaga depan laptop. Sudah banyak website yang kubuka, namun tidak menemukan toko online yang menjual minuman ini. Apa kopi ini hanya khayalan Ayah Ran? 

Apa aku sedang dikerjai oleh pria paruh baya?

Pelan-pelan aku memejam mata sejenak. Membayangkan bagaimana wajah Ayah Ran saat ini, jika tahu si calon menantunya ini sedang berjuang mencari barang langka titipannya. Entah tersenyum bangga atau tertawa karena tipuannya berhasil. Entahlah.

Mataku terbelalak sejenak. Ya, aku ingat sebuah nama. Ion, temanku yang seorang barista. Aku harus meminta bantuannya hari ini.
* * *
16.00 WIB, Kedai Kopi Seribu Tahun Menunggu
Segenggam biji kopi diambil dalam wadah. Uniknya, bukan dalam French press seperti yang digunakan oleh barista pada umumnya. Ia memilih menggunakan blender bumbu, dengan beberapa ketukan tombol hidup-mati-hidup-mati agar tak terasa hangus. Kopi olahan tadi kemudian dimasukkan dalam cangkir dan disiram dengan air mendidih. Adukan memakan waktu 3 menit, dimana sang barista memanfaatkan waktu singkat ini untuk membersihkan meja dari taburan sisa bubuk kopi.

Satu kopi, atas nama Dinda. Selamat menikmati.  

Katanya sambil tersenyum ramah ke pelanggannya. Ia berlalu sambil merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Ion”

Bisikku. Matanya segera mencari sumber suara tadi. Kali ini ekspresinya jauh lebih ramah dari sebelumnya.

“Hey, bro. How’s life?”

Katanya berbasa-basi.

“Baik, bro. Lo gimana? Makin rame aja kedai,”

“Ya, lumayan lah. Semenjak di pakai buat shooting kemaren, jadi banyak yang penasaran kesini. Oiya, udah lama juga lo ga mampir,”

“Sorry, bro. Gue sibuk kemarin-kemarin. Lagi banyak proyekan. Lumayan lah, buat nambah-nambah uang jajan. Btw, gue ganggu bentar boleh gak?”

“Oh it’s okay. Ada apa?”

Aku menceritakan pada Ion tentang permintaan Ayah Ran kemarin. Tentang Kopi Gunung Prau. Ion menarik nafas dalam-dalam. Sambil memutarkan bola mata, seperti sedang berpikir keras.

“Kopi gunung prau. Kopi Liberika. Ukuran buahnya lumayan besar, green bean berwarna coklat terang. Ya, gue pernah denger tentang itu,”

“Ya, itu juga yang dijelasin Ayah Ran. Lo punya gak kopinya? Atau ada kenalan gak yang jual?”

“Sayangnya gak ada. Ini kopi Langka, Yan. Habitat aslinya di Kawasan tropis kaya Afrika. Kayanya sulit karena jarang dibudidaya disini,”

Ion menghela nafas panjang. Matanya segera menatapku tajam.

“Gak ada pilihan lain sih, lo bisa dapetin kopi ini langsung di kotanya, Kendal. Gih!”
                                                                                          * * *
05.32 WIB. Stasiun Weleri.

Kereta telah berhenti di sebuah stasiun. Bersamaan dengan instrumen dari lagu Gambang Semarang yang khas menandakan aku telah tiba di Kendal.

Suasana masih pagi. Tampak beberapa orang sibuk menenteng barang bawaannya. Berbeda denganku yang hanya berbekal tas ransel kecil. Setelah berkunjung ke Kedai Ion kemarin sore, aku memutuskan untuk memesan tiket perjalanan ke Kendal. Niatnya hanya untuk mendatangi tempat kopi Gunung Prau, membawa sekarung kopi legendaris ini, lalu pulang.

Berbekal satu alamat yang diberikan Ion, aku memilih transportasi umum menuju ke tempat kopi itu. 

"Mas, nanti saya turun di sini ya,"

Kataku sambil menunjukkan satu alamat ke supir angkutan umum. 

"Inggih, mas. Mas nya bukan orang sini ya?" 

Tanyanya.  Mungkin dari logat bicaraku yang berbeda dengan orang sekitar.

"Iya mas, dari Jakarta. Kebetulan saya lagi jalan-jalan kesini, mau coba kopi Gunung Prau yang katanya legendaris itu,"

"Bener toh dugaan saya, hehe. Kopi Liberika ya mas? Memang harus coba kopi dari sini, langka tapi rasanya nomer satu sedunia mas," 

Kata supir sambil tertawa. 

"Saran saya ya mas, kalo mau coba kopinya yang bener-bener dari sini, saya tahu alamatnya. Yang punya bapaknya teman saya, salah satu kelompok tani di sini. Namanya Pak Matoha. Rasa kopinya wes rak usah ditakon meneh. Nek Bahasa Jakartanya, Endolita Bingit!" 

Kembali ia tertawa. Karena masih pagi dan kebetulan belum ada penumpang lain, supir ini dengan senang hati mengantarkanku ke tempat yang dimaksud. 

Setengah jam berlalu, kami tiba di sebuah bangunan kuno. Bangunan ini sepertinya sudah lebih tua dari usiaku (atau bisa jadi seumuran denganku). Meskipu begitu, tetap bersih dan nyaman untuk dikunjungi. Menariknya, ada satu pekarangan khusus yang menghadap gunung. Dan sekali lagi, karena masih pagi, aku lah pengunjung pertama yang datang hari ini. 

"Mau pesan apa, mas? Arabika, Liberika, Robusta, atau Luwak?" 

Tanya seorang wanita paruh baya sambil tersenyum. 

"Kopi Liberikanya satu ya, bu"

Ibu ini kembali tersenyum dan segera berlalu. 

Beberapa menit kemudian, Ibu tadi kembali sambil membawa satu cangkir kopi. Uniknya, cangkir yang digunakannya sangat lawas, mirip dengan cangkir almarhum kakek dulu. Sambil bernostalgia tentang percangkiran ini, aku tertegun dengan tegukan kopi pertama. Rasa nangka begitu melekat saat pertama kali mencicipi kopi ini. Pantas saja Ayah Ran sangat menyukainya. Aku menghirup nafas dalam-dalam demi menikmati aroma kopi ini. Rasanya sangat tenang, seperti berada di rumah. Juga rasa lelah setelah tujuh jam perjalanan tadi seperti hilang sejenak. 

"Baru pertama coba kopi ini ya?" 

Suara dari belakang berhasil mengagetkanku. Pria paruh baya ini tersenyum dan segera duduk di sebelah. 

"Saya Pak Matoha, yang punya kedai ini," 

Katanya.

"Senang bertemu dengan Bapak. Saya Aryan, dari Jakarta, Pak," 

"Wah orang Jakarta sampai disini. Gimana ceritanya?" 

"Iya pak, tadi supir angkutan umum yang mengantarkan saya kesini. Katanya tempat kopi ini paling legendaris,"

"Oh, pasti si Husno tadi. Wah tidak se legendaris itu kok. Kebetulan kedai ini sudah berdiri lama, mungkin lebih tua dari usia nak Aryan," 

Katanya. 

Dari cara bicaranya, Pak Matoha ini (sepertinya) sangat ramah kepada semua orang. Aku kembali menyeruput kopi disertai dengan udara sejuk yang memanjakan pikiranku. 

"Daerah ini bentuknya dataran tinggi. Jadi tanaman kopi tumbuh subur di sini. Kamu tahu nak, Kabupaten Kendal ini wilayah penghasil komoditas yang sudah dikenal dunia, makanya banyak diburu negara lain," 

Aku mengangguk mendengar penjelasan Pak Matoha. Seperti yang diceritakan supir (Husno) tadi, Pak Matoha ini bukan hanya pemilik Kedai Kopi. Ia adalah salah satu Kelompok Tani yang sudah bertahun-tahun menggeluti profesi ini. Menariknya, ia tidak hanya menjajakan kopi. Dengan senang hati, Pak Matoha berbagi informasi tentang asal kopi yang dinikmati oleh pelanggannya. Sehingga ikatan emosional sangat terasa antara pelanggan dengan kopi miliknya.

"Kamu tahu darimana tentang Kopi Liberika ini, nak?" 

Tanyanya. 

Aku meneguk kopi terakhir dari cangkir ini. Segera menceritakan tentang Ayah Ran yang tergila-gila dengan kopi ini dan berpesan untuk dibawakan saat kunjunganku berikutnya. 

"Oh begitu ya, saya jadi teringat dulu sekitar 15 tahun yang lalu. Ada anggota yang dinas di daerah sini, dan kebetulan ia sering menghabiskan sore disini. Karena usia kami tidak jauh, saya dan anggota ini jadi akrab. Ibaratnya, jika saya kopi arabika yang pahit asam, beliau kopi robusta yang pahit pekat. Memang berbeda, tapi punya satu kesamaan. Sama-sama tidak bisa hidup tanpa kopi," 

Kata Pak Matoha sambil bernostalgia. 

"Kalau boleh tahu, siapa ya pak namanya?" 

"Anggota itu? Saya sudah lama tidak jumpa, namanya Pak Shidiq Mangkoesasih,"

* * *
17.01 WIB. Stasiun Weleri

Lagu Gambang Sembarang kembali berkumandang. Kali ini menyambut keberangkatan kereta yang aku tumpangi. Sambil memandang stasiun yang dekat dengan Pasar Weleri ini, aku menggenggam satu kantong plastik hitam. Kopi Lereng Gunung Prau sudah ada di tangan. Bisa dibayangkan bagaimana wajah Ayah Ran nanti, jika tahu si calon menantunya ini berhasil menemukan barang langka titipannya. Entah tersenyum bangga atau tertawa karena melihat perjuangan yang tidak main-main ini. Entahlah. 

09.00 Halaman Rumah Ran

Aku sudah tiba kembali di Jakarta. Tepatnya di halaman Rumah Ran. Ran memandangiku dengan wajah cemas karena (menurutnya) kemarin aku susah sekali dihubungi. 

"Kamu beneran habis dari Kendal? Pulang Pergi?" 

Aku mengangguk. 

"Itu bawa apa?" 

Ia melihat kantong plastik hitam di tanganku. 

"Titipan Ayahmu," 

Kataku. 

Kembali aku berhadapan dengan Ayah Ran. Sebelum beliau menagih janji, aku segera memberikan kantong plastik hitam itu dan ia membukanya dengan hati-hati. Ekspresi matanya terbelalak, antara senang bercampur kaget. 

"Darimana kamu dapat kopi ini?" 

"Langsung dari kotanya, om. Kemarin Aryan ke Kendal," 

Ayah Ran memandangiku sambil tersenyum kecil. 

"Ini kopinya," 

Kata Ran sambil meletakkan dua cangkir kopi depan aku dan Ayahnya. 

"Silahkan diminum, Yan,"

Ayah Ran memberikan izin. Kami berdua meneguk kopi hidangan Ran. Meskipun sudah kali kedua mencoba kopi Liberika ini, namun kesan yang pertama tetap terasa sampai sekarang. Bayanganku kembali ke kedai Pak Matoha kemarin. Damai sekali rasanya. 

"Robusta dikenal karena rasanya pahit pekat, dan Arabika pahit asam. Sedangkan Liberika, cita rasanya memang pahit pekat, tapi aroma nangkanya jelas tercium dari pertama kali diseduh dengan air panas," 

Kata Ayah Ran sambil menikmati kopinya. 

“Sekarang kamu percayakan bahwa biji kopi seperti ini bisa melahirkan rasa luar biasa?”

Aku kembali mengangguk.

“Kelak jika hidup bersama Ran, kamu akan bahagia sebatas dengan mencicipi kopi liberika buatannya seperti hari ini. Itu yang saya rasakan selama hampir 20 tahun hidup dengan almarhumah ibu Ran.”

Seperti kata ayah Rana barusan, ia benar. Sebuah pesan tersirat dalam kata-kata pertamanya, bahwa dari sosok Ayah yang mulanya kukira tegas dan ditakuti ini, ia berhasil melahirkan putri yang luar biasa.

“Jadi, Aryan diperbolehkan, om? Untuk Hidup Bersama Ran?”

Kali ini Ayah Ran yang mengangguk.
Beberapa jam kemudian, aku bersalaman dengan Ayah Ran untuk kembali ke rumah.

“Jaga Ran baik-baik ya, Aryan. Ingat! Ini perintah, bukan main-main,”

Kali ini ia mengucapkan dengan nada tegas, namun disambut oleh tawa kami bertiga.

“Oh iya sebelum pulang, Aryan mau sampaikan salam. Dari Bapak Matoha, Pemilik kedai kopi yang Aryan kunjungi kemarin,”
* * *
19.20. Rumah Aryan.

Rana Mangkoesasih. Wanita yang sore kemarin resmi menjadi istriku, dan saat ini sedang menghindangkan kopi liberika pertama untuk suaminya.

“Terima kasih, Ran,”

Ia tersenyum dan segera berlalu. 



“Kamu yakin kita harus pindah minggu ini?”

Kataku setengah tidak percaya. Bagaskara, si lawan bicaraku ini hanya menganggukkan kepala sembari sibuk membuka lembaran kertas dihadapannya.

“Aku gak mau ninggalin Jakarta, Bagas”

Aku segera mengubah posisi duduk, tepat dihadapan Bagaskara agar ia mau memandang kearahku. Usahaku sia-sia. Ia masih sibuk dan menjawab singkat setiap pertanyaan yang aku ajukan sejak tadi.

“Bagaskara, bisa tidak kamu anggap ini permasalahan serius?”

Aku mulai kehabisan kesabaran dan mulai berintonasi tinggi. Akhirnya Bagaskara menyadari emosiku dan perlahan melepas kertas yang ada digenggamannya. Ia memandangiku dengan tatapan seolah-olah tak ada masalah apapun.

“Bisa kita menetap di Jakarta selamanya? Aku gak mau pindah ke Padang”

 “Kenapa?”

Jawabnya singkat. Kali ini sorot matanya menatapku tajam. Aku menelan ludah dan mulai mencari seribu alasan.

“Ya, aku betah di Jakarta. Kamu tahu kan aku lahir di Jakarta, besar disini. Aku gak mau ninggalin kota ini,”

“Kita cuma pindah sementara Shaira. Lagipun, kalo kamu rindu Jakarta, kita bisa kembali kesini kapanpun. Kalo aku dapat cuti kerja, kita bisa kembali kesini.”

“Gak semudah itu, Bagas. Rumahku disini, dan aku sama sekali tidak mau ninggalin kota ini.”

“Itu resiko kamu menikahi abdi negara, Shaira. Kamu harus siap, pindah kemanapun dan kapanpun. ”
Kata Bagas sembari pergi meninggalkanku.

Aku masih menggerutu sambil memandangi foto berseragam Bagaskara yang terpajang diruang keluarga.

Bagaskara, suamiku. Wataknya sangat keras kepala (menurutku). Meskipun sejak awal perkenalan ia terkesan sangat pendiam, tetapi akhir-akhir ini aku semakin bisa menilai tabiat menyebalkannya. Bagaskara memang susah ditebak. Entah dalam hal keinginan maupun emosinya. Dan aku, si anak bungsu yang memang sejak dulu di didik manja. Sejak memutuskan hidup bersama Bagaskara, aku mulai mencoba menekan emosi dan egoku. Sifat keras kepala Bagaskara dan aku memang 11:12, hampir tidak ada bedanya. Selalu saja tidak ada yang mau mengalah diantara kami, meskipun hingga empat tahun pernikahan ini belum ada perdebatan sengit diantara kami. Dan hari ini, sepertinya pertengkaran akan kembali terjadi.

Seminggu yang lalu, Bagaskara mendapat surat keputusan mutasi ke Padang. Dan sejak awal memutuskan menikah dengan Bagaskara aku harus menerima resiko untuk pindah kemanapun ia ditugaskan. Namun bukan hal mudah bagiku, meskipun dulu aku pernah pindah ke Pariaman karena tugas ayah dan hanya bertahan sebulan aku kembali ke Jakarta. Sudah seminggu ini aku memohon padanya untuk tetap menetap disini. Tetapi hasilnya nihil. Kami masih belum bisa memutuskan, ego siapa yang harus dipertahankan.

* * *
“Selamat Datang di Bandar Udara Internasional Minangkabau”

Suara pramugari terdengar di penjuru pesawat sesaat setelah pesawat mendarat.

Ya, setelah perenungan seminggu ini, akhirnya aku memutuskan untuk mengalah. Mau tidak mau, Bagaskara pindah ke Padang. Dan mau tidak mau pula, aku harus mendampinginya disana. Meskipun Bagaskara asli dari Sumatera Barat dan keluarganya masih tinggal disana, aku harus tetap ikut dengannya.

“Nanti kita dijemput Ajo (Bahasa Minangkabau, artinya: kakak Pria) dan langsung ke rumah amak (ibu),”

Kata Bagaskara memberi intruksi. Aku hanya mengangguk saja dengan memasang wajah cemberut.
Perjalanan dari bandara ke rumah Bagaskara ditempuh kurang lebih satu jam. Dan selama perjalanan, aku memilih untuk bungkam. Bagaskara bukan tipe pria yang suka untuk membujuk wanitanya saat kesal. Ia hanya sesekali mengalihkan pandangan kearahku, dan kembali berbincang dengan Ajo-nya dengan bahasa Minang.

“Gimana Shaira bisa mutusin buat pindah kesini? Jakarta kan lebih nyaman,”

Kata Bang Asnan kepadaku.

“Ya gimana lagi, bang. Kan harus ikut suami bertugas,”

Jawabku singkat.

“Semoga betah disini ya, ra”

Katanya dengan logat khas Sumatra Barat. Aku hanya menjawab dengan senyuman sambil melirik kearah Bagaskara.

‘Bagaskara dan Bang Asnan sangat beda jauh! Abangnya sangat ramah. Sedangkan ia? Untuk minta dibuatkan teh saja butuh perdebatan-perdebatan pagi yang menyebalkan.’

Batinku mengeluh.

* * *
Setiba dirumah Bagaskara, aku segera masuk dan melihat ke sekeliling rumah. Dekorasi rumah ini masih terkesan tradisional namun sangat terawat. Beberapa foto usang Bagas dan Bang Asnan terpajang rapi di dinding rumahnya.  Amak Bagaskara sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu karena sakit. Sedangkan Abaknya (ayah) sudah lama meninggal sejak Bagaskara duduk dibangku sekolah dasar. Sekarang rumah itu ditempati oleh Bang Asnan, istrinya, dan dua anak kembarnya yang masih kecil-kecil. Hari itu, istri Bang Asnan sedang tidak ada dirumah karena menemani perpisahan sekolah kedua putranya.

“Habis ini mau Ajo antarkan kemana lagi?”

Tanya Bang Asnan pada kami.

“Indak paralu, jo (artinya: tidak perlu, bang). Bagas sama Shaira mau jalan-jalan berdua nanti malam,”

Aku memandangi wajah Bagaskara dengan tatapan aneh. Tidak biasanya ia mau menemaniku berjalan-jalan. Bahkan selama ini aku harus menangis meraung-raung dulu jika bosan dirumah dan ingin mengajaknya keliling kota. Itupun kadang ia mengajak makan diluar dan setelah selesai langsung kembali kerumah.

“Jalan kemana?”

Kataku pada Bagas.

“Jembatan Siti Nurbaya. Kamu belum pernah kesana kan?”

Aku menggelengkan kepala dan bergegas pergi seolah tidak tertarik untuk kesana.

Siang itu, Bagaskara dan Bang Asnan menghabiskan waktu untuk berbincang diteras, sedangkan aku memilih untuk dikamar saja. Tanpa sepengetahuan Bagas, aku mulai membrowsing Jembatan Siti Nurbaya, tempat yang akan kami kunjungi malam ini. Dari gambar-gambar yang aku lihat di internet, tempatnya cukup menarik dan romantis. Meskipun aku sama sekali tidak berekspektasi tinggi melihat sifat Bagas yang jauh dari kata romantis.

* * *
Dalam setengah jam, kami sudah sampai di lokasi, yakni Jembatan Siti Nurbaya. Mirip dengan yang aku lihat di internet tadi, sangat manis. Lelampuan kota dan kapal yang bersandar menyatu padu dan seolah menghidupkan suasana jembatan itu. Tempat yang cukup tenang, dan mungkin bisa jadi pelarianku jika kesal dengan Bagaskara nanti.

Aku menghirup napas dalam-dalam. Mencoba menikmati setiap angin sepoi disana. Sesekali suara nyanyian dan musik khas Sumatra Barat terdengar samar-samar dan membuat suasana makin nyaman. Dan beberapa kali, aku merasa de javu dengan tempat itu. Ya, mungkin karena aku pernah tinggal disana dan pernah berkunjung kesini sebelumnya. Dan sepertinya pemandangannya tak seindah hari ini.

“Shaira, duduk disini,”

Kata Bagaskara yang ternyata sudah mengambil dua kursi plastik. Aku segera menghampirinya. Agaknya malam ini suasana hatinya cukup baik. Entah karena ia berada di kampung halamannya atau karena alasan lain.

“Ini jembatan siti nurbaya?”

Tanyaku.

Bagaskara mengangguk sambil menerima segelas kopi yang dihidang oleh pedagang kaki lima.

“Kamu tahu kan ceritanya?”

Giliran aku yang mengangguk. Cerita siti nurbaya memang sudah melegenda sejak dahulu.

“Kasian ya Siti Nurbaya, dipaksa nikah sama pria yang gak pernah ia suka dari dulu,”

Kataku. Kemudian suasana terasa hening, tidak ada jawaban dari Bagaskara pun dariku.

“Kamu pernah suka dengan wanita lain?”

Tanyaku pada Bagaskara. Entah pikiran apa yang meracuniku hingga aku memberikan pertanyaan tidak penting itu padanya.

Tak disangka, Bagaskara mengangguk.

“Siapa?”

“Wanita yang aku cinta setelah Amak. Dulu aku pernah suka dengan anak perempuan di Menengah Pertama. Setiap ketemu dia, aku selalu buat surat cinta karena gak pernah berani buat bicara langsung ke dia. Suratnya belum pernah sampai ketangan perempuan itu,”

“Kenapa? Kamu gak berani ngasih langsung?”

“Bukan, aku pernah punya niat buat ngasih suratnya pas hari Jumat, sebelum libur sekolah. Tapi ternyata aku kena cacar, dan terpaksa gak sekolah selama dua minggu. Dan ternyata waktu aku sembuh dan masuk sekolah, perempuan itu udah pindah sekolah,”

Kata Bagaskara sambil menghembuskan napas dengan berat.

“Trus cuma sampai situ? Kamu gak pernah tahu perempuan itu pindah kemana? Atau kamu gak ada niatan untuk cari dia?”

Bagaskara hanya tersenyum dan memandangiku dalam-dalam.

“Sudah, dan berhasil,”

“Hey, apa maksudnya?”

Jawabku sedikit cemburu.

“Ya wanita itu yang ada di hadapanku hari ini,”

Jantungku berdegup kencang. Aku yakin ini bukan gombalan, karena setahuku ia memang tidak pernah jago untuk menggombal.

“Mau dengar isi suratku 12 tahun yang lalu?”

Tanyanya. Aku segera mengangguk penasaran.

Bagaskara segera mengubah posisinya, memandang mataku dengan tajam.

“Untuk Shaira. Kamu tahu, hari ini aku, Bagaskara – si anak Amak, telah melanggar satu larangan Amak,”

Ia berhenti berkata-kata. Dahiku menyerngit tanda penasaran dengan maksud kalimatnya barusan.

“Saat SD, aku ingat sekali petuah Amak. Saat lampu semprong masih jadi penerang dirumah kami. Suasana hening, riup kentongan dari desa sebelah lah yang meramaikan. Aku duduk dipangkuan Amak. Sayup-sayup aku dengar Amak bilang, ‘Apapun yang terjadi, dewasa nanti, Abang harus ingat kalo yang berlebihan itu tidak baik’. Tapi pasti mendiang Amak marah denganku karena larangannya sudah aku abaikan,”

Aku masih belum bisa mencerna kata-kata Bagas barusan.

“Iya, mendiang Amak bilang yang berlebihan itu tidak baik. Tapi kamu harus tahu itu, Shaira. Bahwa senyummu itu berlebihan manisnya. Dan itu tidak baik,”

Aku mendadak tersipu mendengar kalimat Bagaskara barusan.

Inilah gombalan pertama Bagaskara.  Entah siapa yang mengajarkannya. Aku kira, sejak kecil Bagaskara adalah tipe yang dingin dan tidak peduli dengan lingkungannya. Dan baru saja aku tahu kalo Bagaskara dan aku pernah duduk di sekolah yang sama. Aku baru tahu Bagaskara pernah menyukaiku, Shaira si anak baru yang hanya satu bulan di sekolah itu. Dan kepindahannya ke Ibukota menjadi alasan utamanya untuk mencariku. Meskipun selama ini aku menyangka pertemuanku dengannya di stasiun lima tahun lalu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

“Jangan geer, itu surat cintaku waktu SMP,”

Kata Bagaskara berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.

“Iya aku tahu, siapa yang ngajarin?”

“Bang Asnan”

“Bang Asnan memang romantis ya, gak kayak adiknya”

“Setidaknya adiknya tahu kalo wanita incarannya dulu suka makan puluik sarikayo yang ada di depan sekolah,”

“Hey, itu kan makanan favoritku dulu,”

“Besok kita ke sekolah ya. Nostalgia sekalian beli puluik sarikayo. Puluik Sarikayo untuak adiak manih nan denai cinto,”

“Tambuah ciek!”

Jawabku sambil meringis.


Sore ini aku kembali duduk dibangku kantor. Kali ini bukan untuk mengerjakan tugas perkantoran, tetapi yang lain. Sejujurnya, beberapa bulan ini aku bergabung dalam sebuah perkumpulan cerita. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasa, kami sama sekali tidak diperbolehkan untuk bertatap muka secara langsung. Kami akan dipertemukan disebuah situs website setiap hari Jumat jam 4 sore. Pada jam tersebut, kami akan saling bertukar sapa dan berbagi cerita masing-masing tentang banyak hal mulai dari kisah menyenangkan bahkan tragis sekalipun. Disini kami dibebaskan untuk berbagi cerita kepada seluruh orang di anggota, atau memilih salah satunya saja. Setelah itu diakhir pertemuan tak langsung ini, kami akan berdiskusi tentang makna hidup. Perkumpulan ini memang belum banyak diketahui orang. Anggotanya masih bisa dihitung jari.Setiap anggotanya pun kebanyakan berasal dari kota yang berbeda-beda. Meskipun begitu, aku sudah merasa betah untuk bergabung bahkan aku selalu menantikan hari Jumat sore tiba.

Sore ini, aku kembali duduk dibangku kantor. Hujan sore itu berhasil membuat aku semakin terpacu untuk membuka website itu. Minggu lalu, kami membahas tentang cerita dari salah seorang anggota yang merasa jika ia merasa tidak memiliki arah tujuan hidupnya lagi. Dan berkat solusi dari anggota lainnya, ia berhasil memantapkan diri dengan tujuannya.

“Aku akan mulai mengembalikan diriku seperti dulu lagi. Dan menurutku, saat ini aku sangat membutuhkan liburan,”

Katanya.

“Mungkin kamu butuh ke pantai?”

Jawab anggota lain.

“Menurutku itu bukan ide yang terlalu buruk,”

Setelah itu, si-yang-punya-masalah menghabiskan waktunya selama empat hari untuk berlibur. Dan benar saja, beberapa hari kemudian ia mengunggah foto dirinya yang terlihat lebih ceria melalui akun media sosialnya.

Setelah beberapa saat membuka situs website tersebut, aku menemukan sebuah pesan pribadi yang dikirimkan seseorang di akun milikku. Dan benar saja, sekitar setengah jam yang lalu, seorang anggota berusaha untuk menyampaikan ceritanya padaku. Dan ini baru pertama kalinya aku mendapat pesan pribadi di website ini. Sepertinya ia hanya ingin menyampaikan ceritanya padaku, tidak pada keseluruhan anggota.

Dari: Darata
(Jumat, 15:30)

Hai Tania,
Kamu pasti mengenaliku kan? Aku sudah bergabung di klub ini selama hampir tiga bulan yang lalu. Kamu tahu kenapa aku mengirimkan pesan ini kepadamu? Minggu yang lalu, aku sempat membaca semua petuah dari anggota-anggota klub dan menurutku kamu lah yang benar-benar paling bisa untuk memberikan solusi terbaik. Aku tahu mungkin kita belum pernah bertemu langsung, tapi aku merasa kamu bisa menjadi teman baikku bahkan diluar perkumpulan ini sekalipun. Kita berasal dari kota yang sama, Bandung, dan mungkin itu juga alasanku memilih kamu untuk menjadi bagian dari ceritaku ini.
Tania, aku ingin menceritakan sebuah cerita padamu.
Pernahkah kamu merasa sangat kehilangan sosok sahabat?
Mungkin kedengarannya ini cerita yang cukup wajar, karena pasti semua orang pasti akan hilang di hidup kita. Entah untuk sementara atau untuk selamanya. Tapi kali ini aku merasa kehilangan salah seorang sahabat yang menurutku cukup baik. Bukan karena tiada, tetapi aku merasa ia sudah berubah menjadi orang lain. Kamu pernah merasakan ini, Tania?
Hampir empat tahun yang lalu, aku memiliki seorang sahabat baik. Ia berasal dari kota yang sama denganku, dan kami memiliki segala kesamaan dalam berbagai hal. Kami sering menghabiskan waktu bersama, menonton, karaoke, foto, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Kami sama-sama suka untuk mencoba makanan baru dan setiap hari kerjaan kami hanya mencoba kuliner diberbagai penjuru Jawa Barat. Tak beberapa lama, aku dan dia berada di kelas yang berbeda. Mulanya komunikasi kami masih baik-baik saja. Kami masih sering bertegur sapa saat bertemu dan saling menghubungi melalui pesan. Tetapi aku merasa, semakin lama ia semakin berbeda. Ia bukan lagi orang yang aku kenal, bahkan ia seperti hendak menjauh dengan cara memberi alasan untuk benar-benar tidak ingin bertemu denganku. Aku mulai merasa jika ia sudah menemukan sahabat yang lebih baik dariku. Aku mulai merasakan apakah ini yang dinamakan rasa dicampakkan oleh sahabat sendiri? Tanpa memikirkan diri sendiri, aku mulai untuk memilih mencari teman-teman lainnya. Meskipun sebenarnya aku merasa jika pertemanan ini seharusnya tidak berakhir seperti ini. Kami jarang bertemu dan akhirnya kami lost contact. Kami memulai untuk menjalani hidup masing-masing. Dan dibeberapa hari yang lalu, aku menemukan sebuah hadiah dan pesan yang dikirim seseorang tepat didepan rumahku. Ternyata ia yang mengirimnya. Ia bilang jika ia menyayangkan persahabatan kami yang menurutnya tak seperti dulu lagi. Ia merasa jika aku sudah berubah menjadi sosok yang lain. Ia meminta maaf jika ia punya salah, karena beberapa hari lagi ia akan meninggalkan kota ini untuk melanjutkan studinya.
Menurutmu, apa yang harus aku lakukan, Tania?

Aku mengulang untuk membaca pesan Darata sebanyak lima kali. Aku bisa merasakan bagaimana sedihnya berada di posisi Darata yang merasa kehilangan sahabat karena dulu aku pernah merasakan hal yang sama. Bahkan dulu aku sempat rela untuk meninggalkan seseorang yang sangat aku suka demi sahabatku yang ternyata dekat dengan pria tersebut. Menurutku lebih baik kehilangan orang yang dicintai dibanding kehilangan sahabat sendiri, adil bukan?

Kemudian aku mulai mengetikkan kalimat-kalimat yang terlintas di kepalaku saat itu.

Tania: Siapa nama temanmu itu, Darata?
Darata: Dera, kenapa?
Tania: Lebih baik besok kamu menemui Dera.
Darata: Kenapa? Aku merasa canggung untuk bertemu dengannya lagi.
Tania: Kalau setelah ini, selamanya kamu tidak bisa bertemu dengan Dera lagi, bagaimana?
Darata: Maksud kamu?
Tania: Kalau besok dan selamanya, Dera hanya sebuah nama saja bagaimana? Dera bisa jadi orang sukses diluar sana yang bahkan lupa denganmu karena kamu tidak memaafkannya. Atau nama Dera ada di papan nisan dengan sejuta kenangan kalian dulu, bagaimana?

Darata tidak membalas pesanku selanjutnya. Sepertinya ia membutuhkan waktu sendiri untuk menentukan pilihannya.

Beberapa menit kemudian aku kembali membuka website perkumpulan itu. Seperti biasa, 15 menit sebelum kami mengakhiri pertemuan, kami harus berdiskusi tentang makna kehidupan.

“Menurut kalian bagaimana makna persahabataan yang sesungguhnya?”

Tanya seorang anggota.

“Menurutku, persahabatan yang tepat adalah tentang suka dan duka. Asal dia ada dikeduanya, berarti ia sahabat”

Jawab seorang anggota.

“Menurutku, sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa menjadi pendengar dan penasihat terbaik,”

“Menurutku, selama kita merasa betah didekatnya, ia adalah sahabat,”

“Menurutku, hmm…aku tidak terlalu paham persis tentang sahabat. Aku tidak memiliki sahabat baik hingga hari ini haha”

Aku hanya menyimak sambil sesekali membayangkan apa respon dari Darata nanti jika ia membaca diskusi ini.

“Menurutku, persahabatan bukan tentang keberadaan. Entah hari ini bisa bertemu atau tidak, sahabat akan tetap menjadi sahabat. Selama namanya masih ada dalam memori indah kita, dia tetap sahabat. Itu yang dikatakan Dera, sahabat lamaku, 4 tahun yang lalu,”

Jawab Darata tak beberapa lama.

Kami mengakhiri pertemuan sore itu.

Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates