Pria itu Andri, dengan nama yang lengkap yang hampir serupa dengan nama saya, Noviandri. Ia salah satu rekan saya di tempat kursus belajar SMA. Kami berbeda sekolah, tetapi kebetulan berada dikelas yang sama di kursus tersebut. Sejak pertama kali mengenalnya, ia adalah tipikal pria yang bisa dikatakan misterius. Selalu memilih untuk diam dan duduk dibangku pojok, tertawa sesekali ketika teman-teman dan guru memberikan lelucon, dan kembali diam dengan buku kecil berwarna biru yang selalu ia genggam kemanapun. Ia hanya sesekali mengeluarkan suara. Hanya saat ia ingin bertanya tentang soal yang tidak ia mengerti. Dari pertanyaannya itu, tercemin jelas jika ia adalah murid yang cerdas.
Karena kegiatan les hampir berjalan sekitar tiga bulan dan kami sama sekali tidak pernah bercakapan, akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai mengajaknya berbicara. Beberapa menit sebelum kelas dimulai, saya menyapanya.
“Hai”
Kata saya.
Ia mengalihkan pandangan tepat kearah saya sambil tersenyum sebentar.
“Andri ya?”
“Iya”
“Tau nama aku gak?”
“Novia kan? Sama kayak nama aku”
“Hah? Memang nama kamu siapa?”
“Noviandri”
“Oh iya bener, nama kita sama ha ha ha”
Setelah itu kami memulai perbincangan. Ternyata Andri juga suka menulis. Dan ternyata selama pelajaran di kursus ia jarang mencatat materi pelajaran, melainkan sibuk menulis puisi di buku biru yang selalu ia bawa.
“Boleh liat bukunya?”
Kata saya penasaran. Ia menggelengkan kepala.
“Engga, banyak rahasia disini,”
“Oke kalo gak boleh”
Kata saya yang kemudian kembali duduk dibangku.
Setelah perbincangan hari itu, kami mulai akrab. Andri ternyata tidak sependiam yang saya kira. Wawasannya luas, entah itu urusan mata pelajaran maupun agama. Dan setelah saya perhatikan, setiap kali pelajaran di kursus, ia selalu menulis sesuatu di buku birunya. Hal itu yang selalu membuat saya penasaran. Entah puisi apa yang ia ciptakan di keadaan seperti itu. Hingga suatu hari, kebetulan saya dan kedua teman sekelas saya ditempat kursus sedang merasa sedih dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan dalam tulisan ini.
“Ndri buatin puisi dong, biar menghibur”
Kata saya berusaha untuk menghibur diri. Andri hanya diam dan kembali menuliskan sesuatu dibukunya. Beberapa menit sebelum kelas selesai, itu pertama kalinya ia menyerahkan buku birunya
“Baca halaman ini aja, jangan halaman yang lain”
Katanya memberi peringatan. Saya membaca seksama dengan perasaan sedikit terhibur.
“Boleh disobek aja gak? Biar aku simpen”
Ia mengangguk.
Kertas yang diberikan oleh Andri kemudian saya simpan didalam tas saya. Entah kenapa saya rasa ia cukup genius, bisa menciptakan kata-kata dalam situasi ia yang sedang fokus belajar saat itu.
Tangisan Gadis Itu
Hari ini aku lihat ia menangis
Tanpa aku tahu kenapa dan mengapa
Hai gadis dengan nama yang hampir serupa denganku
Jangan menangis ya
Semoga kebahagiaan tetap menjadi milikmu
Semoga besokmu lebih baik dari kemarinmu
-Andri-
Beberapa hari setelah itu, saya, Andri dan beberapa teman saya duduk dibangku depan kursus sambil menyantap batagor terenak sepanjang masa (jaman itu).
“Jadi kenapa sampai sekarang buku birunya gak boleh sama sekali dilihat?”
Tanya saya pada Andri.
“Gak boleh, itu rahasia”
“Seriusan rahasia? Memang puisi tentang siapa sih?”
Tanya saya semakin penasaran.
“Kalian gak perlu tahu”
“Oh pasti kecengan ya? Kayanya aku tahu”
“Siapa memang?”
“Anak kelas kita kan?”
“Hah? Kata siapa?”
“Gak usah pura-pura. Aku tahu kok. Perlu aku sebut namanya?”
“Sebut aja, lagian juga pasti salah”
“Dea, kan?”
Setelah saya menyebut nama itu, Andri langsung diam. Sesuai dugaan, Andri memang suka dengan Dea. Apalagi alasannya karena saya beberapa kali memergokinya melirik kearah Dea kemudian menulis di buku birunya. Dan pasti, apalagi alasannya kalau si buku biru jadi rahasia tempat Andri mencurahkan isi hatinya pada Dea.
“Tuh kan diem, bener kan?”
Tanya saya lagi. Andri hanya diam seperti kebingungan ingin mengelak atau tidak.
“Tenang, gak akan aku bocorin kok. Dea baik, pinter. Mau aku kasih tahu alamatnya gak?”
Kata saya berusaha menjadi mak comblang diantara keduanya. Menurut saya mereka berdua sangat cocok. Andri pintar, dan Dea juga. Dea baik, dan Andri juga. Mereka akan menjadi pasangan yang sempurna.
Sebelum saya beraksi, ternyata Andri lebih dulu melakukan pergerakan. Ia mendapatkan nomer ponsel Dea yang entah darimana didapatkan. Dengan sedikit basa-basi, Andri menanyakan tentang buku pelajaran yang berujung pada perbincangan tentang aktivitas masing-masing.
“Andri baik kan?”
Tanya saya kepada Dea yang baru saja menyelesaikan ceritanya tentang Andri.
Saat itu kami berdua sedang didalam angkot menuju ke tempat kursus.
“Baik sih, tapi….”
“Tapi apa?”
“Aku gak bisa bikin komen. Terlalu menjudge nanti,”
“Tapi menurut aku kalian cocok”
“Karena?”
“Kalian sama-sama baik, sama-sama pinter”
Dea hanya membalas dengan senyuman sambil berteriak kecil kepada supir angkot untuk berhenti karena kami sudah sampai ditempat tujuan.
“Memang, dia sms apa aja?”
Tanya saya masih penasaran.
“Ya gitu, tentang kegiatan masing-masing”
“Kamu serius gak mau sama dia?”
“Aku gak kepikiran untuk serius sekarang. Bentar lagi kita UN kan”
“Bukannya malah kalian bisa belajar bareng ya? Secara jenius ketemu jenius”
Entah kenapa saya sangat antusias untuk menjodohkan kedua orang ini.
Beberapa minggu setelah itu, Andri mengajak saya untuk menonton bioskop. Kebetulan saat itu film Habibie dan Ainun sedang banyak dibicarakan orang-orang. Dan untuk menghindari kesalahpahaman dari orang sekitar, saya juga mengajak kakak saya untuk nonton. Dari awal sampai akhir pemutaran film, Andri nampak begitu serius memperhatikan aktor Reza Rahardian yang memerankan tokoh Habibie. Dan setelah menonton, Andri memilih untuk diam dan langsung kembali pulang.
Keesokan harinya, Andri datang telat dikelas dan penampilannya benar-benar membuat saya kaget. Ia terlihat lebih rapi dan membawa tas jinjing hitam yang sama dengan yang digunakan oleh Habibie.
“Kok jadi kaya Habibie gitu sih?”
Kata saya melihat penampilannya yang sangat berubah.
“Biar menjiwai”
Bahkan sampai ke cara bicaranya yang sangat berubah seperti logat pak Habibie.
“Be yourself”
Kata saya sembari menahan tawa.
Sepulang dari kursus saya menuju ke tempat pangkalan angkot dan masuk ke salah satu angkot berwarna merah hijau.
“Loh tumben naik angkot juga?”
Kata saya pada Andri yang tiba-tiba sudah berada disebelah saya.
“Iya, motor saya lagi diservice”
“Saya?”
Kata saya yang merasa asing dengan sebutan baru yang ia gunakan.
“Jadi kenapa mau jadi kayak Habibie?”
“Biar menjiwai”
“Menjiwai apa?”
Ia hanya menjawab dengan senyuman.
“Bukan karena biar dapet istri kaya Ainun kan?”
“Bukan, memang saya pingin jadi sukses kaya Habibie”
“Terus?”
“Saya rencananya mau lanjut kuliah di Jerman”
“Kenapa gak disini?”
“Disuruh orang tua. Lagian saya juga pingin ambil kedokteran. Kebetulan kedokteran disana bagus”
“Oh”
Jawab saya singkat.
Setelah pertemuan diangkot itu, saya tidak melihat Andri di kelas lagi. Beberapa minggu ia tidak masuk kelas. Sampai akhirnya sekitar satu bulan kemudian, ia tiba-tiba masuk ke kelas namun dengan penampilan yang berbeda. Andri menggunakan penutup kepala dan wajahnya tampak lebih pucat.
“Dri kenapa pake kupluk? Kayak orang habis kemo aja”
Kata salah satu murid dikelas dan kemudian kami semua tertawa. Begitu juga dengan Andri.
Beberapa hari setelah itu, tampak wajah Dea yang seperti tidak biasanya. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
“Dea, kenapa?”
Tanya saya.
“Aku kesel Nov, sama Andri”
“Memang kenapa dia?”
“Ngerasa gak sih akhir-akhir ini dia sering ngikutin aku diem-diem sepulang les, bahkan dia pernah tiba-tiba bilang kalo ada didepan rumah aku. Gak tau, aku takut aja sama dia. Kok jadi nyeremin gitu,”
“Dia bilang gak mau ngapain?”
“Engga, dia kayak bener-bener pingin tahu aktivitas aku apa aja, gitu lah pokoknya. Aku takut,”
“Aku juga gak ngerti sama dia yang sekarang, De. Apa perlu kita tanyain ke orangnya langsung?”
“Gak usah, aku takut”
“Yaudah diemin aja dulu. Kalo dia masih gitu, nanti aku tanyain langsung mau dia apa”
Kata saya berusaha menenangkan Dea.
Sekitar seminggu setelahnya, saya bertemu dengan Dea di angkot ketika hendak berangkat ke tempat kursus.
“Nov, aku mau cerita banget. Tapi kita kan mau ke tempat les. Takut ketahuan orangnya kalo aku ngomongin ke orang lain.”
“Cerita tentang Andri, De?”
“Iya Nov”
“Yaudah kita kemana dulu gitu, lagian masih setengah jam lagi kan kelasnya”
Saya dan Dea kemudian memilih untuk duduk-duduk ditempat makan yang tidak jauh dari tempat les.
“Jadi gimana, De?”
“Aku mau cerita Nov, tapi takut nangis”
“Cerita aja. Gak papa”
Dea bilang beberapa hari yang lalu ia memutuskan untuk menemui Andri. Ia penasaran kenapa Andri mengikutinya terus setiap pulang kursus. Dengan wajah serius Andri mengajaknya untuk bertemu kembali besok karena ada yang ingin ia sampaikan. Akhirnya Dea menuruti ajakan Andri.
Keesokannya mereka bertemu disebuah tempat makan steak. Andri sesekali memandang kearah Dea yang membuatnya merasa sedikit risih.
“Kenapa?”
Tanya Dea.
“Gak papa, saya gak pernah liat wajah kamu dari deket kayak gini. Kamu cantik.”
Kalimat itu semakin membuat Dea merasa risih dan ingin cepat pulang.
“Jadi kamu mau bilang apa kemarin?”
“Oh iya, sebelum saya mau ngomong sama kamu, mending kamu baca ini dulu,”
Kata Andri sambil mengeluarkan buku kedokteran yang cukup tebal dari tasnya. Ia membuka beberapa halaman yang ada didalam buku itu.
“Baca aja kan?”
“Iya”
Sambil memasang kacamatanya, Dea membaca setiap kalimat yang ada di buku itu. Ia mengerti persis bahwa halaman yang ia baca saat itu adalah tentang sebuah penyakit yang mungkin terdengar asing ditelinganya.
“Kamu udah selesai baca?”
Tanya Andri.
“Ya”
“Kamu udah tahu persis apa penyakitnya?”
“Kanker tulang kan? Aku masih agak asing sama penyakit itu”
“Habis ini kamu gak akan asing sama penyakit itu”
“Maksud kamu?”
“Saya kena kanker tulang”
Dea menutup bibir nya rapat-rapat. Ia sama sekali tidak menyangka apa yang dikatakan oleh Andri barusan. Perasaannya antara merasa bersalah karena sering menjudge dan merasa kasihan dengan kondisi Andri saat ini.
“Beberapa waktu lalu saya habis di kemo, makanya kepala saya botak gini”
Katanya sambil melepas penutup kepala yang selama ini ia gunakan. Ia tersenyum sambil memperlihatkan bibirnya yang berwarna pucat.
“Saya bilang gini bukan karena saya mau kamu kasihanin. Sebenarnya saya cuma mau ngajak kamu ngobrol lebih dekat kayak gini. Saya gak akan lama lagi..”
“Maksud kamu?”
“Maksud saya, habis lulus nanti saya mau ngelanjutin kuliah kedokteran di Jerman. Doain saya bisa lancar, saya juga terus doain kamu kok.”
Dea membalas kalimat tersebut dengan senyum.
* * *
Perjalanan dengan angkutan umum selalu berhasil mengembalikan memori saya dengan cerita-cerita jaman SMA. Salah satunya tentang kisah Dea dan Andri ini. Entah kenapa, sampai hari ini saya masih merasa bahwa keduanya sangat cocok. Andri si pria misterius itu, saya sama sekali tidak pernah bertemu dengannya setelah kursus berakhir.
Terakhir kali saya mendengar kabar dari pengajar di kursus kalau Andri berhasil melanjutkan studinya di Jerman. Kondisinya sepertinya mulai membaik. Saya sempat melihat beberapa postingannya di media sosial yang berisikan tentang pemandangan indah di Jerman. Mungkin Andri sudah menemukan kembali kebahagiaannya di benua Eropa. Dan Dea si wanita jenius ini sekarang sudah menyelesaikan studinya dan sedang menjalani training di Sumatra. Beberapa kali saya sempat menghubunginya tetapi belum sempat bertemu karena kesibukan masing-masing. Dan setiap kali disinggung mengenai Andri, Dea pasti tertawa.
Salah satu cerita yang pernah Dea alami adalah tentang ulang tahunnya sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu, ulang tahun Dea bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga saya, teman-teman saya, dan pengajar di kursus berencana untuk mengadakan buka puasa bersama. Kami sibuk bercerita tentang pengalaman masing-masing diperguruan tinggi sampai akhirnya salah satu pengajar datang membawa sebuah kue untuk Dea.
“Ini kuenya di import langsung dari Jerman loh”
Kata pengajar itu sambil tertawa.
“Hah, maksudnya?”
Tanya Dea penasaran.
“Iya, pesanan dari orang yang dari Jerman”
Wajah Dea langsung memerah ketika kami menggodanya saat itu. Dan ketika kotak dibuka, ternyata ada sebuah tulisan yang terpajang di kue ulang tahun tersebut. Kami sama sekali tidak bisa membacanya karena tulisan yang dicantumkan menggunakan bahasa Jerman. Dengan penuh inisiatif, salah seorang teman saya mencoba mengartikan tulisan tersebut dengan menggunakan google translate. Dan sebuah pesan mengharukan berhasil membuat mata Dea berbinar-binar.
“Selamat ulang tahun untukmu. Kamu mau bersabar menunggu saya kembali ke Indonesia lagi, Ainun?”

