C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >

Sore ini aku kembali duduk dibangku kantor. Kali ini bukan untuk mengerjakan tugas perkantoran, tetapi yang lain. Sejujurnya, beberapa bulan ini aku bergabung dalam sebuah perkumpulan cerita. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasa, kami sama sekali tidak diperbolehkan untuk bertatap muka secara langsung. Kami akan dipertemukan disebuah situs website setiap hari Jumat jam 4 sore. Pada jam tersebut, kami akan saling bertukar sapa dan berbagi cerita masing-masing tentang banyak hal mulai dari kisah menyenangkan bahkan tragis sekalipun. Disini kami dibebaskan untuk berbagi cerita kepada seluruh orang di anggota, atau memilih salah satunya saja. Setelah itu diakhir pertemuan tak langsung ini, kami akan berdiskusi tentang makna hidup. Perkumpulan ini memang belum banyak diketahui orang. Anggotanya masih bisa dihitung jari.Setiap anggotanya pun kebanyakan berasal dari kota yang berbeda-beda. Meskipun begitu, aku sudah merasa betah untuk bergabung bahkan aku selalu menantikan hari Jumat sore tiba.

Sore ini, aku kembali duduk dibangku kantor. Hujan sore itu berhasil membuat aku semakin terpacu untuk membuka website itu. Minggu lalu, kami membahas tentang cerita dari salah seorang anggota yang merasa jika ia merasa tidak memiliki arah tujuan hidupnya lagi. Dan berkat solusi dari anggota lainnya, ia berhasil memantapkan diri dengan tujuannya.

“Aku akan mulai mengembalikan diriku seperti dulu lagi. Dan menurutku, saat ini aku sangat membutuhkan liburan,”

Katanya.

“Mungkin kamu butuh ke pantai?”

Jawab anggota lain.

“Menurutku itu bukan ide yang terlalu buruk,”

Setelah itu, si-yang-punya-masalah menghabiskan waktunya selama empat hari untuk berlibur. Dan benar saja, beberapa hari kemudian ia mengunggah foto dirinya yang terlihat lebih ceria melalui akun media sosialnya.

Setelah beberapa saat membuka situs website tersebut, aku menemukan sebuah pesan pribadi yang dikirimkan seseorang di akun milikku. Dan benar saja, sekitar setengah jam yang lalu, seorang anggota berusaha untuk menyampaikan ceritanya padaku. Dan ini baru pertama kalinya aku mendapat pesan pribadi di website ini. Sepertinya ia hanya ingin menyampaikan ceritanya padaku, tidak pada keseluruhan anggota.

Dari: Darata
(Jumat, 15:30)

Hai Tania,
Kamu pasti mengenaliku kan? Aku sudah bergabung di klub ini selama hampir tiga bulan yang lalu. Kamu tahu kenapa aku mengirimkan pesan ini kepadamu? Minggu yang lalu, aku sempat membaca semua petuah dari anggota-anggota klub dan menurutku kamu lah yang benar-benar paling bisa untuk memberikan solusi terbaik. Aku tahu mungkin kita belum pernah bertemu langsung, tapi aku merasa kamu bisa menjadi teman baikku bahkan diluar perkumpulan ini sekalipun. Kita berasal dari kota yang sama, Bandung, dan mungkin itu juga alasanku memilih kamu untuk menjadi bagian dari ceritaku ini.
Tania, aku ingin menceritakan sebuah cerita padamu.
Pernahkah kamu merasa sangat kehilangan sosok sahabat?
Mungkin kedengarannya ini cerita yang cukup wajar, karena pasti semua orang pasti akan hilang di hidup kita. Entah untuk sementara atau untuk selamanya. Tapi kali ini aku merasa kehilangan salah seorang sahabat yang menurutku cukup baik. Bukan karena tiada, tetapi aku merasa ia sudah berubah menjadi orang lain. Kamu pernah merasakan ini, Tania?
Hampir empat tahun yang lalu, aku memiliki seorang sahabat baik. Ia berasal dari kota yang sama denganku, dan kami memiliki segala kesamaan dalam berbagai hal. Kami sering menghabiskan waktu bersama, menonton, karaoke, foto, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Kami sama-sama suka untuk mencoba makanan baru dan setiap hari kerjaan kami hanya mencoba kuliner diberbagai penjuru Jawa Barat. Tak beberapa lama, aku dan dia berada di kelas yang berbeda. Mulanya komunikasi kami masih baik-baik saja. Kami masih sering bertegur sapa saat bertemu dan saling menghubungi melalui pesan. Tetapi aku merasa, semakin lama ia semakin berbeda. Ia bukan lagi orang yang aku kenal, bahkan ia seperti hendak menjauh dengan cara memberi alasan untuk benar-benar tidak ingin bertemu denganku. Aku mulai merasa jika ia sudah menemukan sahabat yang lebih baik dariku. Aku mulai merasakan apakah ini yang dinamakan rasa dicampakkan oleh sahabat sendiri? Tanpa memikirkan diri sendiri, aku mulai untuk memilih mencari teman-teman lainnya. Meskipun sebenarnya aku merasa jika pertemanan ini seharusnya tidak berakhir seperti ini. Kami jarang bertemu dan akhirnya kami lost contact. Kami memulai untuk menjalani hidup masing-masing. Dan dibeberapa hari yang lalu, aku menemukan sebuah hadiah dan pesan yang dikirim seseorang tepat didepan rumahku. Ternyata ia yang mengirimnya. Ia bilang jika ia menyayangkan persahabatan kami yang menurutnya tak seperti dulu lagi. Ia merasa jika aku sudah berubah menjadi sosok yang lain. Ia meminta maaf jika ia punya salah, karena beberapa hari lagi ia akan meninggalkan kota ini untuk melanjutkan studinya.
Menurutmu, apa yang harus aku lakukan, Tania?

Aku mengulang untuk membaca pesan Darata sebanyak lima kali. Aku bisa merasakan bagaimana sedihnya berada di posisi Darata yang merasa kehilangan sahabat karena dulu aku pernah merasakan hal yang sama. Bahkan dulu aku sempat rela untuk meninggalkan seseorang yang sangat aku suka demi sahabatku yang ternyata dekat dengan pria tersebut. Menurutku lebih baik kehilangan orang yang dicintai dibanding kehilangan sahabat sendiri, adil bukan?

Kemudian aku mulai mengetikkan kalimat-kalimat yang terlintas di kepalaku saat itu.

Tania: Siapa nama temanmu itu, Darata?
Darata: Dera, kenapa?
Tania: Lebih baik besok kamu menemui Dera.
Darata: Kenapa? Aku merasa canggung untuk bertemu dengannya lagi.
Tania: Kalau setelah ini, selamanya kamu tidak bisa bertemu dengan Dera lagi, bagaimana?
Darata: Maksud kamu?
Tania: Kalau besok dan selamanya, Dera hanya sebuah nama saja bagaimana? Dera bisa jadi orang sukses diluar sana yang bahkan lupa denganmu karena kamu tidak memaafkannya. Atau nama Dera ada di papan nisan dengan sejuta kenangan kalian dulu, bagaimana?

Darata tidak membalas pesanku selanjutnya. Sepertinya ia membutuhkan waktu sendiri untuk menentukan pilihannya.

Beberapa menit kemudian aku kembali membuka website perkumpulan itu. Seperti biasa, 15 menit sebelum kami mengakhiri pertemuan, kami harus berdiskusi tentang makna kehidupan.

“Menurut kalian bagaimana makna persahabataan yang sesungguhnya?”

Tanya seorang anggota.

“Menurutku, persahabatan yang tepat adalah tentang suka dan duka. Asal dia ada dikeduanya, berarti ia sahabat”

Jawab seorang anggota.

“Menurutku, sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa menjadi pendengar dan penasihat terbaik,”

“Menurutku, selama kita merasa betah didekatnya, ia adalah sahabat,”

“Menurutku, hmm…aku tidak terlalu paham persis tentang sahabat. Aku tidak memiliki sahabat baik hingga hari ini haha”

Aku hanya menyimak sambil sesekali membayangkan apa respon dari Darata nanti jika ia membaca diskusi ini.

“Menurutku, persahabatan bukan tentang keberadaan. Entah hari ini bisa bertemu atau tidak, sahabat akan tetap menjadi sahabat. Selama namanya masih ada dalam memori indah kita, dia tetap sahabat. Itu yang dikatakan Dera, sahabat lamaku, 4 tahun yang lalu,”

Jawab Darata tak beberapa lama.

Kami mengakhiri pertemuan sore itu.



21 November. Pukul 20.00
      Lahirlah seorang bayi perempuan mungil di kamar VVIP. Ibunya sudah mempersiapkan sebuah nama untuknya, Tiara.  Sayangnya, dibalik keceriaan malam itu, keluarga yang datang seperti tidak mampu menahan rasa sedihnya. Tangisan bayi ini janggal. Tidak seperti pada umumnya bayi yang menangis saat dilahirkan. Dokter segera memeriksanya dan sebuah vonis diberikan kepada bayi yang masih polos tersebut. Ia mengalami tuna wicara. Senyuman dari para pengunjungnya seolah hilang secara perlahan. Mata sang ibu seperti hendak menampung semua air mata yang ingin keluar. Ia tidak bisa meraba masa depan putrinya kelak dengan kekurangan ini.

        Di tempat yang berbeda, lahirlah seorang anak laki-laki. Namanya Ali. Berbeda dengan bayi sebelumnya, tangisan Ali terdengar sangat kencang. Bahkan dukun anak yang menggendongnya seolah kewalahan untuk menghadapi bayi yang baru lahir di dunia itu. Ibu Ali tersenyum bangga. Kelak ia menginginkan sang putra menjadi pekerja keras seperti almarhum ayahnya.

       21 Juli. Pukul 7.00
    Usia Ali tahun ini 16 tahun. Ia gemar menyenandungkan lagu-lagu ala 70an. Lagu favoritnya apalagi kalau bukan Romi dan Julie. Ia selalu menyanyikan lagu itu dikamar mandi. Jika ibunya sudah kesal dan mengomelinya, baru ia diam. Setiap sore Ali bermain ke tanah lapang. Biasanya ia meminta izin pada ibunya untuk bermain bersama teman-temannya. Padahal sebenarnya ia menghabiskan sore hari untuk duduk di atas pohon sembari menyetel radio kecil peninggalan ayahnya. Kaset usang dari lagu-lagu favoritnya juga diwariskan dari ayahnya. Entah apa yang membuat Ali jatuh cinta dengan semua barang-barang peninggalan ayahnya. Menurutnya, semua barang-barang tersebut seolah memiliki sebagian dari nyawa ayahnya saat ini. Dibalik kesenduan diri Ali, ternyata ia jago mengaji. Ia mendapat julukan sebagai murid teladan di pesantrennya. Hafalan suratnya sudah sangat hebat. Namun ia masih enggan untuk menyombongkan diri. Ilmunya masih jauh dari kata hebat, menurutnya.

   Tiara tumbuh menjadi gadis belia yang cantik. Kekayaan dari orang tuanya menunjangnya untuk merawat diri. Banyak pria yang mulai curi-curi pandang kearahnya. Hanya saja tidak ada yang mau mendekatinya. Mereka tahu keterbatasan Tiara dan enggan untuk menjadikannya kekasih. Walaupun begitu, Tiara sama sekali tidak merasa sedih. Ia selalu rajin untuk merajut, seperti gadis-gadis lain. Selain itu, ia membuka pelatihan merajut untuk para wanita muda yang ingin belajar merajut. Dengan sabar, ia membantu mereka sampai benar-benar pandai. Ia ingin membagikan ilmunya secara cuma-cuma. Meskipun sejak lahir sudah bergelimpah harta, Tiara tidak menjadi pribadi yang sombong. Ia mau membantu pekerjaan rumah. Bahkan, ia selalu ingin menemani pembantunya saat berbelanja di pasar. Menurutnya, pasar adalah singgahsana baru yang unik dan berbeda dengan kehidupannya selama ini.

  Pagi ini, Tiara kembali menemani pembantunya berbelanja di pasar. Kali ini, rumahnya akan kedatangan tamu penting ayahnya sehingga masakan-masakan lezat harus disediakan di rumahnya. Tiara membantu pembantunya membawa barang-barang bebelanja. Sesekali ia memandang kearah bumbu-bumbu masakan dan bertanya kepada penjualnya jenis bumbu masakan tersebut.

   Ditengah perjalanannya untuk mencari jahe, Tiara seperti mendengar suara indah yang menyanyikan lagu-lagu yang sering di putar oleh neneknya. Lagu itu mengingatkan dengan cerita nenek tentang bagaimana perjuangan cinta antara Romeo dan Juliet. Tetapi kali ini, versi Indonesia. Tiara segera mencari tahu sumber suara merdu itu. Tembok pasar menjadi penghalang terakhir antara dirinya dengan sang penyanyi. Ia segera mencari celah agar bisa melihat langsung orang tersebut. Rupanya itu suara Ali. Ia sedang duduk dibelakang pasar setelah seharian membantu membawa barang-barang dagangan ibunya. Saat ini Tiara sudah berada tepat dihadapan Ali yang masih belum sadar akan kehadirannya. Ingin rasanya Tiara berucap, namun keterbatasan menghalanginnya. Ia hanya mampu diam sambil memperhatikan sepatah dua patah kata lagu perpisahan yang di senandungkan oleh pria manis ini.

  Seketika nyanyian Ali terhenti. Ia kaget ketika melihat sudah ada wanita cantik tepat dihadapannya. Ia berusaha untuk tidak terlihat kaku di hadapan Tiara. Ia menundukkan kepala sejenak di sambut oleh senyuman ramah Tiara.

   Suasana terasa dingin walaupun keduanya memasang mimik ramah. Ali segera berusaha untuk mencairkan suasana. Ali mencoba melakukan pendekatan dengan menanyakan siapa namanya. Namun Tiara hanya terdiam dan seperti memasang wajah bingung. Seketika ia pergi meninggalkan Ali dan kembali membantu pembantunya. Sementara Ali masih terdiam terpaku melihat tingkah Tiara yang bak Cinderella di jam 12 Malam.

  Keesokan harinya, Ali menanti di tempat yang sama. Ia masih terbayang wajah cantik Tiara. Ia menantikan kehadiran sang pujaannya tersebut. Namun sayang, penantian Ali kali ini sia-sia. Tiara tidak muncul lagi di hadapannya. Begitu pula esok, lusa, dan seterusnya.

    21 Agustus. Pukul 8.00

  Tepat sebulan setelah jejak gadis cantik yang menghilang itu, Ali mulai menjalani kehidupannya lagi. Ia memilih untuk membantu ibunya di pasar. Walaupun sesekali ia duduk di balik tembok pasar, berharap Tiara mengunjunginya lagi. Ali masih penasaran dengan sosok Tiara. Kenapa tiba-tiba sang gadis meninggalkannya? Apakah ia membuat kesalahan?
   
   Sesaat kemudian muncullah sosok yang diharapkannya sejak sebulan lalu. Jantung Ali berdegup kencang. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang diberikan mainan kesukaannya. Rasa senang, lega, gugup menjadi satu. Ternyata sejak tadi Tiara mencari sosok Ali. Ia segera mengulurkan tangan disambut oleh Ali yang membalas jabatan tangan perkenalan itu. Kali ini Ali mengawasi agar Tiara tidak kabur lagi.

    Tiara menggenggam secarik kertas di tangannya. Ia segera menyerahkannya pada Ali.

    Namaku Tiara. Aku bisu.

    Ali mengangguk seolah paham dengan kondisi Tiara saat ini.

   “Apakah kau masih bersekolah?”

   Tanya Ali lagi. Tiara tersenyum dan segera berlalu. Ia menyisakan pertanyaan yang belum terjawab hingga satu bulan kedepan.

    21 September. 7.30

   Ali kembali menemukan sosok Tiara yang menghilang sejak satu bulan lalu. Kali ini rambut sebahu Tiara sudah mulai memanjang. Ia nampak lebih cantik dari sebelumnya. Tiara kembali tersenyum kepada Ali. Setelah Tiara menjabat tangan Ali, Ia memberikan secarik kertas dengan ukuran dan warna yang sama dengan sebelumnya.

    Tidak. Tidak ada sekolah di sekitar kota yang mau menampungku.

   Ali merasa kasihan dengan Tiara. Walaupun gedung sekolah Ali sangat memprihatinkan, namun saat ini menurutnya pendidikan Tiara lah yang jauh lebih memperhatinkan. Gadis secantik ia harusnya bisa bersekolah di tempat elit, berprestasi, sampai akhirnya menjadi seorang wanita karier yang diidamkan oleh semua pria di dunia. Namun, mungkin dibalik segala harapan sirna tersebut Tuhan memberikan alasan lain. Dengan cara ini Ali bisa berkenalan dengan Tiara. Jika Tiara menjadi wanita karier, mungkin ia akan sulit untuk berkenalan bahkan untuk menjabat tangannya.

    “Berapa usiamu?” 

   Kali ini pertanyaan ketiga kalinya oleh Ali. Ia masih penasaran dengan siapa Tiara. Walaupun mungkin Tiara akan menghilang kembali dan menyisakan tanda Tanya di hati Ali. Ternyata benar. Tiara kembali pergi. Ali kembali menunggu dalam sebuah penantian panjang untuk sebuah jawaban dari Tiara.

    21 Oktober 7.00

    Tiara kembali dengan membawa secarik kertas.

    16 tahun. Bagaimana denganmu?

    “Sama, usiaku juga 16 tahun. Lalu tanggal berapa kau lahir?”

    Rasa penasaran Ali seolah membuatnya lupa untuk harus menanti selama satu bulan lagi. Ali masih terlalu polos untuk tahu tentang rasanya kehilangan. Ia hanya mampu menyenandungkan lagu perpisahan ala Romi dan Julie tanpa mengetahui maknanya.

   Ali kembali menunggu. Kali ini ia mulai kehabisan kesabarannya. Ia segera berjalan menuju sebuah pasar loak yang terletak tidak jauh dari pasar sayuran. Sambil memperhatikan sekitar, ia mencari benda-benda yang sejak tadi ia butuhkan.

    “Mencari apa, nak?”

   Kata pemilik toko yang melihat gelagat kebingungan Ali. Ali baru sadar jika sejak tadi pemilik toko sudah memperhatikannya.

    “Buku bahasa isyarat, ada pak?”

    Katanya mantap.

    Setelah mendapatkan buku yang diinginkan, Ali membuka lembar per lembar dari buku usang itu, Ia tidak sabar untuk mempelajarinya. Ilmu ini mungkin akan ia kembangkan, sama seperti ilmu mengaji. Ali mengucap bismillah tatkala memulai pelajaran isyarat ini, berharap segala kemudahan memperlancar tuntutan ilmu ini.

     21 November. 8:00

    Ali sudah berada di balik tembok pasar. Ia tidak sabar bertemu dengan Tiara lagi. Satu menit dua menit, sosok Tiara belum muncul juga. Ali berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya dengan berbatuk-batuk sedikit. Ibunya yang sejak tadi melihat gelagat aneh anaknya hanya bisa tersenyum. Tingkah orang yang jatuh cinta memang selalu unik.

   Sepasang sepatu coklat sudah berada di depan Ali. Ali yang sejak tadi melamun baru tersadar jika sesosok wanita anggun sudah berada di hadapannya sekitar 5 menit yang lalu. Tiara menyerahkan kertas nya lagi.

    21 November

    Ali tersenyum sejenak.

    “Hey, ulang tahun kita sama”

    Katanya.

    Tiara membalas ucapan Ali dengan tersenyum. Ia menanti pertanyaan selanjutnya dari Ali.

   Di sisi lain, Ali segera memantapkan diri untuk memberikan pertanyaan berikutnya. Namun kali ini ia mengucapkan dengan menggunakan isyarat tangan.

     “Apakah kali ini kau akan menjawab pertanyaanku satu bulan lagi?”

   Katanya dalam sebuah gerakan tangan. Gerakannya masih sangat lamban karena ia masih harus menghafal satu persatu kata yang akan diucapkan.

  Tiara terkejut melihat Ali yang mampu berbicara isyarat. Matanya berkaca-kaca. Ia membalas isyarat Ali.

    “Ya”
   Katanya. Mereka tersenyum bersama. Ali dan Tiara saling berpandangan. Keduanya saling membalas gerakan tangan satu sama lain.

   “Selamat Ulang Tahun, Tiara”
   “Selamat Ulang Tahun, Ali”

Ini hari yang aku tunggu!
Berdasarkan desas desus ayah dan ibu saat sarapan pagi tadi, Andrew akan datang ke rumah. Ya, Andrew adalah teman kecilku. 12 tahun yang lalu, pipinya masih bulat. Ia mampu menghabiskan makanan seberapapun porsinya. Bahkan kadang, aku dan ia akan berebutan demi makanan yang kami dapatkan saat acara pertemuan tetangga.
Andrew memiliki sebuah kebiasaan buruk!
Ia selalu mendekur setiap kali tertidur. Kadang aku merasa risih ketika duduk disampingnya saat pemutaran lagu-lagu senam. Bukannya bersemangat, semua irama lagu akan berhasil membuatnya mengantuk. Andrew selalu malas merapikan barang-barang yang ia gunakan di sekolah. Beberapa kali teguran dari wali kelas baru akan membuat Andrew merapikannya. Namun itu tidak membuat nya jera. Pernah sesekali saat sedang iseng, aku meletakkan kotak puzzle di lantai dekat kursi Andrew. Akibatnya, seorang murid dikelasku terjatuh dan menangis. Aku menyalahkan Andrew atas insiden itu.
“Bukan saya bu, Irenne yang melakukannya”
Adu Andrew. Aku segera membela diri agar tidak dipojokkan.
“Bukan saya bu. Andrew yang melakukannya. Siapa lagi murid dikelas yang tidak pernah merapikan barang selain dia”
Kataku.
Akhirnya, aku dan Andrew di hukum didepan kelas. Banyak kejadian-kejadian antara aku dan Andrew yang jika diingat kembali ini cukup menyenangkan. Saat ini aku merindukan Andrew. Rindu akan suara tegasnya saat upacara bendera lima tahun lalu. Aku rindu dengan semua cerita dan impian Andrew tentang menjadi seorang pilot. Ia ingin terbang mengangkasa dan memeluk semua awan. Itulah tujuan utamanya jika ia menjadi pilot. Entah bagaimana caranya ia bisa memeluk awan, aku pikir itu hanya gurauannya saja.
Andrew lahir dari keluarga menengah atas. Ayahnya pensiunan dari sebuah perusahaan Jepang. Kakak-kakaknya sudah sukses menjadi penerus bisnis Ayahnya. Hanya Andrew lah yang tidak mengikuti jejak ayahnya.
Keluargaku dan keluarganya sudah kenal dekat. Kami memang sudah bertetangga sejak hampir 12 tahun yang lalu. Ibuku mempercayakan semua kondisiku kepadanya. Begitu juga dengan orang tua Andrew. Mereka selalu berpesan agar Andrew mengalah kepadaku.
“Kamu harus mengalah sama Irenne. Dia itu perempuan loh. Gak baik kasar sama perempuan”
Nasihat ibu Andrew pada anaknya. Aku biasanya akan muncul dibalik jendela sambil mengulurkan lidah saat ibunya menasihati untuk mengalah denganku. Aku merasa menang J
Setelah menempuh latihan penerbangan selama hampir 2 tahun, Andrew kembali lagi ke rumah. Waktunya cukup sibuk untuk bisa kembali berada di lingkungan ini. Belum lagi jadwal cuti yang selalu ia gunakan untuk berlatih sendiri.
Hari ini, Mina, adikku akan menemaniku bertemu dengan Andrew. Andrew menjanjikan untuk pertemuan pertama ini di sebuah danau dekat rumah kami. Dulu kami sering menghabiskan waktu bermain perang-perangan dengan menggunakan rantai pohon. Sifat tomboy sudah nampak di diriku sejak kecil. Itulah alasan kenapa Andrew selalu mencibir setiap kali mendengar nasihat ibunya untuk mengalah denganku.
Aku memperhatikan Mina yang sejak tadi membongkar lemari pakaiannya. Ia seperti kebingungan untuk memilih pakaian apa yang akan ia gunakan. Ingin rasanya aku menjitak kepalanya namun kutahan agar tidak ada keributan diantara kami. Setelah hampir setengah ja, akhirnya ia menemukan pilihannya. Pakaian croptee putih ia padukan dengan jeans dongker ketat. Ia menggunakan jaket berbahan bludru berwarna coklat.
“Pakaianmu terlalu berlebihan”
Komentarku. Namun Mina berlalu begitu saja seolah tidak memperdulikanku.
Setelah beberapa menit, akhirnya aku dan Mina sudah berada di danau. Kami melihat sosok punggung Andrew yang sedang melumatkan bibirnya di ujung botol minuman soda. Ia seperti menikmati senja di danau itu.
“Maaf datang telat”
Kata Mina. Aku hanya bisa terdiam melihat wajah Andrew dari dekat. Ia sudah berubah. Postur tubuhnya lebih gagah. Dengan seragam pilot yang dilapisi dengan jaket hitam, ia nampak seperti seorang professional.
“Tidak kok”
Balas Andrew. Ia segera menyerahkan botol minuman soda kepada Mina. Hanya Mina. Aku tidak merasa iri karena aku yakin Andrew pasti masih tahu jika minuman soda tidak baik untuk kesehatanku.
“Bagaimana kabar kakak?”
Kata Mina membuka percakapan.
“Baik. Sama seperti hari-hari sebelumnya”
Jawab Andrew. Andrew menceritakan tentang bagaimana rasanya berada di akademi penerbangan. Bagaimana rasa takut yang tiba-tiba ketika pertama kali ia menerbangkan pesawat. Bagaimana bangganya ia ketika pesawat yang ia kendarai bisa berada di ketinggian. Bagaimana wajah bangga orang tuanya ketika ia menjadi lulusan terbaik di angkatannya.
“Pasti kak Andrew udah punya pacar ya sekarang”
Goda Mina. Mina centil! Ingin rasanya aku menjitak kepalanya.
“Engga kok, aku belum punya pacar”
“Tapi pasti habis ini kakak deket sama pramugari ya. Abis pasti pilot kan mau nya sama pramugari. Udah cantik, tinggi, ketemu terus”
Kata Mina semakin menjadi. Aku semakin sebal dengan adikku yang masih berusia 15 tahun ini. Dengan gampangnya ia berkata begitu kepada Andrew yang jelas-jelas tidak tertarik dengan gadis genit.
“Tidak, seleraku masih sama seperti dulu. Irenne”
Hey! Itu namaku. Aku segera memalingkan wajah kearah Andrew. Seketika, percakapan menjadi sepi. Tidak seorangpun dari kami mau berkata. Aku sibuk dengan berbagai pikiran menyedihkan, dan mungkin itu juga yang dipikirkan oleh Andrew dan Mina.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara parau dari Mina.
“Kak, lupain kak Irenne. Masih banyak wanita baik di luar sana”
Katanya. Aku merasa perkataan Mina barusan antara pembelaan atau malah menjatuhkanku. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.
“Aku gak bisa Na. Kenangan Irenne terlalu indah untuk aku lupakan”
Kata Andrew dengan penuh yakin. Aku semakin tidak bisa menahan air mata.
“Tapi kak Irenne udah gak ada, kak”
Seketika aku kembali mengingat semua tragedi menyedihkan itu lagi. Dimana semua keluargaku menangis ketika dokter mengatakan bahwa denyut nadi ku sudah tidak bergerak lagi. Ibu berusaha memelukku untuk yang terakhir kali. Dan Mina berada di pelukan ayah yang berusaha untuk menenangkannya. Itu saat terakhirku. Namun menurutku, akhir hidup itu belum sesuai dengan keinginanku karena tidak ada Andrew disana. Saat itu adalah waktu orientasi Andrew di akademi penerbangannya. Ia masih belum mendapatkan izin untuk menghadiri upacara pemakamanku. Dan aku tahu alasan sesungguhnya mengapa ia tidak ingin menghabiskan waktu libur di rumah. Itu karena ia masih belum sanggup untuk mengingat semua memori yang pernah dijalani oleh kami.
“Mina, Irenne emang udah gak ada. Tapi aku yakin, Irenne masih bisa melihat kita walaupun di alam yang berbeda. Mungkin saat ini ia sedang tersenyum pas tahu aku sudah kembali dari akademi’
Aku tersenyum. Andrew masih seperti dulu. Penuh dengan pemikiran positif.
“Iya kak, aku yakin kak Irenne gak pernah kecewa tentang pemakamanan nya tanpa kehadiran kak Andrew. Kakak ingat, 12 tahun yang lalu kak Irenne sempat divonis akan hidup paling lama tiga tahun kedepan. Dokter itu pembohong, Buktinya kak Irenne masih bisa bertahan bahkan lebih dari tahun setelah itu”
Vonis dokter memang tidak berarti saat ini. Aku menderita Leukimia dan di usia 11 tahun aku di vonis hidup paling lama di usia 14 tahun. Namun, dengan segala semangat dari keluarga dan juga Andrew, aku bisa bertahan bahkan lebih dari yang di targetkan dokter. Hanya saja, kondisi tubuhku semakin melemah ketika aku menginjak usia 21 tahun. Aku menghabiskan sisa hidup dengan berbaring di ranjang rumah sakit.
“Menurutmu, bagaimana perasaan Irenne kepadaku?”
Tanya Andrew kepada Mina. Aku tersenyum sendiri. Jika aku masih di dunia yang sama, ingin sekali aku memeluk Andrew. Aku ingin kembali menghabiskan waktu hanya berdua dengannya.
“Mana mungkin kak Irenne menyia-nyiakan pria baik kayak kakak”
Kata Mina bersamaan dengan keduanya yang berjalan menjauh dari danau. Matahari senja hampir tenggelam. Suasana danau semakin sepi seolah kalut dalam segala memori indah beberapa tahun lalu. Aku masih duduk disana, bersama dengan kenangan aku dan Andrew.
“Irenne, Menurutmu aku cocok tidak jadi pilot?”
“Kamu jangan jadi pilot, Ndrew. Nanti kalo kamu terbang jauh, yang jagain aku disini siapa?”
“Tenang aja, aku tetap jadi guardian angel nya Irenne kok walaupun dari jauh”

Kami duduk di bangku yang sama. Saling diam dan membisu. Suasana makin terasa menusuk, padahal tidak ada tanda-tanda hujan akan datang. Aku memandang beberapa helai daun yang tergeletak di tanah tepat dibawahku. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, ia masih dengan tatapan lurus. Tanpa ada keinginan untuk memulai perkataan. Dengan sedikit mendehem, aku memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?”

Kataku memecahkan keheningan. Ia masih diam dengan posisi yang sama. Aku dilema, antara tetap disana atau lebih baik pergi saja. Beberapa menit kemudian, ia mengubah posisi duduk. Lebih tegak dan seolah berusaha untuk menjawab pertanyaanku tadi.

“Ada yang ingin aku tanyakan,”

Katanya.

“Silahkan”

 Jawabku singkat.

“Kamu masih dekat dengan dia?”

Aku membuang pandanganku jauh-jauh. Pertanyaan yang sama, seperti beberapa bulan lalu. Aku sadar jika ia tahu jawaban apa yang akan kujawab. Dan aku tidak mengerti mengapa ia masih kekeuh menanyakan hal yang sama yang mungkin membuat hatinya sakit.

“Masih sama, seperti dulu.”

Ia kembali diam.

“Kenapa?”

Tanyaku lagi. Kali ini ia menggelengkan kepala.

“Cuma itu yang mau kamu tanya?”

Tanyaku lagi. Ia menggelengkan kepala (lagi).

“Aku minta maaf”

Katanya.

“Untuk?”

“Untuk kesalahpahaman selama ini. Maaf aku salah,”

“Aku masih gak ngerti,”

 Ia menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia berbicara lebih panjang dari sebelumnya.

“Aku salah menilai kamu. Aku kira kamu lebih dari sekedar dekat dengan dia”

“Maksud kamu?”

“Di hari perpisahan itu, kalian pergi bersama kan? Aku kira kalian….”

“Aku tahu pasti kamu berprasangka buruk saat itu,”

Kataku memotong pembicaraannya.

“Maaf,”

“Aku dan dia masih berteman, sama seperti kita,”

“Maaf aku salah. Aku berprasangka buruk. Padahal aku belum mendengar cerita yang sebenarnya dari kamu. Dan aku, dengan mudahnya mengambil tindakan bodoh,”

“Kamu terlalu mudah menyimpulkan sesuatu,”

“Aku lagi dalam keadaan setengah sadar pas itu. Maaf.”

“Tidak, kamu gak salah kok. Maaf udah bikin salah paham,”

“Engga, aku yang salah,”

Sahutnya. Ia masih kekeuh untuk menyampaikan permintaan maafnya.

“Ayolah, kita ganti topik pembicaraannya. Aku gak suka situasi ini.”

Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Gimana kabar kamu? Gimana kuliah kamu?”

“Ya tetap lancar, sebentar lagi aku sidang. Doakan aku ya,”

“Iya, semoga cepat lulus ya. Semoga jadi penulis terkenal,”

 Aku membalas ucapannya dengan senyum.

“Dan kamu?”

“Aku masih gitu-gitu aja ha ha ha,”

Kali ini ia memperlihatkan raut wajah yang tenang. Inilah dia yang kukenal. Selalu menyampaikan sesuatu dengan ekspresi seolah tidak ada beban hidup. Dan ini yang selalu membuat perasaan sedihku hilang setiap kali mendengar caranya berbicara.

“Kapan kamu serius kuliah?”

“Secepatnya. Aku mau nyusul kamu juga sidang,”

Aku berharap dalam hati semoga ucapannya kali ini serius.

“Trus sekarang kamu lagi suka baca buku apa?”

Katanya. Ia tahu jika aku sangat menyukai topik yang berhubungan dengan novel.  

“Sekarang sih buku Tereliye yang judulnya Matahari. Udah lama sih beli bukunya tapi baru sempat baca sekarang,”

“Oh ya, aku juga sekarang lagi baca buku Tereliye yang judulnya Hujan,”

“Nah seru tuh Hujan, aku udah baca. Kamu suka ceritanya?”

“Suka banget! Tentang cinta sama persahabatan gitu kan. Tapi aku belum selesai bacanya sih,”

Aku senang mendengarnya ketika ia memiliki hobi baru yang positif saat ini, yaitu membaca buku.

“Baca dong sampe selesai, ceritanya seru, bikin terharu.”

“Nanti deh ya aku lanjutin baca. Oh iya, sekarang aku ngoleksi 3 buku Tereliye dirumah,”

“Oh ya? Apa aja itu?”

“Negeri Para Bedebah, Kau aku dan sepucuk angpau merah, Hujan,”

“Wow”

“Oh iya sama satu lagi, buku tuntunan sholat ha ha ha”

Aku membalas tawanya. Teringat beberapa bulan lalu aku memberikannya buku itu dengan harapan agar ia mau menjadi orang yang lebih baik lagi.

“Jadi kita masih bisa berteman, kan?”

Ia mengangguk mantap.

“Gak akan musuhan lagi?”

Kataku setengah menyindir. Ia kembali mengangguk dan tertawa sejenak.

“Yap. Gak akan musuhan lagi. Tapi memang sejak kapan kita musuhan?”

“Jangan pura-pura tidak tahu,”

Kataku sambil menjitak kepalanya. Kami tertawa dengan bahagia hari itu.

“Alana”

Katanya memanggil namaku. Aku menoleh pandangan kehadapannya.

“Kalau kamu mau lebih serius sama pria itu, gak apa-apa kok. Kita tetap bisa berteman,”

Tampak terlihat wajah teduh darinya. Aku menarik nafas dalam-dalam, tidak tahu harus menjawab apa.

Kami segera berdiri dari kursi itu. Pandangan kami masih dengan menatap satu sama lain. Rasa rindu dan sedih menjadi satu. Bagaimana tidak, mungkin sehabis ini kami akan tidak pernah bisa bersama seperti itu lagi.

Ia mengulurkan tangan kearahku dan aku membalasnya.

“Jaga diri baik-baik ya,”

Katanya memberikan pesan bak seorang ayah kepada anak putrinya.

“Kamu juga, jaga diri baik-baik ya. Awas kalo males-malesan kuliah lagi,”

Sahutku sambil tersenyum. Setelah persalaman itu, kami bergegas pulang dengan jalan yang berbeda. Ia ke kiri, dan aku kearah kanan. Adegan ini persis saat kami bertemu didekat tangga kampus, saling bertatap mata dan tanpa ekspresi kami membuang muka masing-masing.

Perjalanan pulang itu sama seperti jalan hidup kami. Ia memilih jalan bahagianya, begitu juga denganku. Kami berada di rute yang berbeda.


Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates