Ndrew

Ini hari yang aku tunggu!
Berdasarkan desas desus ayah dan ibu saat sarapan pagi tadi, Andrew akan datang ke rumah. Ya, Andrew adalah teman kecilku. 12 tahun yang lalu, pipinya masih bulat. Ia mampu menghabiskan makanan seberapapun porsinya. Bahkan kadang, aku dan ia akan berebutan demi makanan yang kami dapatkan saat acara pertemuan tetangga.
Andrew memiliki sebuah kebiasaan buruk!
Ia selalu mendekur setiap kali tertidur. Kadang aku merasa risih ketika duduk disampingnya saat pemutaran lagu-lagu senam. Bukannya bersemangat, semua irama lagu akan berhasil membuatnya mengantuk. Andrew selalu malas merapikan barang-barang yang ia gunakan di sekolah. Beberapa kali teguran dari wali kelas baru akan membuat Andrew merapikannya. Namun itu tidak membuat nya jera. Pernah sesekali saat sedang iseng, aku meletakkan kotak puzzle di lantai dekat kursi Andrew. Akibatnya, seorang murid dikelasku terjatuh dan menangis. Aku menyalahkan Andrew atas insiden itu.
“Bukan saya bu, Irenne yang melakukannya”
Adu Andrew. Aku segera membela diri agar tidak dipojokkan.
“Bukan saya bu. Andrew yang melakukannya. Siapa lagi murid dikelas yang tidak pernah merapikan barang selain dia”
Kataku.
Akhirnya, aku dan Andrew di hukum didepan kelas. Banyak kejadian-kejadian antara aku dan Andrew yang jika diingat kembali ini cukup menyenangkan. Saat ini aku merindukan Andrew. Rindu akan suara tegasnya saat upacara bendera lima tahun lalu. Aku rindu dengan semua cerita dan impian Andrew tentang menjadi seorang pilot. Ia ingin terbang mengangkasa dan memeluk semua awan. Itulah tujuan utamanya jika ia menjadi pilot. Entah bagaimana caranya ia bisa memeluk awan, aku pikir itu hanya gurauannya saja.
Andrew lahir dari keluarga menengah atas. Ayahnya pensiunan dari sebuah perusahaan Jepang. Kakak-kakaknya sudah sukses menjadi penerus bisnis Ayahnya. Hanya Andrew lah yang tidak mengikuti jejak ayahnya.
Keluargaku dan keluarganya sudah kenal dekat. Kami memang sudah bertetangga sejak hampir 12 tahun yang lalu. Ibuku mempercayakan semua kondisiku kepadanya. Begitu juga dengan orang tua Andrew. Mereka selalu berpesan agar Andrew mengalah kepadaku.
“Kamu harus mengalah sama Irenne. Dia itu perempuan loh. Gak baik kasar sama perempuan”
Nasihat ibu Andrew pada anaknya. Aku biasanya akan muncul dibalik jendela sambil mengulurkan lidah saat ibunya menasihati untuk mengalah denganku. Aku merasa menang J
Setelah menempuh latihan penerbangan selama hampir 2 tahun, Andrew kembali lagi ke rumah. Waktunya cukup sibuk untuk bisa kembali berada di lingkungan ini. Belum lagi jadwal cuti yang selalu ia gunakan untuk berlatih sendiri.
Hari ini, Mina, adikku akan menemaniku bertemu dengan Andrew. Andrew menjanjikan untuk pertemuan pertama ini di sebuah danau dekat rumah kami. Dulu kami sering menghabiskan waktu bermain perang-perangan dengan menggunakan rantai pohon. Sifat tomboy sudah nampak di diriku sejak kecil. Itulah alasan kenapa Andrew selalu mencibir setiap kali mendengar nasihat ibunya untuk mengalah denganku.
Aku memperhatikan Mina yang sejak tadi membongkar lemari pakaiannya. Ia seperti kebingungan untuk memilih pakaian apa yang akan ia gunakan. Ingin rasanya aku menjitak kepalanya namun kutahan agar tidak ada keributan diantara kami. Setelah hampir setengah ja, akhirnya ia menemukan pilihannya. Pakaian croptee putih ia padukan dengan jeans dongker ketat. Ia menggunakan jaket berbahan bludru berwarna coklat.
“Pakaianmu terlalu berlebihan”
Komentarku. Namun Mina berlalu begitu saja seolah tidak memperdulikanku.
Setelah beberapa menit, akhirnya aku dan Mina sudah berada di danau. Kami melihat sosok punggung Andrew yang sedang melumatkan bibirnya di ujung botol minuman soda. Ia seperti menikmati senja di danau itu.
“Maaf datang telat”
Kata Mina. Aku hanya bisa terdiam melihat wajah Andrew dari dekat. Ia sudah berubah. Postur tubuhnya lebih gagah. Dengan seragam pilot yang dilapisi dengan jaket hitam, ia nampak seperti seorang professional.
“Tidak kok”
Balas Andrew. Ia segera menyerahkan botol minuman soda kepada Mina. Hanya Mina. Aku tidak merasa iri karena aku yakin Andrew pasti masih tahu jika minuman soda tidak baik untuk kesehatanku.
“Bagaimana kabar kakak?”
Kata Mina membuka percakapan.
“Baik. Sama seperti hari-hari sebelumnya”
Jawab Andrew. Andrew menceritakan tentang bagaimana rasanya berada di akademi penerbangan. Bagaimana rasa takut yang tiba-tiba ketika pertama kali ia menerbangkan pesawat. Bagaimana bangganya ia ketika pesawat yang ia kendarai bisa berada di ketinggian. Bagaimana wajah bangga orang tuanya ketika ia menjadi lulusan terbaik di angkatannya.
“Pasti kak Andrew udah punya pacar ya sekarang”
Goda Mina. Mina centil! Ingin rasanya aku menjitak kepalanya.
“Engga kok, aku belum punya pacar”
“Tapi pasti habis ini kakak deket sama pramugari ya. Abis pasti pilot kan mau nya sama pramugari. Udah cantik, tinggi, ketemu terus”
Kata Mina semakin menjadi. Aku semakin sebal dengan adikku yang masih berusia 15 tahun ini. Dengan gampangnya ia berkata begitu kepada Andrew yang jelas-jelas tidak tertarik dengan gadis genit.
“Tidak, seleraku masih sama seperti dulu. Irenne”
Hey! Itu namaku. Aku segera memalingkan wajah kearah Andrew. Seketika, percakapan menjadi sepi. Tidak seorangpun dari kami mau berkata. Aku sibuk dengan berbagai pikiran menyedihkan, dan mungkin itu juga yang dipikirkan oleh Andrew dan Mina.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara parau dari Mina.
“Kak, lupain kak Irenne. Masih banyak wanita baik di luar sana”
Katanya. Aku merasa perkataan Mina barusan antara pembelaan atau malah menjatuhkanku. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.
“Aku gak bisa Na. Kenangan Irenne terlalu indah untuk aku lupakan”
Kata Andrew dengan penuh yakin. Aku semakin tidak bisa menahan air mata.
“Tapi kak Irenne udah gak ada, kak”
Seketika aku kembali mengingat semua tragedi menyedihkan itu lagi. Dimana semua keluargaku menangis ketika dokter mengatakan bahwa denyut nadi ku sudah tidak bergerak lagi. Ibu berusaha memelukku untuk yang terakhir kali. Dan Mina berada di pelukan ayah yang berusaha untuk menenangkannya. Itu saat terakhirku. Namun menurutku, akhir hidup itu belum sesuai dengan keinginanku karena tidak ada Andrew disana. Saat itu adalah waktu orientasi Andrew di akademi penerbangannya. Ia masih belum mendapatkan izin untuk menghadiri upacara pemakamanku. Dan aku tahu alasan sesungguhnya mengapa ia tidak ingin menghabiskan waktu libur di rumah. Itu karena ia masih belum sanggup untuk mengingat semua memori yang pernah dijalani oleh kami.
“Mina, Irenne emang udah gak ada. Tapi aku yakin, Irenne masih bisa melihat kita walaupun di alam yang berbeda. Mungkin saat ini ia sedang tersenyum pas tahu aku sudah kembali dari akademi’
Aku tersenyum. Andrew masih seperti dulu. Penuh dengan pemikiran positif.
“Iya kak, aku yakin kak Irenne gak pernah kecewa tentang pemakamanan nya tanpa kehadiran kak Andrew. Kakak ingat, 12 tahun yang lalu kak Irenne sempat divonis akan hidup paling lama tiga tahun kedepan. Dokter itu pembohong, Buktinya kak Irenne masih bisa bertahan bahkan lebih dari tahun setelah itu”
Vonis dokter memang tidak berarti saat ini. Aku menderita Leukimia dan di usia 11 tahun aku di vonis hidup paling lama di usia 14 tahun. Namun, dengan segala semangat dari keluarga dan juga Andrew, aku bisa bertahan bahkan lebih dari yang di targetkan dokter. Hanya saja, kondisi tubuhku semakin melemah ketika aku menginjak usia 21 tahun. Aku menghabiskan sisa hidup dengan berbaring di ranjang rumah sakit.
“Menurutmu, bagaimana perasaan Irenne kepadaku?”
Tanya Andrew kepada Mina. Aku tersenyum sendiri. Jika aku masih di dunia yang sama, ingin sekali aku memeluk Andrew. Aku ingin kembali menghabiskan waktu hanya berdua dengannya.
“Mana mungkin kak Irenne menyia-nyiakan pria baik kayak kakak”
Kata Mina bersamaan dengan keduanya yang berjalan menjauh dari danau. Matahari senja hampir tenggelam. Suasana danau semakin sepi seolah kalut dalam segala memori indah beberapa tahun lalu. Aku masih duduk disana, bersama dengan kenangan aku dan Andrew.
“Irenne, Menurutmu aku cocok tidak jadi pilot?”
“Kamu jangan jadi pilot, Ndrew. Nanti kalo kamu terbang jauh, yang jagain aku disini siapa?”
“Tenang aja, aku tetap jadi guardian angel nya Irenne kok walaupun dari jauh”

0 komentar