“Lain kali, sebelum kesini, bawakan saya kopi lereng gunung Prau
ya”
Pesan Ayahmu sore tadi.
* * *
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Tepat
3 jam setelah aku kembali dari rumah Ran. Bukannya beristirahat dengan tenang,
aku justru memilih untuk duduk depan laptop. Sekali lagi, bukan untuk kerja,
tapi untuk mencari “Pesanan” Ayah Ran tadi sore.
Kopi Lereng Gunung Prau. Pasti banyak
di jual online.
Pikirku.
Baru pagi tadi, aku dan Ran berencana
untuk bertemu Ayahnya segera mungkin. Jangan tanya untuk apa, tentunya dalam
rangka membicarakan tentang hubungan kami menuju arah yang serius. Tapi mungkin
tidak diutarakan hari ini, mengingat sudah terlalu sore dan belum ada kata-kata
yang dipersiapkan dengan matang.
Sore tadi, setelah mengantar Ran
(sepulang kami berjalan-jalan sore), aku sempat mengobrol santai dengan Ayah
Ran. Perawakan beliau cukup tinggi, setidaknya lebih tinggi dariku. Wajahnya
cukup tegas, dikuatkan dengan garis rahangnya yang tampak jelas. Belum lagi
dengan tongkat kayu dengan ukiran tertulis “Ayah Terbaik Sepanjang Masa”. Sudah
jelas pasti, siapa yang memberikan tongkat ini.
Di sela perbincangan sore ini, kami
sempat membahas tentang kopi. Kebetulan ayah Ran sempat dinas di hampir seluruh
kota besar di Indonesia. Banyak jenis kopi yang sudah pernah ia nikmati. Mulai
dari kopi Aceh Gayo si kopi Arabica terbaik di dunia, hingga kopi berbau
sedikit tembakau di after taste-nya alias kopi Flores Bajawa. Namun
dari semua itu, menurut beliau, kopi lereng Gunung Prau-lah yang paling tak
terkalahkan. Terutama karena aroma khas Nangka (yang menurut beliau) sangat
abadi.
“Lain kali sebelum kesini, bawakan saya
kopi gunung prau ya. Ingat! Ini perintah, bukan main-main,”
Kata Ayah Ran sambil menepuk pundakku.
Bagai suatu pesan wasiat, aku hanya bisa meringis sambil menelan ludah.
Matilah aku, dimana harus
mencari kopi ini?
01.30. Rumah Aryan
Malam semakin larut dan aku tetap terjaga depan laptop. Sudah
banyak website yang kubuka, namun tidak menemukan toko online yang menjual
minuman ini. Apa kopi ini hanya khayalan Ayah Ran?
Apa aku sedang dikerjai
oleh pria paruh baya?
Pelan-pelan aku memejam mata sejenak. Membayangkan bagaimana wajah
Ayah Ran saat ini, jika tahu si calon menantunya ini sedang berjuang mencari
barang langka titipannya. Entah tersenyum bangga atau tertawa karena tipuannya
berhasil. Entahlah.
Mataku terbelalak sejenak. Ya, aku ingat sebuah nama. Ion, temanku
yang seorang barista. Aku harus meminta bantuannya hari ini.
* * *
16.00 WIB, Kedai Kopi Seribu Tahun
Menunggu
Segenggam biji kopi diambil dalam wadah.
Uniknya, bukan dalam French press seperti yang digunakan oleh barista pada
umumnya. Ia memilih menggunakan blender bumbu, dengan beberapa ketukan tombol hidup-mati-hidup-mati
agar tak terasa hangus. Kopi olahan tadi kemudian dimasukkan dalam cangkir dan disiram
dengan air mendidih. Adukan memakan waktu 3 menit, dimana sang barista
memanfaatkan waktu singkat ini untuk membersihkan meja dari taburan sisa bubuk
kopi.
Satu kopi, atas nama Dinda. Selamat menikmati.
Katanya sambil tersenyum ramah ke
pelanggannya. Ia berlalu sambil merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Ion”
Bisikku. Matanya segera mencari sumber
suara tadi. Kali ini ekspresinya jauh lebih ramah dari sebelumnya.
“Hey, bro. How’s life?”
Katanya berbasa-basi.
“Baik, bro. Lo gimana? Makin rame aja
kedai,”
“Ya, lumayan lah. Semenjak di pakai
buat shooting kemaren, jadi banyak yang penasaran kesini. Oiya, udah lama juga
lo ga mampir,”
“Sorry, bro. Gue sibuk kemarin-kemarin.
Lagi banyak proyekan. Lumayan lah, buat nambah-nambah uang jajan. Btw, gue ganggu
bentar boleh gak?”
“Oh it’s okay. Ada apa?”
Aku menceritakan pada Ion tentang
permintaan Ayah Ran kemarin. Tentang Kopi Gunung Prau. Ion menarik nafas
dalam-dalam. Sambil memutarkan bola mata, seperti sedang berpikir keras.
“Kopi gunung prau. Kopi Liberika.
Ukuran buahnya lumayan besar, green bean berwarna coklat terang. Ya, gue pernah
denger tentang itu,”
“Ya, itu juga yang dijelasin Ayah Ran.
Lo punya gak kopinya? Atau ada kenalan gak yang jual?”
“Sayangnya gak ada. Ini kopi Langka,
Yan. Habitat aslinya di Kawasan tropis kaya Afrika. Kayanya sulit karena jarang
dibudidaya disini,”
Ion menghela nafas panjang. Matanya
segera menatapku tajam.
“Gak ada pilihan lain sih, lo bisa
dapetin kopi ini langsung di kotanya, Kendal. Gih!”
* * *
05.32 WIB. Stasiun Weleri.
Kereta telah berhenti di sebuah stasiun. Bersamaan dengan instrumen dari lagu Gambang Semarang yang khas menandakan aku telah tiba di Kendal.
Suasana masih pagi. Tampak beberapa orang sibuk menenteng barang bawaannya. Berbeda denganku yang hanya berbekal tas ransel kecil. Setelah berkunjung ke Kedai Ion kemarin sore, aku memutuskan untuk memesan tiket perjalanan ke Kendal. Niatnya hanya untuk mendatangi tempat kopi Gunung Prau, membawa sekarung kopi legendaris ini, lalu pulang.
Berbekal satu alamat yang diberikan Ion, aku memilih transportasi umum menuju ke tempat kopi itu.
"Mas, nanti saya turun di sini ya,"
Kataku sambil menunjukkan satu alamat ke supir angkutan umum.
"Inggih, mas. Mas nya bukan orang sini ya?"
Tanyanya. Mungkin dari logat bicaraku yang berbeda dengan orang sekitar.
"Iya mas, dari Jakarta. Kebetulan saya lagi jalan-jalan kesini, mau coba kopi Gunung Prau yang katanya legendaris itu,"
"Bener toh dugaan saya, hehe. Kopi Liberika ya mas? Memang harus coba kopi dari sini, langka tapi rasanya nomer satu sedunia mas,"
Kata supir sambil tertawa.
"Saran saya ya mas, kalo mau coba kopinya yang bener-bener dari sini, saya tahu alamatnya. Yang punya bapaknya teman saya, salah satu kelompok tani di sini. Namanya Pak Matoha. Rasa kopinya wes rak usah ditakon meneh. Nek Bahasa Jakartanya, Endolita Bingit!"
Kembali ia tertawa. Karena masih pagi dan kebetulan belum ada penumpang lain, supir ini dengan senang hati mengantarkanku ke tempat yang dimaksud.
Setengah jam berlalu, kami tiba di sebuah bangunan kuno. Bangunan ini sepertinya sudah lebih tua dari usiaku (atau bisa jadi seumuran denganku). Meskipu begitu, tetap bersih dan nyaman untuk dikunjungi. Menariknya, ada satu pekarangan khusus yang menghadap gunung. Dan sekali lagi, karena masih pagi, aku lah pengunjung pertama yang datang hari ini.
"Mau pesan apa, mas? Arabika, Liberika, Robusta, atau Luwak?"
Tanya seorang wanita paruh baya sambil tersenyum.
"Kopi Liberikanya satu ya, bu"
Ibu ini kembali tersenyum dan segera berlalu.
Beberapa menit kemudian, Ibu tadi kembali sambil membawa satu cangkir kopi. Uniknya, cangkir yang digunakannya sangat lawas, mirip dengan cangkir almarhum kakek dulu. Sambil bernostalgia tentang percangkiran ini, aku tertegun dengan tegukan kopi pertama. Rasa nangka begitu melekat saat pertama kali mencicipi kopi ini. Pantas saja Ayah Ran sangat menyukainya. Aku menghirup nafas dalam-dalam demi menikmati aroma kopi ini. Rasanya sangat tenang, seperti berada di rumah. Juga rasa lelah setelah tujuh jam perjalanan tadi seperti hilang sejenak.
"Baru pertama coba kopi ini ya?"
Suara dari belakang berhasil mengagetkanku. Pria paruh baya ini tersenyum dan segera duduk di sebelah.
"Saya Pak Matoha, yang punya kedai ini,"
Katanya.
"Senang bertemu dengan Bapak. Saya Aryan, dari Jakarta, Pak,"
"Wah orang Jakarta sampai disini. Gimana ceritanya?"
"Iya pak, tadi supir angkutan umum yang mengantarkan saya kesini. Katanya tempat kopi ini paling legendaris,"
"Oh, pasti si Husno tadi. Wah tidak se legendaris itu kok. Kebetulan kedai ini sudah berdiri lama, mungkin lebih tua dari usia nak Aryan,"
Katanya.
Dari cara bicaranya, Pak Matoha ini (sepertinya) sangat ramah kepada semua orang. Aku kembali menyeruput kopi disertai dengan udara sejuk yang memanjakan pikiranku.
"Daerah ini bentuknya dataran tinggi. Jadi tanaman kopi tumbuh subur di sini. Kamu tahu nak, Kabupaten Kendal ini wilayah penghasil komoditas yang sudah dikenal dunia, makanya banyak diburu negara lain,"
Aku mengangguk mendengar penjelasan Pak Matoha. Seperti yang diceritakan supir (Husno) tadi, Pak Matoha ini bukan hanya pemilik Kedai Kopi. Ia adalah salah satu Kelompok Tani yang sudah bertahun-tahun menggeluti profesi ini. Menariknya, ia tidak hanya menjajakan kopi. Dengan senang hati, Pak Matoha berbagi informasi tentang asal kopi yang dinikmati oleh pelanggannya. Sehingga ikatan emosional sangat terasa antara pelanggan dengan kopi miliknya.
"Kamu tahu darimana tentang Kopi Liberika ini, nak?"
Tanyanya.
Aku meneguk kopi terakhir dari cangkir ini. Segera menceritakan tentang Ayah Ran yang tergila-gila dengan kopi ini dan berpesan untuk dibawakan saat kunjunganku berikutnya.
"Oh begitu ya, saya jadi teringat dulu sekitar 15 tahun yang lalu. Ada anggota yang dinas di daerah sini, dan kebetulan ia sering menghabiskan sore disini. Karena usia kami tidak jauh, saya dan anggota ini jadi akrab. Ibaratnya, jika saya kopi arabika yang pahit asam, beliau kopi robusta yang pahit pekat. Memang berbeda, tapi punya satu kesamaan. Sama-sama tidak bisa hidup tanpa kopi,"
Kata Pak Matoha sambil bernostalgia.
"Kalau boleh tahu, siapa ya pak namanya?"
"Anggota itu? Saya sudah lama tidak jumpa, namanya Pak Shidiq Mangkoesasih,"
* * *
17.01 WIB. Stasiun Weleri
Lagu Gambang Sembarang kembali berkumandang. Kali ini menyambut keberangkatan kereta yang aku tumpangi. Sambil memandang stasiun yang dekat dengan Pasar Weleri ini, aku menggenggam satu kantong plastik hitam. Kopi Lereng Gunung Prau sudah ada di tangan. Bisa dibayangkan bagaimana wajah Ayah Ran nanti, jika tahu si calon menantunya ini berhasil menemukan barang langka titipannya. Entah tersenyum bangga atau tertawa karena melihat perjuangan yang tidak main-main ini. Entahlah.
09.00 Halaman Rumah Ran
Aku sudah tiba kembali di Jakarta. Tepatnya di halaman Rumah Ran. Ran memandangiku dengan wajah cemas karena (menurutnya) kemarin aku susah sekali dihubungi.
"Kamu beneran habis dari Kendal? Pulang Pergi?"
Aku mengangguk.
"Itu bawa apa?"
Ia melihat kantong plastik hitam di tanganku.
"Titipan Ayahmu,"
Kataku.
Kembali aku berhadapan dengan Ayah Ran. Sebelum beliau menagih janji, aku segera memberikan kantong plastik hitam itu dan ia membukanya dengan hati-hati. Ekspresi matanya terbelalak, antara senang bercampur kaget.
"Darimana kamu dapat kopi ini?"
"Langsung dari kotanya, om. Kemarin Aryan ke Kendal,"
Ayah Ran memandangiku sambil tersenyum kecil.
"Ini kopinya,"
Kata Ran sambil meletakkan dua cangkir kopi depan aku dan Ayahnya.
"Silahkan diminum, Yan,"
Ayah Ran memberikan izin. Kami berdua meneguk kopi hidangan Ran. Meskipun sudah kali kedua mencoba kopi Liberika ini, namun kesan yang pertama tetap terasa sampai sekarang. Bayanganku kembali ke kedai Pak Matoha kemarin. Damai sekali rasanya.
"Robusta dikenal karena rasanya pahit pekat, dan Arabika pahit asam. Sedangkan Liberika, cita rasanya memang pahit pekat, tapi aroma nangkanya jelas tercium dari pertama kali diseduh dengan air panas,"
Kata Ayah Ran sambil menikmati kopinya.
“Sekarang kamu percayakan bahwa biji kopi seperti ini bisa
melahirkan rasa luar biasa?”
Aku kembali mengangguk.
“Kelak jika hidup bersama Ran, kamu akan bahagia sebatas dengan
mencicipi kopi liberika buatannya seperti hari ini. Itu yang saya rasakan
selama hampir 20 tahun hidup dengan almarhumah ibu Ran.”
Seperti kata ayah Rana barusan, ia benar. Sebuah pesan tersirat
dalam kata-kata pertamanya, bahwa dari sosok Ayah yang mulanya kukira tegas dan
ditakuti ini, ia berhasil melahirkan putri yang luar biasa.
“Jadi, Aryan diperbolehkan, om? Untuk Hidup Bersama Ran?”
Kali ini Ayah Ran yang mengangguk.
Beberapa jam kemudian, aku bersalaman dengan Ayah Ran untuk kembali
ke rumah.
“Jaga Ran baik-baik ya, Aryan. Ingat! Ini perintah, bukan
main-main,”
Kali ini ia mengucapkan dengan nada tegas, namun disambut oleh tawa
kami bertiga.
“Oh iya sebelum pulang, Aryan mau sampaikan salam. Dari Bapak
Matoha, Pemilik kedai kopi yang Aryan kunjungi kemarin,”
* * *
19.20. Rumah Aryan.
Rana Mangkoesasih. Wanita yang sore
kemarin resmi menjadi istriku, dan saat ini sedang menghindangkan kopi liberika
pertama untuk suaminya.
“Terima kasih, Ran,”
Ia tersenyum dan segera berlalu.




