Hari ini aku kembali ke tempat itu untuk yang kesekian kalinya. Dalam hatiku jelas mengatakan, ini akan menjadi kali terakhir aku disana. Suasana hiruk pikuk nya tetap sama. Bahkan klakson masih menjadi dominasi utama kota ini. Semua sama, namun ada satu yang berbeda: tempat itu.
Dulu kita sering menghabiskan sore dibangku itu. Kamu duduk disana, bercerita tentang cita-citamu menyebrangi benua dan aku mengangguk. Kamu bercerita tentang semua keinginanmu untuk menghabiskan nachos sebanyak mungkin, menari flamenco dengan iringan tepuk tangan penonton, dan mendokumentasikan diri ditengah keramaian kota big apple. Aku mendengar semua ceritamu dengan tatapan serius. Sesekali anggukanku berhasil membuatmu percaya bahwa aku benar-benar mendukung cita-citamu. Sejujurnya aku tidak terlalu memperdulikan semua ceritamu. Hanya saja, menghabiskan waktu dengan tatapan penuh semangatmu berhasil membuat hariku bahagia.
Setelah hampir 8 bulan setelah itu, aku meninggalkanmu. Bukan karena aku pengecut, tetapi aku sedang berjuang untuk mencapai cita-citaku juga. Dan tanpa kamu tahu, cita-citaku itu cukup sederhana: aku ingin memenuhi cita-citamu. Berbekal semua persiapan selama ini, aku berhasil menginjakkan kaki disalah satu kota yang sempat kamu sebut dalam mimpimu, New York. Aku memandang sekitar dengan penuh haru. Bayangku kembali saat kita duduk ditaman itu, kamu ingin mengabadikan dirimu dikeramaian New York.
Setelah hampir dua tahun menghabiskan waktu untuk bekerja di New York, aku kembali ke Indonesia. Lebih tepatnya aku kembali ke kota kenangan kita, Jakarta.
I’m waiting in line to get to where you are
hope floats up high along the way
Jakarta masih sama. Semua hiruk pikuk dan kenangannya. Hanya saja, kota yang kurindukan itu sekarang menjadi kota yang aku benci. Aku benci Jakarta. Sejujurnya, bukan kotanya yang aku benci. Hanya saja segala kenangan kita disana berhasil membuatku ingin melupakan Jakarta.
I forget Jakarta
all the friendly faces in disguise
this time, I’m closing down this fairytale
Jujur, sebenarnya aku sama sekali tidak ingin untuk kembali ke kota ini. Banyak yang tidak bisa aku terima, meskipun dulu aku menjadikan kota ini sebagai alasan aku kembali. Semua urusanku disana, aku tinggalkan sebentar. Tujuanku hanya satu, aku hanya ingin menemuimu sebentar setelah itu aku pergi.
and I put all my heart to get to where you are
maybe it’s time to move away
I forget jakarta
and all the empty promises will fall
this time, I’m gone to where this journey ends
Beberapa menit setelah itu, tepatnya setelah aku memantapkan diri untuk berjalan, aku sampai disebuah bangunan besar. Aku menelan ludah, pikiranku mulai berdistraksi. Banyak hal yang sudah kupersiapkan sebelumnya, namun langsung hilang begitu saja. Aku segera mencari bangku terdekat, duduk sambil mengambil puntungan rokok yang ada disaku. Setelah hembusan pertama asap, aku mulai tenang. Pikiranku mulai membaik dan aku sudah siap untuk kesana.
Setelah semuanya siap, aku masuk kedalam gedung itu. Beberapa orang tampak memandangku dengan senyuman. Bahkan ada yang menawarkan untuk aku duduk di kursi istimewa, VIP. Aku menolak karena menurutku semua ini terlalu berlebihan. Tepatnya karena aku merasa aku bukan orang spesial di acara itu. Aku berdiri bersama para tamu lain.
Hari itu kamu cantik. Gaun yang kamu pakai sama dengan impianmu dulu. Pantas saja, senyum jelas terlihat dari raut wajahmu detik itu.
Disampingmu, sudah ada seorang laki-laki gagah yang berdiri sambil membiarkan tangannya dirangkul olehmu. Ia sempat melirik kearahku sejenak, dan kemudian memasang wajah ramah kepada semua tamu, termasuk padaku. Aku sempat membalas senyumannya walaupun sedikit kecut. Dan kamu, kamu masih belum sadar aku hadir disaat itu.
Tepat hari itu, mimpiku sirna. Kamu pernah bilang, cita-citamu akan kamu wujudkan seorang diri. Aku mendukung segala keinginanmu hari itu. Bahkan aku sengaja untuk berusaha mewujudkan salah satunya, aku menabung dengan niatan untuk mengajakmu ke New York, melamarmu di Times Square dan menghabiskan sisa waktu dengan mengajakmu berjalan-jalan di Central Park sore hari. Setiap hari kamu akan membujukku untuk berbelanja di Fifth Avenue, dan aku tidak bisa menolak keinginanmu itu meskipun gajiku masih dua minggu lagi. Itu semua mimpiku.
Dan setelah semua tabungan berhasil aku kumpulkan, aku kembali membuka emailmu yang hampir dua hari belum sempat aku baca. Jantungku sempat hampir tidak berdegup. Aku membaca semuanya secara seksama. Kamu mengirimkan sebuah pesan dan lampiran file yang berhasil membuatku hampir depresi hari itu.
“Qaila dan Arka”. Siapa Arka?
Bahkan di email yang kamu kirim sama sekali tidak membahas siapa itu Arka. Kamu hanya membahas tentang keinginanmu untuk aku hadir dihari itu.
“Siapa Arka?”
Aku menyampaikan pesan balasan secara singkat.
Beberapa jam kemudian, kamu membalas emailku.
“Dia teman kerjaku. Aku lupa mengenalkanmu sama dia. Kami memang dekat dari empat bulan kemarin,”
“Dia dari Jakarta?”
“Ya”
“Jadi kamu akan tetap tinggal disana?”
“Ya, dan kamu? Kamu tetap di New York?”
“Mungkin.”
Setelah semua percakapan itu, aku benci Jakarta, juga New York. Aku benci setiap kali mengingat keinginanku untuk melamarmu di Times Square. Aku benci setiap kali berjalan di Central Park membayangkan aku ada disana denganmu. Dan aku benci Fifth Avenue beserta seluruh wanita yang lewat disana sambil menenteng tas belanja mereka.
but if you stay, I will stay
even though the town’s not what it used to be
and pieces of your life you try to recognize
all went down
Sebelum kamu memutuskan untuk mengakhiri masa lajangmu nanti, aku ingat terakhir kali kita berkomunikasi membahas tentang dirimu. Kamu berhasil memakan nachos di Meksiko dengan porsi yang cukup banyak hingga kamu sempat dibawa kerumah sakit karena hampir pingsan. Kamu menonton pementasan tarian flamenco di Spanyol dan kamu sempat mempraktikan jentikkan jarimu sambil menari via skype. Tepat diakhir tarian, kamu berbicara padaku sambil sedikit tertawa.
“Kapan kamu kembali ke Jakarta?”
Aku menggelengkan kepala, karena tabungan untuk kembali ke Jakarta belum sempat aku persiapkan.
“Kenapa?”
Tanyaku.
“Aku mau mengajakmu keliling dunia. Aku bosan pergi bersama orang-orang dari tour, tidak ada yang se menyenangkan kamu,”
Katamu.
“Kamu ingin ke New York?”
Kamu mengangguk.
“Tapi tabunganku masih kurang untuk kesana”
Jawabmu sambil tertawa.
Saat itu, hingga hari ini kamu belum tahu jika aku sudah mempersiapkan tabungan khusus untukmu.
“Setiap kali aku keliling New York, aku selalu ingat kamu”
Kataku.
“Oh ya? Kenapa?”
“Aku gak tahu. Tapi menurutku, seluruh sudut New York menggambarkan kamu, tidak pernah sepi”
Kamu tertawa lagi.
I travel the world to get to where you are
strangers I met along the way
you forget jakarta
leaving all the lunacy behind
this time give me back my sanity
Hari ini kamu kembali tertawa. Tepatnya setelah pemandu acara memberikan waktu kepadamu untuk melemparkan bunga kepada para hadirin yang datang. Aku belum sempat menyalamimu tadi, karena aku sibuk berkompromi dengan hati dan pikiran.
Setelah semua selesai, aku masih disana bersama beberapa teman lamamu. Mereka berusaha mengajakku untuk menemuimu langsung. Aku mengiyakan saja, karena setelah ini aku akan kembali ke bandara. Waktuku tidak banyak untuk menemuimu dan anggap saja ini adalah salam perpisahan.
“Qaila”
Kamu segera menoleh. Dari gerak-gerikmu, kamu mulanya ingin memelukku tetapi kamu mengurungkan niat itu. Kamu menepuk pundakku sebentar pertanda bahwa kami masih berteman.
“Kamu baru datang?”
Katamu.
“Ya”
“Kamu kesini cuma buat datang ke acaraku?”
“Ya. Sesuai permintaan kamu kan?”
Kamu tertawa sambil menatap mataku dengan penuh haru.
“Kapan kamu pulang?”
“Kurang lebih dua jam lagi pesawat aku berangkat”
“Ke New York?”
Aku mengangguk.
Setelah aku selesai berbicara denganmu, aku segera pamit pulang. Rasanya aku lega, bisa kembali bertemu denganmu. Dan lebih lega lagi, setelah aku berbicara sebentar dengan Arka, suamimu. Menurutku Arka baik, ia pantas disandingkan denganmu.
Aku kembali kedalam mobil dan pergi menuju kerumah untuk mengambil barang-barang yang akan dibawa. Ditengah kemacetan kota, aku sempat membuka buku harian ukuran besar yang sudah aku isi sejak dua tahun lalu.
Dalam halaman utama, tampak sebuah tulisan dan gambar pertama yang aku dokumentasikan di New York.
‘This is my 1st day in New York, Qaila. Kamu pasti iri kan?’
Buku harian itu sebenarnya akan aku buat untukmu sejak pertama aku membelinya. Aku ingin kamu tahu, bahwa New York menjadi kenangan baru untuk kita meskipun kamu tidak ada disini. Aku berhasil mendokumentasikan semua tempat yang aku kunjungi di New York. Hingga dibagian akhir halaman buku harian, aku menyelipkan tiket penerbangan Jakarta ke New York di tanggal 21 Juni, tepat dihari ulang tahunmu. Rencananya aku ingin mengirimkan buku harian ini sekaligus mengajakmu untuk datang di hari spesialmu. Sebelum akhirnya aku tahu, tepat dihari ulang tahunmu itu kamu menggelar pernikahan dengan Arka di Jakarta. Ya, Jakarta.
Yeah I’m still on my way to get to where you are
try to let go the things i knew
We’ll forget jakarta
promise that we’ll never look behind
tonight, we’re gone to where this journey ends


0 komentar