7 Tahun Lagi Tanpaku


Kau sedang duduk di bangku itu sambil sesekali memandang kearah jam tanganmu. Matamu memperhatikan sekitar, mencari objek yang sejak tadi kau tunggu. Aku bisa membaca situasi, hari ini kau terlihat gugup, seperti 7 tahun yang lalu. Hentakan kecil di kakimu menjadi bukti bahwa kau resah. Dan disinar matamu jelas menunjukkan, kau sedang mempersiapkan seribu kata untuk diucapkan nanti.
Seketika, setelah hampir 20 menit disana, akhirnya kau berdiri. Orang yang sudah kau tunggu sejak tadi akhirnya tiba. Kau segera tersenyum, padahal sebelumnya wajahmu terlihat cemas. Kau sudah berhasil mengontrol perasaanmu saat itu.
“Maaf aku telat,”
Ucap orang itu.
Kau hanya membalas dengan senyuman. Aku bisa bertaruh, dalam waktu kurang dari 15 detik lagi kau akan menggaruk rambutmu yang tak gatal. Benar saja! Kau melakukan itu lagi. Itu bukti bahwa kau saat ini bingung untuk melakukan apa. Kau segera kembali diposisi dudukmu tadi. Dengan sedikit berdehem, kau memulai percakapan basa-basimu.
Saat ini aku segera mendekat kearahmu. Hanya untuk tahu, bagaimana bunyi detak jantungmu saat ini. Dan benar saja, kau mengalami percepatan detak jantung yang tak biasa. Aku tertawa sedikit.
Orang yang ada dihadapanmu sejak tadi sibuk menyibak rambutnya. Ia berusaha ingin tampil menawan didepanmu. Beberapa kali ia menutup bibirnya dengan tangan ketika ia tertawa berlebihan. Wajah anggunnya berhasil membuatmu sulit untuk mengalihkan pandangan saat itu. Aku semakin tak sabar untuk mendengar percakapan kalian selanjutnya.
Hampir satu jam aku mengamati gelagat kalian berdua. Sepertinya kalian sama-sama saling menyukai. Dan aku bersyukur kau menemukan wanita yang bisa membuatmu tersenyum seperti 7 tahun yang lalu.
7 tahun yang lalu, mungkin masa-masa yang paling berkesan dihidup kita. Kau menyatakan perasaanmu bersamaan dengan lantunan lagu favoritku yang dimainkan di konser itu.
“Aku menyukaimu”
Bisikmu.
Aku tersenyum.
Beberapa menit setelah itu, kau berhasil membuatku lupa dengan lagu favoritku itu. Bahkan aku lupa jika masa perkenalan kita terlalu singkat untuk sama-sama saling menyukai. Setelah peresmian hari itu, kita sering menghabiskan waktu bersama. Dan setiap kali bertemu, kau selalu membisikkan kalimat itu ditelingaku.
“Aku menyukaimu”
Tanpa perlu aku balas, kau sudah tahu jawabannya.
Tetapi sayang, kebahagiaan kita berakhir terlalu cepat (bagiku). Tepat 8 bulan setelah kita resmi bersama, aku meninggalkanmu. Aku ingat persis tragedi yang berhasil membuatku kehilangan semua mimpi. Aku masih bersimbah darah ketika kau datang dan memelukku sambil menangis.
“Tak apa, aku masih disini,”
Kataku mencoba menenangkan.
Kamu sama sekali tidak menjawab, mungkin memang suaraku yang terlalu pelan untuk didengar.
Beberapa orang memandang kearah kita dengan iba. Dan sebelum ambulans datang, aku menghembuskan napas terakhirku dengan menggenggam tanganmu.
Setelah itu, aku sering melihatmu duduk sendiri dengan tatapan kosong. Beda dengan biasanya, ketika berkumpul dengan teman-temanmu pun kau lebih memilih untuk diam. Sesekali aku mendengar namaku masih kau sebut didalam doamu.
“Tuhan, kembalikan Naya. Aku masih belum bisa mengikhlaskannya pergi,”
Katamu sambil menangis. Dan itu kau lakukan setiap kali beribadah.
Tak lama setelah kejadian itu, aku mendengar berita tentang si orang yang merenggut nyawaku itu. Ia ditemukan sudah bersimbah darah juga sepertiku, bedanya nyawa dia masih selamat. Tanpa disangka, ternyata ia adalah orang yang bahkan sangat aku kenal.
“Aku iri dengan hubungan mereka berdua,”
Begitu dalihnya.
Aku sama sekali tidak bisa terima dengan alasan bodoh yang ia katakan. Bahkan rasa iri nya saja bisa membuat semua mimpiku sirna, kan?
Meskipun dipenuhi rasa dendam, aku segera pergi dan memilih untuk mengunjungi orang yang lebih penting untukku. Saat ini kau sedang mencoba menahan tangismu, tepatnya ketika tau tentang semua dalih yang disebutkan tadi. Aku berusaha untuk menenangkanmu, meskipun sebenarnya usahaku akan sia-sia. Aku tahu, mungkin sulit untuk melepas kepergian orang yang bahkan menjadi bagian mimpimu saat itu.
Dan 7 tahun setelah itu, kau duduk dibangku itu sambil sesekali memandang ke arah jam tanganmu. Dan kemudian, orang yang kau tunggu akhirnya datang dan berhasil membuka memori baru dihidupmu. Aku senang kau berhasil membuka hatimu pada orang baru. Dan aku juga senang karena orang itu bukan orang asing lagi dihidupku, tepatnya adikku sendiri.
“Aku menyukaimu”
Bisikmu kepada Raya.

0 komentar