Curahan Sahabat

Aku kembali menemukan pesan yang dikirim melalui pesan elektronik. Dan tertera jelas disana bahwa waktu pengirimannya sudah hampir sepekan yang lalu. Pesan ini dikirim oleh seorang temanku yang sudah lama tidak aku jumpai.  
Selamat pagi,
Aku tahu mungkin ini pertama kalinya aku memberi pesan elektronik, bahkan dijaman yang sebenarnya aku sendiri bisa mengirimkan pesan privasi melalui sosial mediamu. Menurutku, surat elektronik ini yang menjadi perantara paling tepat untuk ceritaku. Dan aku tahu, kamu tidak akan langsung membaca pesan ini, karena saat ini kamu masih terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Tapi aku kirim pesan ini langsung kepadamu karena menurutku tidak ada orang lainpun yang bisa aku andalkan saat ini. Langsung ke pembahasan saja ya, aku gak suka terlalu berbasa-basi.
Beberapa pekan lalu, kamu sempat memberikan komentar di sosial mediaku, mengapa aku tidak memajang foto bersama Leo? Aku belum sempat menjawabnya, karena menurutku tidak baik untuk mengumbar cerita ke orang lain. Tapi kali ini aku sudah tidak tahan lagi! Aku muak Ndy, aku muak dengan perasaan ku kali ini.
Ndy, aku dan Leo sudah resmi berpisah. Kamu pasti kaget, kan? Tentunya, ini berdasarkan keputusan kami masing-masing. Walaupun sebenarnya ini lebih berpihak kepadaku. Sedangkan Leo? Aku tahu dia masih setengah hati untuk keputusan ini.
Leo memang pria baik, seperti yang kamu bilang dulu saat pertama kali kami masih berhubungan. Tutur katanya santun dan sopan, ia setia. Itu dua prinsip yang (dulu) benar-benar aku kagumi dari Leo. Dan itulah hal utama yang benar-benar aku sukai ketika aku tahu pria seperti Leo yang kembali mendekatiku. Sebelumnya mungkin kamu ingat laki-laki lain yang sempat mendekatiku, mereka memang punya kebaikan masing-masing. Tetapi menurutku Leo-lah yang paling tepat. Hampir empat tahun aku habiskan untuk menjalin hubungan spesial dengan Leo. Pria ini benar-benar sesuai dugaanku sebelumnya. Bahkan sikap sopan, santun dan setianya masih tetap terjaga walaupun usia hubungan kami yang bisa dikatakan cukup lama. Aku merasa sebagai wanita yang benar-benar bahagia saat itu, mungkin itu juga yang dirasakan oleh Leo. Leo berhasil membuatku menjadi wanita baik. Leo berhasil menuntunku untuk berhenti mengonsumsi obat penurun berat badan, karena menurutnya aku cantik apa adanya. Leo berhasil membuatku ‘candu’ untuk menjalankan ibadah 5 waktu, karena menurutnya wajahku bercahaya seusai berwudhu. Leo juga yang berhasil membuatku berhenti menggunakan pakaian minim, karena menurutnya aku terlihat benar-benar elegan dengan pakaian tertutup. Leo berhasil merubahku, Ndy.
Kehidupan kami baik-baik saja selama empat tahun itu. Leo mau menemaniku ke salon dan menunggu sampai berjam-jam diluar. Leo mau membelikkan makanan apapun setiap kali aku datang bulan dan menginginkan untuk mengonsumsi makanan yang bahkan sulit untuk dijumpai. Dan banyak kebaikan Leo yang membuatku semakin sulit untuk melepasnya suatu hari nanti.
Tapi kali ini aku salah menilai Leo. Ada salah satu dalam diri Leo yang bahkan tidak bisa aku terima. Menurutku, Leo terlalu memenjarakanku. Entah apakah itu istilah yang pantas untuk aku katakan sekarang. Menurutku sikap cemas Leo terlalu berlebihan. Leo masih menganggapku seolah aku adalah anak SMA yang masih labil masalah cinta. Aku hargai segala rasa ketakutan Leo. Tapi menurutku kali ini sudah berlebihan. Leo tidak menerima kenyataan bahwa kami sedang menjalani hubungan jarak jauh. Leo seolah takut kehilangan aku, karena cerita-cerita masa laluku. Aku sudah berkali-kali bersumpah didepan Leo bahwa aku sudah berubah menjadi wanita yang benar-benar setia saat ini, tapi itu masih kurang menurutnya.
Leo terlalu berusaha melindungiku dari jarak jauh. Leo ingin aku tetap menjadi wanita yang dia jaga selama empat tahun ini. Dan sejujurnya, tanpa Leo jagapun, aku sudah benar-benar berubah. Aku sudah tidak tertarik lagi membicarakan pria lain, aku sudah tidak peduli dengan pakaian kekinian yang serba minim, aku sudah tidak peduli lagi dengan semua yang berhubungan dengan larangan Leo selama ini. Tapi Leo masih tidak percaya denganku.
Kamu tahu, kunci utama dari hubungan jarak jauh adalah rasa percaya. Dan saat ini, Leo menghadapi krisis itu. Dan bahkan ucapan Leo berupa “aku tahu kamu setia denganku” beberapa bulan lalu seolah menjadi bumerang untukku. Apa Leo sadar pernah mengatakan itu sebelumnya?
Dan sekitar dua minggu yang lalu, aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Leo. Sejujurnya, ini bukan kenyataan mudah bagiku. Aku masih sangat menyayangi Leo hanya saja aku butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa orang yang ada dihadapanku saat ini memiliki satu sikap yang aku benci seperti ini. Aku berharap Leo mau berubah menjadi lebih baik lagi. Aku tahu, segala kecemasan berlebihan Leo saat ini adalah bukti bahwa ia benar-benar serius mencintaiku. Dan aku juga benar-benar serius mencintainya, mencintai tutur katanya yang sopan, santun dan kesetiaannya.
Aku tahu ceritaku sudah terlalu panjang, Ndy. Aku tahu kamu adalah pendengar yang baik. Dan yang aku tahu kamu, aku dan Leo adalah sahabat lama. Aku harap kamu menyampaikan semua curahan aku hari ini pada Leo. Karena yang aku butuhkan saat ini adalah Leo menanam rasa percaya dalam benaknya padaku.
Tival

Dengan beberapa menit saja, aku berhasil menangkap apa permasalahan yang dialami Tival dan Leo. Aku tahu, mungkin ini bagian terberat bagi Tival karena sebelumnya hubungan mereka sama sekali tidak pernah mengalami keretakan sedikitpun. Dan menurutku, sebagaimana solusi yang aku berikan juga tidak akan berhasil membuat Tival dan Leo mau melunakkan hati masing-masing. Karena itu, aku mengirimkan mereka cerita yang sempat aku tulis di tumblr ini, tentang kisah nyata yang dialami oleh teman lamaku.

Surat
Sebuah surat datang dari sahabatku yang sekarang tinggal di negeri tetangga. Sebuah kebanggaan bagiku bisa kembali mengetahui kabar darinya, bahkan tulisannya yang sejak dahulu rapih dengan bahasa-bahasa halus yang membuatku merasa tenang. Kabarnya saat ini baik-baik saja, aku bersyukur. Dia menceritakan tentang kehidupannya tinggal di negeri orang, keluh kesalnya setiap kali berusaha untuk menyamakan setiap budaya yang berbeda dari teman-teman seperjuangannya yang berasal dari negeri yang berbeda. Dia merasa senang karena (mungkin) mulai hari ini dia tidak akan lagi merasakan kesepian karena keberhasilannya mengirimkan surat kepadaku yang mungkin akan menjadi rutinitasnya setelah ini. Banyak sekali cerita yang ia sampaikan dalam surat ini, bahkan cerita tentang hubungannya dengan kekasihnya yang bisa terbilang cukup memberikan pengorbanan.
           Namanya Adel. Gadis berhijab yang selalu memasang wajah ceria, walau sesekali akan berubah menjadi wanita paling menyebalkan jika waktu datang bulannya tiba. Adel berasal dari sebuah pulau yang mungkin jauh dari ibukota, tetapi dengan tekad dan jiwa ke-melayu-annya, ia berhasil menjadi perantau sejak duduk dibangku SMP. Kehidupannya yang jauh dari orang tua membuatnya harus mampu untuk mandiri. Kemampuannya dalam hal berbahasa melayu, arab, dan inggris lah yang membuat orang tua nya mempercayakannya untuk melanjutkan perguruan tinggi ke negeri Jiran. Aku mengenal Adel sejak kami duduk dibangku SMA, ia murid pindahan. Awal perkenalannya mungkin ia akan terlihat seperti gadis jutek pada umumnya, diam tanpa mau berkenalan dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Tetapi jika sudah lama mengenalnya, pasti suasana sedingin apapun akan terpecahkan oleh suara-suara tawanya dan joke khasnya. Belum lagi jika ia menceritakan tentang petualangannya tinggal di daerah-daerah terpelosok yang masih serba etnik, kita akan asyik mendengarnya tanpa ada keinginan untuk menghentikan pembicaraan tersebut. Saat ini, Adel menjalani Long(er) Distance Relationship dengan pacarnya yang saat ini melanjutkan kuliah di Jerman. Mungkin memang belum takdirnya mereka untuk kembali berada di lingkungan kampus yang sama seperti jaman SMA dulu. Sebuah pengorbanan untuk mereka, hubungan jarak (sangat) jauh yang sudah ditempuh hampir 3 tahun. Komunikasi keduanya masih berjalan lancar hingga saat ini. Mereka saling menelfon ketika keduanya sama-sama memiliki waktu senggang, sekedar bertanya keadaan dan pengalaman-pengalaman harian mereka. Tidak ada pertanyaan “Sudah makan belum?” “Makan apa?” atau pertanyaan-pertanyaan basi karena waktu mereka yang cukup terbatas untuk sekedar memberikan kabar masing-masing. Tidak pernah terlintas kata bosan dikeduanya, hanya saja mereka sama-sama saling berdoa, kapan waktu bisa mempertemukan keduanya lagi di kehidupan nyata. Adel memiliki kotak tabungannya yang tertulis “Coin to New York”  karena ia ingin menabung untuk pergi ke New York suatu hari nanti jika tabungannya cukup. Itu sudah menjadi rencananya sejak lama sebelum akhirnya ia memiliki kekasih. Dan ketika pacarnya memutuskan untuk menjalani perkuliahan di Jerman, ia menitipkan kotak koinnya tersebut agar mengingatkannya kepada Adel yang ingin sekali menyebrangi benua walaupun tujuan mereka berbeda.
           ‘Memang sejak awal kami yang memutuskan untuk menjalani hubungan jarak jauh ini walaupun tidak mudah. Dulu, aku sering menangis karena rindu suasana SMA, apalagi jaman dimana aku sekelas sama dia. Kalo bisa minta permintaan, aku pingin ketemu sama dia tahun ini.’
           Beberapa kutipan kata-kata yang mungkin membuatku sadar jika sebuah keegoisan ketika ada sepasang kekasih yang merasa bosan karena mereka terlalu sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Karena mungkin banyak Adel-Adel lain yang sibuk mengabiskan waktu setelah sholatnya untuk berdoa jika suatu hari nanti ia bisa dipertemukan dengan yang ia tunggu selama ini.
           “Jadi kenapa hubungan kalian bisa awet sampai saat ini?”
           Kataku disela-sela telfon diantara kami.
        “Kepercayaan. Seerat-eratnya kamu ngiket merpati, kalo dia mau bebas dia akan pergi. Tetapi sebebas-bebasnya kamu ngelepas merpati, saat dia pergi dia bakal kembali.”

0 komentar