Tidak seperti biasanya, kali ini aku menghabiskan waktu pulang kerumah dengan naik busway. Hampir tiga hari ini, aku meninggalkan kebiasaan mengendarai mobil ke kantor. Kemacetan Jakarta yang tidak ada jedanya menjadi salah satu faktor yang membuatku ingin bersantai sejenak setelah pulang kerja. Selain itu, ada faktor lain yang membuatku ingin menaiki busway. Mungkin akan kujelaskan nanti atau tidak sama sekali.
Tiga hari ini, aku memilih naik busway untuk pulang ke rumah. Aku menghabiskan waktu duduk di bus sambil membaca buku. Banyak pengetahuan yang bisa aku dapatkan sembari duduk tenang dengan ongkos yang bisa dibilang cukup murah tersebut. Selain itu, aku senang melihat raut wajah orang-orang sepulang kerja. Wajah-wajah lelah menandakan mereka telah letih untuk bekerja seharian. Tidak sedikit yang tertidur di dalam bus akibat kelelahan. Beberapa murid sekolah terlihat duduk berdekatan sambil sibuk memainkan hp masing-masing. Sepertinya mereka sudah tidak memiliki energi lagi untuk melakukan perbincangan satu sama lain.
Perkenalkan, namaku Norman. Usiaku hampir 24 tahun. Aku bekerja di sebuah industri hiburan di ibukota. Bukan, aku bukanlah seorang aktor. Aku hanyalah seorang man behind the scene. Aku menjadi penyambung lidah antara perusahaan dengan para penonton setia. Aku yang menjembatangi komunikasi di antara keduanya agar terjalin hubungan yang harmonis. Setiap keluh kesal dari para penonton yang ingin mengeritik tentang tayangan yang disiarkan oleh program di televisi kami, bisa disampaikan langsung melaluiku. Aku senang bekerja di industry hiburan ini. Banyak pengisi layar kaca yang sering aku jumpai. Tidak sedikit saudara-saudaraku yang meminta untuk disampaikan salam kepada idola-idola nya. Biasanya aku hanya mengangguk dan menjanjikan untuk disalamkan.
Aku adalah seorang pria yang berketurunan Minang. Abak (Panggilan Minang untuk Ayah) asli Bukittinggi. Dan Amak (Panggilan Minang untuk Ibu) asli Pariaman. Konon, menurut adat Minang, garis keturunan berasal dari Amak. Keluargaku sudah merantau ke Jakarta sejak aku duduk di bangku kelas dua SMP. Adik-adikku, Nia dan Nanda masih sangat kecil saat itu. Abak bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Ayah selalu bercerita tentang murid-muridnya yang memiliki tingkah aneh-aneh. Ada yang pernah menulis surat cinta untuk ibu dan menyelipkan di dalam tas Abak. Saat dirumah, Abak kebingungan ketika melihat sebuah amplop berwarna merah tua ada di tasnya. Ia segera membuka surat dan tertawa ketika tahu surat itu ditujukan untuk istrinya sendiri. Aku memaklumi jika di usia ke 46 tahun ini banyak yang masih mengagumi Amak. Amak cantik, seperti gadis Minang lainnya. Kerutan masih belum terlihat jelas di wajah Amak. Apalagi saat Amak senyum, seolah membuat dunia tentram. Aku tidak berlebihan. Dan jika ditanya, siapa artis yang menyerupai wajah Amak, dengan mantap aku akan menjawab Dian Sastro. Amakku hampir mirip dengan Dian Sastro, tetapi di usia yang lebih tua beberapa tahun.
Seperti biasa aku duduk di kursi dekat pintu. Aku senang merasakan hembusan udara kota di malam hari saat pintu busway terbuka. Gemerlap lampu-lampu Jakarta juga terlihat jelas dari sana. Aku seperti melupakan semua tanggungjawabku di kantor sesaat. Termasuk tentang hubunganku dengan mantan kekasihku yang dijalin hampir lima tahun. Aku sama sekali tidak merasa sedih. Aku merasa mungkin ini keputusan terbaik di tengah rasa bosan dan kesibukanku dengan dunia karir.
Hari ini, disela membaca buku, aku memandang kesekelilingku. Sama dengan biasanya, aku menganalisis wajah dari masing-masing penumpang yang kelelahan setelah beraktivitas seharian. Sesosok gadis muda duduk di hadapanku saat ini. Wajahnya nampak suram, bukan lelah. Beberapa kali aku memergokinya melihat kearah jam tangannya. Suara getar dari ponselnya terdengar beberapa kali. Untung suara getarnya tidak terlalu kencang sehingga tidak mengganggu penumpang lain yang sedang tidur terlelap. Panggilan telepon yang menyebabkan hp nya bergetar sejak tadi tidak ia angkat. Sepertinya ia sengaja. Setiap kali menatap hp, matanya terlihat berkaca-kaca. Entah apa masalah yang sedang ia hadapi saat ini.
Suasana hening terdengar dari dalam busway. Para penumpang terlelap menyisakan supir bus, kondektur bus, ia dan aku. Aku masih penasaran dengan kisahnya ini.
Seketika suara panggilan kembali terdengar. Ponselnya bergetar lagi. Kali ini matanya terlihat berseri-seri. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu. Mungkin ia menerima panggilan dari orang yang ia tunggu sejak tadi.
“Iya, Dinda udah di dalam bus. Mungkin sekitar 15 menit lagi Dinda sampai,”
Dipastikan gadis ini adalah orang minang. Terdengar dari logat yang ia gunakan sangat khas terdengar ditelingaku. Mungkin ia akan menemui orang yang ia tunggu, menurutku. Namun, suara bahagianya tiba-tiba berubah.
“Sejak kapan Abak ada disitu, bang? Abang gak kenapa napa kan?”
Tampaknya ia cemas.
“Bilang ke Abak, Dinda indak mau balik kerumah,” (Indak: Tidak)
Katanya dengan nada mengancam.
Sepertinya ia benar-benar kesal. Air matanya segera menetes. Ia seperti tidak mampu menahan perasaan yang berkecamuk.
Lagi-lagi, pintu bus terbuka. Aku kehilangan fokus dengan kejadian tadi. Beberapa orang masuk ke dalam bus. Aku memperhatikan sampai pintu bus tertutup kembali. Sesaat ketika melihat ke depan, gadis itu sudah menangis deru. Seluruh orang memandanginya tanpa bicara.
“Dinda indak mau dijodohkan. Dinda maunya sama abang. Dinda gak kenal pria itu,” Katanya terisak.
Penumpang yang baru masuk juga tampak tertarik mendengar percakapannya dengan orang di telepon.
“Bilang ke Abak, kalo Abak masih maksa Dinda buat dijodohkan, lebih baik Dinda mati,”
Katanya kembali mengancam. Aku sempat kaget mendengarnya. Tak terbayang dipikiranku tentang gadis sepolos ini yang mengancam untuk bunuh diri karena di jodohkan. Gadis itu masih menangis terisak-isak sambil mendengarkan ponselnya. Aku mencuri-curi pandang kearahnya sambil mendengarkan percakapan tersebut. Sesaat ia segera menutup teleponnya dan turun dari bus. Aku memperhatikannya sampai gelap jalanan menelan bayangnya.
Esoknya, aku kembali mendapati dirinya di bus, masih dengan wajah murung. Nampaknya perjalanan hidupnya masih cukup berat. Dinda ini masih terlalu muda untuk dijodohkan, pikirku. Ingin rasanya aku berbagi cerita dengannya. Tentang beberapa hari yang lalu…
Abak menginginkan aku untuk menikah dengan seorang wanita muda. Namanya Dinda. Ia masih duduk di perguruan tinggi di tingkat 3, kata Abak. Dinda adalah anak dari sahabat lama abak di Bukittinggi. Abak ingin aku tetap mewariskan pernikahan dengan orang Minang. Abak tidak ingin tradisi-tradisi kami hilang jika aku memilih wanita yang bukan dari suku Minang. Awalnya aku menolak. Aku masih berpacaran dengan mantan kekasihku saat itu. Tetapi Abak punya sejuta jurus untuk membuatku luluh dalam permintaaannya.
“Gadis ini baik, Norman. Ia cocok denganmu,”
Kata Abak.
Aku tidak tahu siapa Dinda. Dinda juga tidak tahu siapa aku. Kami belum pernah dipertemukan sebelumnya. Sampai suatu hari, Abak memperlihatkan sebuah kartu nama kepadaku.
“Ini kartu nama Dinda. Kamu bisa mencarinya,”
Abak mendapatkan kartu nama Dinda dari Ayah Dinda. Abak pernah bercerita bahwa Dinda sedang membuka bisnis kue buatannya sendiri. Ia sering membagikan kartu namanya kepada orang-orang untuk mempermudah pemesanan kuenya.
Mulanya aku sama sekali tidak peduli. Sampai Abak berpesan, lebih baik tahu dahulu siapa Dinda. Berbekal aku yang mulai bosan dengan hubunganku dengan Mia, mantan kekasihku, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Mia menangis dan meminta mohon untuk kembali. Tetapi dengan angkuhnya aku menolak dengan alasan ingin fokus dengan karir.
Akhirnya aku mengiyakan keinginan Abak. Aku mencari identitas Dinda melalui media sosial. Ketemu! Dinda cantik. Wajahnya khas wanita Minang, manis. Ia tak kalah cantik dari Amakku. Senyumnya menawan. Masya Allah. Aku mendapati beberapa updateannya yang mngatakan bahwa ia sedang mengikuti program PKL (Praktik Kerja Lapang) di daerah dekat dengan kantorku. Dan aku ingat Abak pernah bilang jika saat PKL, Dinda pulang-pergi menggunakan busway.
Beberapa hari itu, aku sengaja menyempatkan diri menggunakan busway. Hari pertama, Hari kedua, aku belum bertemu dengannya. Mungkin kami memang belum ditakdirkan untuk bertemu, batinku. Tetapi aku tidak menyerah. Aku bertekad untuk menggunakan transport busway saat kerja sampai aku berhasil bertemu dengannya.
Di hari ketiga, jantungku hanyut ketika melihat sosok Dinda yang berada satu bus denganku. Ia lebih cantik dari yang di foto. Dinda membawa satu bungkusan plastik. Mungkin kue buatannya, pikirku. Ia juga menjinjing tas ransel yang nampaknya lumayan berat. Entah apa isinya. Ia nampak jauh lebih muda dari Mia.
Beberapa menit aku memperhatikan Dinda tanpa ia sadari. Mungkin ia sibuk melamunkan sesuatu hal. Aku terbayang bagaimana jika suatu hari gadis muda ini menjadi pendampingku kelak.
Beberapa kali aku mencoba berpindah duduk di sebelahnya untuk berkenalan langsung. Namun, saat niatku sudah matang, tiba-tiba aku melihat matanya berkaca-kaca. Dinda ingin menangis?
Ponselnya terus menerus bergetar, seperti seseorang yang hendak meneleponnya. Ia tak mau mengangkat. Dinda sepertinya sedang bersedih. Beberapa saat kemudian, ia mengangkat telepon dari seseorang dengan bahagia.
“Iya, Dinda udah di dalam bus. Mungkin sekitar 15 menit lagi Dinda sampai,”
Dengan siapa Dinda berbincang? Kenapa ia nampak lebih tenang? Aku sama sekali tidak tahu. Wajahnya nampak lebih bahagia dari sebelumnya. Sebelum aku menduga-duga siapa orang yang sedang berkomunikasi dengannya, mendadak raut wajahnya berubah.
“Sejak kapan Abak ada disitu, bang? Abang gak kenapa napa kan?”
Tampaknya ia cemas.
“Bilang ke Abak, Dinda indak mau balik kerumah,” (Indak: Tidak)
Katanya dengan nada mengancam.
Sepertinya ia benar-benar kesal. Air matanya segera menetes. Ia seperti tidak mampu menahan perasaan yang berkecamuk.
Lagi-lagi, pintu bus terbuka. Aku kehilangan fokus dengan kejadian tadi. Beberapa orang masuk ke dalam bus. Aku memperhatikan sampai pintu bus tertutup kembali. Sesaat ketika melihat ke depan, Dinda sudah menangis deru. Seluruh orang memandanginya tanpa bicara.
“Dinda indak mau dijodohkan. Dinda maunya sama abang. Dinda gak kenal pria itu,” Katanya terisak.
Penumpang yang baru masuk juga tampak tertarik mendengar percakapannya dengan orang di telepon.
“Bilang ke Abak, kalo Abak masih maksa Dinda buat dijodohkan, lebih baik Dinda mati,”
Aku kaget mendengar ancamannya. Aku langsung dapat memastikan, orang yang sedang berbincang dengannya saat itu adalah pria yang ia sebut abang, orang yang mungkin sangat ia cintai. Aku tidak menduga Dinda sebegitu cintanya dengan pria tersebut sampai tangisannya benar-benar meluap. Aku merasa tidak enak hati merasa sebagai pemisah hubungan antara Dinda dan si-abang.
Hari ini, Dinda lebih menyibukkan diri dengan memakan cemilan biskuitnya. Sesekali ia memandang kearah jalanan. Dinda sepertinya sudah tidak sabar untuk sampai di tempat tujuannya saat itu. Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi.
“Halo Abak, Dinda lagi di jalan. Ada apa?”
Katanya sambil mengunyah potongan biskuitnya. Kali ini nada bicaranya tampak lebih berwibawa.
“Dinda gak mau ketemu Abak dulu. Dinda masih belum bisa terima keputusan sepihak Abak. Dinda sayang Bang Firman. Dinda maunya sama Bang Firman, bukan pria bernama Norman itu,”
Seketika aku kaget mendengar namaku disebut-sebut dalam perbincangan seriusnya. Dinda mengarahkan pandangannya kepadaku. Sepertinya kali ini ia memergokiku sedang mendengar perbincangannya, bahkan mimik terkejutku saat ini. Aku segera mengalihkan pandangan pada bukuku. Berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi.
Rasanya semua tercampur aduk hari itu. Aku sedih melihat Dinda sedih. Tapi aku malu karena tidak bisa menolak permintaan Abak. Aku tidak bisa mempertahankan (mantan) kekasihku itu demi Dinda. Disatu sisi, Dinda tidak bisa meninggalkan kekasihnya demi aku.
Dinda, mungkin kau benar. Cintai orang yang menurutmu terbaik. Aku memang baik. Tapi mungkin aku tak sebaik kekasihmu. Jangan ikuti aku. Meninggalkan seseorang yang aku cinta demi wanita yang belum aku kenal sepertimu.
Dinda, perkenalkan. Namaku Norman.


0 komentar