Kutunggu Jawabanmu Satu Bulan Lagi!



21 November. Pukul 20.00
      Lahirlah seorang bayi perempuan mungil di kamar VVIP. Ibunya sudah mempersiapkan sebuah nama untuknya, Tiara.  Sayangnya, dibalik keceriaan malam itu, keluarga yang datang seperti tidak mampu menahan rasa sedihnya. Tangisan bayi ini janggal. Tidak seperti pada umumnya bayi yang menangis saat dilahirkan. Dokter segera memeriksanya dan sebuah vonis diberikan kepada bayi yang masih polos tersebut. Ia mengalami tuna wicara. Senyuman dari para pengunjungnya seolah hilang secara perlahan. Mata sang ibu seperti hendak menampung semua air mata yang ingin keluar. Ia tidak bisa meraba masa depan putrinya kelak dengan kekurangan ini.

        Di tempat yang berbeda, lahirlah seorang anak laki-laki. Namanya Ali. Berbeda dengan bayi sebelumnya, tangisan Ali terdengar sangat kencang. Bahkan dukun anak yang menggendongnya seolah kewalahan untuk menghadapi bayi yang baru lahir di dunia itu. Ibu Ali tersenyum bangga. Kelak ia menginginkan sang putra menjadi pekerja keras seperti almarhum ayahnya.

       21 Juli. Pukul 7.00
    Usia Ali tahun ini 16 tahun. Ia gemar menyenandungkan lagu-lagu ala 70an. Lagu favoritnya apalagi kalau bukan Romi dan Julie. Ia selalu menyanyikan lagu itu dikamar mandi. Jika ibunya sudah kesal dan mengomelinya, baru ia diam. Setiap sore Ali bermain ke tanah lapang. Biasanya ia meminta izin pada ibunya untuk bermain bersama teman-temannya. Padahal sebenarnya ia menghabiskan sore hari untuk duduk di atas pohon sembari menyetel radio kecil peninggalan ayahnya. Kaset usang dari lagu-lagu favoritnya juga diwariskan dari ayahnya. Entah apa yang membuat Ali jatuh cinta dengan semua barang-barang peninggalan ayahnya. Menurutnya, semua barang-barang tersebut seolah memiliki sebagian dari nyawa ayahnya saat ini. Dibalik kesenduan diri Ali, ternyata ia jago mengaji. Ia mendapat julukan sebagai murid teladan di pesantrennya. Hafalan suratnya sudah sangat hebat. Namun ia masih enggan untuk menyombongkan diri. Ilmunya masih jauh dari kata hebat, menurutnya.

   Tiara tumbuh menjadi gadis belia yang cantik. Kekayaan dari orang tuanya menunjangnya untuk merawat diri. Banyak pria yang mulai curi-curi pandang kearahnya. Hanya saja tidak ada yang mau mendekatinya. Mereka tahu keterbatasan Tiara dan enggan untuk menjadikannya kekasih. Walaupun begitu, Tiara sama sekali tidak merasa sedih. Ia selalu rajin untuk merajut, seperti gadis-gadis lain. Selain itu, ia membuka pelatihan merajut untuk para wanita muda yang ingin belajar merajut. Dengan sabar, ia membantu mereka sampai benar-benar pandai. Ia ingin membagikan ilmunya secara cuma-cuma. Meskipun sejak lahir sudah bergelimpah harta, Tiara tidak menjadi pribadi yang sombong. Ia mau membantu pekerjaan rumah. Bahkan, ia selalu ingin menemani pembantunya saat berbelanja di pasar. Menurutnya, pasar adalah singgahsana baru yang unik dan berbeda dengan kehidupannya selama ini.

  Pagi ini, Tiara kembali menemani pembantunya berbelanja di pasar. Kali ini, rumahnya akan kedatangan tamu penting ayahnya sehingga masakan-masakan lezat harus disediakan di rumahnya. Tiara membantu pembantunya membawa barang-barang bebelanja. Sesekali ia memandang kearah bumbu-bumbu masakan dan bertanya kepada penjualnya jenis bumbu masakan tersebut.

   Ditengah perjalanannya untuk mencari jahe, Tiara seperti mendengar suara indah yang menyanyikan lagu-lagu yang sering di putar oleh neneknya. Lagu itu mengingatkan dengan cerita nenek tentang bagaimana perjuangan cinta antara Romeo dan Juliet. Tetapi kali ini, versi Indonesia. Tiara segera mencari tahu sumber suara merdu itu. Tembok pasar menjadi penghalang terakhir antara dirinya dengan sang penyanyi. Ia segera mencari celah agar bisa melihat langsung orang tersebut. Rupanya itu suara Ali. Ia sedang duduk dibelakang pasar setelah seharian membantu membawa barang-barang dagangan ibunya. Saat ini Tiara sudah berada tepat dihadapan Ali yang masih belum sadar akan kehadirannya. Ingin rasanya Tiara berucap, namun keterbatasan menghalanginnya. Ia hanya mampu diam sambil memperhatikan sepatah dua patah kata lagu perpisahan yang di senandungkan oleh pria manis ini.

  Seketika nyanyian Ali terhenti. Ia kaget ketika melihat sudah ada wanita cantik tepat dihadapannya. Ia berusaha untuk tidak terlihat kaku di hadapan Tiara. Ia menundukkan kepala sejenak di sambut oleh senyuman ramah Tiara.

   Suasana terasa dingin walaupun keduanya memasang mimik ramah. Ali segera berusaha untuk mencairkan suasana. Ali mencoba melakukan pendekatan dengan menanyakan siapa namanya. Namun Tiara hanya terdiam dan seperti memasang wajah bingung. Seketika ia pergi meninggalkan Ali dan kembali membantu pembantunya. Sementara Ali masih terdiam terpaku melihat tingkah Tiara yang bak Cinderella di jam 12 Malam.

  Keesokan harinya, Ali menanti di tempat yang sama. Ia masih terbayang wajah cantik Tiara. Ia menantikan kehadiran sang pujaannya tersebut. Namun sayang, penantian Ali kali ini sia-sia. Tiara tidak muncul lagi di hadapannya. Begitu pula esok, lusa, dan seterusnya.

    21 Agustus. Pukul 8.00

  Tepat sebulan setelah jejak gadis cantik yang menghilang itu, Ali mulai menjalani kehidupannya lagi. Ia memilih untuk membantu ibunya di pasar. Walaupun sesekali ia duduk di balik tembok pasar, berharap Tiara mengunjunginya lagi. Ali masih penasaran dengan sosok Tiara. Kenapa tiba-tiba sang gadis meninggalkannya? Apakah ia membuat kesalahan?
   
   Sesaat kemudian muncullah sosok yang diharapkannya sejak sebulan lalu. Jantung Ali berdegup kencang. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang diberikan mainan kesukaannya. Rasa senang, lega, gugup menjadi satu. Ternyata sejak tadi Tiara mencari sosok Ali. Ia segera mengulurkan tangan disambut oleh Ali yang membalas jabatan tangan perkenalan itu. Kali ini Ali mengawasi agar Tiara tidak kabur lagi.

    Tiara menggenggam secarik kertas di tangannya. Ia segera menyerahkannya pada Ali.

    Namaku Tiara. Aku bisu.

    Ali mengangguk seolah paham dengan kondisi Tiara saat ini.

   “Apakah kau masih bersekolah?”

   Tanya Ali lagi. Tiara tersenyum dan segera berlalu. Ia menyisakan pertanyaan yang belum terjawab hingga satu bulan kedepan.

    21 September. 7.30

   Ali kembali menemukan sosok Tiara yang menghilang sejak satu bulan lalu. Kali ini rambut sebahu Tiara sudah mulai memanjang. Ia nampak lebih cantik dari sebelumnya. Tiara kembali tersenyum kepada Ali. Setelah Tiara menjabat tangan Ali, Ia memberikan secarik kertas dengan ukuran dan warna yang sama dengan sebelumnya.

    Tidak. Tidak ada sekolah di sekitar kota yang mau menampungku.

   Ali merasa kasihan dengan Tiara. Walaupun gedung sekolah Ali sangat memprihatinkan, namun saat ini menurutnya pendidikan Tiara lah yang jauh lebih memperhatinkan. Gadis secantik ia harusnya bisa bersekolah di tempat elit, berprestasi, sampai akhirnya menjadi seorang wanita karier yang diidamkan oleh semua pria di dunia. Namun, mungkin dibalik segala harapan sirna tersebut Tuhan memberikan alasan lain. Dengan cara ini Ali bisa berkenalan dengan Tiara. Jika Tiara menjadi wanita karier, mungkin ia akan sulit untuk berkenalan bahkan untuk menjabat tangannya.

    “Berapa usiamu?” 

   Kali ini pertanyaan ketiga kalinya oleh Ali. Ia masih penasaran dengan siapa Tiara. Walaupun mungkin Tiara akan menghilang kembali dan menyisakan tanda Tanya di hati Ali. Ternyata benar. Tiara kembali pergi. Ali kembali menunggu dalam sebuah penantian panjang untuk sebuah jawaban dari Tiara.

    21 Oktober 7.00

    Tiara kembali dengan membawa secarik kertas.

    16 tahun. Bagaimana denganmu?

    “Sama, usiaku juga 16 tahun. Lalu tanggal berapa kau lahir?”

    Rasa penasaran Ali seolah membuatnya lupa untuk harus menanti selama satu bulan lagi. Ali masih terlalu polos untuk tahu tentang rasanya kehilangan. Ia hanya mampu menyenandungkan lagu perpisahan ala Romi dan Julie tanpa mengetahui maknanya.

   Ali kembali menunggu. Kali ini ia mulai kehabisan kesabarannya. Ia segera berjalan menuju sebuah pasar loak yang terletak tidak jauh dari pasar sayuran. Sambil memperhatikan sekitar, ia mencari benda-benda yang sejak tadi ia butuhkan.

    “Mencari apa, nak?”

   Kata pemilik toko yang melihat gelagat kebingungan Ali. Ali baru sadar jika sejak tadi pemilik toko sudah memperhatikannya.

    “Buku bahasa isyarat, ada pak?”

    Katanya mantap.

    Setelah mendapatkan buku yang diinginkan, Ali membuka lembar per lembar dari buku usang itu, Ia tidak sabar untuk mempelajarinya. Ilmu ini mungkin akan ia kembangkan, sama seperti ilmu mengaji. Ali mengucap bismillah tatkala memulai pelajaran isyarat ini, berharap segala kemudahan memperlancar tuntutan ilmu ini.

     21 November. 8:00

    Ali sudah berada di balik tembok pasar. Ia tidak sabar bertemu dengan Tiara lagi. Satu menit dua menit, sosok Tiara belum muncul juga. Ali berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya dengan berbatuk-batuk sedikit. Ibunya yang sejak tadi melihat gelagat aneh anaknya hanya bisa tersenyum. Tingkah orang yang jatuh cinta memang selalu unik.

   Sepasang sepatu coklat sudah berada di depan Ali. Ali yang sejak tadi melamun baru tersadar jika sesosok wanita anggun sudah berada di hadapannya sekitar 5 menit yang lalu. Tiara menyerahkan kertas nya lagi.

    21 November

    Ali tersenyum sejenak.

    “Hey, ulang tahun kita sama”

    Katanya.

    Tiara membalas ucapan Ali dengan tersenyum. Ia menanti pertanyaan selanjutnya dari Ali.

   Di sisi lain, Ali segera memantapkan diri untuk memberikan pertanyaan berikutnya. Namun kali ini ia mengucapkan dengan menggunakan isyarat tangan.

     “Apakah kali ini kau akan menjawab pertanyaanku satu bulan lagi?”

   Katanya dalam sebuah gerakan tangan. Gerakannya masih sangat lamban karena ia masih harus menghafal satu persatu kata yang akan diucapkan.

  Tiara terkejut melihat Ali yang mampu berbicara isyarat. Matanya berkaca-kaca. Ia membalas isyarat Ali.

    “Ya”
   Katanya. Mereka tersenyum bersama. Ali dan Tiara saling berpandangan. Keduanya saling membalas gerakan tangan satu sama lain.

   “Selamat Ulang Tahun, Tiara”
   “Selamat Ulang Tahun, Ali”

0 komentar