Cerita Darata


Sore ini aku kembali duduk dibangku kantor. Kali ini bukan untuk mengerjakan tugas perkantoran, tetapi yang lain. Sejujurnya, beberapa bulan ini aku bergabung dalam sebuah perkumpulan cerita. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasa, kami sama sekali tidak diperbolehkan untuk bertatap muka secara langsung. Kami akan dipertemukan disebuah situs website setiap hari Jumat jam 4 sore. Pada jam tersebut, kami akan saling bertukar sapa dan berbagi cerita masing-masing tentang banyak hal mulai dari kisah menyenangkan bahkan tragis sekalipun. Disini kami dibebaskan untuk berbagi cerita kepada seluruh orang di anggota, atau memilih salah satunya saja. Setelah itu diakhir pertemuan tak langsung ini, kami akan berdiskusi tentang makna hidup. Perkumpulan ini memang belum banyak diketahui orang. Anggotanya masih bisa dihitung jari.Setiap anggotanya pun kebanyakan berasal dari kota yang berbeda-beda. Meskipun begitu, aku sudah merasa betah untuk bergabung bahkan aku selalu menantikan hari Jumat sore tiba.

Sore ini, aku kembali duduk dibangku kantor. Hujan sore itu berhasil membuat aku semakin terpacu untuk membuka website itu. Minggu lalu, kami membahas tentang cerita dari salah seorang anggota yang merasa jika ia merasa tidak memiliki arah tujuan hidupnya lagi. Dan berkat solusi dari anggota lainnya, ia berhasil memantapkan diri dengan tujuannya.

“Aku akan mulai mengembalikan diriku seperti dulu lagi. Dan menurutku, saat ini aku sangat membutuhkan liburan,”

Katanya.

“Mungkin kamu butuh ke pantai?”

Jawab anggota lain.

“Menurutku itu bukan ide yang terlalu buruk,”

Setelah itu, si-yang-punya-masalah menghabiskan waktunya selama empat hari untuk berlibur. Dan benar saja, beberapa hari kemudian ia mengunggah foto dirinya yang terlihat lebih ceria melalui akun media sosialnya.

Setelah beberapa saat membuka situs website tersebut, aku menemukan sebuah pesan pribadi yang dikirimkan seseorang di akun milikku. Dan benar saja, sekitar setengah jam yang lalu, seorang anggota berusaha untuk menyampaikan ceritanya padaku. Dan ini baru pertama kalinya aku mendapat pesan pribadi di website ini. Sepertinya ia hanya ingin menyampaikan ceritanya padaku, tidak pada keseluruhan anggota.

Dari: Darata
(Jumat, 15:30)

Hai Tania,
Kamu pasti mengenaliku kan? Aku sudah bergabung di klub ini selama hampir tiga bulan yang lalu. Kamu tahu kenapa aku mengirimkan pesan ini kepadamu? Minggu yang lalu, aku sempat membaca semua petuah dari anggota-anggota klub dan menurutku kamu lah yang benar-benar paling bisa untuk memberikan solusi terbaik. Aku tahu mungkin kita belum pernah bertemu langsung, tapi aku merasa kamu bisa menjadi teman baikku bahkan diluar perkumpulan ini sekalipun. Kita berasal dari kota yang sama, Bandung, dan mungkin itu juga alasanku memilih kamu untuk menjadi bagian dari ceritaku ini.
Tania, aku ingin menceritakan sebuah cerita padamu.
Pernahkah kamu merasa sangat kehilangan sosok sahabat?
Mungkin kedengarannya ini cerita yang cukup wajar, karena pasti semua orang pasti akan hilang di hidup kita. Entah untuk sementara atau untuk selamanya. Tapi kali ini aku merasa kehilangan salah seorang sahabat yang menurutku cukup baik. Bukan karena tiada, tetapi aku merasa ia sudah berubah menjadi orang lain. Kamu pernah merasakan ini, Tania?
Hampir empat tahun yang lalu, aku memiliki seorang sahabat baik. Ia berasal dari kota yang sama denganku, dan kami memiliki segala kesamaan dalam berbagai hal. Kami sering menghabiskan waktu bersama, menonton, karaoke, foto, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Kami sama-sama suka untuk mencoba makanan baru dan setiap hari kerjaan kami hanya mencoba kuliner diberbagai penjuru Jawa Barat. Tak beberapa lama, aku dan dia berada di kelas yang berbeda. Mulanya komunikasi kami masih baik-baik saja. Kami masih sering bertegur sapa saat bertemu dan saling menghubungi melalui pesan. Tetapi aku merasa, semakin lama ia semakin berbeda. Ia bukan lagi orang yang aku kenal, bahkan ia seperti hendak menjauh dengan cara memberi alasan untuk benar-benar tidak ingin bertemu denganku. Aku mulai merasa jika ia sudah menemukan sahabat yang lebih baik dariku. Aku mulai merasakan apakah ini yang dinamakan rasa dicampakkan oleh sahabat sendiri? Tanpa memikirkan diri sendiri, aku mulai untuk memilih mencari teman-teman lainnya. Meskipun sebenarnya aku merasa jika pertemanan ini seharusnya tidak berakhir seperti ini. Kami jarang bertemu dan akhirnya kami lost contact. Kami memulai untuk menjalani hidup masing-masing. Dan dibeberapa hari yang lalu, aku menemukan sebuah hadiah dan pesan yang dikirim seseorang tepat didepan rumahku. Ternyata ia yang mengirimnya. Ia bilang jika ia menyayangkan persahabatan kami yang menurutnya tak seperti dulu lagi. Ia merasa jika aku sudah berubah menjadi sosok yang lain. Ia meminta maaf jika ia punya salah, karena beberapa hari lagi ia akan meninggalkan kota ini untuk melanjutkan studinya.
Menurutmu, apa yang harus aku lakukan, Tania?

Aku mengulang untuk membaca pesan Darata sebanyak lima kali. Aku bisa merasakan bagaimana sedihnya berada di posisi Darata yang merasa kehilangan sahabat karena dulu aku pernah merasakan hal yang sama. Bahkan dulu aku sempat rela untuk meninggalkan seseorang yang sangat aku suka demi sahabatku yang ternyata dekat dengan pria tersebut. Menurutku lebih baik kehilangan orang yang dicintai dibanding kehilangan sahabat sendiri, adil bukan?

Kemudian aku mulai mengetikkan kalimat-kalimat yang terlintas di kepalaku saat itu.

Tania: Siapa nama temanmu itu, Darata?
Darata: Dera, kenapa?
Tania: Lebih baik besok kamu menemui Dera.
Darata: Kenapa? Aku merasa canggung untuk bertemu dengannya lagi.
Tania: Kalau setelah ini, selamanya kamu tidak bisa bertemu dengan Dera lagi, bagaimana?
Darata: Maksud kamu?
Tania: Kalau besok dan selamanya, Dera hanya sebuah nama saja bagaimana? Dera bisa jadi orang sukses diluar sana yang bahkan lupa denganmu karena kamu tidak memaafkannya. Atau nama Dera ada di papan nisan dengan sejuta kenangan kalian dulu, bagaimana?

Darata tidak membalas pesanku selanjutnya. Sepertinya ia membutuhkan waktu sendiri untuk menentukan pilihannya.

Beberapa menit kemudian aku kembali membuka website perkumpulan itu. Seperti biasa, 15 menit sebelum kami mengakhiri pertemuan, kami harus berdiskusi tentang makna kehidupan.

“Menurut kalian bagaimana makna persahabataan yang sesungguhnya?”

Tanya seorang anggota.

“Menurutku, persahabatan yang tepat adalah tentang suka dan duka. Asal dia ada dikeduanya, berarti ia sahabat”

Jawab seorang anggota.

“Menurutku, sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa menjadi pendengar dan penasihat terbaik,”

“Menurutku, selama kita merasa betah didekatnya, ia adalah sahabat,”

“Menurutku, hmm…aku tidak terlalu paham persis tentang sahabat. Aku tidak memiliki sahabat baik hingga hari ini haha”

Aku hanya menyimak sambil sesekali membayangkan apa respon dari Darata nanti jika ia membaca diskusi ini.

“Menurutku, persahabatan bukan tentang keberadaan. Entah hari ini bisa bertemu atau tidak, sahabat akan tetap menjadi sahabat. Selama namanya masih ada dalam memori indah kita, dia tetap sahabat. Itu yang dikatakan Dera, sahabat lamaku, 4 tahun yang lalu,”

Jawab Darata tak beberapa lama.

Kami mengakhiri pertemuan sore itu.

0 komentar