Kenangan Nenek (17 Oktober 2016)

   Usia nenek lebih dari 80 tahun. Nama lengkapnya Norma Tanjung atau yang biasa papa sebut Nenek Iyo karena nenek memiliki usaha RM Padang Saiyo. Nenek gemar mengaji dan lantunan suaranya saat ngaji sangat sendu seperti sedang sedih. Setiap pagi nenek menyalakan televisi untuk menyaksikan tayangan Religius di Indosiar. Pengetahuan agama nenek sangat luas. Nenek selalu sholat tepat waktu dan tidak pernah meninggalkan sholat sekalipun meskipun sudah kesulitan untuk bergerak luwes. Nenek selalu sholat dalam keadaan duduk. Nenek adalah sosok yang cukup pendiam. Ia jarang sekali meminta bantuan dan nenek adalah tipe orang yang tidak mau menyusahkan orang lain. (Kata mama) nenek sama sekali tidak pernah marah pada anak-anaknya. Setiap anak-anaknya melakukan kesalahan, nenek hanya akan memberikan nasihat. Jika kesalahan yang dilakukan anaknya cukup besar, nenek akan mencubit dirinya sendiri sebagai hukuman bagi dirinya karena tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Meskipun termasuk orang yang cukup pendiam, nenek sering berbagi cerita tentang masa hidupnya dulu. Ingatannya cukup tajam untuk mengenang cerita lampaunya baik cerita baik maupun buruk. Beberapa cerita yang disampaikan nenek sempat menyentuh hati para cucu yang mungkin masih beruntung bisa mendengar cerita-ceritanya. Salah satu nya cerita ini..
  Nenek kami adalah perantau dari Pariaman. Beliau terlahir dari seorang pelaut yang mengembara di tengah laut pantai Mentawai. Berpuluh-puluh tahun yang lalu, Mentawai masih jauh dari kata wisata destinasi Indonesia. Kehidupan nenek dan keluarganya cukup menyenangkan. Hingga sampai akhir hayatnya, nenek masih mampu membedakan berbagai jenis ikan dan membedakan ikan mana yang masih segar dan tidak. Keluarga nenek saat itu hidup dengan bermodalkan perahu mewah milik ayahnya. Setiap hari ayah nenek kembali dengan membawa ikan-ikan yang ditangkapnya melalui jala. Mereka hidup sangat bahagia saat itu. Namun beberapa saat kemudian, kebahagiaan itu sirna. Perahu yang dimiliki oleh ayah nenek hancur diterjang ombak. Seketika, ayah nenek mengumpulkan anak-anaknya untuk menyampaikan kabar duka tersebut.
  “Perahu kita hancur, nak,”
   Kata ayah nenek. Semua anak terdiam. Tidak ada yang berani memberikan suara.
  Semenjak saat itu, ayah nenek selalu diam. Mungkin ia merasa segala harapannya sirna. Laut Mentawai yang mulanya sangat indah menjadi sebuah berita buruk saat itu.
    Kata Mama, Mentawai adalah luka keluarga kami.
   Semakin lama, ayah nenek semakin larut dalam kesedihannya. Beliau menjadi depresi dan anak-anaknya tidak bisa berbuat banyak. Nenek dan beberapa anggota keluarga memutuskan untuk merantau demi kembali membangun kehidupan baru. Ya, nenek adalah orang minang dan merantau menjadi bagian jiwanya.
   Entah bagaimana kisah pertemuan antara nenek dan kakek saat itu. Nenek tidak pernah atau mungkin belum sempat untuk menceritakannya pada kami. Mungkin suatu hari nanti akan diceritakan nenek didalam mimpi kami masing-masing.
  Nenek memilih merantau ke Tebing Tinggi. Tebing Tinggi adalah sebuah daerah yang terletak di Sumatera Utara. Perjalanan untuk ke Tebing Tinggi ditempuh sekitar 1,5 jam dari Medan. Kakek memilih untuk membangun bisnis dengan membuka tempat jahit. Tempat jahitnya memang laku keras dan dikenal oleh orang sekitar. Hingga suatu hari, tempat jahit kakek sempat merugi sehingga membuat keluarga mengalami krisis. Nenek tidak hilang akal saat itu. Sedikit demi sedikit, dengan uang tabungan nenek membeli berbagai piring dan sendok bekas dengan kualitas baik dengan jumlah banyak. Beliau mulai menyicil selusin demi selusin hingga jumlahnya cukup banyak. Kemudian beliau mulai membeli panci ukuran besar dan juga alat penggorengan lainnya. Nenek menyimpan semua perlengkapan tersebut dalam lemari tuanya. Kakek sempat tidak mengerti apa tujuan nenek membeli barang-barang tersebut karena nenek tidak pernah mengatakan alasannya. Suatu malam, Berbekal ilmu memasak, beliau mengumpulkan para anaknya yang berjumlah delapan orang.
    “Nak, mulai besok kita jualan makanan padang ya,”
     Katanya dengan nada lembut. Seluruh anaknya masih tidak mengerti maksud nenek.
     “Kalo kita buat rumah makan padang, nanti uang kita banyak. Kita bisa beli baju setiap hari,”
     Kata nenek menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah. Seluruh anaknya mengangguk. Saat itu, mama dan anak-anak nenek lainnya masih sangat belia. Mama masih duduk di bangku SD dan masih punya tiga adik lainnya yang masih sangat kecil. Nenek mulai membagikan tugas masing-masing. Nenek yang bertugas di dapur. Anak pertama membantu mempersiapkan makanan. Anak kedua membantu membeli kebutuhan yang diperlukan.  Anak ketiga dan keempat (Alm) membantu menerima pesanan dari para pembeli. Anak kelima (Mama) membantu menjaga ketiga adiknya agar tidak rewel selama yang lain bertugas. Kembali, semua anak nenek mengangguk.
   Rumah makan nenek mulai dibuka keesokan harinya. Semua berjalan dengan lancar. Rumah makan dengan nama “SAIYO” berhasil menarik pengunjung untuk datang. Banyak yang puas dengan menu masakan padang buatan nenek. Bahkan banyak orang yang menjadi langganan masakan tersebut. RM Padang SAIYO menjadi rumah makan yang dikenal oleh masyarakat Tebing Tinggi hingga saat ini. Untuk yang berkunjung ke Tebing Tinggi, tinggal menyebut “SAIYO” kepada pengendara becak atau transportasi lainnya dan mereka akan langsung mengantar ke tempat tujuan tanpa menanyakan alamat lengkap.
    Masakan padang nenek masih kental dengan resep asli Padang. Nenek jago memasak. Meskipun beberapa tahun kemudian nenek merekrut orang untuk membantu memasak, tapi nenek tetap memantau prosesnya agar cita rasa rendang buatan nenek tidak berubah.
   Nenek masih gemar memasak. Meskipun rumah makan padang SAIYO sudah tutup beberapa tahun belakangan, nenek tetap rajin membantu memasak anaknya. Nenek suka membantu memotong wortel, cabai dan bahan-bahan lainnya. Nenek juga yang akan menjadi pencicip dari masakan yang dbuat oleh anak-anaknya dan memberi tahu bahan apa saja yang kurang. Masakan nenek sama sekal tidak menggunakan perasa buatan. Nenek selalu menambahkan bumbu alami seperti garam, kuah kaldu atau rempah-rempah untuk membuat cita rasa yang hampir sama dengan bumbu buatan. Nenek selalu memperingatkan bahwa bahan perasa tambahan sangat berbahaya untuk tubuh kami.
   Beberapa kali, nenek mengirimkan masakan rendangnya kepada keluarga kami yang tinggal di pulau yang berbeda. Entah saat salah satu keluarga Tebing berkunjung ke rumah atau saat mama merindukan masakan nenek. Nenek selalu senang memasakkan rendang-rendang kering untuk para anaknya. Rendang buatan nenek memang sangat khas. Bahkan sampai saat ini, mama belum bisa untuk menyamakan cita rasa rendangnya dengan buatan nenek. Entah mantra apa yang nenek gunakan, nenek memang koki terbaik didunia.
   Cerita lain, nenek adalah orang yang mudah menaruh rasa prihatin dengan orang lain. Dulu, nenek melarang anak-anak perempuannya untuk kerja meskipun seluruh putrinya sudah menempuh pendidikan perkuliahan. Nenek takut jika putri-putrinya merasa lelah saat kerja nanti.
    “Kalian ga usah kerja nanti capek. Kalo butuh uang, tinggal minta emak aja,”
     Katanya.
    Saat itu, usaha rumah makan padang nenek memang sedang meningkat pesat sehingga untuk masalah ekonomi nenek tidak pernah merasa keberatan.
     Banyak orang bilang jika semua orang  padang itu pelit. Nyatanya, nenek tidak! Nenek adalah orang paling royal dengan hati sebersih kapas. Nenek selalu membagikan makanannya kepada orang-orang sekitar yang mengalami kesusahan. Nenek selalu merasa kasihan kepada para peminta-minta yang kelaparan. Sehingga tidak sedikit orang kelaparan yang datang untuk meminta masakan nenek tanpa biaya sepeserpun. Kebaikan nenek bukan hanya dilakukan dilingkungannya saja. Ketika naik haji beberapa tahun yang lalu, nenek sempat memasakkan makanan untuk para jamaah yang kelaparan. Kakek sempat bertanya-tanya mengapa nenek mau merepotkan dirinya untuk orang-orang yang bahkan sama sekali tidak nenek kenal.
      “Kasihan, mereka nanti kelaparan,”
       Begitu singkatnya jawaban nenek.
     Jiwa nenek yang tidak ingin menyusahkan orang lain dilakukannya dalam berbagai hal. Bahkan, nenek sangat enggan untuk membeli atau melakukan sesuatu selama ia masih sanggup melakukannya sendiri. Nenek berupaya untuk tidak menyusahkan orang-orang sekitarnya. Beberapa hari sebelum ia menemui ajalnya, ia sempat mengeluh sakit di bagian jantung. Saat itu nenek lebih sering tinggal dirumah anaknya yang ke tujuh. Nenek sama sekali tidak memberitahu tentang kondisinya tersebut kepada anak ketujuhnya. Ia justru memilih menghubungi salah satu menantunya yang juga memiliki riwayat sakit jantung untuk cek jantung bersama di rumah sakit.
    Sebelum menghembuskan nafas terakhir, nenek dirawat dirumah sakit selama tiga hari. Mama sempat syok ketika tahu jika nenek ternyata sempat mengeluh sakit dan tidak memberitahu siapapun. Nenek mendadak tidak sadarkan diri di hari Jumat, 14 Oktober 2016. Nenek langsung dibawa ke UGD RS Sri Pamela Tebing Tinggi. Saat itu, setelah mendengar kabar tentang kondisi nenek, mama langsung memesan tiket untuk berangkat kesana. Seluruh pikiran mama seolah tertuju pada nenek sehingga beliau memilih untuk melamun hari itu.
    Menurut cerita yang lain, nenek sempat sadar beberapa saat ketika mama datang. Beliau menatap mata mama yang sudah hampir meneteskan air mata dan menggerakkan jari telunjuknya seolah mengatakan, “Nak, aku masih ada disini. Jangan menangis,”.
   Nenek seolah memberikan waktu tiga hari untuk para keluarganya berkumpul. Tiga hari mungkin bukan waktu yang lama untuk mama dan para keluarga lain yang tinggal jauh untuk kembali menggengam tangan nenek disaat-saat terakhirnya. Namun, dengan tiga hari tersebut, nenek seolah kembali menunjukkan jiwa nya untuk tidak menyusahkan yang lain dengan menunggu kondisi yang terbaik untuk nenek.
   Tepat di waktu para muslim untuk bertahajud, nenek menghembuskan nafas terakhirnya. Kondisi nenek mungkin sangat sulit untuk kembali membaik meskipun masih banyak doa mengalir untuk kesembuhan nenek.
    Nenek yang sempat takut ajalnya tiba akhirnya pasrah untuk menerima takdir terbaiknya.
  Beberapa waktu lalu, Nenek sempat menceritakan tentang ketakutannya jika ajal datang nanti. Ia takut tidak bisa lagi membantu anak-anaknya ketika mengalami kesusahan. Beliau juga tidak bisa mengira-ngira kapan ajalnya akan tiba. Sebuah percakapan setahun silam sempat membuat kami merasa takut jika hari itu tiba..
   Nenek sempat menceritakan tentang baju gamis putih yang selalu ia gunakan setiap kali ada acara penting keluarga baik pengajian maupun pernikahan anak atau cucunya. Baju itu pertama kali digunakan nenek di pengajian pernikahan mama dan papa dan sampai pernikahan cucu nya di tahun lalu tetap ia gunakan. Baju gamis putih itu masih tetap terlihat bersih sampai saat ini. Setelah digunakan, nenek akan mencucinya sendiri, mengikat bajunya dengan tali rafia dan menyimpan di lemari pakaiannya. Tidak ada noda sedikitpun dipakaian bersejarah itu. Nenek sama sekali tidak pernah meminta untuk dibelikan baju baru, bahkan baju pengganti gamis putih itu. Hingga suatu hari, nenek membeberkan tentang kisah sang gamis putih dan membuat mama berniat untuk membuatkan nenek baju untuk acara penting selanjutnya. Mama menghadiahkan dua buah gamis bermotif bunga abstrak berwarna putih dan biru untuk nenek saat nenek berkunjung ke Bandung. Nenek tampak sangat senang menerima pakaian itu, namun beliau sempat menyampaikan pesan yang cukup menyentuh hati kami.
   “Baju ini buat emak?”
    Tanya nenek sambil menggenggam dua baju gamis tadi.
    “Iya mak, nanti emak pakai ya kalau ada acara-acara penting. Jadi emak bajunya ganti-ganti, gak cuma gamis putih itu. Baju nya bisa buat pesta anak-anak ini nanti, mak,”
     Kata mama dengan nada penuh pengharapan.
    “Mak gak tau masih bisa datang ke pesta Meta Opi nanti apa engga,”
    Jawabnya dengan nada lembut.
   Ucapan tersebut seperti menyiratkan bagaimana nenek merasa jika ajalnya akan tiba.
* * *
   Nek, mungkin sekian kenangan nenek yang bisa disampaikan. Bahkan saat menulis cerita ini, air mata masih sulit untuk kami tahan. Nenek masih terasa dekat dengan kami, bahkan nenek seperti hanya tidur sebentar dan akan bangun lagi.
   Nek, banyak hal yang masih kami ingin pelajari dari nenek. Tentang bagaimana tangguhnya nenek merantau ke provinsi lain. Tentang ketulusan dan kesucian hati nenek yang menjadi kelebihan utama nenek. Tentang kesabaran nenek dalam menghadapi hidup. Kami masih terlalu awam untuk tahu bagaimana mengarungi dunia ini, nek. Kami masih butuh petuah lembutmu.
    Nek, mungkin saat ini nenek sudah bahagia bertemu dengan kakek yang hampir 9 tahun tidak ada disisi nenek lagi. Nenek juga kembali dipertemukan dengan anak keempat nenek yang sudah terlebih dahulu menemui ajalnya di usia 17 tahun. Nenek juga sudah kembali bertemu dengan keluarga nenek yang sudah berada di dunia sana.
    Mungkin saat ini nenek kembali berada dipangkuan ayahnya. Kembali bernostalgia kisah lama mereka tentang bagaimana tangguhnya perahu sang ayah menyebrangi ombak Mentawai.
Selamat jalan nenek. Kami akan selalu mengenangmu.
(Kisah ini ditulis dengan penuh air mata kami)

0 komentar