C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >



“Kamu yakin kita harus pindah minggu ini?”

Kataku setengah tidak percaya. Bagaskara, si lawan bicaraku ini hanya menganggukkan kepala sembari sibuk membuka lembaran kertas dihadapannya.

“Aku gak mau ninggalin Jakarta, Bagas”

Aku segera mengubah posisi duduk, tepat dihadapan Bagaskara agar ia mau memandang kearahku. Usahaku sia-sia. Ia masih sibuk dan menjawab singkat setiap pertanyaan yang aku ajukan sejak tadi.

“Bagaskara, bisa tidak kamu anggap ini permasalahan serius?”

Aku mulai kehabisan kesabaran dan mulai berintonasi tinggi. Akhirnya Bagaskara menyadari emosiku dan perlahan melepas kertas yang ada digenggamannya. Ia memandangiku dengan tatapan seolah-olah tak ada masalah apapun.

“Bisa kita menetap di Jakarta selamanya? Aku gak mau pindah ke Padang”

 “Kenapa?”

Jawabnya singkat. Kali ini sorot matanya menatapku tajam. Aku menelan ludah dan mulai mencari seribu alasan.

“Ya, aku betah di Jakarta. Kamu tahu kan aku lahir di Jakarta, besar disini. Aku gak mau ninggalin kota ini,”

“Kita cuma pindah sementara Shaira. Lagipun, kalo kamu rindu Jakarta, kita bisa kembali kesini kapanpun. Kalo aku dapat cuti kerja, kita bisa kembali kesini.”

“Gak semudah itu, Bagas. Rumahku disini, dan aku sama sekali tidak mau ninggalin kota ini.”

“Itu resiko kamu menikahi abdi negara, Shaira. Kamu harus siap, pindah kemanapun dan kapanpun. ”
Kata Bagas sembari pergi meninggalkanku.

Aku masih menggerutu sambil memandangi foto berseragam Bagaskara yang terpajang diruang keluarga.

Bagaskara, suamiku. Wataknya sangat keras kepala (menurutku). Meskipun sejak awal perkenalan ia terkesan sangat pendiam, tetapi akhir-akhir ini aku semakin bisa menilai tabiat menyebalkannya. Bagaskara memang susah ditebak. Entah dalam hal keinginan maupun emosinya. Dan aku, si anak bungsu yang memang sejak dulu di didik manja. Sejak memutuskan hidup bersama Bagaskara, aku mulai mencoba menekan emosi dan egoku. Sifat keras kepala Bagaskara dan aku memang 11:12, hampir tidak ada bedanya. Selalu saja tidak ada yang mau mengalah diantara kami, meskipun hingga empat tahun pernikahan ini belum ada perdebatan sengit diantara kami. Dan hari ini, sepertinya pertengkaran akan kembali terjadi.

Seminggu yang lalu, Bagaskara mendapat surat keputusan mutasi ke Padang. Dan sejak awal memutuskan menikah dengan Bagaskara aku harus menerima resiko untuk pindah kemanapun ia ditugaskan. Namun bukan hal mudah bagiku, meskipun dulu aku pernah pindah ke Pariaman karena tugas ayah dan hanya bertahan sebulan aku kembali ke Jakarta. Sudah seminggu ini aku memohon padanya untuk tetap menetap disini. Tetapi hasilnya nihil. Kami masih belum bisa memutuskan, ego siapa yang harus dipertahankan.

* * *
“Selamat Datang di Bandar Udara Internasional Minangkabau”

Suara pramugari terdengar di penjuru pesawat sesaat setelah pesawat mendarat.

Ya, setelah perenungan seminggu ini, akhirnya aku memutuskan untuk mengalah. Mau tidak mau, Bagaskara pindah ke Padang. Dan mau tidak mau pula, aku harus mendampinginya disana. Meskipun Bagaskara asli dari Sumatera Barat dan keluarganya masih tinggal disana, aku harus tetap ikut dengannya.

“Nanti kita dijemput Ajo (Bahasa Minangkabau, artinya: kakak Pria) dan langsung ke rumah amak (ibu),”

Kata Bagaskara memberi intruksi. Aku hanya mengangguk saja dengan memasang wajah cemberut.
Perjalanan dari bandara ke rumah Bagaskara ditempuh kurang lebih satu jam. Dan selama perjalanan, aku memilih untuk bungkam. Bagaskara bukan tipe pria yang suka untuk membujuk wanitanya saat kesal. Ia hanya sesekali mengalihkan pandangan kearahku, dan kembali berbincang dengan Ajo-nya dengan bahasa Minang.

“Gimana Shaira bisa mutusin buat pindah kesini? Jakarta kan lebih nyaman,”

Kata Bang Asnan kepadaku.

“Ya gimana lagi, bang. Kan harus ikut suami bertugas,”

Jawabku singkat.

“Semoga betah disini ya, ra”

Katanya dengan logat khas Sumatra Barat. Aku hanya menjawab dengan senyuman sambil melirik kearah Bagaskara.

‘Bagaskara dan Bang Asnan sangat beda jauh! Abangnya sangat ramah. Sedangkan ia? Untuk minta dibuatkan teh saja butuh perdebatan-perdebatan pagi yang menyebalkan.’

Batinku mengeluh.

* * *
Setiba dirumah Bagaskara, aku segera masuk dan melihat ke sekeliling rumah. Dekorasi rumah ini masih terkesan tradisional namun sangat terawat. Beberapa foto usang Bagas dan Bang Asnan terpajang rapi di dinding rumahnya.  Amak Bagaskara sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu karena sakit. Sedangkan Abaknya (ayah) sudah lama meninggal sejak Bagaskara duduk dibangku sekolah dasar. Sekarang rumah itu ditempati oleh Bang Asnan, istrinya, dan dua anak kembarnya yang masih kecil-kecil. Hari itu, istri Bang Asnan sedang tidak ada dirumah karena menemani perpisahan sekolah kedua putranya.

“Habis ini mau Ajo antarkan kemana lagi?”

Tanya Bang Asnan pada kami.

“Indak paralu, jo (artinya: tidak perlu, bang). Bagas sama Shaira mau jalan-jalan berdua nanti malam,”

Aku memandangi wajah Bagaskara dengan tatapan aneh. Tidak biasanya ia mau menemaniku berjalan-jalan. Bahkan selama ini aku harus menangis meraung-raung dulu jika bosan dirumah dan ingin mengajaknya keliling kota. Itupun kadang ia mengajak makan diluar dan setelah selesai langsung kembali kerumah.

“Jalan kemana?”

Kataku pada Bagas.

“Jembatan Siti Nurbaya. Kamu belum pernah kesana kan?”

Aku menggelengkan kepala dan bergegas pergi seolah tidak tertarik untuk kesana.

Siang itu, Bagaskara dan Bang Asnan menghabiskan waktu untuk berbincang diteras, sedangkan aku memilih untuk dikamar saja. Tanpa sepengetahuan Bagas, aku mulai membrowsing Jembatan Siti Nurbaya, tempat yang akan kami kunjungi malam ini. Dari gambar-gambar yang aku lihat di internet, tempatnya cukup menarik dan romantis. Meskipun aku sama sekali tidak berekspektasi tinggi melihat sifat Bagas yang jauh dari kata romantis.

* * *
Dalam setengah jam, kami sudah sampai di lokasi, yakni Jembatan Siti Nurbaya. Mirip dengan yang aku lihat di internet tadi, sangat manis. Lelampuan kota dan kapal yang bersandar menyatu padu dan seolah menghidupkan suasana jembatan itu. Tempat yang cukup tenang, dan mungkin bisa jadi pelarianku jika kesal dengan Bagaskara nanti.

Aku menghirup napas dalam-dalam. Mencoba menikmati setiap angin sepoi disana. Sesekali suara nyanyian dan musik khas Sumatra Barat terdengar samar-samar dan membuat suasana makin nyaman. Dan beberapa kali, aku merasa de javu dengan tempat itu. Ya, mungkin karena aku pernah tinggal disana dan pernah berkunjung kesini sebelumnya. Dan sepertinya pemandangannya tak seindah hari ini.

“Shaira, duduk disini,”

Kata Bagaskara yang ternyata sudah mengambil dua kursi plastik. Aku segera menghampirinya. Agaknya malam ini suasana hatinya cukup baik. Entah karena ia berada di kampung halamannya atau karena alasan lain.

“Ini jembatan siti nurbaya?”

Tanyaku.

Bagaskara mengangguk sambil menerima segelas kopi yang dihidang oleh pedagang kaki lima.

“Kamu tahu kan ceritanya?”

Giliran aku yang mengangguk. Cerita siti nurbaya memang sudah melegenda sejak dahulu.

“Kasian ya Siti Nurbaya, dipaksa nikah sama pria yang gak pernah ia suka dari dulu,”

Kataku. Kemudian suasana terasa hening, tidak ada jawaban dari Bagaskara pun dariku.

“Kamu pernah suka dengan wanita lain?”

Tanyaku pada Bagaskara. Entah pikiran apa yang meracuniku hingga aku memberikan pertanyaan tidak penting itu padanya.

Tak disangka, Bagaskara mengangguk.

“Siapa?”

“Wanita yang aku cinta setelah Amak. Dulu aku pernah suka dengan anak perempuan di Menengah Pertama. Setiap ketemu dia, aku selalu buat surat cinta karena gak pernah berani buat bicara langsung ke dia. Suratnya belum pernah sampai ketangan perempuan itu,”

“Kenapa? Kamu gak berani ngasih langsung?”

“Bukan, aku pernah punya niat buat ngasih suratnya pas hari Jumat, sebelum libur sekolah. Tapi ternyata aku kena cacar, dan terpaksa gak sekolah selama dua minggu. Dan ternyata waktu aku sembuh dan masuk sekolah, perempuan itu udah pindah sekolah,”

Kata Bagaskara sambil menghembuskan napas dengan berat.

“Trus cuma sampai situ? Kamu gak pernah tahu perempuan itu pindah kemana? Atau kamu gak ada niatan untuk cari dia?”

Bagaskara hanya tersenyum dan memandangiku dalam-dalam.

“Sudah, dan berhasil,”

“Hey, apa maksudnya?”

Jawabku sedikit cemburu.

“Ya wanita itu yang ada di hadapanku hari ini,”

Jantungku berdegup kencang. Aku yakin ini bukan gombalan, karena setahuku ia memang tidak pernah jago untuk menggombal.

“Mau dengar isi suratku 12 tahun yang lalu?”

Tanyanya. Aku segera mengangguk penasaran.

Bagaskara segera mengubah posisinya, memandang mataku dengan tajam.

“Untuk Shaira. Kamu tahu, hari ini aku, Bagaskara – si anak Amak, telah melanggar satu larangan Amak,”

Ia berhenti berkata-kata. Dahiku menyerngit tanda penasaran dengan maksud kalimatnya barusan.

“Saat SD, aku ingat sekali petuah Amak. Saat lampu semprong masih jadi penerang dirumah kami. Suasana hening, riup kentongan dari desa sebelah lah yang meramaikan. Aku duduk dipangkuan Amak. Sayup-sayup aku dengar Amak bilang, ‘Apapun yang terjadi, dewasa nanti, Abang harus ingat kalo yang berlebihan itu tidak baik’. Tapi pasti mendiang Amak marah denganku karena larangannya sudah aku abaikan,”

Aku masih belum bisa mencerna kata-kata Bagas barusan.

“Iya, mendiang Amak bilang yang berlebihan itu tidak baik. Tapi kamu harus tahu itu, Shaira. Bahwa senyummu itu berlebihan manisnya. Dan itu tidak baik,”

Aku mendadak tersipu mendengar kalimat Bagaskara barusan.

Inilah gombalan pertama Bagaskara.  Entah siapa yang mengajarkannya. Aku kira, sejak kecil Bagaskara adalah tipe yang dingin dan tidak peduli dengan lingkungannya. Dan baru saja aku tahu kalo Bagaskara dan aku pernah duduk di sekolah yang sama. Aku baru tahu Bagaskara pernah menyukaiku, Shaira si anak baru yang hanya satu bulan di sekolah itu. Dan kepindahannya ke Ibukota menjadi alasan utamanya untuk mencariku. Meskipun selama ini aku menyangka pertemuanku dengannya di stasiun lima tahun lalu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

“Jangan geer, itu surat cintaku waktu SMP,”

Kata Bagaskara berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.

“Iya aku tahu, siapa yang ngajarin?”

“Bang Asnan”

“Bang Asnan memang romantis ya, gak kayak adiknya”

“Setidaknya adiknya tahu kalo wanita incarannya dulu suka makan puluik sarikayo yang ada di depan sekolah,”

“Hey, itu kan makanan favoritku dulu,”

“Besok kita ke sekolah ya. Nostalgia sekalian beli puluik sarikayo. Puluik Sarikayo untuak adiak manih nan denai cinto,”

“Tambuah ciek!”

Jawabku sambil meringis.

Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates