Hari itu, Ia memutuskan untuk keluar kota yang berjarak 8 jam dari Jakarta. Sambil menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai, Ia memilih duduk di tengah penumpang lain yg juga masih menunggu kedatangan kereta. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tepat ketika semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Di keramaian stasiun malam itu, Ia mencium wangi yang sama. Aroma khas yang sampai saat itu masih terngiang di otaknya.
Aroma yang khas. Seperti beberapa bulan lalu. Dari punggung jaket warna coklat tua. Bersamaan dengan macetnya Jakarta di jam 8 malam. Beberapa percakapan muncul di otaknya, seolah dunia kembali mundur ke beberapa waktu belakang.
Secara tak sadar, Ia mulai melihat ke kanan kiri, seolah sedang mencari seseorang. Namun Ia sadar, tak satupun sosok yang Ia kenali disana. Dan kembali berpaku dengan tugas yang harus diselesaikan malam itu juga.
S'lalu dalam sepi
Kau bebaskan sang khayal
Sepintas kisah mengarungi desah
Dan hempaslah masalah
“Udah nunggu lama?”
Kata seseorang yg tiba-tiba sudah muncul di depannya sambil menenteng tas besar seperti hendak liburan lebih dari 3 minggu. Orang itu bernama Wina, bisa dibilang mereka sudah bersahabat lebih dari 10 tahun sejak duduk dibangku perguruan tinggi.
Wina segera duduk di sebelahnya dan memainkan hp sampai petugas mengumumkan bahwa jam check in kereta mereka sudah bisa dilakukan.
* * *
Esoknya, Ia dan Wina mengunjungi sebuah pameran tahunan di kota itu. Pasar seni rupa kontemporer yg menjadi daya tarik wisatawan, dan memang tujuan utama mereka berlibur salah satunya adalah mengunjungi tempat tersebut.
Tahun ini, pamerannya menampilkan tema Amalan. Hal yang membuat Ia bertanya-tanya seni apa yang muncul dari sebuah hal berbentuk “Amalan”.
Setibanya di sana, Ia dan Wina sepakat untuk berpisah sejenak agar bisa lebih fokus menikmati setiap karya seni dengan caranya masing-masing.
Pandangan matanya tertumbuk pada sebuah tulisan kuratorial yang mengulas tema pameran:
Makna amalan dalam ARTJOG tahun ini tidak terikat pada definisi kamus yang menekankan ‘klise’ pahala. Amalan di dunia seni terbentuk baik secara intrinsik maupun ekstrinsik, dalam dan luar bahasa. Amalan adalah laku praksis sebagai subjek, baik subjek estetik, sosial, politikal, tekstual, agamis, atau sebutlah apa saja. Relasi seniman dengan dunia adalah kelindan persepsi yang menubuh, begitu pula sebaliknya. Dengan itulah kebaikan hidup bersama dapat mulai diperbincangkan dan karya seni dipandang sebagai ‘hadiah’ bagi dunia, di luar kalkulasi laba rugi yang kerap tak bisa ditakar nilainya.
Meski bahasanya sedikit sulit dipahami, ia bisa menangkap makna didalamnya. Bahwa karya seni yang ada disini terbentuk dari sesuatu yang tulus yang memberi nilai dan makna pada kehidupan bersama.
“Di luar kalkulasi laba rugi yang kerap tak bisa ditakar nilainya? Apa maksudnya ya?” Batinnya.
Ia mencoba menerka-nerka maksud dari kalimat ini.
Galeri seni ini cukup menakjubkan bahkan melebihi ekspektasinya. Para pengunjung yang datang tak hanya hadir untuk mengabadikan momen saja. Sebagian tampak bertukar pikiran tentang makna karya seni yang ada. Sesekali membaca keterangan sambil mengangguk tanda mereka paham setiap makna karya yang sedang dipamerkan disana.
Sambil mengelilingi tiap ruangan, Ia tak sengaja mencium aroma itu (lagi). Wanginya masih begitu kuat seolah baru disemprot. Sesekali Ia mencoba mendekatkan diri ke arah satu persatu pengunjung museum itu. Hanya untuk tahu siapa yang menggunakan parfum satu ini. Namun Ia gagal (lagi) dan memutuskan untuk melupakan usahanya hari itu.
“Toh itu cuma parfum” batinnya dan berlalu.
Kau belajar menjarah
Dirimu yang lelah
Kau rentang waktu yang kejam
“Gue nyium aroma yang sama lagi.” katanya.
“Wangi itu lagi? Dimana?” Tanya Wina seolah ia tahu wangi yang dimaksud.
“Di ruangan sebelah sana, tapi udah ilang lagi wanginya.”
“Mungkin cuma sugesti itu. Tapi kenapa sih lo selalu penasaran sama wangi yang sama?”
Tanya Wina. Ia menggelengkan kepalanya.
"Gue cuma penasaran, soalnya menurut gue varian parfum ini enak banget. Apalagi kalau udah nyatu sama keringat setelah berjam-jam dipakai, terus kena angin jalanan Jakarta di jam-jam after office. Menurut gue, wanginya bisa bikin orang di sekitarnya merasa... tenang."
"Hmm.. gue penasaran juga sih kenapa lo sampe bisa deskripsiin aromanya se detail ini. And fortunately, mumpung kita lagi disini, ada satu tempat yang kayaknya wajib banget kita datengin. Ya it takes like 3 hours to go, tapi kayaknya ini bisa bantu lo nemuin jawaban tentang aroma itu!" kata Wina penuh semangat.
* * *
Keesokan harinya, mereka berdua mulai melakukan perjalanan yang ke lokasi yang dimaksud dengan menyewa mobil. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih tiga jam, dan sepanjang itu juga Wina sama sekali tidak mau memberi tahu tempat yang dimaksud.
"Kita mau kemana sih sebenernya? jangan bilang lo mau nyulik gue? ya kan?" tanya nya dengan ekspresi sedikit kesal.
Wina hanya menjawab dengan tersenyum sambil sesekali melirik kearah gmaps untuk memastikan jalan yang mereka lewati tidak salah.
Setelah melewati jalan sempit di antah berantah, mereka diarahkan untuk mengambil jalan memasuki perkampungan. Awalnya Ia berekspektasi bahwa mereka akan berkunjung ke sebuah perkampungan. Namun ternyata salah, setelah melewati beberapa jalan yang curam, keduanya disambut oleh pemandangan indah khas pegunungan.
RUMAH ATSIRI. Sebuah tempat baru yang memberi kesan menakjubkan meski keduanya baru menginjakkan kaki di halaman depannya saja. Bayangkan, di tempat yang jauh dari kota ini berdiri bangunan futuristik nan kokoh.
"Milen, kenalin ini teman saya, namanya Ia." Kata Wina sedikit mengagetkannya yang sedang sibuk memandangi sekelilingi bangunan. Ia segera menyalami orang yang dimaksud.
Ternyata Milen adalah tour guide disana. Hari itu, Milen menemani keduanya untuk menjadi tour guide museum sambil memperkenalkan setiap sudut bangunan. Milen menjelaskan tentang apa itu minyak atsiri hingga sejarah bangunan ini yang ternyata dulunya adalah sebuah bangunan pabrik tua sejak zaman 1950-an.
"Oh iya, saya dapat info dari Wina kalau maksud kedatangan kalian kesini karena untuk mencari satu wangi parfum ya?" tanya Milen dengan nada ramah. Ia mengangguk.
Milen segera mengajak keduanya untuk masuk ke sebuah ruangan workshop. Hari ini pengunjung yang datang tidak terlalu banyak sehingga keduanya bisa lebih fokus untuk mengobrol dengan Milen membahas tentang berbagai jenis minyak atsiri dan parfum-parfum.
"Boleh coba deskripsikan wangi yang kamu ingat seperti apa?" tanya Milen.
"Saya bisa mencium aroma jahe di awalnya. Tapi di lain waktu berubah jadi sedikit menyerupai aroma kayu cendana." katanya.
Namun, ku pun berkabar
Akan keriangan
Yang kau hempas di masa dendam
"Oke, mungkin bisa dibilang top notes nya adalah aroma jahe, lalu base notesnya kayu cendana. Saya jelaskan sedikit ya. Jadi dalam dunia parfum, ada yang namanya piramida parfum atau perfumery note: top notes parfum, middle notes, dan base notes. Top notes parfum itu first impression atau aroma yang pertama kali akan tercium ketika parfum disemprotkan ke kulit. Sedangkan middle notes adalah aroma yang kamu cium setelah top notes mulai hilang atau bisa disebut heart notes atau atraksi utama sebuah parfum. Dan yang terakhir adalah base notes yang adalah puncak aroma parfum yang lebih tahan lama bahkan bisa sampai 6-12 jam tergantung jenis parfumnya." jelasnya.
"Jadi make sense kalo saya ngerasa wanginya agak berubah dari awal sampai akhir, karena adanya tingkatan ini?"
Milen mengangguk.
"Yap, mungkin orang yang pakai parfum ini ketika bertemu kamu menyemprotkan parfumnya berkali-kali, dan setelah beberapa jam pertemuan parfumnya mulai melekat di kulitnya dan akhirnya aromanya menyatu dengan dirinya. Bisa dibilang ini sebuah identitas yang terbentuk dari aroma parfum dan aroma tubuhnya." jawab Milen.
Milen memejamkan matanya seolah sedang membayangkan wangi yang Ia sebutkan tadi. Jemarinya mengetuk meja dengan membentuk irama.
"Sebentar ya." Milen memutar badan sambil berjalan ke arah etalase parfum.
Wina dan Ia pun memanfaatkan momen ini untuk mencium botol-botol parfum yang ada di etalase sambil menyemprotkan satu persatu ke tangan. Ditarikan nafas pertama saat menyemprotkan parfum, Ia sedikit memundurkan wajahnya.
"Boozy fragrance, wanginya agak tajam. Kemungkinan bukan yang kamu cari kalau kamu gak main ke nightclub."
kata Millen seolah mengerti mimik mukanya yang agak terkejut dengan aroma tajam ini.
"Semoga ini wangi yang kamu maksud." kata Millen sambil menyodorkan sebuah parfum. Ia segera menyemprotkan wewangian itu di titik nadi lengannya.
Aroma jahe yang ternyata bersamaan dengan wangi bergamot yang tidak berlebihan. Semprotan awal memang tercium sedikit tajam (meski tak setajam aroma botol di etalase sebelumnya), tapi lama kelamaan aromanya mulai berubah memikat.
Sayangkan lamunanmu
Tiada yang membakar keraguanmu (keraguan)
Matanya membelalak tajam setelah mencium aroma itu. Ya, benar ini wangi yang ia cari selama ini. Tapi ada hal lain yang membuatnya merasakan sesuatu.
She finally realized, it wasn’t about the perfume she loved. But the person who wore it all day long.
Orang yang sama saat mereka melewati jalanan Selatan Jakarta di waktu sepulang kantor sambil mencari kedai ramen yang nyaman untuk mengobrol berjam-jam. Saat keduanya sibuk memilih tontonan netflix yang seru meski sudah masuk pukul dua malam. Dan orang yang sama yang memutuskan untuk mundur saat mereka sama sama sedang “berusaha” waktu itu.
They went talking until 2 AM, to 2 minutes a day, to 2 days ago, to never.
"Parfum ini memang genderless tapi cenderung ke maskulin. So, are you talking about a man?" tanya Millen dengan penasaran dan disambut dengan ekspresi Wina seolah ia baru paham maksud dari pencarian aroma parfum ini.
* * *
Setelah akhirnya menemukan wangi yang memanggil memori itu, Ia memutuskan untuk menyudahi pencariannya lagi. Baginya, memori hanya lah sebuah memori.
Ternyata, jawaban demi jawaban tak hanya didapatkan dari kedatangannya ke Rumah Atsiri dan juga karya seni di pameran kemarin. Bahkan tentang makna “kalkulasi laba rugi” yang sempat Ia pertanyakan saat di pameran. Ia seolah mendapat suatu pesan:
“Sesuatu yang tulus bisa diberikan kepada siapapun itu. Meski soal kembali dan tak kembali, untung dan rugi, tidak ada salahnya mencoba, bukan?”
Ia tersenyum tipis dan berlalu seolah telah berdamai dengan apa pun yang tak bisa Ia pastikan.
Di ladang (di ladang) harapanmu (harapanmu)
Bersandar semua angan yang kau gerai, oh-oh
Bersandar semua angan yang kau gerai, uh-uh
