27 Maret 2023.
Ia menghembuskan nafasnya berat. Sekali, dua kali. Sampai akhirnya salah satu dari kami sadar bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
“Lagi banyak pikiran ya?”
Bukannya menjawab pertanyaan barusan, ia justru memilih untuk tersenyum. Lalu sesekali menghembuskan asap rokoknya ke arah langit Jakarta sore itu.
“Gua boleh nitipin sesuatu ke kalian gak?”
Katanya.
“Apa? nitip duit?”
“Gak cuma duit sih. Mau nitipin password bank, password akun sosmed gua, password marketplace ke lo semua. Sama nitip Ibu & Ade gua. Boleh kan?”
Sontak kami melihat dengan tatapan aneh dan semua pikiran buruk mulai bermunculan.
“Gausah aneh-aneh ya”
Kata kami bersamaan.
“Gak ada, cuma mau nitipin aja kok. Gua gak mau aneh-aneh juga, tenang aja”
Katanya meyakinkan.
* * *
Namanya Setiaji, atau yang biasa disapa Aji. Teman kami sejak 4 tahun lalu. Pertama kali bertemu di kantor tepatnya di Bulan Mei 2019. Aji memang tipe orang yang periang, hingga tak butuh waktu lama untuk bisa berbaur dengan semua orang di kantor. Ya, saat itu Aji tergolong masih karyawan baru di kantor. Dan sejak kehadirannya di kantor kami, suasana jadi lebih menarik. Aji punya logat betawi yang khas dengan jokesnya yang selalu berhasil membuat kami tertawa. Tak hanya di kantor, aku dan Aji juga mendaftar di klub olahraga yang sama di Gelora Bung Karno. Di momen inilah aku dan Aji menjadi lebih akrab karena ia selalu menjadi “ojek dadakan” ku tiap berangkat kesana.
“Mau ngebaso dulu gak?”
Katanya
“Ngaco, kan mau olahraga. Yang ada ntar malah mual, mana kita masih member baru belum kebiasa olahraga berat.”
“Yaudah, es krim gimana?”
Katanya mencoba melobi.
“Boleh juga es krim mekdi. Sekalian french fries largenya kali ya? sama double cheese burger juga enak sih.”
“Bego banget, makin mual dong nanti. Tapi ide yang bagus sih”
Katanya.
Akhirnya malam itu kami memutuskan untuk makan di Mcd depan Senayan City dan tidak jadi pergi ke GBK.
Spirit of my silence, I can hear you
And I don’t know where to begin
And I don’t know where to begin
Seperti yang disebut sebelumnya, Aji adalah tipe orang yang periang. Tak hanya aslinya, tetapi di dunia maya juga. Chat dari Aji selalu meramaikan HP kami, mulai dari share video dari TikTok, pap kegiatan dia setiap hari, sampai kirim sticker aneh yang membuat tiap hari selalu ada notif darinya.
Tak hanya itu, setiap kali kami memposting di IG Story, Aji juga selalu punya waktu untuk me-reply story kami. Sekedar bilang “Ikut” atau komen-komen random lainnya.
* * *
Kalau kehidupan beberapa tahun belakang diibaratkan perjalanan wisata, kami bisa mengakui kalau Aji-lah pemandunya. Memulai perkenalan singkat dengan kami masing-masing, membuat grup di sosial media, dari kami yang awalnya tidak terlalu dekat hingga akhirnya bisa akrab sampai hari ini. Sampai akhirnya tiap bulan kami selalu punya rencana untuk liburan atau sekedar makan bareng dengan dalih ‘self-reward’.
Dia yang selalu membagikan rekomendasi tempat seru hingga makanan-makanan enak (menurutnya) yang juga cocok buat kami. Bahkan ia juga yang selalu pamer tiap kali mencoba kuliner baru.
“Enak gak makanannya?”
Kata salah seorang dari kami yang tiba-tiba di video call Aji saat ia sedang makan malam.
“Biasa aja sih, masih enakan nasi goreng depan rumah gua”
Celetuknya.
“Lah trus ngapain di pamerin ke gue?”
“Gak papa, pengen pamer aja. Lo liatin aja gua makan.”
Katanya sembari melanjutkan makan malamnya.
Somewhere in the desert, there’s a forest
But I don’t know where to begin
But I don’t know where to begin
Again, I've lost my strength completely, oh be near me
Tired, old mare with the wind in your hair
18 Juli 2020
“Kemana aja sih ji, kok ga pernah ngechat lagi?”
Kataku setelah beberapa hari tidak melihat notif chat dari Aji. Padahal biasanya, banyak hal random yang dibagikan Aji ditengah kegabutannya.
“Gak kemana-mana. Disini aja kok”
Jawabnya.
“Kok tumben ga ramein grup. Udah ada yang ngechat tiap hari ya sekarang? Udah ada yang diprioritasin?”
Kataku menebak.
Ia hanya menjawab dengan stiker senyum yang pasti membuat makin penasaran.
“Siapa tuh? spill dong”
Akhirnya ia cerita jika ia sedang dekat dengan seorang perempuan. Namanya Sasa. Yang katanya anggun dan lembut. Aji cerita banyak soal kedekatannya dengan Sasa yang ia janjikan akan dikenalkan pada kami dalam waktu dekat.
“Jadi aku tetep boleh nebeng ke GBK kan?”
Kataku.
“Ya tergantung, kalau lagi gak sama Sasa boleh. Kalo ada Sasa ya gak boleh”
“Ya, bonceng tiga lah, masa gak boleh”
“Bego, ditangkep polisi dong”
Katanya sembari mengumpat.
Aji yang awalnya kami kira hanya orang periang yang tak butuh pendamping, ternyata bisa menjalin hubungan dengan seorang wanita dari Jogja. Tak jarang ia menceritakan tentang perjalanan cinta, suka dukanya selama bersama Sasa. Meski sampai beberapa tahun kami belum pernah dikenalkan langsung dengan sosok wanita ini.
Sampai akhirnya di awal Januari 2023 lalu, Aji memutuskan untuk melanjutkan hubungannya ke tahap serius. Meski baru di tahap tunangan, tapi ia sudah banyak menceritakan tentang keinginannya kedepan. Tentang rencananya untuk meminang Sasa seminggu sebelum lebaran, rencananya untuk tinggal berdua Sasa di daerah Jakarta Selatan, hingga destinasi wisata yang sudah ia persiapkan untuk honeymoon nanti. Bahkan tak lupa, ia juga menyiapkan beberapa list tempat yang wajib kami kunjungi sebelum ia resmi berganti status nanti.
Amethyst and flowers on the table (On the table)
Is it real or a fable? (Is it real or a fable?)
Well, I suppose a friend is a friend
And we all know how this will end
Awal bulan Januari 2023 lalu, kami memutuskan untuk liburan bersama di Bandung. Aji yang memaksa untuk setidaknya kami pergi berlibur sebelum ia resmi bertunangan. Akhirnya kami mengiyakan dan memilih Rancabali dengan wisata Glamping.
“Gak sabar banget! Gua perlu beli mantel tebel gak?”
Katanya penuh antusias.
“Gak perlu, yang ada aja”
Kata salah seorang dari kami.
“Oke, kalo sarung tangan perlu gak? kan dingin banget disana”
“Gak usah, kita ke Rancabali kok bukan ke Mongolia. Lagian ada pemanas ruangan juga di campnya.”
“Oke, tapi kayaknya kita perlu samain outfit deh supaya..”
“...gak usah, pake yang ada aja. Ntar aja pas lo honeymoon baru pake baju couplean”
“Oke, gua ngikut aja kalo gitu”
Katanya menyelesaikan obrolannya.
Sesampainya di Rancabali, kami memilih untuk duduk santai di tepi danau sambil sesekali melihat orang-orang dari camp lain yang juga baru berdatangan. Kami duduk berdua disaat yang lain sedang sibuk menyiapkan bahan makanan untuk bakar-bakar malamnya.
“Damai banget ya suasananya, kayanya kalau kita tinggal disini hidup kita bisa 100 tahun lebih lama ya.”
Kataku sambil melihat ke arah danau yang tergelar depan mata kami.
“Sebenernya kalo hidup di Jakarta juga bisa kok 100 tahun lebih lama.”
“Asal? Ada syaratnya ga tuh?”
“Asal sama kalian. Kayanya hidup kita bakal ketawa terus tiap hari. Gak ada tuh sedih atau mikirin susahnya hidup”
Katanya.
“Ya itu kan karena kita jarang-jarang ketemu aja. Coba kalo tiap hari, bayangin deh kita tinggal sekomplek trus sederetan semua.”
“Seru banget”
“Kalo males masak, tinggal samperin rumah Ismi sambil basa basi nanya ‘gak ada makanan nih yang bisa dimakan tetangga?’”..
“Haha seru! Trus kalo tiba-tiba garem gua abis tinggal teriak ‘eh buruan deh siapa yang punya garem, gua lagi goreng telor!’. Trus ntar Rini nyaut ‘ambil bego di dapur, buta mata lu ya tinggal masuk’. Kalo Idham responnya, ‘sok aja ambil di dapur gue ji masih ada lengkap bahan dapur, mau nambah telor juga tuh di kulkas ada baru belanja.’”.
“Trus nanti kalo tiba-tiba listrik mati gimana?”
“Ya teriak lagi ‘Hen listrik gua mati, isiin dulu dong token ntar gua ganti.’ Ntar Hendry jawab, ‘bentar bang, nanggung nih main game dulu’. Trus gua samperin deh rumah Alia minta numpang ngadem dulu sambil nunggu Hendry isiin token.”
“Trus rumah aku kapan di samperinnya?”
Kataku.
“Ya ntar aja, cari aja dulu suami baru gua samperin, gak enak diliat tetangga gua nyamperin anak perawan”
Katanya sambil tertawa.
Kami mengobrol banyak hari itu, lebih ke tentang skenario di otak jika suatu hari nanti kami bisa benar-benar tinggal bersama semuanya. Sambil sesekali ia memutar playlist favoritnya, salah satunya lagu “Lihatlah lebih Dekat” yang dinyanyikan Yura.
“Versi Yura enak banget ya, kaya dapet aja feelnya”
Kataku.
“Iya, emang gak ada yang gagal sih lagu-lagu Yura apalagi yang ini. Kaya gua selalu ngebayangin, bisa gak ya hidup selamanya sama kalian? Kalau suatu hari nanti gua pergi, apa bakal ketemu temen-temen kaya kalian lagi?”
Katanya.
“Mau pergi kemana sih?”
Wajah Aji tiba-tiba berubah murung saat itu. Entah apa yang ia pikirkan, bahkan tak terbaca sedikitpun.
“Ya siapa tau gua dapet offering dari company di luar, gua harus pindah negara ninggalin kalian dalam waktu lama.”
“Kan ada teknologi namanya video call. Lagian selama apa sih sampe kayanya susah buat balik kesini lagi?”
Kali ini Aji tidak menjawab. Wajahnya makin mengisyaratkan bahwa ia benar-benar banyak pikiran saat itu.
“Ya sebenarnya, gak papa juga sih ji kalo emang mau pindah negara. Asal…”
“Asal apa?”
“Asal gak pindah agama”
Celetukku mencoba mencairkan suasana.
“Bego, digebukin emak gua yang ada”
Katanya kembali mengumpat.
Chimney swift that finds me, be my keeper (Be my keeper)
Silhouette of the cedar (Silhouette of the cedar)
What is that song you sing for the dead?
What is that song you sing for the dead?
I see the signal searchlight strike me in the window of my room
Di bulan puasa kemarin, kami memutuskan untuk buka puasa bersama sembari bertemu lagi. Saat itu Aji memang jarang kumpul karena sedang sibuk bolak balik Jakarta-Jogja untuk mengurus pernikahannya.
Meski sedang lelah, ia tetap memperlihatkan ekspresi bahagianya saat bertemu dengan kami. Dengan kaos putih dan celana jeans biru pudar, yang jadi outfit andalannya tiap main bersama kami.
“Gimana persiapan nikahnya?”
Kata salah seorang dari kami.
“Ya udah hampir selesai semua sih, tinggal abis lebaran ini gua berangkat ke Jogja, fitting baju lagi, beres deh tinggal beresin hal-hal kecil aja.”
“Tapi maaf ya ji, kita belum bisa dateng ke nikahan Aji nanti.”
Kata seorang dari kami mewakilkan. Aji tidak menjawab apa-apa. Wajahnya tiba-tiba berubah sedih dan suasana menjadi sedikit canggung.
Ya, setelah beberapa keputusan akhirnya kami memutuskan untuk tidak datang ke nikahan Aji. Ada alasannya, namun tidak bisa kami jelaskan disini. Intinya, semuanya kami lakukan demi kebaikan Aji juga. Tapi kami sudah berencana saat Aji dan istrinya nanti kembali ke Jakarta, kami akan mengadakan acara syukuran kecil-kecilan bersama disana.
“Gak papa kan ji?”
Aji masih belum menjawab. Raut wajahnya belum menandakan bahwa ia baik-baik saja dan rela jika kami tidak bisa datang di hari bahagianya nanti.
“Kan nanti diwakilin sama Idham sama Hendry, mereka dateng kok kesana. Hepi kan?”
“Kita ketemu lagi ya di Jakarta nanti. Kita siapin surprise buat Aji sama Sasa nanti. Tunggu aja ya!”
Kataku.
Aji tersenyum, kali ini ia mencoba untuk mencairkan suasana yang sempat kalut. Tidak seperti biasanya, tiap sedang ada masalah atau sedih biasanya Aji selalu berusaha menyelipkan lelucon supaya suasana tetap riuh olehnya. Namun kali ini sepertinya banyak hal yang Aji pendam yang membuatnya memilih untuk diam.
I forgive you, mother, I can hear you (I can hear you)
And I long to be near you (And I long to be near you)
But every road leads to an end
Yes, every road leads to an end
Your apparition passes through me in the willows
25 Mei 2023
Malam itu, Aji pergi meninggalkan kami. Tepat di jam 11 malam, setelah menyelesaikan sholat Isya-nya. Menyelesaikan ibadah terakhir dan terbaiknya. Penyakit gerd yang selama ini disepelekan nyatanya yang mengakhiri perjalanan hidup sahabat kami ini.
Aji pergi bersama mimpi-mimpinya yang sempat ia ceritakan dengan antusias pada kami. Keinginannya untuk liburan bersama ke negeri Singa namun terhalang pandemi. Mimpinya untuk bisa kerja dalam satu tim lagi dengan kami di kantor yang sama. Dan keinginannya untuk hidup selamanya bersama kami beberapa minggu sebelum akhirnya ia benar-benar hidup bahagia di alam yang berbeda dengan kami.
Kami tahu, banyak cerita yang belum sempat ia sampaikan pada kami. Banyak hal pedih yang sengaja ia tutupi sendiri. Semuanya demi menunjukkan bahwa ia adalah orang paling baik-baik saja depan kami. Meski kami juga tahu, bahwa ia sedang tidak baik-baik saja beberapa bulan terakhir.
25 Mei 2023 kemarin, akhir perjalanan kami melihat Aji. Mungkin saat itu juga Aji tersenyum melihat kami. Yang saling berpelukan di depan rumahnya, saling menahan air mata saat pertama kali melihat jenazahnya di hari Jumat, dan akhirnya semua pecah ketika adzan dikumandangkan tepat di liang lahatnya. Dan mungkin saja saat itu ia sedang berusaha membisikkan kami :
“Ini kan tanggal gajian, liburan kemana kita bulan ini? atau mau makan ayce aja? yang di Kemang boleh tuh, gua cek udang pancetnya ready lagi bulan ini! ” seperti bulan-bulan biasanya.
You’ll never see us again
You’ll never see us again
%20q.png)

