C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >

Ini adalah hariku! Sudah bertahun-tahun aku menunggu saat ini. Momentum dimana semuanya akan terasa sangat nyata. Aku akan menjadi bagian dari kehidupan seutuhnya.
Putih dengan bayang bayang keabuan. Begitulah pakaian yang saat ini aku pakai. Rambut indahku dibiarkan terurai manja. Terlihat betapa lihainya sang professional membuatnya menjadi semakin indah. Paduan gaun dan riasan wajah yang natural. Aku memang sudah berpesan untuk tidak terlalu berlebihan soal ini.
Seluruh mata tertuju padaku.
"Kau cantik hari ini, Eriana"
Pujian dari berbagai kalangan di hari ini. Aku semakin merasa percaya diri. Rasanya ingin sekali aku menjadi ratu untuk waktu lebih lama.
Barisan orang sudah siap untuk memulai acara. Mereka terlihat sangat gagah. Aku kembali memandang seseorang yang tepat berdiri disampingku sejak tadi. Seragam hijau gelapnya sepadu dengan para barisan tadi.
"Kau siap, Eriana?"
Katanya saat aku merapikan kerah seragamnya. Aku hanya membalas dengan senyum. Seseorang yang terlalu gugup sepertiku tidak pantas untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Perlahan semua mata kembali memandang ke arah kami. Beberapa dentingan suara menandakan acara akan dimulai. Aku semakin gugup!
Ia memegang tanganku erat.
"Tenang saja"
Sahutnya seolah mampu membaca pikiranku. Aku kembali tersenyum.
Kami mulai melewati jalan setapak. Sebuah karpet berwarna merah, yang beberapa jam lalu masih berupa karpet biasa sudah disulap dengan taburan bunga melati dan lavender. Langkah kami masih sangat pelan. Aku tidak sabar untuk sampai di ujung perjalanan itu. Aku tidak ingin lama-lama berjalan sambil dipandang orang!
Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana. Satu persatu 'gerbang' dibuka dengan iringan musik khas akademinya. Seiring juga dengan suara wanita yang membacakan sumpah untuk menjalani hidup selanjutnya.
Kami hampir sampai di tempat yang dituju. Penuh dengan dekorasi bunga melati dan lavender. Harum bunga-bunga ini sudah tercium mulai dari pintu masuk. Aku menarik nafas sejenak. Rasanya segala usahaku selama ini tidak sia-sia. Bolak balik gedung ini untuk melihat persiapan sudah matang atau belum. Aku semakin bahagia.
Semua orang sudah mulai melakukan aktivitasnya. Beberapa memilih mengantri untuk bersalaman. Ada yang mulai menjamu makanan, dan beberapa kelompok wanita dengan pakaian seragam kutu baru corak batik asyik berkumpul sambil tertawa. Sesekali mereka memandang kearahku sambil senyum-senyum. Aku tidak tahan ingin menjitak kepala mereka satu per satu. Ya, mereka adalah para sahabat ku semasa kuliah. Beberapa hari yang lalu hampir aku menangis untuk memohon kepada mereka agar hadir di hariku ini. Dan sekarang, dengan sangat menyebalkannya mereka berkumpul disana tanpa aku.
Aku masih sibuk memberikan salam dan senyum kepada para tamu sampai aku melihatnya lagi. Sosok yang aku harapkan tetapi tidak aku tunggu kehadirannya. Aku hanya mampu terdiam. Bayangannya makin jelas seolah nyata kembali hadir dihidupku. Jantungku berhasil berdegup kencang melebihi saat pertama kali jalan di panggung ini.
"Selamat ya"
Suara itu masih terdengar jelas di telingaku. Aku menutup mataku sesaat. Rasanya semua memori hadir kembali di benakku. Tenang masa perkenalan kami, tentang aku yang menunggu di depan pintu kelasnya untuk sebuah ucapan selamat pagi, tentang aku yang terus memperhatikannya dari kejauhan, tentang bagaimana dia tersenyum setiap kali mata kita saling bertatap, tentang bagaimana kedipan matanya setiap kali menceritakan hal-hal yang (menurutnya) seru. Semua tergambar jelas di benakku.
Sejuta perasaan langsung campur aduk di hatiku. Antara senang, benci, dan ah.. Aku tidak tahu lagi apa ini.
Aku masih (berpura-pura) tersenyum pada sejumlah orang yang hadir di hadapanku. Tetapi mataku masih mengawasi sekitar. Tepatnya memperhatikannya. Barisan wanita berseragam kutu baru tadi dengan sigap memperhatikannya juga. Mereka tahu persisbagaimana ceritaku dengan pria ini. Sambil mengawasi, mereka berbisik-bisik sedikit. Aku bisa mengerti jelas apa yang mereka katakan saat itu. Seseorang dari wanita itu langsung mengalihkan pandangan kearahku. Ia mencoba memberi kode dengan melirik kearah priaku dan kembali memandangku sambil tersenyum.
"He's yours now. And not him" begitu lah kira kira maksudnya.
Aku kembali tersenyum kepada barisan antrian yang sejak tadi ingin memberikan ucapan padaku. Udara makin terasa semakin menusuk. Kode dari sahabatku tadi nyatanya belum mampu untuk menghapus ribuan memori indah dengan pria tamu tadi. Aku masih merasa sakit setiap kali mengingat waktu-waktu indah bersamanya. Segala perjuangan yang aku dan ia lakukan semata-mata demi masa depan yang sejak lama kita rencanakan, sudah pudar untuk beberapa waktu lalu. Aku masih mampu merasa kan pahit ketika mengetahui kenyataan jika kita tidak akan pernah bisa bersama.
Ia terlalu jauh untuk aku gapai. Aku sudah melangkah jauh di depan, sedangkan ia masih di barisan yang sama seperti beberapa tahun lalu. Aku sudah mulai menata karierku, sedangkan ia masih saja sibuk dengan dunia fananya. Ia masih terlalu kekanak-kanakan untuk tahu bahwa hidup itu harus diperjuangkan. Ia masih belum sadar jika waktu bisa kapan saja memutar takdir. Aku selalu merasa kesal setiap kali ia bercerita tentang kerapuhan yang ia alami, padahal ia tidak sadar jika itu semua adalah ulahnya. Ia masih ingin menikmati masa-masa muda sedangkan aku sudah lebih berpikir dewasa. Itulah yang menyebabkan hubungan kami tidak bisa seperti dulu lagi.
Bayangannya kian hilang diantara ratusan tamu yang hadir. Entah ia menyempatkan untuk menikmati santapan malam, atau langsung memilih untuk kembali. Dari gerak-geriknya aku sadar jika ia juga masih belum siap untuk melepas. Tetapi ia berusaha memberikan senyum untuk beberapa detik di pelaminan. Rokok bermerek luar negeri yang selama ini ia konsumsi sempat terpajang rapi di kantong kemejanya. Aku sempat memperhatikan tadi. Ia masih mengonsumsi rokok. Bersamaan dengan yang lain-lain. Aku ingat saat ia akan memainkan linting rokoknya di tangan sebelah kiri tanda bahwa ia sedang cemas atau kecewa. Hari ini, tepat beberapa menit setelah aku rasa ia sudah tidak ada disana, dugaanku salah. Aku melihatnya yang baru berjalan keluar ruangan. Sambil memainkan batang rokok di tangan kiri, ia melangkah keluar dari gedung resepsi. Aku tersenyum bisu. 
Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates