C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >
(Top 25 on Storial.co)

Pukul 22.00
Aku masih terduduk di sepihan kegelapan. Sangat tenang. Suara kereta terdengar bak mengumandangkan rindu. Aku rindu kampung halaman. Tapi belum waktunya aku kembali. Banyak tugas yang harus kuselesaikan. Ini semua demi negaraku tercinta.
Kereta sudah berjalan sekitar 15 menit dari stasiun. Penumpang sudah mulai tertidur lelap. Beberapa orang masih asyik berbincang-bincang. Pembicaraannya pun masih untuk hal yang sangat aku hindari malam ini.
“Semoga perjanjian dengan Belanda besok menguntungkan pihak kita juga ya”
Kata seseorang dari kelompok pembicara. Yang lainnya secara bersamaan mengatakan “Amin”. Aku duduk sambil memikirkan sesuatu. Tentang bagaimana caranya aku melobi di perjanjian esok. Semoga saja doa orang-orang ini diijabah Tuhan.
Beberapa menit kemudian kereta kembali berhenti. Dengan refleks aku mengalihkan pandangan ke pemberhentian selanjutnya. Beberapa penumpang baru naik dan memenuhi gerbong. Namun ada satu orang yang menarik perhatianku. Wanita cantik dengan rambut terikat rapi. Ia mengenakan pakaian bunga dan rok panjang berwarna hitam. Tas dan jaket ia jinjing di kedua tangannya. Ia duduk tepat diseberangku. Gadis ini masih belum sadar jika sudah kuperhatikan sejak tadi. Ia masih sibuk dengan barang bawaannya.
10 menit kemudian kereta kembali berjalan. Keheningan gerbong ini kembali terasa hangat. Apalagi ada gadis secantik dia tepat di seberangku. Semua kegelisahan tentang rapat esok sekejap sirna ketika aku melihat sorot matanya. Ia manis seperti ibu. Pantas saja aku kembali merindukan rumah.

Engkau gemilang
Malam cemerlang
Bagaikan bintang timur sedang mengembang

Tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya kearahku. Mungkin ia merasa jika ada yang memandangnya sejak tadi. Wajahku nampak gusar. Seolah dipergoki sedang mencuri beras warga miskin. Untungnya ia segera tersenyum kepadaku. Hatiku menjadi hangat kembali. Segera aku mengambil koran yang ada di bawah tempat duduk. Aku berusaha untuk menangkan diri. Tetapi nampaknya bacaan koran ini sama sekali tidak membantuku. Perdebatan politik masih saja menjadi masalah terpanas minggu ini. Beberapa lembar koran hanya mencantumkan berita tentang itu. Sisanya bertuliskan tentang berita kematian pahlawan-pahlawan negara yang gugur dalam perang. Aku segera mengembalikan koran ke tempat asal.
Mungkin bukan ide yang gila jika aku mengajak gadis ini berkenalan. Nampaknya ia adalah gadis yang ramah. Dari raut wajahnya saja, aku bisa melihat bagaimana ia berusaha baik didepanku, bahkan didepan rombongan pembincang tadi. Aku segera meyakinkan diri untuk serius mengajaknya berkenalan. Beberapa langkah saja, aku sudah berpindah tempat duduk tepat di seberang nya. Namun kali ini lebih dekat dengan jaraknya.
“Nona bisa kita berkenalan?”
Kataku mencoba mencairkan suasana. Gadis itu nampaknya kaget. Mungkin ia masih berpikir apakah harus tetap beramah tamah atau pura-pura jual mahal. Di era ini masih banyak gadis yang mau untuk berkenalan dengan pria asing. Menurut mereka selama pria ini pribumi, ini masih hal yang wajar. Gadis itu segera menjabat tanganku.
“Saya Juwita” Balasnya sambil tersenyum. Aku segera kagum. Pembawaannya sangat dewasa melebihi raut wajahnya yang masih sangat muda.
“Saya Prabu. Berapa usiamu, Juwita?”
“Saya baru 21 tahun, Tuan” 
Jawabnya. Kami segera bertukar informasi tentang diri masing-masing. Beberapa kali Juwita menutup bibirnya dengan tangan saat ia sedang menahan untuk tidak tertawa lebar. Ia tampak seperti gadis pemalu yang berusaha untuk bersikap ramai. Malam ini terasa sangat indah. Aku senang berkenalan denganmu di malam ini, Juwita.

Tak jemu jemu

Mata memandang
Aku namakan dikau Juwita Malam

Juwita ternyata gemar membaca koran dan mendengarkan radio. Pantas saja, pengetahuannya begitu luas. Untuk seorang gadis di usianya, ia sangat lah handal dalam menyampaikan berita. Ia tahu detail tentang kejadian-kejadian yang terjadi di negeri ini. Dan yang pastinya, ia adalah kalangan elit karena di zaman ini hanya orang-orang yang berduit saja yang memiliki radio di rumahnya. Juwita bercita-cita menjadi seorang wartawan. Entah ini berita baik atau tidak, menurutku seorang wanita yang menjadi wartawan harus mengabdikan seluruh hidupnya pada berita-berita unggulan. Sudah banyak wartawan yang meninggal saat bertugas demi menyampaikan berita tentang kejadian-kejadian selama kerusuhan ini. Dan menurutku Juwita terlalu lemah untuk pekerjaan berat itu.
Beberapa jam kami masih asyik mengobrol. Sinar dari mata Juwita semakin berapi-api ketika kami membahas tentang rencana ku untuk membuat perjanjian perdamaian esok. Sebenarnya ini rahasia negara yang tidak boleh diumbar-umbar, hanya karena menurutku Juwita paham dengan situasi ini maka aku berbagi cerita dengannya. Dan karena para kelompok pembicara dibelakang (sepertinya) sudah tertidur lelap, aku berani untuk menceritakan pada wanita yang baru aku kenal ini. Juwita nampak menyimak seluruh kalimat yang kusampaikan. Sesekali ia menganggukan kepala, menandakan bahwa ia setuju dengan apa yang akan aku lakukan nanti. Perasaan gusar tentang esok seketika lenyap bersama dengan semua kerinduan akan ibu dan kampung halaman.

Sinar matamu
Menari nari
Langsung menembus kedalam jantung kalbu
Aku terpikat
Masuk perangkap
Apa daya asmara sudah melekat

Beberapa cerita Juwita membuat hatiku pilu seketika. Dibalik keceriaan dan keramahannya, ia merasakan dampak dari kekacauan di negeri ini. Usaha ayahnya bangkrut total. Keluarganya yang semula sangat tidak peduli dengan kejadian di negara mau tidak mau menanggung semua ini. Ayahnya sempat kehabisan akal untuk mencari pekerjaan di tengah kesulitan perekonomian ini. Sampai akhirnya sebuah ide datang dari rapat keluarga. Ayahnya kembali menjalankan bisnis tetapi kali ini dengan bisnis yang berbeda. Dengan bermodalkan radio di rumahnya, ia mencatat setiap informasi dari beberapa siaran radio. Berita-berita itu ia tulis ke dalam beberapa lembar kertas usang miliknya. Kemudian kertas itu ia jual ke beberapa orang yang membutuhkan berita terkini. Penghasilan yang didapat oleh ayahnya memang tidak semenguntungkan usahanya dulu. Tetapi cukup untuk membiayai keluarganya yang terdiri dari 7 orang anggota keluarga. Beberapa pencari berita membayar berita yang dikirim ayahnya dengan sistem barter. Ayahnya memberikan berita dan orang-orang memberikan beras atau makanan pokok lainnya. Beberapanya lagi masih sanggup untuk membayar dengan uang walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak.
Dalam hatiku, pantas saja jika Juwita bercita-cita menjadi seorang wartawan. Mungkin ia ingin terlibat langsung dalam proses pencarian berita, tanpa harus menjadi perantara antara radio dan ayahnya.

Juwita malam, siapakah gerangan tuan
Juwita Malam, dari bulankah Tuan?
Kereta kita segera tiba
Di jatinegara kitakan berpisah

Cukup lama perbincangan antara kami sampai akhirnya aku sadar jika pemberhentian kereta akan segera memisahkan kami. Tak lupa aku meminta alamat nona manis ini serta nama lengkapnya. Zaman ini masih sulit untuk mencari perantara dalam berkomunikasi. Surat masih belum menjadi alat komunikasi yang dapat diandalkan. Kadang jika tidak ada halangan, surat akan dikirim sekitar 10 hari. Tetapi jika kekacauan makin parah, semua surat akan di kirim sekitar sebulan. Tidak ada pengantar surat yang mau mengirimkan surat di tengah kekacauan. Mereka masih takut untuk mempertaruhkan nyawa demi pekerjaan.
Juwita, mungkin setelah rapat esok aku akan mencoba mencarimu. Entah kapan. Yang pasti aku akan berjanji. Demi menemukan gadis sebaik dan secantik dirimu, bertempur dengan siapapun itu aku siap.

Berilah nama, alamat serta
Esok lusa boleh kita jumpa pulang
Hari ini aku menghabiskan senja sambil duduk dibangku pinggir kota. Suasana kota mulai dipenuhi oleh para wisatawan karena hari libur. Banyak orang yang menghabiskan waktu dengan berfoto didepan ikon kota. Kebanyakan dari mereka pergi bersama keluarga, kekasih, teman, dan siapapun itu. Tetapi tidak denganku.

Baru pertama kali ini, aku memilih menghabiskan waktu sendiri dikeramaian kota. Sejujurnya aku adalah orang yang sama sekali tidak bisa sendiri. Aku selalu membutuhkan orang lain, entah saat bahagia atau sedih. Namun kali ini, nampaknya aku sama sekali tidak membutuhkan siapapun. Karena menurutku, saat ini tidak ada seorangpun yang bisa aku percaya.

As I walk to the end of the line
I wonder if I should look back
To all of the things that were said and done
I think we should talk it over

Seminggu yang lalu, aku resmi berusia 21 tahun. Mungkin ini hal yang wajar terjadi, tetapi bagiku di usia 21 tahun ini aku merasa bahwa aku harus menjadi lebih dewasa lagi. Aku tahu, banyak hal yang harus aku rubah dan aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik di kedepannya. Dihari ulang tahun itu, sebagian besar temanku datang dan memberikan ucapan ulang tahun padaku. Aku bahagia hari itu. Selesai peniupan lilin, aku mengajak teman-temanku untuk pergi ke sebuah tempat makan yang tidak jauh darisana. Aku mengajak mereka untuk makan bersama sebagai ungkapan terima kasih atas surprise yang mereka berikan. Dan yang membuat aku lebih bahagia lagi, seseorang yang memang kutunggu datang dan membawakan sebuah hadiah untukku.
“Hei kamu datang juga,”
Kataku sambil menyapa orang itu. Ia tersenyum sambil menyerahkan kotak yang ia bawa sejak tadi.
“Apa ini?”
Tanyaku sambil menerima hadiahnya.
“Hadiah untuk kamu”
“Tumben?”
“Gak mau hadiah nih?”
Katanya sambil tertawa.
“Kamu kemana saja selama ini?”
Tanyaku dengan tatapan serius. Tepat sebulan yang lalu, ia hilang bahkan sama sekali tidak mengabariku. Memang sebelumnya ia mengabarkan bahwa ia sedang menghabiskan waktu untuk mendaki gunung Rinjani bersama teman-temannya. Ia bilang sinyal disana sangat minim dan berjanji akan mengabariku jika ia mendapat sinyal. Aku mengiyakan saja. Dan selama sebulan ini, aku menunggu kabarnya. Selama ini, aku berpikir bahwa ia masih ada di Malang karena sebagian besar teman semasa SMA nya melanjutkan studi disana. Dan janji untuk mengabariku belum juga ditepati sampai akhirnya dihari ulang tahunku ini ia baru muncul.
“Aku sibuk di Malang, maaf”
Katanya tanpa memandang kearahku. Aku tahu ada yang tidak beres. Aku mengenalnya hampir tiga tahun yang lalu dan aku tahu segala ekspresi wajahnya.
“Ada sesuatu yang kamu tutupi, ya?”
Tanyaku.
“Tidak kok”
Aku memandang kearahnya dengan tatapan penuh curiga. Sudah sebulan ini ia tidak mengabariku. Meskipun status kami hanya ‘orang yang sedang dekat’, tetapi dengan tahu kabar darinya saja sudah cukup mengobati rasa rinduku. Bagaimana tidak, hampir setiap hari aku melihatnya, karena kami berada dikelas yang sama di perkuliahan.
“Sebenarnya ada, nanti aku bicarakan,”
Katanya sambil meninggalkanku. Aku mengambil air mineral yang tersaji didepanku. 
Tidak biasanya ia seperti ini, sifatnya mulai berbeda. Ia yang aku kenal adalah orang yang benar-benar ramah, dan bahkan di dua kali ulang tahunku sebelumnya, ia-lah yang menjadi ‘penghibur’ dan membawa suasana menjadi ramai.

Then I noticed the sign on your back
It boldly says try to look away

Aku menghabiskan waktu makan bersama kerabat tersebut dengan senyuman paksa. Sesekali mataku mengarah padanya, ia juga melakukan hal yang sama. Senyuman ramah sama sekali tidak tampak diwajahnya bahkan ia beberapa kali melamun. Aku rasa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres darinya.
Tepat pukul 9 malam, semua temanku memilih untuk pulang. Mereka menyalamiku satu persatu. Setelah bersalaman, aku mengambil tas dan barang-barangku yang masih ada di meja.
“Dena, mau aku bantu?”
Tanyanya.
“Ya seperti biasanya kan kamu yang bantuin angkatin ini semua,”
Ia langsung membantuku merapikan barang-barang yang ada dimeja.
“Mau pulang bareng?”
Tanyanya lagi.
“Kalo gak ngerepotin sih, boleh,”
Jawabku.
Selama beberapa menit didalam mobil, suasana benar-benar hening. Aku berusaha untuk tidak memulai percakapan. Alasannya agar ia duluan yang memulainya. Dan lagi, karena sebelumnya ia berjanji akan mengatakan sesuatu padaku.
Sebelum sampai dirumahku, ia menghentikan mobil dijalan.
“Hei ini belum sampai dirumahku”
Kataku protes. Ia memandangku dengan tatapan serius.
“Dena, aku minta maaf”
Katanya dengan suara parau.
“Kenapa, Ka?”
“Kayaknya kita gak bisa dekat lagi. Aku minta maaf,”
“Karena?”
“Dena, aku balikan sama Vira. Aku minta maaf,”
Aku langsung diam.

Vira, mantan kekasih Raka. Sebelum dekat denganku, Raka pernah bilang bahwa ia memiliki mantan kekasih bernama Vira. Vira tinggal di Malang karena ia melanjutkan studi disana. Mereka putus karena Vira tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh dengan Raka, padahal hubungan mereka sudah berjalan selama hampir dua tahun. Raka sempat depresi dan aku adalah orang yang membantunya kembali menjadi normal. Aku, orang yang dekat dengan Raka selama tiga tahun terakhir, berhasil membuatnya menjadi seorang mahasiswa baik. Ia yang semula jarang masuk kelas akhirnya mulai rajin karena setiap hari aku menelfonnya dan menyuruhnya untuk kuliah. Aku selalu mengajak Raka untuk berada di kelompok tugas yang sama agar aku bisa membimbingnya. Rasa perhatianku ini yang membuat kami akhirnya bisa dekat dan menjalani hubungan tanpa status selama tiga tahun. Selama tiga tahun ini, Raka selalu bilang bahwa suatu hari nanti ia akan serius denganku. Dan aku percaya saja, karena menurutku selama ini Raka memang tidak pernah dekat dengan wanita lain lagi selain aku.

I go on pretending I'll be ok
This morning it hits me hard that

“Kenapa?”
Tanyaku singkat. Aku sedang meredam agar air mata tidak menetes. Aku tidak ingin terlihat lemah didepan Raka.
“Bulan lalu aku ke Malang, aku ketemu sama Vira. Kami sering bertemu selama sebulan itu. Dan aku rasa, aku dan Vira sama-sama masih suka,”
Jantungku makin tidak beraturan. Dengan mudahnya ia mengucapkan kalimat itu.
“Dan akhirnya sebelum aku balik ke Bandung, Vira yang nganterin aku. Dia bilang dia gak mau aku pergi sambil nangis. Dia cerita tentang semua perasaan dia dan ternyata selama tiga tahun ini dia masih nunggu aku kembali, Den,”
“Stop”
Kataku menyela. Aku sama sekali tidak ingin mendengar cerita selanjutnya.
“Den, maaf,”
Katanya sambil menatapku dengan tatapan penuh harap.
“Kita masih bisa jadi teman, Den. Ya, teman,”
Katanya mencoba memberi keputusan.
Teman? Mendengarnya aku langsung tidak bisa meredam emosi dan tangis. Aku menangis tepat dihadapan Raka saat itu.
Seminggu telah berlalu. Setelah hari ulang tahun itu, aku lebih memilih untuk menyendiri dikamar. Banyak hal yang mengacaukan pikiranku saat itu. Bahkan didalam kamar yang sepi ini, aku merasakan bahwa sosok Raka ada disana, dan masih menjadi bagian penting dari hidupku seperti tiga tahun yang lalu.

As I stare at the wall in this room
The cracks they resemble your shadow
When everyday I see time goes by
In my head everything stood still

Aku masih berpikir tentang bagaimana perasaan Raka selama tiga tahun ini. Bagaimana janjinya jika suatu hari nanti ia akan membawa hubungan kami kelangkah yang lebih serius. Raka pernah bilang ia sudah melupakan Vira. Selama tiga tahun ini, aku sama sekali tidak berusaha untuk dekat dengan siapapun selain Raka. Aku menjaga perasaan Raka, begitu juga dengannya. Selama ini, aku merasa bahwa Raka adalah orang yangpaling tepat, bahkan ia sudah sempat mengenalkanku kepada orang tuanya sebagai teman dekatnya.


I’m waiting for things to unfreeze
Till you release me from the ice block
It’s been floating for ages washed up by the sea
And it’s drowning, thought you should know that
Still everyday I think about you
I know for a fact that’s not your problem

Dan baru hari ini aku mencoba untuk keluar rumah. Aku rasa bukan waktunya lagi untuk berdiam dirumah dan aku membutuhkan udara segar untuk pikiranku saat ini. Bahkan dibangku pinggir kota itu, pikiranku masih tentang aku dan Raka. Kami sering menghabiskan waktu berjalan dikota ini bersama. Sehingga mau tidak mau, kenangan Raka sulit untuk kuhilangkan meskipun aku sedang tidak mengenangnya.
Setelah hampir dua jam duduk disana, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Aku segera membuka ponsel yang sudah hampir seminggu tidak aku buka. Tampak puluhan panggilan berasal dari Raka dan pesan-pesan berisi kekhawatirannya kepadaku. Aku tersenyum karena setidaknya Raka masih peduli dengan perasaanku meskipun ia sudah meninggalkanku.

"Iya, Rak, aku masih hidup kok"
Jawabku pada pesan Raka. Dalam beberapa menit saja ia langsung membalas pesan dariku.
"Syukurlah. Maafkan aku, Den. Aku tahu aku jahat, dan selama ini aku ngegantungin kamu. Maaf, aku emang jahat, Den. Terserah kamu mau ngutuk aku apa, I deserve it"
"Nope, It’s not your fault. Aku juga salah, terlalu berharap. Maafin aku, Ka. Maafin aku minggu lalu ya terlalu kebawa emosi. Aku baik-baik aja sekarang. Oiya Rak, kalo kamu butuh bantuan aku, entah itu urusan kampus atau apapun aku masih siap bantuin kamu"
"Kamu orang baik, Den"
"I kno it haha. Sesuai kata kamu, setidaknya kita masih bisa berteman, kan?"
Aku mengakhiri pesan itu padanya. Segala hal memang sudah harus aku perbaiki saat ini. Usiaku 21 tahun dan sesuai janjiku sebelumnya, aku harus menjadi lebih dewasa.

But if you change your mind you'll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse 
Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates