C'est la vie

As all we need is just to be happy regardless of anything.

  • (I'm) Home
  • Journal
  • Story
  • Captured by Me
  • >



Minggu, 5 Januari 2020.


Hari itu langitnya cukup cerah. Kami memutuskan untuk datang ke salah satu kedai ice cream di kota yang cukup terkenal. Meski harus lama mengantri, semua terasa sangat menyenangkan. Ya, aku bersama Ares saat itu. Hubungan kami tepat di satu tahun lamanya. Dan spesial di hari jadi yang singkat ini, kami memutuskan untuk merayakannya disini. 


“Kamu matcha kan?” 

Katanya. Tanpa perlu menunggu jawabanku, ia langsung berdiri dan memesannya. 


Beruntung rasa matchanya sesuai dengan ekspektasiku. Tak manis, tak juga pahit. Apalagi sambil mendengar cerita Ares tentang film seru (menurutnya) yang baru saja ia saksikan. 


“Terus pemeran utamanya mati, padahal musuhnya masih sisa beberapa orang lagi.” Katanya dengan penuh antusias. 

 

“Trus gimana? endingnya cuma kaya gitu?”

 

“Hmm… kayanya belum selesai itu. Kemungkinan ada part selanjutnya. Entah pemeran utamanya hidup lagi, atau ada sepupu dari sepupunya yang hidup trus ngelawan sisa-sisa musuhnya tadi.” 


“Emang udah fix bakal ada part selanjutnya?” 


“Harusnya sih ada. Paling juga tahun depan munculnya. Pokoknya kamu udah aku booking buat temenin nonton bareng ya tahun depan. Harus sama aku nontonnya.” 


“Kalo kita udah gak sama-sama lagi gimana?” Kataku sambil bercanda. 


“Hush ga boleh ngomong gitu. Kita masih bakal bareng kok. Tenang aja. Kalo gak sama aku, siapa yang bakal rela nemenin kamu antri berjam-jam disini demi matcha-matchaan ini lagi?” 


Katanya setengah mengancam setengah bercanda. Kami tertawa bersamaan dengan genggaman tanganmu hari itu. 


Finally we walked along in the dark

As I watched the light reappear

As she held on my hand I believe it would last

I don’t mind if the world standing still


Selasa, 3 Januari 2021.


Sesuai dugaan Ares, film yang ia tunggu-tunggu di tahun lalu akhirnya muncul beberapa hari yang lalu. Kami memutuskan untuk menontonnya meski mendapat kursi paling depan karena semua kursi penuh.


Sesekali aku menatap ke wajah Ares. Ekspresinya sangat antusias menonton film favoritnya ini. 


“Kenapa?”

 Katanya yang akhirnya sadar sejak tadi aku melihatnya sambil tersenyum. 


“Serius banget, sampe abis tuh popcorn diabisin sendiri.”


Kataku sambil tertawa. Seketika ia mengalihkan pandangan ke arah kotak popcornnya dan tertawa. 


“Kamu liat gak di film tadi? Tokyo keren banget ya. Kamu tahu gak salah satu cita-citaku itu bisa menginjakkan kaki di Shibuya.” 


Katanya sesaat setelah kami keluar dari gedung bioskop. 


“Tau lah, kamu pernah bilang mau bikin kedai kopi di Shibuya kan? Aku ada ide, nanti kedai kopinya kasih nama The Jak aja. Biar orang-orang Indonesia apalagi orang Jakarta yang kesana bisa ngobatin rasa rindunya sama kampung halaman.” 


“Wah, bagus juga ide kamu. Ada ide lain gak?” 

Katanya dengan ekspresi penuh antusias. 


“Hmm.. Ada lagi sih. Nanti 100 meter dari kedai kopi kamu, aku bikin deh kedai kopi namanya Bobotoh. Biar ribut deh kita di negeri orang. Kayanya seru!” 


Sahutku.  


Further along I could see how I wished

That I knew how to stop time

As she held on my hand I could see it won’t last

I don’t mind if the world crashes down


Hampir dua tahun aku mengenal lebih dekat sosok Ares. Orang yang ramah dan penuh antusias ketika berbincang tentang hal yang menurutnya menyenangkan. Namun soal mood jangan ditanya. Sampai hari ini aku masih belum bisa membaca ekspresinya. Kadang ekspresi Ares menunjukkan layaknya sedang kesal bahkan bisa membuatku tak ingin mengganggunya seharian. Padahal menurut Ares, ekspresi ini memang sudah terpasang di wajahnya sejak ia lahir. Tak hanya aku, ternyata banyak orang yang salah menerka ekspresi wajahnya selama ini. Entahlah, mungkin hanya Ares, Ibunya, dan Tuhan saja yang tahu. 


Yang jelas, jika orang tanya hobiku saat ini apa, yang aku sebutkan tak hanya tentang hobi menulis lagi. Ya, mendengarkan cerita Ares adalah hobi keduaku. Melihat caranya bicara, sorotan matanya, hingga ekspresinya yang penuh binar adalah kombinasi yang sempurna menurutku. Bersamaan dengan genggaman tangan Ares setiap kali kami bertemu, aku bisa membayangkan apa jadinya jika dunia berhenti sejenak. Entah karena tiba-tiba terjadi gempa dan kami terkurung di gedung yang kami datangi saat itu. Entahlah, yang pasti aku mungkin akan tetap bahagia saat itu, karena  Ares ada disana sambil menggenggam tanganku. 


Wake up wake up

Isn’t time always been on the run

We walked to the door and we said our goodbyes

And then Tokyo lights fade away


Rabu, 5 Januari 2022.


Pukul 6 pagi di Jakarta. Bersamaan dengan alarm yang berbunyi, ada notes yang tiba-tiba muncul hari itu. 


“Selamat tahun ke-3” 

Aku tersenyum kecut. Segera merapikan kamar dan memilih pakaian untuk dikenakan di kantor hari ini.


Tak seperti biasanya, tahun ini aku memilih untuk tidak merayakan tanggal itu. Tanpa lilin, tanpa es krim matcha, dan tanpa cerita-cerita Ares. 


Beberapa bulan lalu kami bertengkar sengit. Banyak masalah yang ternyata terjadi ketika hubungan kami menginjak ke 2 tahun sekian. Salah satunya tentang mimpi Ares untuk tinggal di Tokyo. 


Tanpa sepengetahuanku, Ares sudah melamar kerja disana. Bahkan hanya sehari sebelum keberangkatannya, ia baru mengabariku. 


“Maaf baru bilang sekarang. Aku harus ke Shibuya, San.” 

Katanya. 


“Untuk liburan kan? Berapa lama?” 

Kataku coba meyakinkan. Ares menelan ludah sejenak.


“Belum tahu sampai kapan, San. Sepertinya bakal dalam waktu lama. Aku kerja disana. I have to go tomorrow.”


“Kenapa? Kenapa baru bilang sekarang?” 


“Aku gak mau kamu merasa kehilangan. Aku gak mau kamu jadi penghalang mimpiku kalau aku bilang dari jauh-jauh hari.” 


“Jadi, selama ini, aku cuma penghalang mimpi kamu?”

Tegasku. 


"Lalu tentang hidup di Jepang bersama? Ueno Park yang mau kita datangi? Shibuya? dan tempat-tempat lainnya? itu semua cuma mimpi bodoh belaka?" Kataku lagi. 


Ares hanya terdiam. 


“Maaf, San…” katanya dan berlalu.


Ya, kepergian Ares hari itu adalah awal dari kerumitan semuanya. Hubungan kami, jarak, komunikasi, semuanya jadi semakin tak searah. Ares pergi bersama semua cerita-ceritanya selama ini. Bukan untuk satu, dua hari, namun hingga hari ini. 


It's funny how all stretches far and it

Felt like a dream and I’m wide awake

As the sunlight have fallen I stood by the bed

I don’t mind if world standing still

While moments of you being trapped in a jar

When I heard a knock on the door


"Lihat ini, San. Jepang benar-benar menakjubkan. Suatu hari nanti kita pasti bisa tinggal disini bersama. Nanti aku ajak kamu deh buat lihat bunga sakura bermekaran di Ueno Park. Berdiri bareng puluhan warga Jepang di pinggir Shibuya dan kita harus jalan cepet pas lampu hijaunya menyala. Trus kalo bosen, kita seharian di Roppongi deh. Banyak tempat seru yang bisa kita datengin. Pokoknya hidup berdua sama kamu di Jepang bakal jadi mimpi indah kita."


Katanya sambil menunjuk ke deretan suasana di Jepang dengan penuh antusias. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Ya sekali lagi, cerita dan mimpi Ares adalah hobi paling menarik yang kutemukan saat ini. Sejak bertemu dengan Ares, tidak ada yang aku takutkan bahkan jika dunia runtuh sekalipun. Karena lewat mimpi-mimpinya, kelak kami bisa membangun dunia berdua. 


As my faithful old friend mister time came along

I don’t mind if the world crashes down


Kembali, aku tersadar dalam lamunanku. Aku dan Ares tidak akan bisa bersama, meski kami sudah berusaha sepenuhnya. Entah mungkin, sejak awal kami memang dipasangkan Tuhan untuk menjadi pelajaran hidup masing-masing, bukanlah sebagai pasangan hidup.


Ares tumbuh menjadi pria ramah, lingkungannya penuh dengan orang-orang profesional di Jepang dan mungkin banyak wanita sukses di depan yang menunggu untuk segera dipinang olehnya. Sedangkan aku? masih menjadi seorang penulis yang hanya sibuk memimpikan untuk bisa berdampingan dengan Ares selamanya. 


Layaknya sebuah tulisan, kisahku dan Ares seperti diciptakan dari tangan penulis yang lupa untuk menamatkannya. Semuanya terasa berakhir tanpa akhir, meski sebenarnya memang seperti inilah akhir dari semuanya. 


Hari ini, Ares seperti berdiri di depan pintu bersamaan dengan bayang-bayang mimpinya selama tiga tahun terakhir. Kami saling melambaikan tangan tanpa kata sekalipun. Hingga akhirnya ia pergi bersamaan dengan redupnya lampu-lampu di Tokyo. 


We walked to the door and we said our goodbyes

And then Tokyo lights fade away



Postingan Lama Beranda

Translate

About Me

About Me
Where the soul meets the body and life meets its lessons, words have slowly tried to connect the two. And that's where I come in, as your next favorite writer. -NV

POPULAR POSTS

  • Invisible Relationship
  • Meraki
  • Surek Cinto Bagaskara

Categories

bali bandung indonesia jakarta jatinegara jawa tengah jerman kendal kisah newyork padang
Novia Fadina | loveafadina@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

  • Instagram for Business
  • Private Instagram

About last year 🎪✨

About last year 🎪✨
Sync fest at its finest!

Pizza Place

Pizza Place
Storm makes trees take a deeper roots. Pizza makes the convos take a deeper truth 🍕✨

About Novia

Hallo!

Where soul meets body. Where life meets a lesson. Then words have fully tried to connect them, little by little. There I am, as your next favorite writer. -NV

Popular Posts

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates