Ini adalah hariku! Sudah
bertahun-tahun aku menunggu saat ini. Momentum dimana semuanya akan terasa
sangat nyata. Aku akan menjadi bagian dari kehidupan seutuhnya.
Putih dengan bayang bayang
keabuan. Begitulah pakaian yang saat ini aku pakai. Rambut indahku dibiarkan
terurai manja. Terlihat betapa lihainya sang professional membuatnya menjadi
semakin indah. Paduan gaun dan riasan wajah yang natural. Aku memang sudah
berpesan untuk tidak terlalu berlebihan soal ini.
Seluruh mata tertuju padaku.
"Kau cantik hari ini,
Eriana"
Pujian dari berbagai kalangan
di hari ini. Aku semakin merasa percaya diri. Rasanya ingin sekali aku menjadi
ratu untuk waktu lebih lama.
Barisan orang sudah siap
untuk memulai acara. Mereka terlihat sangat gagah. Aku kembali memandang
seseorang yang tepat berdiri disampingku sejak tadi. Seragam hijau gelapnya
sepadu dengan para barisan tadi.
"Kau siap, Eriana?"
Katanya saat aku merapikan
kerah seragamnya. Aku hanya membalas dengan senyum. Seseorang yang terlalu
gugup sepertiku tidak pantas untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Perlahan semua mata kembali
memandang ke arah kami. Beberapa dentingan suara menandakan acara akan dimulai.
Aku semakin gugup!
Ia memegang tanganku erat.
"Tenang saja"
Sahutnya seolah mampu membaca
pikiranku. Aku kembali tersenyum.
Kami mulai melewati jalan
setapak. Sebuah karpet berwarna merah, yang beberapa jam lalu masih berupa
karpet biasa sudah disulap dengan taburan bunga melati dan lavender. Langkah
kami masih sangat pelan. Aku tidak sabar untuk sampai di ujung perjalanan itu.
Aku tidak ingin lama-lama berjalan sambil dipandang orang!
Sejauh ini semua berjalan
sesuai rencana. Satu persatu 'gerbang' dibuka dengan iringan musik khas
akademinya. Seiring juga dengan suara wanita yang membacakan sumpah untuk
menjalani hidup selanjutnya.
Kami hampir sampai di tempat
yang dituju. Penuh dengan dekorasi bunga melati dan lavender. Harum bunga-bunga
ini sudah tercium mulai dari pintu masuk. Aku menarik nafas sejenak. Rasanya
segala usahaku selama ini tidak sia-sia. Bolak balik gedung ini untuk melihat
persiapan sudah matang atau belum. Aku semakin bahagia.
Semua orang sudah mulai
melakukan aktivitasnya. Beberapa memilih mengantri untuk bersalaman. Ada yang
mulai menjamu makanan, dan beberapa kelompok wanita dengan pakaian seragam kutu
baru corak batik asyik berkumpul sambil tertawa. Sesekali mereka memandang
kearahku sambil senyum-senyum. Aku tidak tahan ingin menjitak kepala mereka
satu per satu. Ya, mereka adalah para sahabat ku semasa kuliah. Beberapa hari yang
lalu hampir aku menangis untuk memohon kepada mereka agar hadir di hariku ini.
Dan sekarang, dengan sangat menyebalkannya mereka berkumpul disana tanpa aku.
Aku masih sibuk memberikan
salam dan senyum kepada para tamu sampai aku melihatnya lagi. Sosok yang aku
harapkan tetapi tidak aku tunggu kehadirannya. Aku hanya mampu terdiam.
Bayangannya makin jelas seolah nyata kembali hadir dihidupku. Jantungku
berhasil berdegup kencang melebihi saat pertama kali jalan di panggung ini.
"Selamat ya"
Suara itu masih terdengar
jelas di telingaku. Aku menutup mataku sesaat. Rasanya semua memori hadir
kembali di benakku. Tenang masa perkenalan kami, tentang aku yang menunggu di
depan pintu kelasnya untuk sebuah ucapan selamat pagi, tentang aku yang terus
memperhatikannya dari kejauhan, tentang bagaimana dia tersenyum setiap kali
mata kita saling bertatap, tentang bagaimana kedipan matanya setiap kali
menceritakan hal-hal yang (menurutnya) seru. Semua tergambar jelas di benakku.
Sejuta perasaan langsung
campur aduk di hatiku. Antara senang, benci, dan ah.. Aku tidak tahu lagi apa
ini.
Aku masih (berpura-pura) tersenyum pada sejumlah
orang yang hadir di hadapanku. Tetapi mataku masih mengawasi sekitar. Tepatnya
memperhatikannya. Barisan wanita berseragam kutu baru tadi dengan sigap
memperhatikannya juga. Mereka tahu persisbagaimana ceritaku dengan
pria ini. Sambil mengawasi, mereka berbisik-bisik sedikit. Aku bisa mengerti
jelas apa yang mereka katakan saat itu. Seseorang dari wanita itu langsung
mengalihkan pandangan kearahku. Ia mencoba memberi kode dengan melirik kearah
priaku dan kembali memandangku sambil tersenyum.
"He's yours now. And not
him" begitu lah kira kira maksudnya.
Aku kembali tersenyum kepada
barisan antrian yang sejak tadi ingin memberikan ucapan padaku. Udara makin
terasa semakin menusuk. Kode dari sahabatku tadi nyatanya belum mampu untuk
menghapus ribuan memori indah dengan pria tamu tadi. Aku masih merasa sakit
setiap kali mengingat waktu-waktu indah bersamanya. Segala perjuangan yang aku
dan ia lakukan semata-mata demi masa depan yang sejak lama kita rencanakan,
sudah pudar untuk beberapa waktu lalu. Aku masih mampu merasa kan pahit ketika
mengetahui kenyataan jika kita tidak akan pernah bisa bersama.
Ia terlalu jauh untuk aku
gapai. Aku sudah melangkah jauh di depan, sedangkan ia masih di barisan yang
sama seperti beberapa tahun lalu. Aku sudah mulai menata karierku, sedangkan ia
masih saja sibuk dengan dunia fananya. Ia masih terlalu kekanak-kanakan untuk
tahu bahwa hidup itu harus diperjuangkan. Ia masih belum sadar jika waktu bisa
kapan saja memutar takdir. Aku selalu merasa kesal setiap kali ia bercerita
tentang kerapuhan yang ia alami, padahal ia tidak sadar jika itu semua adalah
ulahnya. Ia masih ingin menikmati masa-masa muda sedangkan aku sudah lebih
berpikir dewasa. Itulah yang menyebabkan hubungan kami tidak bisa seperti dulu
lagi.
Bayangannya kian hilang
diantara ratusan tamu yang hadir. Entah ia menyempatkan untuk menikmati
santapan malam, atau langsung memilih untuk kembali. Dari gerak-geriknya aku
sadar jika ia juga masih belum siap untuk melepas. Tetapi ia berusaha
memberikan senyum untuk beberapa detik di pelaminan. Rokok bermerek luar negeri
yang selama ini ia konsumsi sempat terpajang rapi di kantong kemejanya. Aku
sempat memperhatikan tadi. Ia masih mengonsumsi rokok. Bersamaan dengan yang
lain-lain. Aku ingat saat ia akan memainkan linting rokoknya di tangan sebelah
kiri tanda bahwa ia sedang cemas atau kecewa. Hari ini, tepat beberapa menit
setelah aku rasa ia sudah tidak ada disana, dugaanku salah. Aku melihatnya yang
baru berjalan keluar ruangan. Sambil memainkan batang rokok di tangan kiri, ia
melangkah keluar dari gedung resepsi. Aku tersenyum bisu.

