Hari ini aku menghabiskan
senja sambil duduk dibangku pinggir kota. Suasana kota mulai dipenuhi oleh para
wisatawan karena hari libur. Banyak orang yang menghabiskan waktu dengan
berfoto didepan ikon kota. Kebanyakan dari mereka pergi bersama keluarga,
kekasih, teman, dan siapapun itu. Tetapi tidak denganku.
Baru pertama kali ini,
aku memilih menghabiskan waktu sendiri dikeramaian kota. Sejujurnya aku adalah
orang yang sama sekali tidak bisa sendiri. Aku selalu membutuhkan orang lain,
entah saat bahagia atau sedih. Namun kali ini, nampaknya aku sama sekali tidak
membutuhkan siapapun. Karena menurutku, saat ini tidak ada seorangpun yang bisa
aku percaya.
As
I walk to the end of the line
I
wonder if I should look back
To
all of the things that were said and done
I
think we should talk it over
Seminggu yang lalu, aku
resmi berusia 21 tahun. Mungkin ini hal yang wajar terjadi, tetapi bagiku di
usia 21 tahun ini aku merasa bahwa aku harus menjadi lebih dewasa lagi. Aku
tahu, banyak hal yang harus aku rubah dan aku akan berusaha untuk menjadi lebih
baik di kedepannya. Dihari ulang tahun itu, sebagian besar temanku datang dan memberikan
ucapan ulang tahun padaku. Aku bahagia hari itu. Selesai peniupan lilin, aku
mengajak teman-temanku untuk pergi ke sebuah tempat makan yang tidak jauh
darisana. Aku mengajak mereka untuk makan bersama sebagai ungkapan terima kasih
atas surprise yang mereka berikan.
Dan yang membuat aku lebih bahagia lagi, seseorang yang memang kutunggu datang
dan membawakan sebuah hadiah untukku.
“Hei kamu datang juga,”
Kataku sambil menyapa
orang itu. Ia tersenyum sambil menyerahkan kotak yang ia bawa sejak tadi.
“Apa ini?”
Tanyaku sambil menerima
hadiahnya.
“Hadiah untuk kamu”
“Tumben?”
“Gak mau hadiah nih?”
Katanya sambil tertawa.
“Kamu kemana saja selama
ini?”
Tanyaku dengan tatapan
serius. Tepat sebulan yang lalu, ia hilang bahkan sama sekali tidak
mengabariku. Memang sebelumnya ia mengabarkan bahwa ia sedang menghabiskan
waktu untuk mendaki gunung Rinjani bersama teman-temannya. Ia bilang sinyal
disana sangat minim dan berjanji akan mengabariku jika ia mendapat sinyal. Aku
mengiyakan saja. Dan selama sebulan ini, aku menunggu kabarnya. Selama ini, aku
berpikir bahwa ia masih ada di Malang karena sebagian besar teman semasa SMA
nya melanjutkan studi disana. Dan janji untuk mengabariku belum juga ditepati
sampai akhirnya dihari ulang tahunku ini ia baru muncul.
“Aku sibuk di Malang,
maaf”
Katanya tanpa memandang
kearahku. Aku tahu ada yang tidak beres. Aku mengenalnya hampir tiga tahun yang
lalu dan aku tahu segala ekspresi wajahnya.
“Ada sesuatu yang kamu
tutupi, ya?”
Tanyaku.
“Tidak kok”
Aku memandang kearahnya
dengan tatapan penuh curiga. Sudah sebulan ini ia tidak mengabariku. Meskipun
status kami hanya ‘orang yang sedang dekat’, tetapi dengan tahu kabar darinya
saja sudah cukup mengobati rasa rinduku. Bagaimana tidak, hampir setiap hari
aku melihatnya, karena kami berada dikelas yang sama di perkuliahan.
“Sebenarnya ada, nanti
aku bicarakan,”
Katanya sambil
meninggalkanku. Aku mengambil air mineral yang tersaji didepanku.
Tidak
biasanya ia seperti ini, sifatnya mulai berbeda. Ia yang aku kenal adalah orang
yang benar-benar ramah, dan bahkan di dua kali ulang tahunku sebelumnya, ia-lah
yang menjadi ‘penghibur’ dan membawa suasana menjadi ramai.
Then
I noticed the sign on your back
It
boldly says try to look away
Aku menghabiskan waktu
makan bersama kerabat tersebut dengan senyuman paksa. Sesekali mataku mengarah
padanya, ia juga melakukan hal yang sama. Senyuman ramah sama sekali tidak
tampak diwajahnya bahkan ia beberapa kali melamun. Aku rasa ada sesuatu yang benar-benar
tidak beres darinya.
Tepat pukul 9 malam,
semua temanku memilih untuk pulang. Mereka menyalamiku satu persatu. Setelah
bersalaman, aku mengambil tas dan barang-barangku yang masih ada di meja.
“Dena, mau aku bantu?”
Tanyanya.
“Ya seperti biasanya kan
kamu yang bantuin angkatin ini semua,”
Ia langsung membantuku
merapikan barang-barang yang ada dimeja.
“Mau pulang bareng?”
Tanyanya lagi.
“Kalo gak ngerepotin sih,
boleh,”
Jawabku.
Selama beberapa menit
didalam mobil, suasana benar-benar hening. Aku berusaha untuk tidak memulai
percakapan. Alasannya agar ia duluan yang memulainya. Dan lagi, karena
sebelumnya ia berjanji akan mengatakan sesuatu padaku.
Sebelum sampai dirumahku,
ia menghentikan mobil dijalan.
“Hei ini belum sampai
dirumahku”
Kataku protes. Ia
memandangku dengan tatapan serius.
“Dena, aku minta maaf”
Katanya dengan suara
parau.
“Kenapa, Ka?”
“Kayaknya kita gak bisa
dekat lagi. Aku minta maaf,”
“Karena?”
“Dena, aku balikan sama Vira.
Aku minta maaf,”
Aku langsung diam.
Vira, mantan kekasih
Raka. Sebelum dekat denganku, Raka pernah bilang bahwa ia memiliki mantan
kekasih bernama Vira. Vira tinggal di Malang karena ia melanjutkan studi
disana. Mereka putus karena Vira tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh
dengan Raka, padahal hubungan mereka sudah berjalan selama hampir dua tahun.
Raka sempat depresi dan aku adalah orang yang membantunya kembali menjadi
normal. Aku, orang yang dekat dengan Raka selama tiga tahun terakhir, berhasil
membuatnya menjadi seorang mahasiswa baik. Ia yang semula jarang masuk kelas
akhirnya mulai rajin karena setiap hari aku menelfonnya dan menyuruhnya untuk
kuliah. Aku selalu mengajak Raka untuk berada di kelompok tugas yang sama agar
aku bisa membimbingnya. Rasa perhatianku ini yang membuat kami akhirnya bisa
dekat dan menjalani hubungan tanpa status selama tiga tahun. Selama tiga tahun
ini, Raka selalu bilang bahwa suatu hari nanti ia akan serius denganku. Dan aku
percaya saja, karena menurutku selama ini Raka memang tidak pernah dekat dengan
wanita lain lagi selain aku.
I
go on pretending I'll be ok
This
morning it hits me hard that
“Kenapa?”
Tanyaku singkat. Aku
sedang meredam agar air mata tidak menetes. Aku tidak ingin terlihat lemah
didepan Raka.
“Bulan lalu aku ke
Malang, aku ketemu sama Vira. Kami sering bertemu selama sebulan itu. Dan aku
rasa, aku dan Vira sama-sama masih suka,”
Jantungku makin tidak
beraturan. Dengan mudahnya ia mengucapkan kalimat itu.
“Dan akhirnya sebelum aku
balik ke Bandung, Vira yang nganterin aku. Dia bilang dia gak mau aku pergi
sambil nangis. Dia cerita tentang semua perasaan dia dan ternyata selama tiga
tahun ini dia masih nunggu aku kembali, Den,”
“Stop”
Kataku menyela. Aku sama
sekali tidak ingin mendengar cerita selanjutnya.
“Den, maaf,”
Katanya sambil menatapku
dengan tatapan penuh harap.
“Kita masih bisa jadi
teman, Den. Ya, teman,”
Katanya mencoba memberi
keputusan.
Teman? Mendengarnya aku
langsung tidak bisa meredam emosi dan tangis. Aku menangis tepat dihadapan Raka
saat itu.
Seminggu telah berlalu.
Setelah hari ulang tahun itu, aku lebih memilih untuk menyendiri dikamar.
Banyak hal yang mengacaukan pikiranku saat itu. Bahkan didalam kamar yang sepi
ini, aku merasakan bahwa sosok Raka ada disana, dan masih menjadi bagian
penting dari hidupku seperti tiga tahun yang lalu.
As
I stare at the wall in this room
The
cracks they resemble your shadow
When
everyday I see time goes by
In
my head everything stood still
Aku masih berpikir
tentang bagaimana perasaan Raka selama tiga tahun ini. Bagaimana janjinya jika
suatu hari nanti ia akan membawa hubungan kami kelangkah yang lebih serius.
Raka pernah bilang ia sudah melupakan Vira. Selama tiga tahun ini, aku sama
sekali tidak berusaha untuk dekat dengan siapapun selain Raka. Aku menjaga
perasaan Raka, begitu juga dengannya. Selama ini, aku merasa bahwa Raka adalah
orang yangpaling tepat, bahkan ia
sudah sempat mengenalkanku kepada orang tuanya sebagai teman dekatnya.
I’m
waiting for things to unfreeze
Till
you release me from the ice block
It’s
been floating for ages washed up by the sea
And
it’s drowning, thought you should know that
Still
everyday I think about you
I
know for a fact that’s not your problem
Dan baru hari ini aku
mencoba untuk keluar rumah. Aku rasa bukan waktunya lagi untuk berdiam dirumah
dan aku membutuhkan udara segar untuk pikiranku saat ini. Bahkan dibangku
pinggir kota itu, pikiranku masih tentang aku dan Raka. Kami sering menghabiskan
waktu berjalan dikota ini bersama. Sehingga mau tidak mau, kenangan Raka sulit
untuk kuhilangkan meskipun aku sedang tidak mengenangnya.
Setelah hampir dua jam
duduk disana, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Aku segera membuka ponsel
yang sudah hampir seminggu tidak aku buka. Tampak puluhan panggilan berasal
dari Raka dan pesan-pesan berisi kekhawatirannya kepadaku. Aku tersenyum karena
setidaknya Raka masih peduli dengan perasaanku meskipun ia sudah
meninggalkanku.
"Iya, Rak, aku masih hidup
kok"
Jawabku pada pesan Raka.
Dalam beberapa menit saja ia langsung membalas pesan dariku.
"Syukurlah. Maafkan aku,
Den. Aku tahu aku jahat, dan selama ini aku ngegantungin kamu. Maaf, aku emang
jahat, Den. Terserah kamu mau ngutuk aku apa, I deserve it"
"Nope, It’s not your fault. Aku juga salah, terlalu berharap. Maafin
aku, Ka. Maafin aku minggu lalu ya terlalu kebawa emosi. Aku baik-baik aja
sekarang. Oiya Rak, kalo kamu butuh bantuan aku, entah itu urusan kampus atau
apapun aku masih siap bantuin kamu"
"Kamu orang baik, Den"
"I kno it haha. Sesuai kata kamu, setidaknya kita masih bisa
berteman, kan?"
Aku mengakhiri pesan itu
padanya. Segala hal memang sudah harus aku perbaiki saat ini. Usiaku 21 tahun
dan sesuai janjiku sebelumnya, aku harus menjadi lebih dewasa.
But
if you change your mind you'll find me
Hanging
on to the place
Where
the big blue sky collapse

